Kepergok Tak Berbusana Saat Pesta Khitan Anakku bag 5.
#PETAKA_PESTA_KHITAN BAG 5
**
"Rat, dimana Mas Rama dan selingkuhannya?" tanya ku ke adikku. Wajah Ratna menjadi bingung.
"Kenapa, Rat? Apa yang terjadi?" tanyaku lagi dengan gusar.
"Anu, Mbak." Ratna bingung hendak menyampaikan.
"Apa, Rat? Katakan!" sentakku tak sabar mendengar apa yang terjadi setelah aku tak sadarkan diri. Suara alunan musik dan lantunan syair untuk memeriahkan pesta khitan anakku sudah terdengar.
"Katakan, Rat!" ulang ku lagi dengan suara cukup keras karena ada suara musik itu di depan.
"Sepertinya semua orang tetangga mu kiri dan kanan tahu yang sebenarnya, Mbak. Mereka tahu kalau suamimu ena-ena dengan Santi. Gosip telah tersebar kemana-mana." jelas Ratna, aku heran.
"Kok bisa?"
"Bisalah Mbak. Banyak yang menguping kalian dan biangnya Utami. Aku dengar dia suka bergosip dan mereka semua sudah tahu. Istilahnya pesta khitan anakmu sudah ternoda dengan perselingkuhan suamimu tetapi ini seperti rahasia umum yang ditutupi," kata Ratna menjelaskan. Aku menghela napas semakin gusar karena gosip seperti ini memang cepat sekali menyebarnya.
"Jadi dimana Mas Rama dan gundiknya itu, Rat?" tanya ku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Secara jujur aku gak tahu di mana dia, Mbak. Tetapi mertuamu marah besar dan ingin pesta tetap berlanjut mengingat uang juga susah banyak yang di keluarkan serta undangan sudah tersebar. Dia menyuruh suamimu tak menampakkan dirinya selama acara karena melihat di lapangan warga juga sudah tahu tetapi hanya bergosip di belakang," kata Ratna menjelaskan.
"Jadi dia pergi dengan gundiknya?" tanyaku lagi penasaran.
"Aku gak tahu, Mbak. Tetapi suamimu memang di suruh pergi dan tak boleh menjumpai selingkuhannya. Namun siapa yang tahu kejadian di luar dan semoga suami mu gak g**a bermain lagi dengan selingkuhannya setelah kepergok begitu," ujar Ratna lagi menghela napasnya. Dia memandangku kasihan.
"Gak mungkin dia berhenti, Rat. Mas Rama saja tega bermain api di rumah dan dia pasti mendatangi Santi ke rumahnya mungkin saja dia bermain dengan Santi di rumah keluarganya!" sentakku dengan getar hebat di dada.
"Semoga tidak, Mbak. Karena mertuamu menyembunyikan suamimu selama acara dan tak diperkenankan berjumpa Santi. Jika kau mau tahu di mana suami mu. Tanya saja dengan mertuamu," kata Ratna lagi.
"Aku sudah tanya, Rat, tetapi Ibu dan Bapak diam saja. Mereka berkata aku harus sabar sampai hajatan ini selesai," Aku mendesah mengingat saat aku pingsan dan tak tahu apa-apa lagi setelah itu.
"Serba dilema, Mbak. Aku juga greget dengan suamimu. Jadi apa rencana mu setelah ini?"
"Entahlah, tetapi aku perlu mengamankan sejumlah aset, Rat. Buatku dan anakku."
"Ya, Mbak. Lakukan yang terbaik saja kedepannya untuk mu dan anak-anakmu."
"Ya sudah aku keluar dulu, Mbak." kata Ratna tersenyum getir padaku. Dia pun berlalu. Aku juga segara keluar dari kamar menjijikkan ini. Jika bukan karena mau berbicara dengan Ratna maka aku tak sudi ke sini. Perselingkuhan itu sama sekali tak bisa aku lupakan begitu saja.
Aku berjalan dan menutup pintu kamar itu. Hanya kamar ini yang aman buat berbicara karena sebagai gudang juga dan kosong hanya pakaian tak terpakai saja dan ambal-ambal. Kulihat ke luar dimana anakku sedang menari tarian daerah itu. Dia terlihat senang dan aku segera mengabadikannya lewat video.
Dia tersenyum manis padaku. Karena hajatan ini lah yang diimpikannya dan sekarang harus ternoda dengan adanya masalah ini. Acara masih berlanjut dan sepertinya masih lama tarian daerah itu. Beberapa tamu mulai sepi karena mereka menonton acara pentas itu. Aku dari tadi memang sibuk dengan beberapa tamu-tamu itu dan barulah ada waktu luang kudatangi Ratna.
Aku bergegas ke kamar ku. Kamarku juga terlihat berantakan karena acara hajatan Hanif. Aku mengambil surat-surat penting dan harus ku sembunyikan. Karena surat ini atas nama Mas Rama. Surat tanah kami dan toserba kami. Bila pun harus bercerai maka aku tak mau ini jatuh ke tangan Santi si p*l*k*r itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu terdengar dan aku membukanya. Ibu mertua sudah ada di depan. Dia masuk saja tanpa ku suruh.
"Rumi, kamu dari mana, Nak. Banyak tamu di luar."
"Ibu saja dulu yang di sana karena aku lelah!" kataku padanya.
"Kamu sakit?"
"Aku sakit hati karena Ibu gak mau katakan di mana Mas Rama!" sentakku ke Ibu. Dia menghela napasnya.
"Maafkan Ibu, Rum. Tetapi Ibu sayang sama Hanif dan kasihan sama kamu juga karena kalau di batalkan pestanya sayang, Nak. Uang kalian juga sudah banyak keluar buat pesta ini."
"Tetapi Papa nya gak ada sama saja, Bu. Hanif kasihan juga!" kataku lagi memandang cemberut Ibu.
"Kalau Rama di sini nanti kalian bertengkar dan Ibu gak mau ada pertengkaran, Rum. Apalagi emosi kamu meledak melihat wajahnya." Bu Mila, mertuaku mengelus lenganku.
"Jadi di mana Mas Rama sekarang, Bu?"
"Dia Ibu suruh pergi dulu sementara sampai selesai acara ini."
"Di mana gundiknya?" tanyaku lagi.
"Kamu tenang. Ibu sudah ancam Rama agar jangan bertemu dengan gundiknya."
"Tidak akan mempan, Bu. Karena Mas Rama mencintainya. Dia pasti akan menikahi wanita itu juga!" kataku dengan suara keras.
"Kamu sabar saja, Rum. Setelah acara ini kita bicarakan lagi yang terbaik buat Rama dan selingkuhannya itu. Ibu juga minta maaf sama kamu. Karena ini semua demi kebaikan bersama. Pesta tak mungkin mundur walau ada insiden besar dalam rumah tangga kamu namun pesta tetap harus berjalan, Nak! Pasti ada jalan keluarnya. Kita bersama-sama akan selesaikan masalah ini." Ibu berkata lembut dan panjang lebar untuk meyakinkan aku agar aku bersabar sampai hajatan anakku usai.
**
Esoknya aku sudah rapi dan orang salon juga sudah datang. Anakku di pilihkan pakaian oleh Mbak yang akan meng-make over kami. Puteri kecilku juga demikian. Dia di dandani layaknya princess. Hana terlihat cantik dan Hanif terlihat gagah.
Aku duduk di meja rias menunggu untuk di make over. Hanif mendatangiku.
"Ma, di mana Papa?" tanya nya dengan wajah datar. Sepertinya dia juga sudah tahu apa yang terjadi dan dari omongan semua orang yang bergosip tentang perselingkuhan saat hajatan khitan ini.
"Maafkan Mama sayang. Pesta kamu jadi begini. Kamu tetap mau, 'kan khitan setelah acara ini?" tanyaku dengan lembut padanya. Kulihat netranya berkaca-kaca karena kecewa.
"Kenapa Papa tega sama aku, Ma. Sama Mama!" sentaknya menghapus kasar mata nya. "Kata Nenek aku harus berakting senang supaya semua orang gak curiga." Butiran bening lolos dari netraku bukan karena apa-apa tetapi karena kesedihan anakku. Hampir saja pesta ini gagal jika aku bertindak gegabah. Aku ingin mengarak Mas Rama keliling kampung namun anakku pasti sedih karena bertepatan di saat masa yang ditunggu nya yaitu khitannya.
Beberapa saat kemudian Mbak yang akan meng make over datang. Dan anakku bergegas keluar. Aku marasa kecewa dengan Mas Rama karena tega berbuat seperti ini dengan anakku.
Aku mengambil gawaiku ketika aku mulai di rias. Aku merasa kepo dengan Santi. Aku mencari nama nya di aplikasi biru dan ketemu. Aku bersegera membuka photo-photonya. Ada photo yang membuat aku terhenyak dengan emot love di caption nya. Dia berphoto dengan pria namun tak kelihatan wajahnya. Aku kenal jam tangan dan kemeja nya. Milik Mas Rama. Photo itu diambil sekitar tiga bulan lalu.
Hatiku sakit. Sudah berapa lama dia menjalin hubungan dengan Santi?
Bersambung.