Suara kecipak air memecah keheningan malam itu. Evan bersandar di sunbed chair di pinggir kolam renang. Di seberangnya terlihat Ricco dan seorang wanita melakukan aktivitas zaman purba. Tak ada lagi rasa malu padahal Evan mengawasi di sana. Sudah beberapa kali kolam renang ini menjadi saksi perbuatan maksiat Ricco, awalnya dia berkata itu terapi untuk Evan, tapi lama kelamaan dia malah terbiasa, melakukan di dalam air memiliki sensasi yang luar biasa begitu kata Ricco.
Papa Evan di luar negeri, sedangkan mamanya telah bercerai saat dia masih di jenjang SMA dan sudah pindah ke luar kota. Asisten rumah tangga, supir dan koki yang membantu di rumah Evan sudah pulang jam 6 sore. Evan tak b*******h sama sekali menyaksikan pemandangan itu, pikirannya mengembara mengingat Anya. Gadis yang telah dikenalnya selama 2,5 bulan.
Teman kencan Ricco berteriak dengan keras. Dasar manusia-manusia liar! rutuk Evan. Ricco bertahan setengah jam sebelum kemudian mendekati Evan. Wanita teman kencannya yang tak pernah Evan tahu siapa namanya, mendekati dengan wajah malu-malu, padahal tadi saja mereka melakukan sesuatu yang sangat intim di depan mata Evan tanpa malu.
Ricco menuangkan wine ke gelas dan memberikan pada wanitanya. Wanita itu berpakaian sangat minim menggoda, menyesap wine itu pelan dengan gaya dianggun-anggunkan. Memang tipe Ricco.
"Bisa pulang sendiri, kan?" tanya Ricco pada wanita itu. Dia mengerang manja, menolak. Ricco mengambil Credit Card dari dompetnya. Wajah wanita itu mendadak tersenyum dan bergegas meninggalkan mereka setelah sebelumnya mencium Ricco.
"Tadi siang gue ada sesi dengan dokter Richard," kata Evan memulai pembicaraan.
"Trus? Hei, kenapa kita gak ke Cafe Teraase? Masih jam sepuluh."
"Anya tidak bekerja hari ini. Dia masih terpukul," jelas Evan.
"Ckckck. Terus apa kata dokter Richard, setelah untuk pertama kalinya dalam 7 tahun?"
"Masih mengira-ngira, dia meminta gue melaporkan perkembangan selanjutnya."
Ricco mengangguk-angguk.
Dokter Richard menjadi dokter Evan selama 7 tahun terakhir. Ya, sejak perceraian orangtuanya Evan mengalami disfungsi seksual. Juniornya tidak bisa bangun. Menurut dokter Richard itu karena terjadi trauma pada psikologis Evan. Evan kerap menyaksikan papanya membawa selingkuhan ke rumah dan puncaknya saat perceraian orang tuanya.
Ricco mengetahui kondisi itu, entah sudah berapa kali mereka mencoba melakukan hal-hal untuk mengobati hal itu. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Ricco pernah menggelar party di sebuah kamar hotel dan mereka bahkan menjadi anggota VIP night club yang menyajikan pertunjukan ilegal secara live. Tentunya dengan identitas tetap dirahasiakan.
Evan beberapakali mendekati wanita dan pernah mencoba mencium mereka, tapi tak pernah membangkitkan gairah kelakiannya. Kejantannya masih tertidur. Sampai akhirnya dia lelah.
Tapi secercah harapan muncul di cafe itu, Cafe Teraase, barista di sana adalah teman Ricco. Mereka beberapa kali ke sana, kopi enak dan suasananya juga nyaman. Pertemuan dengan Anya awalnya biasa saja, Evan beberapa kali melihatnya di cafe tapi belum pernah berbincang akrab dengannya. Sampai sebuah moment singkat menimbulkan kesan di matanya, Evan tertawa geli saat Anya begitu kikuk menyuguhkan kopi mereka, belum lagi raut wajahnya saat tepergok sedang memandangi Evan. Wajah itu lucu, polos dan menggemaskan. Banyak wanita melihatnya dengan pandangan kagum, tapi Anya melihatnya dengan cara yang berbeda.
Belakangan Evan jadi semakin tertarik dengan gadis itu, wajahnya memang cantik sangat cantik memang. Tubuhnya juga indah walaupun tak pernah terlihat mengenakan pakaian yang sangat sexy, selain itu dia sangat cerdas dan pandai bicara. Ternyata dia mahasiswi tingkat 3 yang bekerja part time di sana. Ricco saja sudah beberapa kali berdecak kagum saat memandang Anya. Tapi Ricco mundur teratur, sudah menjadi etika di dunia persilatan agar jangan menyukai gadis yang sama dengan sahabatmu sendiri, apalagi Evan lebih dari saudara bagi Ricco.
Untuk pertama kalinya---ya---untuk pertama kalinya dalam 7 tahun kelakian Evan berdiri, mendesak celananya. Evan sampai lupa bahwa dia memilikinya. Ya, saat Anya berada di pelukannya tanpa sengaja, hujan-hujanan dengan payung kecil yang tak menutupi tubuh mereka. Evan seketika berhasrat untuk menjadikan Anya hanya miliknya, sekalipun dia tau Anya telah memiliki kekasih dia harus merebutnya.
"Melamun lo," ejek Ricco.
"Dia harapan gue satu-satunya."
Ricco memandang Evan prihatin, sejujurnya cukup senang mengetahui penyakit Evan mungkin bisa sembuh dengan kehadiran gadis itu.
****
Anya terpekur menatap kosong dinding kamarnya, sudah tiga hari dia tak bangkit dari tempat tidur, tidak kerja bahkan tidak ke kampus. Olga yang membawa makanan dan lainnya.
Puluhan misscall dan pesan dari Aric, Olga telah meyuruh Anya memblokir nomor itu tapi dia bahkan tak bisa berpikir.
Olga memasuki kamarnya. "Heloo, byyy si hot guy dateng tuhh. Ih gantengnyaahhhh."
Anya menoleh, "Siapa?"
"Itu yang kemarin anterin pulang."
Evan? pikir Anya. Anya mau tak mau merapikan rambutnya, penampilannya sangat berantakan. Evan masuk ke kamarnya sambil memegang sebuket mawar putih. Seperti pangeran dalam negeri dongeng yang didamba setiap gadis, dia muncul di kamar Anya yang mungil.
Evan mengenakan sweater abu-abu dan celana hitam, penampilannya memang mempesona. Wajar Olga berkali-kali mengatakan Evan sangat hot. Tapi Anya sedang tidak ingin memikirkan itu.
"Katanya lagi sakit." Evan menyerahkan buket itu.
"Makasih," sahut Anya lemah sambil menerima buket dan menciumnya. "Wangi." Sesaat hatinya berdebar. Anya meletakkan buket di atas tempat tidur. Olga meninggalkan mereka sembari berdehem. Dia kembali lagi dengan secangkir coffemix dan menyuguhkannya pada Evan.
"Ini Olga." Anya memperkenalkan. "Olga sahabat aku dari SMA."
"Oh jadi kalian dari kota yang sama?" tanya Evan. Evan duduk di atas karpet berwarna abu-abu. Kamar Anya bernuansa abu-abu dan putih.
***
"Iya. Jadi kami memutuskan kuliah di sini, kos di tempat yang sama, di tengah-tengah," jelas Olga.
"Menyenangkan," ujar Evan.
"Duduk di kursi aja," kata Olga sambil menarik kursi bulat berwarna putih.
Evan menyesap coffee sachet buatan Olga.
"Rasanya?" tanya Anya. Entah kenapa dia spontan bertanya, tampaknya sejak pertama kali mereka berbincang sudah menjadi keharusan untuk menanyakan hal itu.
"Manis," sahut Evan. Anya tersenyum.
"Akhirnya senyum juga," celetuk Olga.
"Mpph Olga."
"Apa, byy? Jadi besok ke kampus?"
"Nggak," sahut Anya. "Besok kan Hari Sabtu, gimana sih."
"Wah iya lupa." Mereka tertawa.
"Evan sendirian tumben," kata Anya. Biasanya Evan sering mengajak Ricco.
"Ricco maksudnya? Dia sedang ada urusan."
"Sama Ricco saudara? Atau teman?" Entah kenapa Anya keceplosan menanyakan itu. Dia tergelitik untuk mengetahui ketertarikan seksual Evan sepertinya.
"Lebih dari teman dan saudara rasanya." Evan tergelak. Wajah Anya sudah tidak sepucat tadi jangan-jangan benar guyonan teman sesama waitress. "Kami malah sudah berteman dari kecil, SD, SMP, SMA, kuliah di tempat yang sama." Evan menjelaskan. Anya mengangguk-angguk, waktu yang sangat lama.
"Aku tinggal dulu ya, beli bubur buat Anya." Olga berkata kemudian meninggalkan kamar itu.
"Penampilanku berantakan?" rintih Anya.
"Nggak apa," sahut Evan. Anya menghela nafas. "Sambil berbaring aja."
Mana mungkin Anya tidur-tiduran di depan Evan. Menggunakan daster seperti ini lagi. Anya sedikit kaget melihat Evan mendatangi kosannya. Apa mereka sudah seakrab itu? Tapi bisa saja, karena kemarin Evan yang menemani Anya saat Anya menangis tersedu dia jadi berpikir untuk menjenguk Anya.
"Cafe sepi nggak ada kamu," kata Evan. "Jadi bosan."
"Masa?" Anya merasa kata-kata Evan mulai menjurus kearah yang berbeda, atau itu hanya perasaan dia saja. "Kamu nggak kerja?"
"Ini lagi jam istirahat makan. Maaf, seharusnya tadi aku bawakan makan siang, cuma aku nggak punya nomor kontak kamu."
Anya dan Evan bertukar contact. "Lain kali aku bawakan coklat," kata Evan.
"Beneran yah." Anya tersenyum lemah.
Evan berpamitan saat Olga kembali, dia menenteng bungkusan.
"Cepet sekali pulangnya?" tanya Olga pada Anya saat Evan berlalu.
"Kan dia kerja."
"Oh iya. Kerja di mana?"
Anya menyebutkan nama perusahaan tempat Evan bekerja, "Wow perusahaan bonafit tuh pantesan mevvvah penampilannya. Mobilnya juga oke. Sudah pacaran sama dia aja," kata Olga lebay.
"Parah ih. Belum tentu dia tertarik sama gue. Lagian gue sakit hati sama laki-laki."
"Mana ada nggak tertarik bawain bunga gituan. Kalo soal sakit karena laki-laki, gue pengalaman nih. Entar juga lupa cari yang lain. Tapi kalo lo, By, sebaiknya tunggu sebulan biar nggak terkesan gampangan. Kalo gue jangan tanya, hari ini putus besok juga udah cari yang lain."
"Sebulan juga terlalu cepat." Anya mengingat lagi saat-saat bersama Aric. Tidak menyangka lelaki yang selalu membuatnya tertawa itu sekarang membuatnya menangis sedih. Olga keluar dari kamar Anya, Anya memakan buburnya sambil membaca w******p dari Aric. Intinya dia berkata kalau khilaf dan terjebak, dia bahkan benar-benar tidak punya hubungan dengan wanita itu. Yang semakin membuat Anya marah.
Anya tak menyangka Aric tega melakukan itu. Memang Anya tidak mau melakukan, tapi ... Aric tampaknya bukanlah seorang maniak. Ternyata dia salah. Anya beringsut dari tempat tidur dan memasukkan ke tong sampah semua barang-barang yang mengingatkan dia pada Aric.
***
Anya berjalan gontai di koridor kampus. Beberapa mahasiswi yang dia kenal menyapanya. Matanya sudah dikompres air es kemarin seharian jadi tidak bengkak lagipula concealer makeupfor**** milik Olga sempurna menutupi lingkaran di bawah matanya. Penampilan Anya cukup segar.
"Anya!" suara itu, Anya tau dia pasti akan bertemu dengan laki-laki itu di kampus. "Anya plis." Aric menarik tangan Anya.
"Lepasin. Aku muak sama kamu," kata Anya dingin. Beberapa mata melihat mereka, pertengkaran kekasih.
"Anya pliss denger dulu penjelasan aku. Aku terjebak."
Terjebak? Teringat Anya pada suara desahan kenikmatan dari mulut Aric saat itu. Itu namanya terjebak?
"Aku nggak ada hubungan sama cewek itu."
Jadi kenapa kamu bercinta dengannya?!
"Aku ada kuliah. Kalau kamu nggak lepasin aku akan teriak." Aric terpaksa mengalah, tapi Anya tau dia tak akan menyerah semudah itu.
Di kelas, teman-teman Anya menginterogasi dia, bertanya apakah mereka putus? Karena Aric tidak menempel pada Anya seperti biasanya. Sulit dipercaya, desis salah satu dari mereka, "Bukannya si Aric cinta mati sama lo, yah," kata-kata itu membuat Anya mual.
Sepulang kampus Anya dikejar lagi oleh Aric, Anya tahu Aric ini sangat pantang menyerah tapi Anya tidak akan memaafkan dia. Aric membuntuti Anya sampai ke kosnya bahkan menunggui Anya sampai malam.
Aku nggak akan luluh, kata Anya. A2 begitu biasanya Aric menulis kode nama mereka.
Mengetahui Anya, gadis tercantik se-fakultas kini sendiri, Anya mulai banyak menerima pesan dari lelaki, di kantin saja bergantian mahasiswa yang membayari makanan Anya. Itu membuat Aric semakin emosi. Tapi Anya tak menyebutkan alasan mereka putus, biar bagaimanapun Aric orang yang pernah dicintainya dia tak akan mengumbar keburukan Aric.
Syukurlah Aric akhinya akan berangkat mengikuti tournament game ke Singapore selama sebulan. Itu berarti Anya setidaknya akan bisa bernafas lega. Aric masih saja mengirim pesan dengan berganti-ganti nomor karena Anya akhirnya selalu memblokir nomor-nomor yang digunakan Aric. Aric bahkan menelepon dari nomor-nomor teman sekelas Anya, karena tau Anya tidak akan memblokir nomor itu.
***