Ketika aku terbangun di rumah sakit, yang kuingat bayanganku bisa bicara padaku. Mungkin terdengar seperti mengigau atau bahkan berhalusinasi. Tapi memang benar. Lelaki yang kembar identik denganku itu, bisa berbicara tanpa kuminta. Dan kau tahu, anehnya ia seringkali berbeda pikiran denganku. Lekas aku berpikir, apakah ini yang dinamakan bisikan malaikat Tuhan? Namun aku tak paham, ia pembawa bisikan baik atau buruk.
Yang kuingat, ketika itu aku terbangun di ruangan empat kali enam. Aku mengenakan pakaian serba putih, kupikir aku sudah mati. Namun nyatanya tidak semudah itu. Kulihat paman dan bibiku saling peluk. Mengalir deras air mata bibi. Seketika mereka memelukku lalu berkata: syukurlah Wage, Tuhan masih memberikan kesempatan. Aku tak begitu paham arti kata kesempatan saat itu.
Kepalaku begitu pening untuk merespon segala yang mereka ucapkan. Apalagi rahangku terasa kaku dan aku gagal menggerakkan seluruh tubuh. Nyeri, hanya kata itu yang bisa kurasakan.
Tidak lama kemudian, seorang dokter dan perawat masuk. Ia memeriksaku, mulai dari stetoskop yang ditempel ke d**a hingga senter yang ia sorot ke retina mata. Sial! Aku gagal mengingat apa yang terjadi dan untuk apa aku di sini.
“Kau kecelakaan,” akhirnya kalimat itu terlempar dari mulut paman. Aku meneliti seisi ruangan.
“Bodoh! Kau hampir saja membunuhku!” aku berusaha mencari arah suara itu. Melirik ke kanan-kiri, mencoba menggerakkan leher yang kurasakan begitu nyeri. Seketika pandanganku terhenti pada cermin bundar yang berdiri kokoh di meja sebelah tempatku tidur. Seakan tidak percaya, aku melihat bayangku berkali-kali memaki. Namun aku tak punya daya untuk mengusap-usap mata, yang kudengar ia berbicara berdengung seperti orang yang marah menumpahkan segala argumen untuk menyalahkanku.
“Anjing! Diam!” tanpa sadar aku membuang muka ke arah berlawanan. Leherku bisa bergerak, namun seketika kurasakan nyeri yang sangat dahsyat.
“Wage? Apa itu kata yang pantas untuk orang yang menolongmu?” paman berkata ketus padaku. Ah sial, aku tak begitu paham, apakah paman dan bibi tidak mendengar ada suara-suara yang dengan pongah menyalahkanku. Aku menengok padanya. Mataku berpendar, pandanganku masih agak kabur.
Seperti lensa foto yang secara otomatis menjadi fokus pada satu objek, mataku langsung tertuju pada seorang perempuan yang berdiri tepat di depanku—dekat kaki. Astri?
Ia tersenyum. Kemudian berkata, syukurlah Wage. Tanpa sadar, mataku kembali gelap. Sayup-sayup aku mendengar percakapan dokter dan paman. Suara bibi yang hangat. Suara Astri yang lembut. Sepertinya mereka sepakat, aku masih perlu istrirahat. Namun dari segala macam kabar anjuran dokter yang mendengung di telingaku, terdengar suara-suara kegembiraan yang tak terkira. Lantaran aku masih bisa membuka mata.
Malamnya, aku kembali bangun dengan tenggorokan kering. Kulihat seorang perempuan tidur di atas sofa. Wajahnya ia tutupi dengan jaket biru tipis. Kulihat dadanya kembang kempis berirama. Ah, sial, kenapa Astri sampai segitunya mau menungguiku sampai tidur. Lantas di mana paman dan bibi?
Aku coba menggerakkan leher. Aku butuh air. Tanganku kugerakkan, ada sengatan nyeri yang amat sangat. Meraih gelas plastik yang masih tertutup kertas putih, kemudian menariknya. Dan jatuh. Sial! Tubuhku masih belum bisa diajak kerja sama.
“Mas Wage?” perempuan itu bangun. Ternyata Melanie, anak Paman Bima.
“Kau pasti kecewa kan? Pasti kau mengharapkan Astri yang tidur di sana. Hahaha—” Anjing! Suara itu lagi. Aku melirik ke cermin bundar yang berdiri kokoh di meja.
Melanie mengambil gelas, lalu menuangkan air. Ia menaikkan sandaran tubuhku hingga posisiku setengah duduk. Kemudian ia membantuku minum. Aku masih berusaha melirik ke cermin bundar itu. Ia terlihat meracau, entah apa.
“Ada apa mas?” suara Melanie mengagetkanku, “—hmm… bi-sa bu-ang cer-min i-tu?” rahangku masih nyeri untuk berbicara. Melanie mengambilnya. Cermin bundar itu ternyata ada dua bagian. Seperti lionting namun berdiameter besar—sekitar lima belas senti. Namun bagian yang lain dari cermin itu sudah tidak ada. Seperti kaca pecah yang sudah dibersihkan. Bingkainya berwarna hitam. “Kau coba membuangku? Aku bisa di mana saja!” ia meracau lagi.
“Bu-ang cepp—” omonganku terhenti, nyeri benar rahangku ini. Untungnya Melanie cepat tanggap, ia menutup cermin itu. Tidak ketinggalan, ia pun mengucap syukur melihatku masih bisa membuka mata. Entah apa maksudnya, aku tak paham. Mengapa semua orang menjadi begitu banyak bersyukur, seolah baru saja terbebas dari bencana yang dahsyat.
Hari-hari berikutnya, paman, bibi, dan Melanie bergantian menjagaku. Lekas aku mengenal dokter yang tiap kali datang memeriksaku, namanya dokter Lathif Surya, dan seorang perawat yang terlihat manis, Rani. Meski ada beberapa perawat datang silih berganti, kuamati betul, Rani adalah yang paling sering menjadi pendamping dokter Surya. Ah, tapi mengapa di saat seperti ini aku masih memedulikan hal-hal seperti itu. Yang jauh lebih penting adalah kronologi kenapa aku di sini.
Menurut cerita yang kurangkai dengan berbagai sumber dengan gangguan dari suara-suara pantulan bayangku di setiap benda yang bisa digunakan untuk berkaca—sekecil apa pun, bahkan di pantulan benda-benda yang dibawa dokter dan perawat, aku telah koma selama dua minggu! Aku pernah beberapa kali mendapat kabar teman yang koma selama sebulan, dan hasilnya, tidak jauh dari kabar kematian setelahnya. Maka untuk menuju kematian, menurut suara sialan itu, waktu komaku kurang lama. Anjing!
Aku mengalami kecelakaan di jalan Klaten-Jogja. Jalan lurus dan membosankan ini memang seringkali menyebabkan kantuk yang datang tiba-tiba. Barangkali jika aku kecelakaan lantaran menghindari Bus Eka yang selalu makan jalan ketika menyalip kendaraan lain, bisa jadi akan terlihat keren. Atau paling tidak sebuah kecelakaan yang dianggap wajar. Namun jika kecelakaan menabrak sebuah truk yang berhenti di lampu merah, ini adalah sebuah kecelakaan yang bisa dikatakan lebih dari konyol. Dan sialnya lagi, truk yang kutabrak tadi langsung kabur begitu saja. Belum genap kesialanku malam itu, ternyata dalam waktu yang lama tidak ada yang menolongku lantaran jalanan begitu sepi. Sebuah ambulan datang—katanya, setelah mendapatkan telpon dari seorang perempuan. Dan kau tahu, siapa perempuan itu? Aku bahkan terkejut mengetahui bahwa perempuan yang mati-matian—ini terlalu berlebihan—menelpon ambulan untuk menolongku adalah Astri.
Menurut pengakuan Astri pada Paman Bima, aku menelpon Astri. Aku bercerita padanya sangat detail apa yang terjadi dan di mana lokasiku saat itu berada. Meski akhirnya, jika kau paksa aku untuk mengingatnya, aku hanya bisa melongo kebingungan menjawabnya. Maka terjawab sudah, alasan Astri ada di kamarku beberapa hari belakangan. Mungkin saja ia merasa bertanggung jawab, atau mungkin juga ia menaruh perhatian. Ah, dasar kepedean! Untung saja, rumah Paman Bima tidak jauh dari RSI Klaten—tempatku dirawat.
Seminggu setelah hari pertamaku membuka mata, aku diperbolehkan rawat jalan. Dan selama beberapa waktu ke depan, aku memilih tinggal untuk sementara waktu di rumah paman. Entahlah, pada saat itu, aku tak menemukan untuk kembali ke Solo atau bahkan melanjutkan perjalanan ke Jogja—yang kuingat tujuan awalku di malam celaka yang lebih dari konyol itu.
***