Jam terus berputar, detik demi detik telah berlalu, keadaan langit mulai berubah menjadi gelap seiring berjalannya waktu, jalanan yang sunyi, hanya suara binatang kecil yang menemani sosok wanita yang berpenampilan menyedihkan terus berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
Tuhan, semenyedihkan ini hidup ku, beberapa jam yang lalu aku merasakan menjadi wanita special dalam hidup seseorang, yang mendamba diriku, menginginkanku, bahkan dia terus memantau setiap gerak gerikku, memberiku kenyamanan dan rasa aman. Tapi sekarang, lihatlah diriku Tuhan, aku tercampakkan, seperti jalang*ng yang menjijikan, seakan takdir mempermainkan hidupku. Gumam Lily dengan terus berjalan.
Kaki yang tidak menggunakan alas kaki itu sedikit demi sedikit terluka, karna bersentuhan secara langsung dengan aspal, rasa pusing dan lapar membuat tubuh Lily lemas.
"Dasar b******k, pria iblis, kau telah menghancurkan hidupku, dan merenggut kesucianku, aku akan membalasmu, dan membuatmu menderita, itu sumpahku." Teriak Lily dengan suara seraknya, tenggorokannya yang kering itu ia paksakan untuk mengumpat, membuatnya terbatuk-batuk..
Freya duduk di trotoal, "Huussfff." Lily menghela nafas kasar. Ia melirik di sekelilingnya sambil mengelus perut yang terasa lapar, ingin segera ia mengisinya, namun ia tidak memiliki sepeserpun uang.
Beberapa orang yang melintas di sekitarnya menatap dengan tatapan aneh, Lily pun baru menyadari dengan keadaan baju yang ia kenakan, rambut yang berantakan, memakai baju kimono yang kebesaran di tubuhnya, dan handuk kecil yang terlilit di leher guna menyeka keringat yang sedari tadi bercucuran.
"Aarrgggg." Teriak Lilytidak bersuara, ia merasa geram, dan mengingat wajah Barra, rasanya ia ingin mencabik-cabik mulut penuh dusta itu.
Merasa risih karna orang-orang terus menatapnya, membuat Lily kembali melangkahkan kakinya, langkah yang tanpa tujuan.
Praangggg
Lily menendang batu yang tergeletak di pinggiran trotoal, tanpa sengaja batu itu mengenai kaca mobil seseorang yang terparkir di depannya, mengakibatkan kaca mobil itu pecah. Tidak ingin membuat dirinya dalam masalah, dengan cepat Lily membalikkan tubuhnya, merenggangkan kedua tangannya keudara, seolah-olah ia tidak bersalah.
Beberapa menit berlalu, Lily merasa tidak ada orang yang menghampiri karna ulahnya, merasa keadaan aman, ia pun membalikkan badan, sontok tubuhnya terhuyung dan terjatuh. Tetapi pria di hadapannya dengan sigap menopang tubuh mungilnya.
Deg
"Tampan." Gumam Lily lirih dengan wajah yang bersemu merah.
Meskipun Lily berkata sangat pelan, pria di hadapannya yang berjarak beberapa senti itu masih bisa mendengarnya. "Hay Mbak." Pria itu mengayunkan salah satu tangannya di depan wajah Lily, membuat wanita itu tersadar kembali.
"Ah maaf Om." Ucapnya sambil membenarkan kimononya, dan pria di hadapannya menaikkan satu alisnya mendengar wanita itu memanggilnya Om.
Pria itu berdehem untuk menetralkan amarah yang ia tahan beberapa detik lalu. "Mbak harus bertanggung jawab." Ucapnya dingin dengan tatapan tajam
Kkraakk... Boomm
Mungkin seperti itulah bunyi hati yang remuk dan jantung yang meledak, Lily mengerdipkan matanya berulang kali, berharap semua ini mimpi, tetapi suara bariton di hadapannya dapat menyadarkan lamunannya itu.
Lily menyengir kikuk, jangankan mengganti kaca mobil yang mungkin harganya jutaan itu, untuk mengisi perutnya saja ia tidak memiliki uang.
Lily menunduk, memasang wajah memelas, berharap sosok pria di hadapannya bisa memaafkan perbuatannya. "Eeumm... Begini Om, saya tidak sengaja menendang batu itu dan mengenai kaca mobil Om, saya minta maaf, tapi saya tidak memiliki uang, saya baru saja lolos dari seseorang yang menyerupai iblis, saya mohon maafkan saya." Lily mengusap air mata buayanya, berharap pria itu percaya ucapannya.
"Saya tidak perduli, ganti rugi atau saya laporkan ke polisi."
Ucapan tegas tidak ingin di bantah itu sontak membuat Lily mendongakkan wajahnya. Ia takut bila harus masuk penjara dan membusuk di sana, tetapi ia tidak memiliki uang untuk mengganti rugi. Lily tenggelam dalam lamunannya, membuat pria itu geram dan membentaknya, sontak membuat buliran bening jatuh begitu saja di pipi mulus Lily.
Dengan suara bergetar, Lily kembali mengutarakan permintaan maafnya, tetapi pria itu tidak memiliki hati nurani, Lily benar-benar sial hari ini, pria itu menyeretnya mendekat ke mobil BMW keluaran terbaru itu.
"Ganti kaca mobil ini, atau ku jebloskan kau kepenjara."
Isak tangis Lily semakin tak sanggup ia tahan, kaki yang lemah karna capek berjalan yang tidak terhitung entah berapa ratus meter, dan perut yang kosong membuat tubuhnya lemas.
Pria itu terus mengomel dan memberi tahu berapa harga mobil barunya itu, hingga harga bautnya, dan saat ia menoleh, melihat tubuh Lily tergeletak lemah di tanah.
Maxime berjongkok di samping tubuh Lily dan menggoyang pelan tubuh lemah itu. "Hai,, Mbak, bangun Mbak."
Ya, pria itu adalah Maxime Renanda Smith, memiliki usaha properti terbesar, ribuan cabang tersebar di berbagai negara, kekayaannya tak terhitung entah berapa triliun, ia merupakan orang terkaya seasia.
Maxime mengusap wajahnya kasar, mendapat tatapan dari orang yang melintas di sana, membuat ia kikuk dan bingung, mau di bawa kemana wanita ini.
Malas pikir panjang, karna beberapa orang berkumpul di dekatnya, ia pun membopong tubuh mungil Lily masuk kedalam mobilnya, ia pun menjalankan mobil sportnya itu perlahan, dan menjauh dari sana.
"Dasar wanita pembawa sial, di mana aku harus membuangmu." Gumamnya geram sambil memukul setir mobilnya.
Setelah terus memacu roda empatnya, ide gila pun muncul di benaknya, Max dengan cepat melanjukan mobilnya, beberapa menit telah ia tempuh, akhirnya kini ia telah sampai di tempat pembuangan sampah.
Ya, Maxime berniat ingin membuang Lily di pembuangan sampah terbesar itu, tetapi saat ia menoleh menatap wajah polos Lily, ia merasa tidak tega, Max menghembuskan nafas gusarnya, tanpa sengaja Max melihat telapak kaki Lily yang berdarah, ia pun meraih kaki jenjang itu, dan terkejut saat melihat telapak kakinya penuh luka.
Bersambung..