Hampir Ketahuan

875 Words
Ting.. Ting.. Suara dering ponsel yang menandakan masuk sms. Ly, nanti gue tunggu di halte biasa ya. Isi pesan yang di kirim Linda. Oke, gue mau rehat bentar. Balas Lily Awas aja kalau telat. Lily tidak membalas lagi sms Linda, ia menaruh ponselnya di atas meja dekat ranjang. Kemudian ia menatap langit-langit, memikirkan hidupnya yang terlalu rumit. Niat ingin tidur sebentar, tetapi Lily tidak bisa memejamkan matanya dan merasa bosan, kemudian ia menghidupkan tv, mencari siaran yang bagus, tetapi beberapa chanel memberitakan kemunculan penerus tunggal BINTANG GRUB ke publik. Sudah kaya, tampan lagi, pantas saja saat muncul ke publik banyak menarik perhatian masyarakat. Komentar Lily sambil memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya. Ketukan pintu mengalihkan pandangan Lily, kemudian gadis itu beranjak turun dari ranjang dan membuka pintu. Lily melihat buket bunga Lily seperti namanya, dan sebuah paper bag coklat. Lily melihat kebawah siapa yang mengirim hadiah untuknya, tampak sosok pria berpakaian serba hitam dan memakai topi, Lily berlarian menuruni anak tangga dengan cepat, dan mengejar siapa pria misterius itu, tetapi langkahnya kalah cepat, ia kehilangan jejak pria misterius itu di persimpangan jalan. "Siapa pria tadi?" gumam Lily ngos-ngosan. "Jika aku dapat menangkap mu, akan ku antar kau ke neraka." rutuk Lily sambil berjalan pulang. ******* Di tempat lain... "Sial, hampir saja ketahuan." pria itu melempar topi yang ia pakai dan mengacak rambutnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menyandarkan punggungnya. "Tuan, satu jam lagi anda ada acara di Mall SKY, melakukan peresmian cabang Mall SKY yang ada di jepang." ucap salah satu pria berjas hitam berdiri jarak dua meter dengan Barra. Ya, Barra Andreson adalah penerus tunggal BINTANG GRUB, yang mendirikan usaha MALL, HOTEL, TAMAN HIBURAN, di berbagai kota, BINTANG GRUB juga memperluas usahanya di bidang berlian dan investasi di beberapa perusahaan besar. "Siapkan semua yang saya perlukan." perintah Barra tanpa mengubah posisi duduknya. "siap Tuan." pria berjas hitam itu sedikit membungkuk dan berlalu pergi. Barra menegakkan duduknya kemudian tersenyum. "Tunggu aku Lily, akan kutunjukkan siapa diriku sebenarnya." gumamnya kemudian melangkah menuju kamar. Barra masuk ke dalam kamarnya yang cukup luas, terlihat kamar yang bernuansa putih abu-abu, kemudian Barra masuk ke dalam ruangan yang ia renovasi secara khusus. Ruangan yang tidak terlalu besar dan cat dinding berwarna biru. Ya, Barra sengaja mengecat ruangan itu warna biru, karna itu adalah warna favorit Lily. Barra memajang foto Lily di setiap sudut ruangan, dari ukuran kecil sampai yang terbesar, begitu banyak album berhamburan di ruangan itu, dan baju lama Lily yang bergantung rapi. Barra memang mengambil semua barang Lily yang lama, dan menggantikan dengan yang baru, karna menurut Barra baju lama Lily norak dan tidak layak di pakai. Barra duduk di depan komputer, seperti biasa, ia melakukan untuk mengetahui sedang apa gadis pujaannya. Di dalam layar komputer terlihat Lily yang tengah asik membuka kado pemberiannya. Dan mendapatkan berbagai umpatan dari Lily, tapi Barra tidak marah, ia malah tertawa. "ternyata pengirim hadiah untuk ku seorang pria, lihat saja, aku akan memukuli seluruh tubuh mu hingga kau tidak bisa berjalan, bahkan aku akan merampas semua harta mu, hingga kau kau jatuh miskin." Omel Lily sambil menertawakan ucapannya. "Haiss.. Sial." dengus Lily kesal sambil melempar bunga yang ia pegang, beberapa detik ia diam, kemudian memungut kembali buket bunga yang tadi ia lempar ke lantai. "Kau cukup kasihan bunga, aku terlalu kesal terhadap orang yang memberikanmu untukku." Lily menaruh bunga itu di atas meja. Lily melirik paper bag coklat di atas tempat tidurnya, ia berdecak pinggang, lalu berjalan dan duduk di pinggir ranjang. "Baiklah, mari kita lihat, apa isi paper bag ini, dasar penguntit sialan." Lily mengomel tiada henti, membuat Barra yang melihat di balik layar tertawa gemas. "Sudah cukup mengumpat ku Baby, kau pasti akan menyukai hadiah pemberianku." ucapnya di balik layar sambil tersenyum lebar. Liky membuka paper bag itu, ternyata isinya sebuah dress berwarna biru yang panjangnya selutut, dan pansus berwarna hitam, lengkap dengan tas jinjing berukuran kecil. Lily berdiri dan menempelkan baju itu di tubuhnya, "lucu dan cantik, wah... Cukup luar biasa penguntit ku." pujian Lily sedikit meledek. "apa ini?" gumamnya melihat secarik kertas, karna ia tidak pernah mendapatkan pesan apa pun di dalam hadiah yang ia dapatkan selama ini. "Apa sebuah ancaman." Lily pun memberanikan diri membuka kestas kecil itu, terdapat tulisan tangan yang sangat rapi. Pakailah gaun ini nanti, aku pastikan kau akan terlihat begitu cantik dan menggemaskan, jika Tuhan mengijinkan, kita akan bertemu nanti. Begitulah isi di secarik kertas itu, Lily meremas kertas itu. "Hah.. Cantik dan menggemaskan kau bilang." Lily membuang kertas itu ke lantai dan menginjak-injaknya. "Aku akan melakukan seperti ini kepadamu saat bertemu nanti, dasar penguntit sialan, apa sebenarnya tujuanmu." Lily terus mengumpat Barra sambil terus menginjak-injak kertas yang tidak berdosa itu. Bersambung. ___iklan__ Netizen: ternyata penguntit itu namanya Barra thor. ? Author: yoi cuy? Netizen: Barra api apa batu bara thor? Author: terserah lu pada lah?repot amat. Netizen: ah si author nggak seru?cepet banget tensi naik. Author: sebel gue?lu pada nggak mau vote dan ninggalin jejak pas udah baca. Netizen: et dah?ngarep bener ni author. Author: ya kali?kan biar gue tau siapa penggemar gue?jangan kaya pembaca gelap? Netizen: bet dah?gini bener kang nulis?gue semangatin aje lah ya thor Author: seteres lu? Netizen: terserah thor? Author: au ah?mau bobok, capek nulis pembaca sikit?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD