Kucing Jantan Kebelet Kawin

1347 Words
Di dalam mobil, Amira sesekali menatap lurus ke depan, sesekali juga melihat ke samping kirinya. Arbian sambil menyetir melirik terus Amira dan Amira sadar akan hal itu tapi Amira pura-pura saja tidak tahu. Zaina duduk di belakang Amira, walau dia main handphone tapi dia memperhatikan dua orang dewasa di depannya. 'Curiga Papi suka sama Ateu lagi, mending sama Ateu lah daripada janda tiga anak kemarin. Sama Ateu jelas pasti aku disayang, sama yang onoh pasti Papi harus berbagi kasih sayang. Pokoknya aku harus dukung Papi sama Ateu,' Zaina bertekad dalam hatinya akan menjodohkan Papi dan Ateunya. Pasar minggu Gasibu begitu ramai dan padat merayap, Arbian akhirnya mendapatkan parkiran mobil. Amira dan Zaina sudah keluar dari mobil duluan, menunggu Arbian yang baru menutup pintu mobil. "Adek mau cari makanan apa di sini?" Tanya Amira. "Mau lihat-lihat dulu, Teu." "Adek jalan duluan, Papi ngikuti dari belakang," ucap Arbian. Amira berjalan di sebelah Zaina, Zaina dengan sengaja berjalan dengan cepat meninggalkan Amira dan Papinya. Arbian melihat Amira yang ditinggalkan anaknya langsung berjalan di sebelah Amira. Zaina menoleh ke belakang, langsung tersenyum melihat keduanya yang sudah berjalan bersama. Zaina berhenti di depan gerobak tukang kupat tahu. "Ateu, kita makan kupat tahu yah!" Pinta Zaina "Oke." Ketiganya masuk ke dalam tenda pedagang kupat tahu yang belum ada satupun pembeli. Amira duduk di sebelah Arbian dan Zaina duduk berhadapan dengan Papinya. Pesanan kupat tahu mereka baru datang ketika satu keluarga masuk ke dalam tenda. Bangku kayu yang panjang terasa sempit karena ditambah yang baru datang tadi, Amira sudah menggeser tubuhnya dekat sama Arbian tapi masih terasa kurang bagi keluarga yang di sebelah Amira. "Maaf, Bu. Bisa tolong geseran lagi duduknya ke suaminya," pinta seorang Ibu yang duduk di sebelah Amira. "Eeeh.. Suami?" "Iya, yang di sebelah Ibu itu suami Ibu kan?" Amira tidak menjawab pertanyaan Ibu tersebut, memilih langsung menggeser tubuhnya mepet dengan Arbian. Zaina menahan senyumnya melihat Amira yang kikuk duduk terlalu mepet dengan Papinya. Bagaimana dengan Arbian? Tentu saja dia senang sekali ada orang lain yang menyebut suaminya Amira, apalagi ditambah pinggang mereka yang saling menempel. Agak ser-ser gimana gitu bagi Amira dan Arbian. Amira makan tanpa mengobrol dengan Arbian ataupun Zaina. Arbian yang sudah selesai makannya duluan, mengambil uang dari saku celananya. Arbian mengambil tiga lembar uang merah lalu diserahkan pada Amira. "Neng, ini bayar makannya sama jajannya Adek dan beli makanan buat Abah dan Ambu. Kalau kurang bilang sama Aa." "Iya." Selesai makan, kembali Amira dan Arbian berjalan bersama kembali. "Ateu, beli batagor yah." "Hayuk." Zaina memang kalau sama Amira selalu manja. "Aa mau batagor juga?" Amira menawarkan pada Arbian. "Aa mau siomay saja." Kebetulan tukang batagornya juga jualan siomay. "Mau yang mana, A?" "Yang biasa saja, Neng" Amira hapal apa kesukaan kakaknya ini yaitu siomay, tahu dan pare. Amira juga membeli untuk di rumah. Lanjut jalan lagi untuk mencari pesanan Abah yaitu surabi dan bandros dengan tukang jualannya bersebelahan. "Ateu, Adek mau beli buah strawberry dulu." "Beli di mana? Swalayan?" "Bukan, di sana ada yang jual. Adek ke sana dulu." "Tidak bareng saja, Dek?" "Ateu nunggu surabi saja sama Papi, Adek mau ke sana." Zaina mau memberi kesempatan buat Ateu dan Papinya berduaan. "Dek, uangnya ini." Sayangnya Zaina sudah pergi tanpa melihat ke arah Amira. Amira menoleh pada Arbian yang mana Arbian sedang melihat anaknya pergi ke mana, Amira menoleh lagi ke arah kepergian Zaina. Arbian melihat Amira lalu tersenyum, senyumnya seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Pesanan surabi dan bandros sudah jadi, tinggal Amira dan Arbian menyusul Zaina yang sedang memilih baju. Amira dan Arbian berjalan bersisian, sesekali Arbian sengaja menyentuh tangan Amira tanpa Amira sadari karena memang banyaknya pejalan kaki. Arbian modusnya kagak ketulungan, untungnya Amira masih tidak sadar, kalau Amira sadar yang ada Amira tambah kesal sama Arbian. "Beli apa, Dek?" Amira bertanya saat Zaina sedang memilih kaus untuk dipakai di rumah. "Kemeja, Teu. Ini murah, Ateu mau?" "Adek saja yang beli." Amira lagi tidak minat belanja, bukan karena murah tapi lagi tidak mood belanja saja. Arbian hanya berdiri di belakang keduanya, memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka bahas. "Ateu ini kemejanya bagus deh, bisa coupelan." "Coupelan? Adek mau couple dengan siapa? Adek sudah punya pacar?" Tanya Amira berderet. "Ish, bukan Adek yang coupelan." "Ya terus couplean sama siapa?" "Ya buat Ateu sama Papi lah," ucap Zaina dengan sangat sadar dengan senyum tengilnya. "Eeeh... " Amira langsung melotot pada Zaina. Arbian senyam senyum saja, anaknya ternyata paham apa yang diinginkan Papinya. "Yang ini saja, Ateu. Warna biru sama putih." "Adek, apaan sih," tegur Amira. "Ini cantik Ateu, cocok buat Ateu sama Papi." Amira menahan malu sama tingkah keponakannya ini. Bisa-bisanya kepikiran Ateunya disuruh pakai kemeja coupelan sama Papinya. Pengen Amira geprek ini ponakannya. "Adek jangan macam-macam deh!" "Adek tidak macam-macam Ateu, Adek lihat cocok dipakai samaan dengan Papi." Amira menarik lengan Arbian. "A, itu anakmu, larang napa?" Arbian hanya mengedikkan kedua bahunya tapi sambil tersenyum. "Ih, Aa mah nyebelin banget," Amira kesal sama Arbian. Zaina sudah membayar apa yang dia inginkan. "Hayu Ateu sekarang kita belanja lagi." "Ini anak sama bapak sama saja," Amira ngegurutu sendiri namun kedengaran sama Arbian. Mereka lanjut jalan kembali, yang belanja malah Zaina, Amira dan Arbian hanya mengikuti. "Dek, pulang yuk! Sudah siang nih, makin panas." "Beli gelato dulu, Teu. Itu ada yang jual pakai mobil." Kembali Amira dan Arbian mengikuti Zaina. "Ateu mau juga?" "Mau deh." "Ateu mau rasa apa?" "Mau yang strawberry sama matcha, yang cup saja, Dek." "Adek mau yang vanila dan choco mint deh." "Aa mau gelato juga?" "Mau yang coklat mint sama caramel, pakai cup juga." Amira membayar semua pesanan mereka, lalu mereka lanjut ke parkiran mobil. "Neng, pegang dulu gelato punya Aa. Aa mau nyetir." Amira memegang dua cup miliknya dan milik Arby. Hingga mobil berjalan pun masih tetap Amira pegang. "Aa ini sudah mau cair." "Suapin atuh, Teu," celetuk Zaina dari kursi belakang. "Eh... " Arbian melirik pada Amira sebentar lanjut menatap lurus ke depan karena fokus menyetir. "Buka mulutnya, A. Neng suapi punya Aa." Arbian tersenyum sebelum membuka mulutnya. Ini yang diinginkan Zaina punya orang tua komplit dari dulu. Melihat dua orang yang di depannya membikin hati Zaina bahagia. Mobil berhenti saat lampu merah menyala, Arbian menoleh pada Amira yang mau menyuapinya lagi. "Sini gantian Aa yang suapi." Arbian merebut cup dari tangan Amira. "Gak mau, Aa saja yang Neng suapi." "Buka mulutnya Neng, Ayo." Sendok kayu sudah di depan mulut Amira. Mau tak mau Amira membuka mulutnya, satu sendok untuk berdua, bahkan gelato punya Amira pun dimakan berdua. Arbian menyuapi dirinya sendiri dan Amira hingga lampu merah berubah menjadi hijau. Sudah biasa dari kecil mereka makan sesendok bareng-bareng karena waktu mereka kecil, Arbian yang mengurus dua adiknya juga Amira ketika Abah pergi kerja dan Ambu pergi giat persit. "Neng habisi saja, Aa sudah kenyang." Arbian menyerahkan cupnya pada Amira. Zaina terlihat bahagia sekali melihat adegan romantis di depannya. Zaina sungguh sangat berharap Amira yang menjadi ibu sambungnya. Mereka tiba di depan rumah saat Abah dan Ambu duduk di depan teras. Sejuk hati Abah dan Ambu melihat anaknya bersama keponakannya yang terlihat benar seperti keluarga yang sesungguhnya. Zaina turun duluan untuk membuka pintu pagar baru Amira dengan membawa banyak kresek belanjaan mereka. "Bah," seru Ambu. "Kita lihat sampai minggu depan dulu, Ambu. Jangan kita main keputusan sendiri dahulu." "Atau kalau Aa ke sini, sering-sering kita suruh mereka pergi berdua. Sekiranya terlihat berbeda baru Abah bertanya ke Aa." "Sepertinya begitu." Amira berjalan ke teras dengan Zaina di belakangnya. "Abah dan Ambu sudah pada makan?" Tanya Amira pada kedua orang tuanya. "Belum, nunggu kalian bawa makanan," jawab Abah. "Ini ada kupat tahu, tadi juga beli bandros dan Surabi. Yuk!" Amira memegang tangan Abahnya untuk beranjak berdiri dari duduknya dan Zaina membantu Ambu. Abah dan Ambu duduk di kursi makan, Amira menyiapkan kupat tahu di dapur. Kupat tahu dikelurkan dari bungkusannya ke piring, Arbian datang untuk mengambil gelas yang rak gelas ada di sebelah Amira. Dengan sengaja Arbian menyenggol lengan Amira. "Aa, iseng banget sih. Untung saja bumbunya tidak tumpah," Amira ngedumel. "Sorry tidak sengaja," ucap Arbian dengan mimik wajah nyebelin. Abah melihat Arbian dari tempat duduknya, Arbian seperti kucing jantan yang kebelet pengen kawin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD