Sama Duda

1312 Words
Zaina selesai makan langsung mencuci mangkuknya, setelah itu duduk di sebelah Arbian. Zaina ingin merayu papinya agar bisa ngekost. "Papi, besok kita lihat kostan yang Adek incar yuk!" Zaina merayu dengan memeluk lengan Arbian. "Apa Adek pengen ngekost karena pengen bebas dari Papi?" Tanya Arbian penuh selidik pada anaknya. "Bukan begitu Papi, Adek itu ingin lebih dekat dengan kampus. Pulang pergi pakai mobil itu boros sama uang bensin." "Lalu apa bedanya dengan ngekost? Papi akan nambah uang makan Adek juga. Papi tiap malam pasti tidak akan tenang, Papi akan terus kepikiran apa anak Papi sudah makan belum? Gimana kuliahnya? Anak Papi bisa tidur nyenyak tidak?" "Papiiii, Adek bukan anak kecil lagi," rengek Zaina. "Adek itu anak Papi satu-satunya, kesayangan Papi satu-satunya, apa yang Papi lakukan semua untuk Adek. Papi tidak akan melepaskan Adek jauh dari Papi kecuali Adek sudah menikah." Zaina paham bahwa dia anak tunggal, hidupnya hanya berdua dengan Papinya. Bahkan Papi mengorbankan semua waktunya hanya untuk dirinya. Abah dan Ambu baru selesai makan, ikut duduk di sofa lain. Amira mencuci mangkok bekas orang tuanya, dia tidak mau ikut campur urusan keluarga Kakak sepupunya. "Dek, boleh Nin kasih masukan?" "Boleh." "Biar Papimu tidak khawatir sama anak gadisnya, mending Adek tinggal sama Aki dan Nin di sini. Pasti Papimu tenang jika anaknya tinggal sendiri," Ambu memberikan saran pada Zaina. Zaina membenarkan ucapan Neneknya dalam hatinya, Papinya sudah mengorbankan banyak buat dirinya masa dirinya tidak mau nurut sama Papinya. Setelah mencuci mangkuk, Amira ikutan duduk di seberang sofanya Arbian di sofa single. Amira lebih memilih fokus melihat layar HP-nya, dia membuka akun instagaram miliknya siapa tahu saja Rendra mengkonfirmasi permintaan pertemanannya. Namun sia-sia harapannya. "Ateu menurut Ateu sendiri gimana?" Ambu bertanya pada Amira. "Hah? Apa Ambu? Ambu nanya apa?" Amira yang sedang melamun pun tersadar. "Anak ini kerjanya melamun terus, itu ponakanmu pengen ngekost tapi Ambu nyaranin tinggal di sini saja. Selain dekat kampusnya juga agar Papinya tenang jauh dari anaknya, gimana menurut Ateu?" Semua mata melihat ke arah Amira termasuk Arbian. "Menurut Ateu sih setuju sama pendapat Nin. Tinggal di sini saja dan lebih aman, ada yang mengontrol Adek, setidaknya Papinya Adek lebih tenang bekerja karena anak gadisnya tinggal di sini karena di sini Aman, terjamin mutu dan kualitasnya." "Kayak iklan saja pakai terjamin mutu dan kualitasnya," celetuk Abah. "Ya namanya promosiin di sini atuh, Bah," sahut Amira. "Ambu setuju, tapi tinggal di sini tetap Adek harus mandiri. Nyuci baju sendiri, cuci piring sendiri, paling makan dimasakin sama Ateu." "Tinggal di sini saja, Dek. Biar Ateu dapat uang jajan lebih dari Papimu." "Kamu itu pikirannya uang saja melulu," sindir Ambu. "Ya siapa tahu saja kecipratan rejeki dari Aa atuh, Mbu. Betul tidak, A?" Amira melihat Arbian sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Arbian. Arbian tidak menjawab pertanyaan Amira, hanya tersenyum saja. Sudah biasa dia dimintain uang sama Amira, namun uang yang dikasih darinya sama Amira dibikin kue atau makanan terus dikasih kepadanya sama anaknya kembali. Amira tidak serakus itu terhadap uang. Dia hanya senang ngerjain kakaknya saja. Abah dan Ambu saling toleh setelah melihat senyuman Arbian pada anak mereka. Bagi pandangan orang tua bahwa senyuman Arbian sangat tersirat penuh makna. "Adek tinggal sama Aki dan Nin saja deh, Pi. Biar Papi tenang." Arbian menoleh ke Zaina. "Adek yakin?" Arbian memastikan keinginan anaknya. "Yakin, Pi." "Kalau gitu Papi bisa tenang, seminggu sekali pasti Papi nengokin Adek di sini." Zaina tersenyum pada Papinya. "Kenapa hanya Adek saja yang ditengok, Abah dan Ambu juga tidak ditengok? Neng juga tidak ditengok nih," Ambu ngomong sambil melirik pada Amira namun Amira fokus kembali melihat handphonenya. "Nanti semua Aa tengoki deh," sahut Arbian dengan suara keras, berharap Amira melihat padanya, sayangnya Amira tetap melihat layar handphonenya. Amira menatapi akun milik Rendra yang masih tergembok. "Kalian berdua mau pulang atau menginap?" Tanya Abah pada anak dan bapak tersebut. "Adek mau pulang atau nginap?" Arbian bertanya pada anaknya. "Nginap saja deh, malas pulang. Papi mau pulang?" Anak dan bapak ini malah saling lempar pertanyaan. "Papi ikutin Adek saja." Padahal yang sesungguhnya Arbian senang karena anaknya tidak meminta pulang. "Berarti kalian menginap di sini?" Tanya Ambu. "Iya, Ambu," jawab Arbian. "Aa nginap di sini saja, jangan nginap di rumah adikmu lagi. Biarkan Lala sama keluarganya, takutnya suaminya jadi segan karena Aa sering menginap di sana," Abah memberi masukan. "Iya, A. Aa tidur di sini saja, lagipula di sini masih ada tiga kamar kosong. Baju Aa juga masih ada di lemari, Ambu yang masukin dalam lemari di kamar sebelah Neng." "Itu kan kamar Adek, Nin," protes Zaina karena biasanya Zaina yang sering tidur di kamar sebelah Amira. "Ya sudah pindahkan baju Papimu ke kamar yang lain." "Asik, Papi nanti saja yah kita pulangnya," pinta Zaina dengan tampak memohon menatap Papinya. "Iya, asal anak Papi senang." "Neng, rapihkan kamar atas buat Aa, ganti spreinya dulu." Amira sedang fokus sampai tidak mendengar pembahasan mereka karena Amira sedang menyelidiki anak-anaknya Rendra yang dia lihat dari akun salah satu anak Rendra yang taruna. "Amira," Abah memanggil anaknya dengan suara keras. Amira menoleh pada Abah, terlihat bingung dia karena semua sedang melihatnya. "Abah manggil?" "Ya ampun ini anak, sudah beberapa hari ini melamun terus. Lama-lama Abah cariin orang agar mau nikah sama kamu, kalau perlu pakai sayembara. Aa coba carikan adikmu ini jodoh biar tidak melamun terus kerjanya." Arbian hanya mengusap tengkuk lehernya, kalau boleh bilang biar dia saja yang menikahi Amira tapi Arbian tidak berani. Arbian merasa sepengecut itu sampai tidak berani mengatakannya. Menurut Arbian lebih baik jadi pengecut daripada nanti takut merusak hubungan keluarga jika dia mengatakannya. "Apaan sih, Bah. Jodoh terus yang Abah pikirkan. Mana ada yang mau sama per4wan tua ini." 'Aa mau, Neng,' Arbian hanya mampu menjawabnya dalam hati. "Kalau ada yang mau gimana, Neng?" Ambu bertanya pada Amira. "Mana ada Ambu, pertanyaan Ambu aneh banget. Sangat langka ada perj4ka seusia Neng gini," Amira menjawabnya dengan perasaan nelangsa. "Kalau duda gimana, Neng?" Ini Arbian yang bertanya dan bikin Abah, Ambu dan Zaina kaget, tidak begitu dengan Amira yang cuek. "Ck, mana ada A. Seusia Neng ini rawan, sudah tua, belum tentu punya anak lagi. Mana ada yang mau sama Neng baik duda atau perj4ka," Amira mengatakan dengan menahan air matanya dan bikin semua terdiam. Amira mengatur ritme nafasnya menahan sesak dalam hatinya. Amira berdiri, meninggalkan semuanya, dia lebih baik masuk ke dalam kamar agar tidak ada yang tahu bahwa dia ingin menangis. Setelah masuk kamar, tak lupa mengunci pintu agar tidak ada yang masuk. Amira tengkurap di atas kasurnya membenamkan wajahnya pada bantal, menangis sejadi-jadinya. Mau menyalahkan takdir tidak bisa karena ini sudah jadi jalan suratan hidupnya. Di ruang keluarga semuanya terdiam setelah Amira masuk ke kamar. Semuanya tahu kalau membahas itu pasti sensitif bagi Amira tapi mereka ingin Amira jangan menyerah sama jalan takdirnya. Mereka hanya bisa berpendapat karena mereka tidak menjalaninya, yang menjalaninya adalah Amira, yang merasakan sakit dan terlukanya adalah Amira bukan mereka. "Biarkan Neng tenang dulu, nanti juga baik sendiri," ucap Ambu. "Abah.. " Entah kenapa tiba-tiba Arbian memanggil Uwaknya. Abah menoleh pada Arbian. "Kenapa, A?" Tanya Abah. "Eh, tidak jadi kok, Bah. Aa mau duduk di teras dulu." Arbian beranjak berdiri dari duduknya. 'Fiuh, untungnya tersadar, nyaris saja aku ngomong ke Abah,' batin Arbian. Abah menatap punggung keponakannya yang menuju ke luar, Abah sebagai orang tua tahu isi pikiran Arbian tapi Abah pengen Arbian yang bicara sendiri bahkan meminta sendiri pada Abah. Di dalam kamar Amira terus menangis, mau menyalahkan takdir tidak akan ada gunanya. Dia hanya minta sama orang-orang sekitarnya untuk tidak membahas tentang jodoh. Dia terlalu muak mendengarnya karena tidak ada yang mau mengerti keadaan dia. Semua sudah dia lakukan sesuai keinginan Abah dan Ambunya, dari ruqyah, mandi air dari ustaz sana sini bahkan air dari doa Kiai saja sudah dipakai untuk mandi tapi jodohnya belum datang jua, lalu dia bisa apa? Tentu saja Amira selalu sesak setiap memikirkan permintaan Abah dan Ambunya. Sekali lagi Amira katakan, kalau jodohnya belum ada, lalu Amira bisa apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD