Wanita yang berdiri di hadapan Ara adalah seseorang yang dulu dengan tidak tahu malu memanfaatkan situasi ketika Jae Hwan mabuk, membuat status kepemilikan sepihak atas diri pria itu. Setali tiga uang, apa yang wanita itu lakukan juga merusak kisah yang lain. Hati yang lain.
Ara mengernyit, ia melirik Jae Hwan yang terlihat santai menghadapi wanita di hadapan mereka. Terlalu banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran Ara, hubungan yang akhirnya mencair antara dirinya dan Jae Hwan harus memiliki ganjalan lagi setelah bertemu wanita ini. Sebab Ara tidak bisa menutupi rasa sakitnya bahkan ketika wanita itu berkata, "seperti tiga tahun lalu?"
Wanita berambut maroon sebahu itu benar-benar menyulut api, masa lalu yang coba mereka kubur dengan susah payah di korek kembali hanya dengan satu kalimat sederhana. Dan saat itu juga Ara merasakan ragu pada maaf yang ia berikan.
Ara tidak tahan lagi, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Jae Hwan disana dengan wanita yang Ara tahu bernama Jane. Ia meninggalkan pria yang juga atasannya itu terus berteriak memanggil namanya, dan Jane yang tersenyum merasa menang dalam permainannya.
Langkah kaki Jae Hwan terdengar jelas ketika ia berlari kecil mengejar Ara tentu saja mengingat ruangan itu menimbulkan gema. Teori soal hantu dan pembunuh yang tadi mereka bahas dan sedikit membuat takut sirna begitu saja berganti dengan perasaan emosional sendiri. Menyadari hal itu, Ara terus berlari dengan heelsnya, gadis tomboi itu tidak tahan ia berhenti sejenak membuka heelsnya yang merepotkan dan melemparnya.
"Sial, perusahaan macam apa yang mengharuskan heels karyawannya lebih dari 7 cm!" Ara menggerutu sambil menyeka air matanya dengan kasar membiarkan make up nya berantakan dan Ara tidak peduli lagi
"Ara-ya." Jae Hwan akhirnya menyusul gadis yang kini berada di hadapannya, lelaki itu kemudian menenangkan dirinya agar nafasnya teratur sembari memegang lengan Ara untuk kemudian bisa mulai menenangkan Ara juga.
"Mian (maaf) ... aku benar-benar belum siap menghadapi situasi ini," ucap Ara di antara isak tangisnya.
"Ku pikir aku sudah memaafkan mu."
Jae Hwan terdiam, semua kata yang ingin ia utarakan mendadak hilang, tidak ada hal apapun yang dapat mengobati lukanya hati selain waktu. Begitupun dengan Ara. Jae Hwan mengerti apa yang gadis itu rasakan sangat manusiawi.
"Arrasseo ... aku akan membiarkanmu sendiri." Jae Hwan mencoba mengambil jalan tengah setelah lama terdiam.
"Aku tidak bisa memaksamu memberiku kepercayaan yang sudah kau buang,"
"meski aku menginginkannya, meski aku tidak akan melepaskan mu pergi lagi tapi kali ini aku memberimu waktu,"
"aku menunggumu!" lanjut Jae Hwan membuat air mata gadis itu jatuh tanpa kendali, membasahi pipinya hingga meninggalkan jejak disana. Ada perasaan dimana ia tidak ingin pergi dari Jae Hwan tapi Ara juga tidak bisa mengabaikan masa lalu yang mengubah keduanya. Nyatanya hingga kini ada benci yang belum bisa ia singkirkan.
Ara tidak kembali ke kantor ketika Jae Hwan tiba, gadis itu meminta ijin sakit pada Kang Sol meskipun sebenarnya jam kerjanya sebentar lagi berakhir.
"aku ingin kau memastikan keadaan Ara baik-baik saja," ucap Jae Hwan setelah memanggil Kang Sol ke ruangannya.
Kang Sol hanya mengiyakan, wanita itu tahu pasti hubungan keduanya.
"pastikan juga dia tidak sakit karena cuaca semakin dingin,"
Ketika Kang Sol membungkuk pamit Jae Hwan menyodorkan kartu berwarna hitam,
"itu unlimited, kau bisa mengajak Ara jalan-jalan agar suasana hatinya membaik."
"Tapi sajangnim, saya pikir anda sangat mengenalnya, anda pasti tahu Ara ssi tidak seperti kebanyakan wanita yang anda kenal." Kang Sol akhirnya menyuarakan pendapatnya.
"Saya tidak mengenalnya dengan baik, tapi saya tahu dia bukan seseorang yang mudah luluh dengan barang-barang branded atau jalan-jalan mewah."
Ucapan Kang Sol membuat Jae Hwan sadar bahwa selama ini ia tidak mengenali wanitanya dengan baik, padahal gadis itu tahu betul segala hal tentang Jae Hwan hanya dari mengamatinya. Ia tahu Jae Hwan tidak menyukai Bawang bombay ketika pria itu menyisihkan nya di piring sehingga esoknya tidak pernah ia dapati lagi bawang bombay di setiap masakan Ara.
Wanita itu memang luar biasa, membuat Jae Hwan semakin takut kehilangan. Lagi.
Malam ketika Jae Hwan pulang ke apartemennya kembali terasa dingin, ahjumma yang menyapanya di depan pintu menyadari bahwa tuan mudanya kembali murung. Wanita paruh baya itu tidak bertanya hal pribadi meski sebenarnya ia ingin.
"Anda sudah makan malam?"
"Eung, aku akan istirahat."
Ahjumma itu kemudian membungkuk ketika Jae Hwan meninggalkannya pergi.
Di kamar, Jae Hwan membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ia masih menggunakan jas hitamnya dan dasi yang menggantung longgar di leher, pria itu hanya terdiam menutup mata, menarik nafasnya yang terasa berat dan menghembuskan nya dengan kasar. Tangannya mengusap sprei berwarna putih yang menghampar disana ketika ingatan tentang gadisnya yang baru saja kemarin tertidur di tempat ini muncul. Gadisnya mencair setelah terus mengabaikannya. Jae Hwan seperti di terbangkan lalu di jatuhkan lagi.
Tiga tahun yang ia habiskan tanpa Ara sudah cukup membuatnya sadar bahwa gadis itu pemilik segala yang ia butuhkan, meski Jae Hwan memberikan waktu untuk Ara namun sejujurnya ia tidak sabar ia tidak mau mengulang masa tiga tahunnya lagi.
Jae Hwan mengacak rambutnya kasar ketika ponselnya berbunyi sebuah pesan masuk dari Kang Sol yang mengatakan ia tengah menemani Ara di apartemennya, 'ia baik-baik saja' bunyi pesan kedua dari Kang Sol membuat Jae Hwan sedikit lega.
Esoknya pria itu melihat Ara sudah kembali bekerja meski kali ini ia di abaikan lagi seperti segalanya di mulai kembali dari nol, pria itu hanya bisa memandang Ara dari balik ruangannya bahkan kali ini untuk memanggilnya ke ruangan pun Jae Hwan tidak punya nyali.
"Sajangnim ... sajangnim." Kang Sol memanggil Jae Hwan yang terus memandang keluar.
"Ohh wae?"
Kang Sol menunjuk sebuah berkas di depan Jae Hwan yang kemudian dapat mengalihkan perhatian pria itu.
"Saya akan mengajaknya makan siang, anda bisa ikut jika mau!" ucap Kang Sol ketika Jae Hwan memeriksa berkasnya membuat pria tersebut terdiam sejenak kemudian melanjutkannya lagi.
"Aniyeyo ... aku tidak mau membuatnya merasa tidak nyaman."
"Apa hanya dengan memandanginya saja membuat anda nyaman?" ucapan Kang Sol membuat Jae Hwan sedikit canggung karena sekertarisnya tahu apa yang ia lakukan sejak tadi.
Jae Hwan tidak bisa fokus pada pekerjaannya, semua jadwal meeting di luar ia cancel sebab tender apapun akan sulit ia dapatkan jika pikirannya sedang tidak pada tempatnya. Kedua gadis itu sama-sama mengerti apa yang terjadi pada bosnya sebab satu di antara keduanya adalah seorang dalang.
"Ara ssi apa kali ini kita bisa makan bersama?" lelaki dengan kemeja biru muda yang terlihat sangat pas di badannya itu menyapa dari depan meja sekertaris.
"Calvin." Ucap Ara pelan.
"Ada restoran indonesia yang menyediakan tahu goreng isi di Itaewon, kau mau mencobanya?"
"Yaa, tahu goreng isi itu mudah. aku ingin makan yang lain." Pembicaraannya dengan Calvin memang selalu menyenangkan Ara merasa dekat secara emosional dengan pria itu mungkin karena berasal dari tempat yang sama.
"Mudah kalau kau di indonesia, tapi disini?"
"Aku akan membuatkannya untukmu lain kali!"
"Kull!" Calvin tertawa senang membuat Ara juga tersenyum melupakan masalahnya sementara Jae Hwan semakin di buat kesal memandangi gadis itu dari dalam ruangan.
"Ahh tapi aku akan makan dengan Kang Sol-ah, aku sedang ingin rabokki."
"Kau makan siang dengan menu seperti itu?" Calvin mengernyit memandangi gadis itu karena pilihannya yang aneh soal makanan.
"YA! ayo kita makan nasi!"
"Tapi aku sedang ingin makan yang pedas, aku perlu meluapkan emosi."
Ucap Ara sambil tiba-tiba pandangannya tertuju ke depan dengan tatapan yang penuh amarah membuat Calvin dan Kang Sol memandangnya aneh begitupun sepasang mata dari balik kaca yang terlihat sedikit kesal.