I Don't Like You

1102 Words
Cuaca semakin dingin ketika Ara melirik jam di pergelangan tangannya, pukul delapan malam. Gadis itu baru saja keluar dari minimarket di seberang gedung apartemen ketika pandangannya terpaku pada seseorang yang berdiri membelakanginya, pria itu terlihat menggosok kedua telapak tangan yang mendingin setelah membuka sarung tangannya, pandangan pria itu tertuju pada jendela kaca yang menutupi satu sudut pada kamar di atas yang gordennya terbuka, ruangan yang menampilkan sofa cokelat dan lampu redup kekuningan. Ara menarik nafas lalu menghembuskan nya dengan kasar, ia mengusap keningnya sekejap kemudian memutuskan untuk melangkahkan kaki untuk menyeberangi jalanan yang tidak terlalu luas. Suara langkah kakinya tidak terdengar jelas sebab jalanan sudah penuh dengan salju namun anehnya pria itu menoleh seolah mendengar bahkan melihat siapa yang berjalan di belakangnya. Pandangan mereka beradu, keduanya mematung tanpa mengucapkan kata apapun. Pria yang menunggunya sedari tadi pun kehabisan kata ia seperti terkena sihir saja. "Kenapa kau kemari?" akhirnya gadis itu yang memulai pembicaraan lebih dulu. Namun pria di hadapannya tetap terdiam, ia tidak berniat mengucapkan apapun pria itu hanya ingin melihat Ara, memastikan ia baik-baik saja. "Aku tidak ingin membicarakan hal pribadi denganmu!" Ara kemudian berjalan melewati pria itu sambil mengeratkan mantelnya, namun pelukan tiba-tiba dari pria itu membuat Ara terkejut dan matanya melotot, mulutnya nyaris saja berteriak mengutuk perbuatan tersebut namun bibirnya sudah di bungkam oleh lembutnya ciuman pria itu. Jae Hwan. Ara masih mematung ketika Jae Hwan menangkup pipinya dengan kedua tangan dan memperdalam ciuman mereka, meski awalnya itu adalah paksaan namun Ara akhirnya menikmati apa yang di lakukan pria itu. Kali ini saja, ia ingin rindunya terobati. Ciuman itu berakhir dengan Jae Hwan yang memeluk Ara semakin hangat, merangkul kan kedua lengannya pada bahu gadis itu dan sebuah kecupan di puncak kepalanya. "Aku tidak bisa menahan diriku, maafkan aku membuatmu terkejut." Ucap Jae Hwan di sela pelukannya. Namun Ara tetap saja terdiam, untuk beberapa saat wajah Jane muncul di fikiran nya membuat Ara dengan kasar mendorong Jae Hwan menjauh sementara pria itu hanya memandang heran. "Ara-ya!" ucap pria itu lirih. "Hentikan. Aku butuh waktu!" ucapan Ara membuat Jae Hwan merasa sedih namun ia juga menyesal apa yang ia lakukan barusan mungkin terlalu cepat ketika ia melihat gadisnya meneteskan air mata. Jae Hwan ingin memeluknya lagi namun ia ingat bahwa ia tidak ingin melebihi batas. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja," "Kau terus menghindari ku di kantor dan itu sangat menyiksa," "Ara-ya jebal (Ku mohon)," "Kau harus melupakan masa lalu itu, kau harus melihat bagaimana aku sekarang." Suara Jae Hwan terdengar frustasi, bagaimana tidak masalahnya dengan Ara sampai hari ini tidak pernah berakhir bahkan setelah tiga tahun. "Tidak sekarang!" kemudian Ara benar-benar melewati Jae Hwan tanpa perlawanan lagi seperti sebelumnya. Ia tidak punya tenaga untuk menangis tersedu-sedu namun air matanya tidak berhenti menetes meski ia hapus jejaknya di pipi. Gadis itu terduduk di lantai ketika pintu apartemennya terbuka, entah bagaimana cara berfikir nya namun tadi sejenak ia ingin memaafkan Jae Hwan begitu saja dan membalas pelukannya namun bayangan itu kembali muncul membuatnya tersadar. Ara berjalan menuju kaca di sudut ruang tamunya yang tadi Jae Hwan pandangi. Sudah tidak ada pria itu disana Ara menarik nafas lega dan kembali mengusap air matanya. ** Ara terus menatap keluar sudut jendela dari sofa cokelatnya, memandangi keluar dimana salju semakin menebal, di sampingnya sudah ada lebih dari lima kaleng beer yang sudah penyok jelas saja ketika habis isinya kalengnya di remas oleh tangan gadis itu yang sebenarnya tampak terlalu mungil. Gadis itu belum juga puas, ia mengambil dua botol soju dari lemari pendingin di tangan kiri dan kanannya, lalu kembali duduk di sofa dengan pandangan keluar jendela. Hari sudah larut jalanan di hadapannya juga hanya diterangi lampu redup namun salju yang berjatuhan tetap saja terlihat jelas. Ponsel di sampingnya bergetar namun ia abaikan, kali ini ia tidak ingin di ganggu. Bayangan ketika Jae Hwan menciumnya tadi terus mengganggu fikiran Ara, ia sempat goyah ingin rasanya ia memaafkan pria itu namun lagi - lagi trauma nya muncul. Bayangan bahwa pria itu pernah mencium wanita lain kembali meski sebenarnya Ara tahu sejak dulu Jae Hwan memang memiliki predikat buruk di kampus. Ara ingat hari ketika Jae Hwan mendekatinya saat acara perkenalan kampus, Ara tersenyum sembari meneguk soju nya langsung dari botol, ia kembali mengingat hari dimana ia melakukan dance di stage kemudian Jae Hwan menghampirinya, untuk beberapa saat Ara terpesona namun ia tersadar ketika pria itu menunjukan siapa dirinya. Esoknya, Jae Hwan memasuki kelas yang sama dengan Ara. Ara tersenyum sinis pria yang memiliki cap playboy itu ternyata harus mengulang satu mata kuliah dimana fakta bahwa Ara adalah mahasiswa baru dan Jae Hwan seniornya. Ia tidak sempurna seperti omongan orang - orang bagi Ara. Gadis itu tidak paham semua wanita di kampus bahkan terlihat senang hanya karna bisa satu ruangan dengan Jae Hwan, selain karna dia memiliki visual yang tampan pria itu juga pewaris salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Korea, ia juga pandai bermain gitar dan suaranya bisa memikat hati siapapun, terutama ketika ia juga melakukan eye contact dengan 'calon korbannya' Jae Hwan memandangi Ara yang duduk di depannya membuat semua wanita memandang kesal pada Ara sementara gadis itu mana peduli. "Aku tidak tahu kita satu kelas!" ucap Jae Hwan memulai pembicaraan ketika kelas usai. "klLau ada kelas lagi?" ucap Jae Hwan yang menyadari Ara terburu - buru dan mengabaikannya "Eung." Ucap Ara singkat. "Saya juga tidak tahu anda tidak lulus satu mata kuliah, SUNBAENIM (senior)!" Ara menekankan pada kata terakhir dan tersenyum sinis hanya untuk membuat pria itu merasa malu, kemudian Ara sedikit membungkuk untuk pergi lebih dulu meninggalkan Jae Hwan yang ternganga dan tidak percaya ada wanita yang berani mengabaikannya namun hal itu membuat Jae Hwan merasa tertantang. "Kau serius?" ucap seorang wanita yang berdiri di samping Ara. wo?" Aa bertanya dengan acuh. "Kau baru saja mengabaikan Kim Jae Hwan, semua orang ingin dekat dengannya bahkan para lelaki pun mendekatinya." "Maksudmu mereka gay?ucap Ara sambil mengacungkan dua jarinya memberi tanda kutip "Malldo andwe." Ucap gadis berambut pendek itu "Tentu saja Jae Hwan akan menguntungkan perusahaan orang tua mereka, atau untuk sekedar menaikan kelas mereka di depan orang lain." "Tunggu sebentar, maksudmu dia jelas-jelas mengetahui tujuan mereka mendekatinya?" Ara menatap temannya dengan dahi mengernyit dan wajah yang penasaran. "Tentu saja, lingkungan seperti itu sudah biasa baginya." "Kalau begitu tindakanku tepat dengan mengabaikannya bukan? aku tidak ingin terlibat dalam hubungan yang palsu." Ucap Ara "Kau tidak tertarik?" mereka melanjutkan obrolan tadi ketika duduk di kantin Ara menggeleng sambil meminum cold cappucinno yang di bawanya. Ara tidak tertarik untuk membuat dunia barunya tidak nyaman dengan membiarkan pria itu masuk ke dalam hidupnya. Ia baru 19 tahun usia yang terlalu muda untuk memikirkan sesuatu yang rumit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD