Pertemuan Pertama

1915 Words
Kia sudah mulai menata kembali kehidupannya semenjak kematian ayahnya, ia mencoba untuk hidup seorang diri menunggu pria yang dimaksud ayah, pria yang akan menikahinya. Kia hanya terus menunggu entah sampai kapan pria itu datang padanya. Namun, Kia akan berusaha untuk menjalankan permintaan tersebut ayahnya. Kia gadis berhijab dengan wajah yang sangat cantik, hidungnya mancung Sama persis dengan hidung ibunya. Mata yang berwarna coklat mirip dengan ayahnya. Ayahnya yang berkewarganegaraan Indonesia dan ibunya yang berkewarganegaraan Arab membuat kecantikannya tak diragukan lagi. Beberapa pemuda coba mendekatinya, bahkan ada yang pernah melamarnya. Namun, Kia menolak mereka semua dan mengatakan alasan yang sebenarnya jika ia telah berjanji kepada ayahnya akan menunggu seorang pria yang akan melamarnya. Membuat para pemuda yang mendekatinya mengerti dan mundur dengan sendirinya. Hari ini Kia yang bekerja sebagai sekretaris mendapat pujian dari bosnya karena kecerdasannya. Selain cantik Ia juga sangat cerdas membuat siapapun tertarik padanya. Namun, kembali lagi ia terus menjaga hati dan tubuhnya hanya untuk calon suami yang entah siapa orangnya. Saat pulang dari kantor di depan rumah Kia melihat mobil mewah terparkir di depan rumahnya, Kia melihat seorang pemuda dengan jas lengkap duduk di teras rumah membaca secarik kertas di tangannya. "Maaf, Anda siapa? Anda mencari siapa?" tanya Kia menghampiri orang tersebut. Mendengar sapaan itu pria itu mendongak melihat wanita yang menyapanya sesaat ia terpesona melihat kecantikan Kia. Namun, Ziko dengan cepat menepisnya. "Perkenalkan namaku Zico," ucap Ziko mengulurkan tangannya. "Zico?" Kia mengulangi ucapan Ziko. Nama itu seolah tak asing di telinganya, ia mencoba mengingat nama itu dan menatap wajah Ziko, sesaat Ia juga terpesona dengan ketampanan pria yang ada di hadapannya itu. Kia tiba-tiba teringat jika pria yang selama ini ditunggunya bernama Zico. 'Apa dia Ziko? Pria yang dimaksud oleh ayah,' batin Kia menatap Ziko dari atas hingga ke bawah. Ziko menyadari tatapan Kia. Ia juga yakin jika gadis dihadapannya itu sudah tahu dengan perjodohan mereka. Ziko memperlihatkan kartu identitasnya dan juga mengatakan jika mereka sudah dijodohkan, Ziko juga memperlihatkan sebuah foto yang diambilnya dari amplop wasiat kakeknya. Foto Kakek dan juga ayah Kia dan foto kedua foto Ziko dan kakeknya. Kia melihat semua itu dan ia pun percaya jika Pria yang berdiri di hadapan itu adalah Ziko yang selama ini ia tunggu. "Aku sudah setuju dengan perjodohan kita, bagaimana denganmu?" tanya Ziko tanpa basa-basi lagi langsung pada inti pembicaraan mereka, dalam hati ia berharap jika gadis dihadapannya menolaknya. Dengan begitu mungkin saja surat wasiat itu tak akan berguna dan dia bebas dari tuntutan wasit kakeknya. "Aku juga setuju itu adalah keinginan terakhir ayahku dan aku selama ini sudah menunggumu," jawab Kia. 'Sempurna sudah, ternyata mereka berdua sudah merencanakan ini sejak awal, mereka sengaja melakukan itu di saat nafas terakhir mereka agar kami tak bisa berkutik dengan perjodohan ini, hebat kakek dan ayahnya memang licik,' batin Zico. "Baiklah kemasi barang-barangmu kita akan ke kota, ibuku sudah mengatur pernikahan kita. Kamu tak masalah 'kan jika pernikahan kita dilaksanakan secara sederhana?" tanya Ziko tak ingin membuang waktu. "Sekarang?" tanya Kia terkejut. "Iya sekarang, tunggu apa lagi. Lebih cepat lebih baik 'kan? Sekarang ataupun nanti aku rasa sama saja kita harus tetap menikah" ucap Ziko, yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah menjalankan wasiat kakek dan semua akan menjadi miliknya. "Bolehkah Aku meminta waktu selama seminggu? Aku punya pekerjaan. Aku bekerja di perusahaan dan tak mungkin aku berhenti secara tiba-tiba dan meninggalkan pekerjaanku tanpa alasan yang jelas, aku juga perlu mempersiapkan segalanya. Ziko yang seorang pemimpin perusahaan tahu betul jika tak baik seorang karyawan pergi begitu saja meninggalkan pekerjaannya tanpa pemberitahuan atasannya terlebih dahulu, ia pun memberi kesempatan selama seminggu kepada Kia untuk menyelesaikan segala urusannya di kotanya. "Baiklah aku akan menjemputmu minggu depan dan aku harap minggu depan kau bisa ikut bersamaku, aku juga akan menyiapkan segalanya untuk pernikahan kita," ucap Ziko kemudian pamit untuk pulang kembali ke kotanya. "Ini sudah malam, apa tak sebaiknya kamu menginap dulu disini." Ziko melihat keadaan rumah Kia yang begitu sederhana, Ziko tak yakin jika ia bisa tidur di rumah sesederhana itu. "Tidak usah, aku akan menginap di hotel saat dalam perjalanan. Ingat! Aku tak mau alasan lagi, minggu depan semua harus sudah selesai dan kau harus ikut denganku," ucapnya tegas. "Baiklah aku akan menyelesaikan semuanya," jawab Kia yang tak punya pilihan lain selain. Ia mengiyakan apa yang diucapkan oleh Ziko. Kia mengerjakan semua pekerjaan yang tengah dikerjakan dan memberitahukan kepada bos dan teman kerjanya jika ia akan menikah dan mengunduh diri dari pekerjaannya. Semua mengerti dan menerima pengunduran dirinya. Tak terasa seminggu sudah berlalu, Kia sudah menyelesaikan semua urusannya di kantor dan sudah mengundurkan diri. Kia juga pamit kepada seluruh tetangga yang selama ini banyak membantunya, tak lupa Ia juga mengurus semua berkas yang menyangkut kepindahannya ke kota dan pernikahannya dengan Ziko. Siang hari Ziko datang menjemputnya, Ziko tak mau membuang waktu dan meminta Kia bergegas menaikkan barang-barangnya. "Apa sudah tak ada lagi yang tertinggal?" tanya Ziko memastikan. "Nggak ada, aku sudah mempersiapkan semuanya jauh hari." "Bagus, ayo kita pergi!" "Sebentar, aku titip kunci dulu." "Kau tak menjual rumah ini?" tanya Ziko melihat rumah yang hampir roboh menurutnya. "Aku akan menitipkan pada tetangga saja, terlalu banyak kenangan di rumah ini aku akan mengunjunginya sesekali dan juga mengunjungi makam ayahku." "Terserah kamu saja," ucap Ziko tak peduli dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelum naik ke mobil Kia kembali melihat rumahnya, rumah yang selama ini ditempatinya dan ayahnya begitu banyak kenangan di rumah itu. Kia menitipkan rumah itu kepada salah satu tetangganya untuk dirawatnya, Kia tak ingin menjual rumah yang sangat berarti dalam hidupnya. Dalam perjalanan ke kota tak ada pembicaraan diantara mereka Kia tak tahu harus berbicara apa, sedangkan Ziko lebih fokus membawa kendaraannya dia terus berpikir bagaimana caranya agar kekasihnya Kiran tak mengetahui pernikahannya. 'Aku harus mencari cara agar Kiran tak mengetahui tentang Kia,' batin Ziko. Tiba-tiba ide muncul di kepalanya, ia akan melaksanakan ijab Qabul saja dan tak ada pesta. Dengan begitu Kiran tak akan mengetahui jika ia sudah menikah, 'Iya benar, aku sudah setuju untuk menikah, aku rasa ibu dan ayah tak akan menolak keinginanku.' batinnya Setelah menempuh perjalanan yang cukup menyita waktu, akhirnya mereka sampai di kota keluarga Ziko. Ziko membawa Kia ke rumah mereka. Miranda menyambut Kia dengan bahagia. "Ternyata pilihan ayah memang tepat," ucap Miranda melihat calon menantunya melihat paras cantik Kia. Kia mencium punggung tangan ayah dan ibu Ziko, menyapa mereka. Membuat kesan baik mata keduanya. "Ibu, untuk sementara dia akan tinggal di sini, aku akan menyiapkan semua pernikahan kita. Oh ya kita akan menikah besok," ucap Ziko menatap Kia dan ibunya berganti. "Besok? Tapi, kita belum menyiapkan apa-apa," ucap Miranda yang memang mereka belum menyiapkan apapun untuk pesta pernikahan. "Bu, Ziko sudah setuju untuk menikah jadi sekarang biarkan Ziko yang akan mengatur semuanya. Ibu tenang saja masalah persiapan dan sebagainya itu urusan Ziko." Miranda hanya mengangguk samar, putranya setuju untuk menikah dan menjalankan wasiat kakek saja itu sudah bagus. "Besok Ziko akan beritahu jam dan tempatnya." Ziko kemudian meninggalkan ruangan berjalan cepat menuju ke lantai dua kediannya. Kia hanya melihat Ziko yang berjalan menjauhinya. Dalam hati Kia merasa cemas mengapa Ziko terlihat begitu marah padanya, ia tak merasa membuat kesalahan apapun, jika masalah pernikahan jika memang ia tak mau menikah dengannya untuk apa dia menjemputnya. Kia sama sekali tak tahu menahu masalah surat wasiat kakek Ziko, yang ia ketahui hanyalah kakek Ziko dan ayahnya menjodohkan mereka. Kia tak tahu jika kakek Ziko mengajukan suara wasiat yang berisi jika Ziko tak menikahinya maka semua harta kekayaannya akan disumbangkan. Suasana canggung dirasakan oleh Kia. "Mulai sekarang kamu boleh memanggilku Ibu. Ayo Ibu antar ke kamarmu, kamu pasti lelah 'kan?" ucap Ibu mengantar Kia ke kamarnya. Sementara itu Ayah menghampiri Ziko yang sedang berada di ruang kerjanya. "Ayah tahu kau tak menginginkan pernikahan ini, tapi kau sudah memutuskan untuk menikahinya dan Ayah ingin kau coba untuk menjalani pernikahan kalian. Ayah bisa melihat jika dia gadis yang pantas untuk menjadi seorang istri, dia juga sangat cantik tak kalah cantiknya dari Kiran." "Ayah secantik apapun dan sebaik apapun dia, tetap saja yang ada di hatiku hanyalah Kiran dan aku mohon Ayah jangan memaksaku untuk melepaskan Kiran dan menerima Kia. Di Surat wasiat kakek tak ada kata-kata yang mengharuskanku untuk mencintainya 'kan? Hanya menikahinya. Besok aku akan menikah dengannya, dengan begitu aku rasa aku sudah menjalankan wasiat kakek. Terserah aku mau menjalaninya seperti apa, aku tak mencintainya atau tidak menganggapnya sebagai istriku. Aku mohon Ayah jangan ikut campur dengan rumah tangga kami nantinya," ucap Ziko yang masih diliputi amarah di hatinya. Wibowo hanya menghela nafas, anaknya itu sangat keras kepala Namun, ia juga tak bisa memaksa karena dalam situasi ini memang Ziko tak salah keadaan lah yang memaksa mereka untuk menikah. Sementara itu Kia di kamarnya mulai membersihkan dirinya kemudian ia melihat pemandangan dari balkon kamarnya, ia melihat jika rumah itu begitu besar, megah dan mewah. Sangat jauh berbeda dengan kondisi rumahnya. Kia menengadahkan pandangannya ke langit mengingat sosok ayahnya, "Ayah apa ini yang Ayah inginkan, aku sudah berdiri di sini, di tengah-tengah kemewahan rumah ini, aku tak tahu akankah aku bahagia atau sebaliknya. Ayah doakan Kia semoga Kia bisa menjadi istri yang patuh dan menantu yang baik untuk keluarga baru Kia," gumam Kia garis senyum terbit di bibirnya, tapi setetes air mata jatuh di pipinya saat bayangan ayahnya kembali terlintas di benaknya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, dengan cepat Kia menghapus air matanya. "Apa boleh Ibu masuk?" tanya ibu yang sudah membuka pintu kamar. "Tentu saja, Bu. Silahkan masuk," ucapnya barulah ibu mertuanya itu masuk menghampirinya dengan senyum di wajahnya. Mereka duduk bersama di sisi tempat tidur, Miranda menggenggam tangan Kia dengan erat. "Kia, apapun yang akan terjadi dalam kehidupan rumah tanggamu nanti, ingatlah kamu tak sendiri, ada Ibu bersamamu, kamu boleh menganggapku sebagai Ibu kandungmu sendiri. Walaupun Ziko adalah anak Ibu, Ibu tak akan membelanya jika ia memang salah. Ibu akan menganggap kalian berdua itu sama, jadi jika ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, kau boleh datang pada Ibu. Anggap Ibu ini Ibu kandungmu, mertua dan sahabatmu," ucap ibu kini memegang pipi calon menantunya itu. "Iya, Bu. Terima kasih atas kasih sayang Ibu, Kia akan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik di rumah ini." "Tidak, Nak. Mungkin setelah kau menikah Ziko akan membawamu ke Apartemennya, dia sudah lama tak tinggal di rumah ini, Ziko lebih senang tinggal di Apartemen," ucap ibu membuat Kia terdiam tadinya ia sudah merasa senang walau Ziko bersikap dingin padanya ada Miranda Ibu mertuanya yang memberinya kehangatan. "Iya, Bu. Kia akan mencoba menjadi yang terbaik buat kak Ziko, Kia akan berusaha menjadi istri yang melayani kak Ziko sepenuh hati Kia," ucap Kia dengan senyum termanisnya, Walau ia belum begitu mengenal calon suaminya, tapi Kia yakin dibalik sisi cuek Ziko padanya masih ada sedikit kebaikan di hati Ziko untuknya dan berharap bisa mendapatkan cintanya kelak. Miranda memeluk Calon menantunya itu, 'Kau gadis yang begitu baik, semoga kebaikanmu bisa membuka hati Ziko dan menerima pernikahan kalian,' batin Miranda melepas pelukannya dan menatap wajah cantik Kia yang begitu tenang. "Istirahatlah, kata Ziko besok pagi kalian akan menikah, kamu nggak apa-apa kan acara pernikahan yang dilaksanakan secara sederhana? Ziko tak ingin acaranya digelar secara meriah." "Iya nggak apa-apa, Bu. Yang penting kami resmi menjadi suami istri di mata hukum dan agama itu saja sudah cukup untuk Kia." "Ya sudah, istirahatlah," ucap ibu mengelus punggung tangan Kia kemudian Ia pun pamit untuk keluar. Kia yang merasa lelah akhirnya mencoba untuk tertidur, ia mencoba menenangkan hati dan pikirannya, besok ia akan menjadi seorang pengantin dan akan menjadi seorang istri dari Zico akan banyak perubahan di kehidupannya besokan. Ia harus siap untuk semua kemungkinan yang ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD