SKA 1

3601 Words
Hari ini cuaca cukup cerah, secerah perasaan Alifa, keadaan cukup hening, udara pun segar menyambut sang gadis cantik terbangun. "Eughhhhh," gumam Alifa sambil merentangkan kedua tangannya. Lalu ia melihat jam wekernya. Jam 05.00. ia bergegas untuk menunaikan solat subuhnya, setelah kelar ia bergegas mandi untuk bersiap berangkat sekolah. "Pake bando warna apa ya?" tanya Alifa, ketika melihat koleksi bandonya di dalam lemari khusus. Setelah itu ia memutuskan untuk ambil bando warna biru langit. Moodnya hari ini lagi cukup baik, entah kalo siang. Setelah selesai rapih-rapih ia pun keluar dari kamarnya, dan menuju ruang makan, yang jelas sudah ada ayah, ibu, dan kedua adiknya. Iya Alifa adalah anak pertama, yang lahir dari keluarga sederhana namun memilik kasih sayang melimpah. Sang Ayah bertanya, "Hari ini kamu mau diantar ayah ka?" "Gak usah yah, hari ini kaka bawa motor aja," jawab Alifa, lalu mengambil roti yang tersedia di meja makan. "Yaudah yah, bu, Alifa berangkat dulu," ujar Alifa , kemudian mencium kedua orang tua nya. Setelah itu ia membelah jalanan sambil mendengarkan lagu melalui airpods di telinga. Ia menyetel lagu Hindia - secukupnya  untuk menemani perjalanan menuju sekolahnya. 20 menit berlalu. Ia telah sampai di sekolah High School Al-bhozar , sekolah yang mempunyai kualitas baik, dan termasuk di gandrungi semua orang. Ia memarkirkan motornya di tempat biasa ia parkiran setelah itu ia berjalan menuju lorong koridor sekolahan untuk memasuki kelas. "Alifaaa." Gadis tersebut lalu menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata adalah Sahabatnya yaitu Hani. Hos Hos Hos "Kenapa lu?" tanya Alifa sambil mengerutkan keningnya. Hani mengatur nafasnya lalu menjawab, "Lu dipanggil enggak nengok dari tadi diparkiran." "Sorry han, pakai airpods gue," balas Alifa sambil menyengir kuda.  Hani hanya memutar bola matanya dengan malas, mereka kembali berjalan menuju kelasnya. Sejak masuk sekolah, Hani adalah teman Alifa. Hanya ia yang betah dengan sikap dingin, irit bicara, mood  swimming dari gadis tersebut. Hani bertanya, "Lu udeh ngerjain pr belom?"  Alifa hanya mengernyitkan dahi bertanya-tanya. "Pr apa?" Hani menjawab, "Pr mtk lipeh." "Oh mtk. Udah kok," jawab Alifa. "Gue nyontek dong." Hani menaikkan kedua alisnya sambil tersenyun manis. Allifa hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya tersebutn. Alifa bukannya tidak terkenal, lebih tepatnya ia yang tak mau kebisingan dan bisik-bisikan bagi ia itu sangat mengganggu. Jadi mereka yang suka hanya memendam saja di dalam hati, sikap dingin, irit bicara, dan mulut yang pedas ketika berkata-kata membuat orang berfikir dua kali untuk mendekati gadis tersebut. "Mana liat." "Baru juga duduk Han gue," ujar Alifa, dan Hani hanya menyengir kuda. "Maacihhhh," ungkap Hani ketika sudah di beri buku pelajarana yang akan ia contek, sedangkan Aifa hanya terkekeh kecil melihat temannya. Sambil menunggu bel masuk, gadis tersebut mendengarkan lagu kembali sedangkan, Hani tentu mengebut menulis pr yang ia lupa kerjakan atau lebih tepat nya malas. Bel masuk sudah berbunyi, sedangkan Alifa tertidur pulas dengan airpods yang masih setia bertengger ditelinga. Hani yang menyadari, menyenggol sahabatnya untuk terbangun dari alam mimpinya. "Apa han?" tanya Alifa dengan tampang muka bantalnya. Hani menjawa, "Udeh masuk." "Hah apasi?" tanya Alifa sekali lagi. Tanpa pikir panjang Hani langsung mencopot airpods yang digunakan gadis tersebut. Hani menarik nafasnya, lalu berbisik ke kuping Alifa dengan sedikit lantang. "Udeh masuk gila." "Ngomong kek dari tadi," ujar Alifa. "Lah buseh dari tadi gue bebacotan." Tak lama kemudian guru masuk, dan pelajaran di mulai. Semua penghuni kelas mengikuti pelajaran yang di ajarkan sang guru. "Baik anak-anak, minggu depan bapak harap kumpulkan karya kalian," pak Bagas. "Baik pak." Bell istirahat berbunyi, tepat pelajaran dari guru tersebut usai. Semua bersorak bahagia karena perut yang terus mendemo untuk di beri asupan. Hani berkata, "Akhir nya." Lalu menghela nafasnya dengan perlahan "Akhir nya kenapa?" tanya Alifa. "Istirahatlah! " jawab Hani, sedangkan Alifa hanya ber Oh ria saja mendengarnya yang membuat Hani kembali memutar bola matanya dengan jengah. "Yuk kantin." Hani mengajak, lalu Alifa berdiri dan berjalan keluar kelas meninggalkan Hani yang masih sibuk merapihkan buku-buku yang berada di atas mejanya. "Ay.... Eh anjir alifa kenapa gue di tinggal." Hani menyadari dirinya di tinggal. "Alifa!" Hani berteriak dengan lantang ketika berada di depan pintu kelasnya, ia berlari untuk menyamai jalannya dengan Alifa. "Kebiasaan banget ninggal," keluh Hani dengan nafas yang seidkit terengah-engah. Alifa membalas, "Kebiasaan banget lama." "Kunyuk dasar," cibir Hani, dan Alifa hanya tertawa mendengar nada kesal dari sahabatnya, seisi koridor pun menyadari Alifa bertambah cantik jika tertawa tulus seperti yang mereka lihat beberapa detik tadi. Menyadari ia menjadi tontonan, raut wajahnya berubah menjadi datar kembali, wajahnya menjadi jutek kembali, yang membuat seisi koridor menghela nafasnya kasar. Mereka berdua melanjutkan langkah kakinya hingga ke kantin. "Mau mesen apa lu?" tanya Hani. "Baso ama es teh manis," jawab Alifa. Hani membalas, "Okey nyonyah, tunggu sebentar." Sambil menunduk sedikit. "Okeh bibi." Hani melotot ketika mendapat jawaban dari Alifa. Hani mencibir, "Siakeee." Ia lalu bergegas memesankan makanan. Sedangkan Alifa duduk di bangku kosong yang tersedia, tidak lama kemudian setelah beberapa menit Hani kembali dengan membawa nampan berisi pesanan mereka. "Nih nyonya." Tanpa pikir panjang Alifa mengambil makanan yang masih berada diatas nampan. Mereka pun makan dengan hening walau keadaan kantin cukup ramai, dengan sesekali mereka mengobrol. Suara bising mulai mengusik ke telinga Alifa keadaan kantin yang ramai semakin ramai karena teriakan dan bisikan yang terdengar. Alifa pun menengok sekilas dengan raut wajah datar, lalu kembali berfokus untuk melahap makanannya. "Ada Eron dkk ke kantin." "Terus?" tanya Alifa. Hani berkata, "Lu mah belajar mulu si. Jangan datar-datar banget hidup mah." "Dari pada ngurusin mereka," ketus Alifa. "Lu liat dulu apa tuh," ucap Hani sambil memegang kepala sahabatnya untuk melihat ke arah cowok yang di sebut sebagai mostwanted sekolahannya. Alifa menatap tajam ke arah Hani. "Ih apasi lu." Ia lalu melepasskan tangan Hani dari kepalanya. "Cowo berandal gitu juga," cibir Alifa. "Berandal tapi gemesin," balas Hani sambil menatap genit ke arah Eron Dkk tersebutm "Buta kali mata lu, periksa sana," ketus Alifa. Hani memutuskan untuk mengalah atau menyudahi jika adu bacot dengan Alifa, karena semakin ia meladeni semakin pedas yang akan keluar dari mulutnya Alifa. "Fa, Eron dkk ke sini." Alifa benar-benar bodo amad, sedangkan Hani hanya tersenyum kagum kepada laki-laki tersebut. "Alifa." "Fa." "Fa." "Alifa!" "Apasi han, bodo amad dia mau ke sini kek mau apa kek. Gue gak peduli, plis udeh lu makan aja tuh bakso. Jangan ke ikutan alay," ketus Alifa mencibir, karena sedari tadi hani memanggil namanya untuk memberi tahu sesuatu yang enggak penting. "Itu." Hani sedikit takut berkata, karena perkataan Alifa tadi. "Apalagi!" Alifa hanya mengikuti jari telunjuk Hani, raut wajah kaget dapat di sembunyikan dengan wajah datarnya. Alifa bertanya dengan ketus, "Kenapa?" "Boleh gue duduk di sini?" tanya Eron. "Duduk, duduk aja. Kenapa laporan sama gue," jawab Alifa judes, ia kini kembali fokus ke bakso nya.  Eron dkk duduk setelah mendapatkan ijin dari Alifa, jelas semua berbisik-bisik karena keempat cowok tersebut yang duduk di sana. "Kenalin gue Eron," ucap Eron memperkenalkan diri. "Udeh tau." "Segitu terkenal nya kah gue, sampai lu udeh tau,"  jawab Eron dengan sangat pedenya yang membuat Alifa benar-benar ingin muntah mendengarnya. Alifa terdiam sejenak, ia menghentikan aktifitas makannya. Lalu berkata, "Jelas. Siapa yang enggak tahu pembuat masalah, biang kerok, biang onar, dan siapa yang gak kenal playboy bodoh kaya lu." "Anjir sakit hati gue." Aldy nendramatis memegang dadanya setelah mendengar perkataan dari Alifa. "Cabe banget mulut lu." "Mulut-mulut gue ya terserah gue lah," ketus Alifa sambil menatap tajam ke arah cowok tersebut "Gue enggak playboy, dan gue enggak buat masalah. Jaga bicara lu." Eron jelas membela diri dari perkataan gadis tersebut. Alifa tersenyum kecut lalu berkata, "Gue harus bilang waw banget gitu? Najis!" Ia lalu berdiri dan mengajak Hani meninggalkan meja yang telah membuat moodnya kini sedikit hancur hari ini. ----- "Lepas tangan gue," ketus Alifa, sedikit memberontak untuk melepaskan tangannya dari Eros yang tak kunjung dilepas. Karena merasa sudah muak, ia mengeluarkan jurus andalannya. Bugh. Pukulan jelas mendarat di perut Eros yang memebuatnya meringis dan melepaskan tangan Alifa dengan cepat. "Lu sendiri yang minta gue bertindak kasar." Setelah itu Alifa pergi tanpa kata lagi. Banyak tatapan sinis dari fans besar Eros dan tak banyak juga yang menganggumi atas sikap berani dari sosok gadis tersebut, pasalnya baru kali ini ada yang berani dengan sosok Eros yang di segani Gila Alifa berani banget. Idih sok banget tuh cewek, berani-berani nya sama Eros. Harus kita bales tuh dia. Sok jagoan banget tuh Alifa. Alifa cewek idaman banget. Gemes banget deh. Mau nyubit ihhh. Calon-calon mostwanted girl nih. Eh tapi pasti fans garis kerasnya si Eros bakal nyerang si menurut gue. Itulah sebagian dari bisik-bisikan yang terjadi saat Alifa berjalan melangkah melewati koridor sekolah. Lalu ia kembali masuk ke dalam kelasnya. "Lu lama banget si," ucap Hani ketika melihat sahabatnya baru saja tiba. Alifa menjawab, "Biasa." Sambil menampilkan wajah kecutnyan "Muka lu kenapa? Asem banget."  Hani mengernyitkan dahi ke arah sang sahabatnya. "Tuh cowok sialan," cibir Alifa, Hani yang tak mengerti hanya mengerutkan keningnya. Hani lalu menoleh ke arah lapangan, dan tepat di mata ia memandang berdiri empat most wanted yang sepertinya sedang dihukum. "Eron maksud lu?" tanya Hani, sedangkan Alifa hanya mengangguk malas. "Lu diapain?" Alifa menoleh lalu menatap nanar ke arah sahabatnya. Alifa menjelaskan, "Gue gak sengaja nabrak dia, tapi bukan salah gue. Dia aja yang berdiri di situ. Eh tangan gue di tarik, gue pukul aja perutnya." Hani mendengarnya hampir tak percaya, apa katanya? Ia memukul perut Eron? Oh sungguh akan menjadi masalah besar. "Lu mukul Eron?" tanya Hani seraya meyakinkan bahwa ia tak salah dengar. "Iya, sampe dia jatoh," ujar Alifa dengan santainya. Hani hampir pingsan mendengar penuturan gadis tersebut. pasalnya laki-laki yang di pukul bukan orang sembarangan, bahkan jika ia terusik ia sudah tak bisa memaafkan segala hal tersebut Disisi lain, Eron yang kini tengah menjalanin hukuman dari guru yang memergoki ia membolos pelajaran. Ia kini tersenyum miring mengingat kejadian singkat tadi , baru kali ini ada cewek yang berani memukulnya hingga ia terjatuh. "Gila bal, tuh cewek ganas banget," ucap Aldy. Kiky menimbrung, "Gila gila. Salut." "Baru kali ini ada yang berani sama lu breh," ucap Tian. "Dia beda," ujar Eros. sedangkan ketiga sahabat mereka yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala mereka, sepertinya Alifa akan menjadi sasaran permainan Eros selanjutnya, ia penasaran dengan sosok gadis tersebut. "Jangan bilang lu mau jadiin dia cewek lu," ucap Tian. Semua yang mendengar langsung menoleh ke arah Eros dengan seksama. "Wah jangan gila, dia cewe yang susah Ros," sindir Kiky. "Jangan sampe lu yang bener-bener jatuh sama dia," cibir Aldy sambil menaikkan kedua alisnya Kiky menimbrung, "Gue ketawain kalo lu sampe bucin sama dia." Krringg Krringg Krringg Bel pulang sudah berbunyi, berarti hukuman untuk ke empat cowok tersebut juga berakhir. Mereka berjalan lalu memasuki kelas, keringat di wajah mereka menambah kesan sexy yang menggiurkan bagi yang melihat. Sedangkan di sisi lain, Alifa sedang merapihkan semua bukunya untuk di masukkan ke dalam tas. "Lif gue duluan ya," ujar Hani. Alifa membalas, "Iya Han, take care ya sist." Hani hanya mengedipkan matanya dan berjalan lenggang keluar. Alifa yang sudah membereskan semua, segera berjalan ke arah parkiran untuk segera pulang, ia hanya takut sang ubu khawatir kepadanya. Baru ia ingin menaiki motornya tiba-tiba ada yang mencengkram tangannya. "Lepasin." Alifa menghempaskan kasar tangan Eros dari cengkramannya, namun Eros semakin senang melihat wajah kesal dari gadis yang ada di hadapannya. "Minggir!" seru Alifa. Eros lalu melepaskan genggamannya dari tangan Alifa, namun sekarang ia berdiri tepat di depan Alifa yang membuat ia tak bisa melajukan motornya, Eros hanya tersenyum miring melihat wajah Alifa yang jutek namun manis menurut Eros. "Pulang bareng gue," ujar Eros. Alifa mencetus, "Mimpi lu ketinggian." "Cewek-cewek mau kalau di anter sama gue, kok lu malah nolak," ungkap Eros dengan pedenya, namun itu kenyataan bagi semua cewek di sekolahnya atau bahkan di luar sekolahnya. Siapa yang tak mengenal Eros dengan tingkat kegantengan di atas normal. Alifa membalas, "Jangan samain gue sama cewek-cewek murah lu." Ia lalu menunjuknya tepat di bahu Eros. Tanpa pikir panjang, lak-laki tersebut mengambil tangan Alifa lalu memegangnya dengan kencang hingga membuat gadis tersebut meringis. Eros berkata, "Gue bakal taklukin lu." Dengan wajah yang mendekat tepat 5 cm di wajah gadis tersebut. Alifa sempat terpaku, diam membisu ketika hembusan nafas laki-laki bermata coklat dapat ia rasakan. "Shit." batin Alifa mengumpat. "Kenapa? Terpesona sama gue?" tanya Eron, lalu memundurkan wajahnya. Alifa yang mendengar pertanyaan tersebut tersenyum miring, dengan singkat ia mengambil kerah Eron dengan kasar, lalu menariknya tepat seperti ia mendekatkan wajahnya. Alifa menatap sengit dan kembali bertanya, "Kalo ternyata lu yang takluk sama gue gimana?" Ia lalu menghempaskan dengan kasar lalu mendorong Eron kesamping, agar tidak menghalangi jalan pulangnya. Eron masih terdiam melihat kepergian gadis tersebut, beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis mengingat tingkah Alifa terhadapnya, seolah ia ditantang untuk semakin mengusik. "Unik," gumam Eron. Disisi lain, Alifa sungguh kesal dengan Eron. Baru masuk sekolah ia sudah di ganggu sama mahkluk seperti Eron Sungguh mood ia sungguh ambyar saat itu, ia berdoa untuk tidak di dekatkan oleh laki-laki biang masalah tersebut. Alifa masih terdiam sejenak, lalu berdialog, "Berani-berani nya tuh cowo lk deket-deket ke muka gue." "Aaaahhhhh awas aja lu!" Hati berguman dengan nada kesal, hatinya berdegup kencang dan masih terasa deru nafasnya laki-laki tersebut "Jangan sampe gue masuk ke permainan lu." Ia kembali bergumam. Lalu tanpa pikir panjang ia melajukan kembali motornya, ini sudah lewat jam pulangnya bisa-bisa sang ibu akan khawatir. Setelah beberapa menit, ia telah sampai di komplek rumahnya, dan memarkirkan motornya. "Assaallamuaallikum kaka pulang," ucap Alifa ketika memasuki rumahnya . "Ko telat ka?" tanya sang Ibu yang menghampirinya, Alifa langsung mencium tangan sang ibu dengan lembut. Ya Alifa adalah gadis yang diajarkan sopan santun, dan di didik dengan benar, makanya ia tumbuh menjadi gadis yang baik. "Iya bu, maaf," ungkap Alifa. Sang Ibu berkata, "Yaudah kamu mandi sana, terus istirahat. Nanti ibu bangunin kalo makan malam." "Yaudah kaka kekamar dulu ya bu," ujar Alifa, lalu sang ibu tersenyum dan mengangguk. Setelah itu gadia tersebut kekamarnya. "Kaya abis lari maraton gue," gumam Alifa, ia merasa hari ini melelahkan sekali. Apalagi menguras emosi ketika bertemu dengan si cowo tengil itu.  Gadis tersebut memutuskan untuk mandi sebelum tidur, 5 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi , dan lalu memilih pakaian , celana pendek dengan baju Hitam bertulis What's Up? Kemudian ia rebahan untuk mengistirahatkan tubuhnya~ tanpa sadar ia memejamkan matanya, lalu terlelap hingga ke alam mimpi. -------- Pagi hari Alifa siap untuk berangkat sekolah, setelah sekiranya semua telah ia persiapkan ia bergegas menuruni anak tangga untuk pamit kekedua orang tuanya. Hari ini moodnya lagi tidak bagus, dini hari ia terbangun karena gelisah ya tepat hari ini ia kedatangan tamu yang setiap bulannya ada pada wanita. "Yah, bu kaka langsung berangkat," ujar Alifa. "Kaka salim." Alifa tersenyum lembut lalu menghampiri sang adik untuk membiarkan ia salim kepadanya. Sang ibu tersenyum tipis kalu bertanya, "Kamu enggak sarapan dulu Kak?" "Di kantin aja nanti bu," balas Alifa, lalu mencium kedua orangtuanya lalu melangkah keluar untuk bergegas ke sekolah. Ia mengendarai dengan kecepatan biasa, ya hari ini tidak perlu ia terburu-buru karena semalam ada info di grup kelasnya jika untuk dua hari ke depan akan free class namun semua juga diwajibkan datang, untuk mengisi absensi. 30 menit kemudian, ia telah sampai digerbang sekolah, tak pikir panjang ia lalu memarkirkan mobilnya. "Alifaa," ucap Hani berteriak, ketika melihat temannya baru keluar dari mobilnya. Alifa yang melihat, langsung menghampiri nya tanpa berbicara satu katapun. Hani mengernyitkan dahi bertanya-tanya ketika melihat raut wajah Alifa. "Lu kenapa? Tumben kaya gak mood gitu." "Biasa." Hani yang mengerti hanya ber Oh ria saja. Hani bertanya, "Tanggalnya ya?" Alifa lalu mengangguk mendnegar pertanyaan sang sahabat. Mereka melanjutkan jalan melewati koridor yang dipenuhi siswa-siswi, sebenarnya Alifa bukan tipe cewe yang sombong, namun ia sungguh malas jika harus berbasa-basi, ia melewati dengan tatapan datar lurus ke depan, tak perduli bisikan apa yang mereka bisikan untuk dirinyam Alifa langsung duduk ketika ia telah sampai di hadapan tempat duduknya, yaps begitu juga dengan Hani yang duduk disamping Alifa. Tanpa pikir panjang gadis tersebut langsung menjadikan tas dan tangannya menjadi bantalan untuk ia tertidur. Hani yang melihat hanya tersenyum sahabatnya ini sedang dalam mode on yang tidak baik,  jadi lebih baik ia tertidur di banding harus mengamuk, Hani bahkan menggelengkan kepala ketika mengingat kejadian Alifa marah-marah kepada adik kelas karena hal sepele, tetapi besoknya ia meminta maaf karena telah memarahi adik kelas tersebut. Disisi lain, empat cowok yang selalu di idolakan para kaum hawa disekolahnya atau disekolah lain. Memarkirkan motor mereka, lalu melepas helm full face milik mereka masing-masing. Masya Allah ganteng banget dong. Eros kenapa si ganteng banget. Aldy manis banget. Liat deh babang Kiky ya Allah. Tian gemes banget si. Sumpah ya mereka bikin gemes. Subhanallah banget, rela gue selingkuh Itulah bisikan-bisikan yang terdengar dari para siswi di sekolah ketika melihat Eron dkk melewati lorong korido. Mereka yang berjalan cuek, namun sesekali tersenyum. Mereka bukan tipe cowok-cowok arogan jika tidak di usik, mereka juga tidak haus akan jabatan, mereka juga tidak meminta untuk di hormati. Namun penghuni sekolah tau, jika mencari perkara sama mereka hasilnya tidak akan baik. "Ron kantin?" tanya Aldy. Eron hanya mengangguk, tanpa pikir panjang mereka langsung menuju kantin, untuk sekedar menghilangkan bosen, ya memang untuk apalagi? Ke kelas pun tak belajar. Jadi lebih baik mereka di kantin, memanjakan perut mereka. "Pakde Jo biasa ya," ucap Tian ketika di hadapan kedai yang sering mereka beli. Pakde Jo menyahut, "Siap broo." "Lu jadi mau ngdeketin si Alifa?" tanya Kiky. Erob terdiam sejenak, ketiga sahabatnya menatap nanar seolah menunggu jawaban dari sahabatnya. "Jadi." Singkat namun di mengerti itu yang Eron berikan "Kaya nya gue enggak yakin Ron, " cibir Tian sambil menatap meremehkan kepada sahabatnya. Eron menatap sambil tersenyum tipis lalu berkata, "Jangan ngremehin gue." "Gue bakal buat dia jatuh cinta sama gue," lanjutnya dengan yakin. Ketiga sahabatnya saling menatap satu sama lain. "Kalo nyatanya lu yang jatuh gimana?" tanya Aldy. Tian menimbrung, "Wayuluh Ron."  Lalu tertawa kecil melihat Eron. "Gue ketawain depan muka lu." Kiky jelas tertawa melihat raut wajah kesal dari Eron. "Gak bakal!" seru Eron. "Wah awas lu kena karmanya," cibir Tian. "Jangan meremehkan Alifa Ron, bisa-bisa lu yang kena tulah," kata Aldy. Kiky berkata, "Iya lu jangan ngremehin diaa, gue dengar-dengar nih dia susah di dekatin, dan lu belom tentu selera dia Ron." Mereka jelas tertawa mendengar penuturan dari kata Kiky. "Kita liat aja, mau taruhan?" tanya Eron, ketiga sahabatnya menatap sayu sama lain. "Gila yak lu," cibir Kiky. Aldy menimbrung, "Wah jangan belajar gila lu." "Jangan jadiin wanita taruhan," ujar Kiky. "Okeh kita taruhan," kata Tian. "Eh kupret lu malah dukung dia," ketus Kiky lalu menoyor kepala Tian yang membuat ia meringis. "Eros enggak bakal bisa," ucap Tian lalu tertawa seolah meremehkan sahabatnya. Sedangkan Eron hanya tersenyum, ia merasa ditantang apalagi gadis tersebut juga menantang dirinya. Sedangkan di sisi lain, Hani sedang berusaha membangunkan sahabatnya. "Alifa ke kantin yuk, gue laper," ucap Hani sambil menggoyangkan tubuh Alifa yang masih setia tertidur. "Lu aja," ucap Alifa singkat, ia alu mengubah posisi kepalanya. "Ayuk Alipaaaa, gue mau makan!" seru Hani sedikit berteriak, Alifa yang terusik lalu membuka matanya perlahan walau masih tak rela. "Bawel banget si Han," ketus Alifa. "Ayuk." Hani angsung menarik tangan Alifa tanpa meminta persetujuannya. Alifa yang kaget, akhirnya mengikuti permintaan Hani dengan malas dan terpaksa. Mereka berjalan ke arah kantin, untuk memenuhi keinginan Hani. "Bang nasi goreng 1, lu mau apa lip?" tanya Hani. Alifa menjawab, "Gak mau apa-apa." "Ih lu harus makan," kata Hani dengan tatapan tajam. "Bang nasi goreng 2. Jus jeruk nya juga 2," ucap Hani, Alifa hanya mendengus kasar. Ia lupa,  jika berdebat seperti apapun pada sahabatnya ia akan tetap mengiyakan. Setelah itu, mereka mencari tepat duduk. "Ron, alifa noh," ucap Aldy sambil menyenggol sikut Eron, laki-laki tersebut lalu menatap ke arah Alifa dan tersenyum jahil. Tak lama kemudian, ia menghampiri Alifa. Eron sungguh tidak tahu gadis tersebut dalam mode senggol bacok. Ketiga sahabatnya hanya menatap bingung ke arah Eron. "Hai." Tanpa ijin dari Alifa, Eron langsung duduk di hadapannya. Sedangkan Alifa hanya menatap malas lalu beralih ke handphonenya. Tatapan dan bisikan yang berada di kantin mulai terdengar, pasalnya Eron bukan tipe playboy yang mau menghampiri, dan yang terjadi di kantin adalah kejadian langkah untuk semuanya. Apa seistimewah itukah Alifa di mata Erob? Atau Alifa hanya mainan saja? "Kok diem aja si," ucap Eron, Alifa tetap bungkam tak berbicara sekata patahpun. "Neng hani, ini pesenan nya." Pesenan Hani dan Alifa sudah berada di meja mereka. "Ron makan," ucap Hani menawarkan, namun Eron hanya tersenyum. Sedangkan Alifa hanya mengaduk makanannya dan sesekali menyuapi ke dalam mulutnya yang membuat gemas Eron. "Ko lu gak nawarin gue?" tanya Eron. Alifa kembali bertanya, "Emang lu siapa?" Sungguh moodnya lagi tak bagus dan Eron membuatnya menambah moodnya hancur. "Gue? Eron, yang bakal jadi pacar lu," ujar Eron dengan pede, sedangkan Alifa menatapnya dengan tatapan malas dan tersenyum meremehkan. Alifa berkata, "Kalau mau mimpi tidur dulu sana. Mending lu pergi sana dari hadapan gue." "Gak!" Ucap Eron yang membuat Alifa menatap tajam. "Pergi!" ketus Alifa, sedangkan Hani yang melihatnya berusaha menenangkan sahabatbya. Ia hanya tak ingin jus atau nasi di lempar kearah Eron dengan cuma-cuma. Hani berkata, "Lifa sabar." "Gimana mau sabar, ada makhluk enggak jelas muncul di depan gue. Dan ngeganggu gue! Berharap gue kaya cewek-cewek lain yang seneng kalo di deketin cowok macem dia! Najis tau ga," ujar Alifa dengan sedikit judesnya, ia benar-benar tak suka di usik. Sedangkan Eron hanya tersenyum manis ke arah Alifa, yang membuat gadis tersebut ingin sekali mencakar mukanya. "Okeh, gue pergi di banding di cakar macan betina," ungkap Eron, ia lalu berdiri dan melangkah pergi. Alifa yang mendengar kalau ia disebut macan betina, ingin sekali melempar pot tanaman kaktus di mukanya agar ia tahu diri. Sedangkan Eron hanya tersenyum , mengedipkan mata dan juga melambaikan tangannya ke arah Alifa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD