Diterimanya Sally di perusahaan baru adalah batu loncatan terbaik dalam hidupnya. Setidaknya hal ini akan menjadi dasar kelak bagi dirinya untuk hidup mandiri jika suatu hari dia dan mamanya sampai harus ditendang dari keluarga papa tirinya.
Sebenarnya sepuluh tahun lalu, Sally dan Carol sempat keluar dari rumah itu dan memilih tinggal di rumah kontrakan yang dibayar oleh Carol sendiri karena tidak tahan dengan makian Briana setiap hari. Namun dua tahunan ini, mereka terpaksa pindah kembali atas suruhan Briana karena Raka terserang struk berat.
Jiwa kemanusiaan Carol tidak tega jika mengacuhkan keadaan suaminya itu apalagi niat baik Raka dulu saat menikahinya adalah demi bisa membesarkan Sally yang harus kehilangan papanya sejak kecil. Meskipun berat memutuskan untuk menikahi Raka tapi Carol menerima ajakan Raka demi Sally. Sayangnya disaat Carol mulai mencintai Raka justru ia harus menerima kenyataan bahwa suami keduanya itu telah berbohong mengenai statusnya yang sudah menikah lebih dulu.
Berada di posisi yang tidak diharapkan, Carol dianggap sebagai wanita perusak rumah tangga oleh keluarga Raka maupun Briana dan hal ini membuatnya pasrah menerima cercaan dari keluarga Raka dan Briana.
Surat pengunduran diri langsung dibuat oleh Sally setelah mendapat balasan email dari perusahaan kapan dirinya harus mulai bekerja. Di perusahaan ini Sally juga tidak begitu nyaman karena persaingan jabatan yang tidak sehat membuatnya memilih untuk mencari perusahaan lain dan keberuntungan memang sedang menjadi miliknya..
Saat makan siang, Ceri menghubungi Sally. Sapaan sahabatnya itu di sana terdengar senang sekali membuat Sally tahu bahwa berita baik sudah diterima oleh Ceri juga.
"Sal, gua ditawarin pekerjaan baru sebagai asisten public relation. Dan kata orang HRD, yang mereferensi gua itu loe. Memangnya betul??"
"Iya, Cer. Gua diterima di sana untuk posisi jabatan PR dan gua disuruh cari sendiri kandidat wakilnya. Tolong loe terima yah gua butuh yang bisa gua percaya dan di otak gua cuma ada nama loe doang karena gua tahu banget cara kerja loe sama gua sebelas duabelas hehehe."
Telinga Sally sampai berdengung menjauhkan teleponnya mendengar lengkingan suara Ceri kegirangan disana.
"Jadi kita kerja bareng dong. Wah! Gua mau banget lah. Oke, Sal. Gua buat surat pengunduran diri dari hari ini, minggu depan kita kerja bareng deh." Ceri senang sekali bisa bekerja bersama sahabatnya apalagi tawaran jabatannya tidak kaleng-kaleng. Siapa yang bakal menolak jika sekarang Ceri hanya staf biasa kemudian pindah kerja dan langsung menjadi wakil manajemen pastinya menyenangkan sekali. Terlebih lagi suasana di kantor Ceri bekerja sekarang jauh lebih horor dari kantor Sally.
"Satu lagi Sal, gua berdoa semoga loe bertemu jodoh loe di perusahaan yang baru."
"Hehehe gua belum kepikiran ke sana, Cer." Jawab Sally tidak ingin memperpanjang obrolan soal jodoh terlebih lagi harapannya soal pasangan hidup sudah pupus.
Hembusan nafas Ceri terdengar di telinga Sally pertanda sahabatnya sedang merengut. "Loe harus mulai membuka lagi lembaran baru Sal, jangan ngarepin Sean terus-terusan meskipun dia sahabatnya Mark. Memang sih dia juga belum menikah, tapi loe juga ngak bisa kan digantung ngak jelas gini. Ibarat baju dijemur kagak diangkat-angkat keburu kering ciut."
Ceri hanya terkekeh tidak berusaha terlihat berargumen ataupun terkesan memaksa Sally untuk terus berharap pada Sean.
"Perumpamaan loe bisa yang bagusan dikit kali Cer, masa gua diibaratin gantungan baju. Lagipula Sean ngak gantungin gua juga. Sebelum ke Amerika kita memang sudah pisah, Sean sendiri yang bilang jangan ganggu dia lagi." Ucap Sally terdengar lirih di telinga Ceri.
Terdengar dengusan nafas Ceri seakan tidak sepaham dengan Sally. Ceri juga tahu selama ini Sean sebenarnya masih mencintai Sally tapi terlalu angkuh untuk mengakuinya dan menutupi diri tidak ingin bercerita apa masalah sebenarnya yang membuat Sean membenci Sally.
"Gua berharap masa depan kita makin cerah, Cer. Buat gua sekarang yang penting gua bisa membahagiakan mama dan bawa dia keluar dari keluarga terkutuk itu.”
Hening sesaat membuat Ceri menghela nafas panjang setiap memikirkan peliknya masalah keluarga Sally, kemudian Ceri mengalihkan soal lain dalam kantor Sally.
“Trus hubungan loe sama Pak General Manajer di sana gimana? Dia udah tahu loe mau pindah? Bisa nangis meraung-raung nanti ngak ada loe lagi.”
“Ngaco loe. Gua baru ngirim surat pengunduran diri sih tadi pagi ke Pak Arkan. Lagian gua udah bilang juga ke dia kalau gua belum mau menjalin hubungan sama siapapun.”
Lagi-lagi terdengar dengusan kasar Ceri. “Pak Arkan itu kesempatan langka loh, Sal. Udah ganteng, baik, kantongnya tebel, keluarganya juga udah kenal sama loe. Pasti jalan loe sama Pak Arkan bakalan mulus selama loe ngak sekantor sama dia toh ngak ada yang julid sama loe lagi kalau dah pindah.”
“Gua belum bisa, Cer. Meskipun bukan soal Sean tapi hati gua masih belum bisa nerima orang lain. Mungkin satu hari nanti tapi bukan sekarang.” Akhirnya Sally mengakui semua alasan menolak pria yang mendekatinya semata-mata karena ia belum bisa melupakan Sean.
Usia Arkan sebenarnya lebih muda setahun dari Sally, entah bagaimana pemuda ini bisa menjabat sebagai general manajer. Banyak yang bilang kalau Arkan adalah anak dari pemilik perusahaan ini dan sedang memperdalam ilmu manajemen tapi sengaja menutupi jati dirinya.
Percakapan Sally dan Ceri terganggu karena ketukan pintu dalam ruangannya. Sally menatap siapa yang membuka pintu kemudian mulai merasa tidak enak hati.
“Cer, kita ngobrol lagi yah. Ada atasan gua nih masuk. Bye.”
Bergegas Sally ikut berdiri karena tidak enak duduk dihadapan sang atasan yang sudah berdiri dihadapannya memberikan wajah keruh yang sudah bisa ditebak oleh Sally apa penyebab wajah Pak Arkan demikian. Pasti ia sudah membaca email yang dikirimnya beberapa saat lalu.
“Ada apa, Pak?”
“Kenapa kamu berhenti?” Pak Arkan malah membalas pertanyaan Sally dengan pertanyaan.
“Seperti yang sudah saya info di email, Pak. Per minggu depan saya bekerja di perusahaan baru sebagai publik relation di sana. Ada kesempatan emas tidak mungkin saya lewatkan.”
Arkan masih diam menunggu penjelasan Sally. Sorot matanya terlihat teduh bercampur kesedihan juga rasa kecewa dengan keputusan Sally.
“Maaf, Pak. Ini kesempatan bagi saya untuk bisa mengembangkan diri dalam karier. Saya juga banyak berterima kasih karena Pak Arkan sudah baik dalam membimbing saya di perusahaan ini.”
“Ini masih jam istirahat, Sal. Sudah aku bilang berapa kali sih panggil nama aku. Apa sesulit itu supaya kita jadi dekat?”
Kali ini Sally yang bungkam menunduk enggan menanggapi ucapan Arkan yang mengarah pada pengakuan perasaannya setengah tahun lalu.
“Sal… Kalau kamu pindah kerja, apa bisa aku tetap berhubungan sama kamu? Atau mungkin mengajak kamu keluar di akhir pekan berduaan. Aku benar-benar ingin dekat dan kenal kamu lebih dalam lagi. Kamu tahu kan perasaanku.” Arkan memberanikan diri menyatakan kembali keinginannya untuk mendekati Sally.
Perempuan yang sudah membuat Arkan jatuh hati sejak gadis itu bekerja magang di perusahaan ini. Dan tentunya membuat Sally sering dicemooh dan dijauhi beberapa karyawati karena Arkan selalu mendekati dan membelanya. Hal ini juga yang membuat Sally enggan bekerja lama di perusahaan ini karena suasananya yang tidak bersahabat dan sikut-sikutan merebut jabatan.
Seorang Viko saja sudah membuatnya kelimpungan menghadapi tuntutan dan kecemburuannya saat mereka dekat. Ditambah lagi Arkan yang terang-terangan menyatakan perasaannya lagi.
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Lagipula saya sudah dijodohkan oleh keluarga saya, makanya saya tidak bisa menjalin hubungan dengan orang lain.”
“Kalau kamu mau, pasti bisa kamu tentang keputusan keluarga kamu itu kan. Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya yang masih kental dengan adat perjodohan, Sal.”
“Tapi saya juga keberatan didekati, Bapak.” Seru Sally bersuara lebih tegas pada Arkan memperlihatkan kejengahannya atas sikap Arkan.
“Oke, saya akan menyetujui surat pengunduran diri kamu. Dengan syarat saya yang mengantar kamu pulang di hari terakhir kamu bekerja.”
Sally mendengus dengan sikap keras kepala atasannya itu. Namun demi masa depan, akhirnya Sally mengangguk menyetujui ajakan Arkan, membuat pemuda itu tersenyum lebar seketika.
“Oke, Jumat ini aku yang akan mengantar kamu pulang.” Lalu berbalik keluar dari ruangan Sally dengan wajah sumringahnya.
Sedangkan Sally hanya menggeleng melihat kelakuan atasannya. Kemudian menyusul keluar ruangan untuk ke toilet sebelum jam istirahat berakhir. Di dalam bilik toilet, Sally mendengar suara staf lain masuk sambil mencibir tentang dirinya.
“Lihat aja tuh, makin hebat kan guna-gunanya si Sally. Pak Arkan sampai nyamperin ruangan dia mana lama banget lagi.”
Di dalam bilik, Sally mengulum tawa meledek. Lama dari Hongkong, obrolannya tadi paling hanya sekitar lima menit saja.
“Kata sekretarisnya Pak Arkan, si Sally mau resign. Mungkin karena itu Pak Arkan nyamperin.”
“Yah bagus dong dia resign. Saingan gua ngilang tanpa gua harus cape-cape tending. Mungkin tahu diri kali selama ini gua sindir terus.”
Merasa waktunya di kantor ini tinggal sebentar lagi, Sally pikir sudah waktunya dia harus menghentikan mulut jahat perempuan yang selalu saja mencibirnya bahkan menghasut yang lain untuk ikut-ikutan membenci dirinya. Sally keluar dari biliknya lalu menatap wajah Donna dan asistennya yang terlihat kaget ternyata dirinya ada di toilet. Namun Donna sengaja menutupi rasa terkejutnya dengan wajah angkuhnya itu.
“Siaran gosipnya seru yah.”
Sally mencuci tangannya setelah menyindir Donna membuat wanita itu malah kesal bukannya tahu diri lalu menyusuli Sally yang sudah keluar duluan tanpa mempedulikan mereka. Donna menarik kasar lengan Sally hingga ia berbalik.
“Heh! Jangan sok sombong tuh muka. Loe keluar dari sini karena ngak bisa dapetin hatinya Pak Arkan kan jadi sekarang mau mancing di kolam lain. Mau cepat kaya ngak kayak gitu caranya!”
“Maaf, saya tidak merasa punya salah sama Mbak Donna. Pak Arkan adalah atasan saya, wajar kalau kami membicarakan masalah pengunduran diri saya.
Asisten Donna cepat-cepat menghampiri dan berbisik. “Ada Pak Arkan keluar dari toilet juga. Dia ada di belakang kita, Mbak.”
Bagai disambar petir, wajah Donna berubah pucat kemudian menoleh ke belakang melihat Arkan dengan tatapan menusuk kepada nya.
“Pak, Pak Arkan…”
Arkan mendekati Donna. “Tadinya saya tidak mau ikut campur masalah kecil dalam kantor ini. Tapi kalau nama saya sudah di bawa-bawa, artinya anda cari masalah dengan saya, Donna!”
Sally hanya diam menyeringai menang dan membiarkan Donna mendapatkan karma nya. Orang seperti Donna adalah manusia yang tidak perlu di bela.
“Bu-bukan begitu, Pak.”
Malas melihat drama Donna, Sally memilih masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Donna dan Arkan begitu saja. Langkahnya tentu saja menjadi perhatian beberapa staf yang sedang melihat pertunjukkan seru.
Tidak tahu hukuman seperti apa yang akan diberikan Arkan pada Donna. Mungkin SP-1 atau SP-2 dengan alasan membuat keributan dan merusak kenyamanan di kantor.
Sally lebih memilih mengerjakan pekerjaannya agar saat keluar dari perusahaan, ia tidak meninggalkan sisa tanggung jawabnya di sini.
Tidak terasa hari menjelang sore, Sally pulang ke rumahnya terburu-buru lagi menggunakan taksi.
Sama seperti kemarin, ia diminta pulang cepat. Entah ada apa lagi kelakuan Briana kali ini.
Sesampainya di rumah, ada beberapa tamu yang sudah hadir di ruang tamu.
“Nah ini anaknya baru pulang dari kantor. Sally sini, Sayang.” Panggil Brianan yang dibuat-buat lembut dihadapan para tamu nya.
Sally memilih duduk dekat mama-nya. Carol memegang tangan putrinya dengan wajah mengiba merasa kasihan karena tidak berani membantah apa yang sedang Briana lakukan pada putrinya.
“Sally, ini adalah calon suami kamu yang sudah Mama ceritakan ke kamu beberapa hari lalu.”
Rasanya Sally ingin menangis ataupun berteriak melihat calon suami yang dikenalkan kepadanya hari ini. Apa mungkin ia bisa menikah dengan pemuda ini dan bahagia?
Namun entah mengapa saat menatap bola mata calon suaminya, Sally merasa jatuh cinta kembali dengan mata itu.
Pria paruh baya itu nampak masih gagah dan tampan, tersenyum pada Sally didampingi seorang wanita yang diyakininya pasti istri dari pria tersebut.
“Sana, kamu kenalan sama calon istri kamu.”
Briana tidak mau kalah. “Ayo, Sal. Kamu berdiri dan kenalan sama calon suami kamu.”
“Miss Lili!!”
Sally menoleh seketika saat mengenali suara yang memanggilnya.
“Ini ngak mungkin kan…”