Prolog...
Di sebuah taman bermain perumahan di kawasan Jakarta ada sekelompok anak-anak sedang berkumpul dan mengolok-ngolok teman sebayanya.
"Aku tidak mau berteman denganmu lagi! Dasar jelek!" seru seorang anak perempuan dengan rambut terkuncir dua sambil melipat kedua tangannya dan menatap tidak suka anak lelaki di depannya yang sedang tertunduk sedih.
"Yah benar! Kami tidak mau berteman dengan anak gendut dan mata kuda sepertimu!!" sahut yang lainnya membuat anak perempuan itu tersenyum.
Anak perempuan itu langsung mendorong tubuh anak lelaki itu dan membuatnya terjatuh menangis tepat di atas tanah merah, "Dasar cengeng!" serunya dengan wajah mengejek. Anak lelaki itu hanya menatap anak perempuan dan kedua temannya yang sedang mengoloknya sambil menyerka airmatanya yang menetes di balik kacamata besarnya. "Emon cengeng! Emon cengeng!" ledek anak perempuan itu diikuti kedua teman-temannya yang sekarang juga mengolok anak lelaki yang bernama Emon.
Emon langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menagis kencang.
"Emily!" teriak seseorang memanggil namanya membuat anak perempuan itu menoleh diikuti kedua temannya. "Apa yang kamu lakukan kepada Emon?" tanya orang itu dengan nada marah dan matanya melotot kepada Emily.
Emily hanya tersenyum dan tidak membalas ucapan orang itu, Emily tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari sesosok lelaki bertubuh tinggi dihadapannya. Emily sangat menyukai Lelaki itu dan berharap kalau dia dewasa nanti dia akan menikah dengan pria itu, tapi sayang impiannya itu tidak akan bisa terwujud karena lelaki itu adalah sepupunya.
"Heh! Ini anak ditanya malah diem!" seru orang itu membuat Emily tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya!!" balas Emily mengelak.
"Lalu kenapa dia menangis Em?!" tanya lelaki itu kesal.
Emily mengangkat bahunya, "Emon saja yang cengeng!" jawabnya tersenyum.
"Yah betul!" sahut kedua teman Emily, Dion dan Febby
Lelaki itu hanya menghembuskan nafasnya kesal lalu membantu Emon berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor karena debu tanah. "Sekali lagi kamu menjahili Emon, aku tidak segan-segan menghukumu anak nakal!" ancam lelaki itu dengan wajah marah.
Emily hanya tersenyum tidak peduli, lelaki itu langsung pergi dari hadapan Emily sambil menarik tangan Emon. Emily langsung molotot tajam ketika Emon menoleh kearahnya, Emily mengulurkan tangannya seakan ingin memberi pelajaran kepada Emon nanti. Emon yang melihat itu langsung berbalik takut.
"Em, Kak Juan galak yah..."ucap Febby dengan wajah ngeri, dia sangat takut saat melihat lelaki bernama Juan tadi memarahi mereka.
"Padahal dia kan sepupumu, kenapa dia malah membela Emon anak bermata kuda itu?" tanya Dion tidak mengerti memandangi Emily.
"Kita akan menganggunya kembali besok, aku ingin membuatnya pergi dari sini! Kalian tahu aku sangat jiji melihat wajahnya yang jelek itu!" ucap Emily seakan ingin muntah jika mengingat wajah Emon yang buruk rupa.
Perkataan Emily disetujui oleh kedua sahabatny itu, Emily langsung merangkul bahu kedua sahabatnya dan berjalan meninggalkan taman sambil bernyanyi ringan bersama kedua sahabatnya,
***
Kediaman Emon...
"Terima kasih kak sudah mau menolongku..." ucap Emon sesengukan.
Juan tersenyum dan berlutut dihadapan Emon lalu menghapus airmata Emon. Dia sangat mengerti apa yang Emon rasakan, bagaimana rasanya di acuhkan dan tidak di anggap. Karena dia sendiri pernah merasakannya saat ayahnya mengacuhkannya dan tidak pernah di anggap. Juan benar-benar marah kepada sepupu kecilnya Emily, dia selalu saja membuat masalah dan menggangu Emon. Juan sangat tidak suka melihat kelakuan Emily.
"Aku sangat membenci Emily dia sering mengganguku, aku pernah diikat di pohon besar dan ditimpuki buah tomat busuk olehnya." ucap Emon polos membuat Juan tertawa.
Yah Emily dan kedua temannya sering mengerjai Emon dan sering membuat anak lelaki itu menangis karena dikerjai oleh mereka.
"Kamu tidak membalasnya?" tanya Juan.
Emon menggeleng pelan, "Aku tidak bisa membalas perbuatan Emily, padahal aku ingin sekali membalasnya. Emily adalah anak perempuan paling kejam dan jahat yang pernah aku temui, dia seperti nenek lampir!" ucap Emon membuat Juan tertawa keras.
Sebutan 'Nenek Lampir' mengingatkan Juan kepada teman kampusnya bernama Aleena. Wanita itu juga sama menyebalkan seperti Emily, Karakter mereka berdua sangat mirip.
"Kak, menurut kakak aku jelek yah?" tanya Emon membuat Juan menatap penampilan Emon anak lelaki yang berusia sembilan tahun.
Penampilan Emon saat ini membuatnya menjadi incaran olok-olokan, bagaimana tidak dia memakai kacamata berukuran besar dan neneknya selalu memakaikan dia celana jeans kodok dengan kaos berwarna-warna cerah. Rambutnya dibelah pinggir dan klimis membuatnya semakin terlihat aneh.
"Kamu tidak jelek hanya butuh sedikit perubahan..." ucap Juan tersenyum.
"Emily dan teman-temannya tidak mau bermain denganku karena aku jelek. Disekolah aku juga dimusuhi oleh teman-temanku karena Emily." Ujarnya sedih.
"Emon, teman yang baik itu tidak akan pernah melihat dari penampilannya. Teman yang baik itu menerima kita apa adanya." Kata Juan membuat Emon memandanginya lalu memeluk Juan erat.
"Terima kasih kak..." ucap Emon
Juan hanya tersenyum lalu mengusap punggung Emon.
Tanpa disadari mereka berdua dari kejauhan Emily sedang menatap mereka penuh dengan kemarahan. Emily sangat cemburu ketika Juan lebih sayang Emon daripada dirinya sendiri sepupunya!
"Dasar Emon! Liat saja besok aku akan mengerjainya!" seru Emily kesal lalu masuk kedalam rumahnya dengan penuh amarah.
***
Keesokanya...
Di sekolah dasar International, Primary School...
"Emily kembalikan buku PR-ku!" teriak Emon menggapai buku pekerjaan rumahnya. Tinggi Emon hanya seleher Emily membuatnya kesusahan merebut buku PRnya. Emily tertawa kencang melihat Emon kesusahan diikuti oleh kedua sahabatnya yang bertepuk tangan
"Aku akan mengembalikan bukumu jika kamu mengikuti apa yang aku katakan!" ucap Emily membuat Emon menatapnya tidak mengerti. "Aku akan mengatakan sebuah kalimat dan kamu harus mengikutinya dengan benar, mengerti?" ucap Emily dengan mata melebar. Emon hanya mengangguk sedih membuat senyum Emily mengembang. "Buah Rambutan dibawa Rabit lalu diletakan di rak dan dimakan rakus oleh semut!" seru Emily dengan cepat, "Ayo cepat ikutin!" bentak Emily membuat Emon terkejut.
"Boleh diulang?" bisik Emon pelan.
Emily berdecak kesal, "Buah Rambutan dibawa Rabit lalu diletakan di rak dan dimakan rakus oleh semut!" ucap Emily cepat.
"Buah rambutan dibawa Rabit----hmm---hm---" ucap Emon sambil memainkan kukunya.
"Hmm apa?!! Ayo cepat lanjutkan!" Seru Emily kesal.
"Aku lupa..." ucap Emon tertunduk.
"Ya sudah kalau kamu lupa, buku Pr-mu tidak akan ku kembalikan!" Balas Emily membuat Emon menangis.
Emily langsung pergi dari hadapan Emon yang menatapnya penuh kebencian.
"Kasian deh lo!" ledek Dion dan Febby dan berlalu pergi mengikuti Emily.
***
Akhirnya, Emon dihukum oleh gurunya karena gurunya mengira dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Emon dihukum membersihkan toilet dan menyapu halaman sekolah. Emily dan kedua sahabatnya hanya memandangi Emon yang sedang menyapu daun-daunan halaman di tengah panas yang terik.
"Em, sepertinya kita keterlaluan kepada Emon. Dia kasian..." ucap Febby kasian melihat Emon yang sedang menyerka keringatnya.
Perkataan Febby membuat Emily menatap Emon, Emily menghembuskan nafasnya sambil melipat kedua tangannya.
"Yah sepertinya kita keterlaluan dengannya..." sahut Dion diangguk setuju oleh Febby. "Sepertinya kita harus meminta maaf kepadanya Em..." usul Dion menatap Emily.
Emily langsung pergi dari hadapan Dion dan Febby, kedua sahabatnya hanya memandangi Emily tidak mengerti.
***
Seminggu kemudian...
Emily menekan bel rumah Emon sambil membawa sekotak cokelat untuknya. Emily ingin meminta maaf kepada Emon karena sudah sering menganggunya. Sudah hampir seminggu Emon tidak masuk sekolah, bahkan Emily tidak pernah bertemu dengan Emon seminggu terakhir ini dan itu membuat Emily memikirkannya karena rasa bersalahnya kepada Emon.
Emily mundur dua langkah saat pintu rumah Emon terbuka, "Siang Nek..."sapa Emily ketika melihat nenek Emon sedang tersenyum kepadanya.
"Mau bertemu Emon?" tanya Nenek Emon membuatnya mengangguk pelan. "Emon sudah pindah..."
"Kemana Nek?" tanya Emily mengerutkan keningnya.
"Emon pindah ke luar negeri bersama kedua orang tuanya dan dia bersekolah disana..." ucap nenek Emon membuat Emily tertegun.
Emily tidak percaya jika Emon telah pindah jauh ke luar negeri, Dia sangat bersalah kepada anak lelaki itu karena sering menganggunya, disaat dia ingin meminta maaf kepadanya anak lelaki itu telah pergi tanpa pamitan kepadanya.
"Terima kasih Nek..." ucap Emily dan pergi dari hadapan nenek Emon, nenek Emon hanya memandanginya tidak mengerti.
Entah kenapa Emily merasa sedih saat mendengar kepergian Emon, dari kecil hingga sekarang mereka selalu bersama walaupun tidak akur. Emily menatap nanar kotak cokelat yang berada ditangannya, padahal Emily sudah bersusah payah membuat cokelat ini untuk Emon agar anak lelaki itu memaafkannya, tapi kini Emon telah pergi dan Emily tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
***