"Pantas saja aku merasa tidak asing melihat wajahnya," komentar Henry setelah mendengar penjelasan Dominic.
"Kantor polisi mana dia sekarang?" kata Dominic dengan wajah muram. Ini kelalaian Henry. Henry sendiri tampak meringis kecil melihatnya.
Sementara itu di kantor polisi, Serene duduk menekuk lutut di lantai sel sendirian. Mukanya cemberut. Ingin membela diri pun percuma. Para pria berseragam di sini sudah menganggapnya sebagai tersangka pencurian.
Melamun, Serene tiba-tiba teringat orang-orang di dunianya. Dia merindukan mereka. Seumur hidupnya dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Semua orang di dunianya menghormati dirinya.
"Ah, Emma .... bukankah dia juga terjatuh bersamaku saat itu? Lalu, apakah hanya aku yang terlempar ke dunia aneh ini?" keluhnya menghela napas lemas. Lalu dia membenamkan wajahnya di atas lipatan lengan. Membuat rambut panjangnya tergerai menutupi kedua sisi.
Tidak lama kemudian, suara kunci sel terdengar dibuka. Seorang polwan mengajaknya keluar dari kurungan kecil ini. Entah mau dibawa kemana, Serene bangun dengan malas mengikutinya.
Dengan segera Serene tertegun ketika melihat visual Dominic ada di kantor polisi. Katanya, dia dibebaskan dan diperbolehkan pulang. Serene bingung tapi tidak banyak bicara selain mengekori Dominic sampai duduk di dalam mobil.
"Kenapa kau membebaskanku? Aku seorang pencuri, lho!" celetuk Serene menyindir dengan hati yang sakit. Dia dituduh mencuri dan membuat keributan di depan semua orang sama saja dengan merusak nama baiknya sebagai bangsawan. Ah, bangsawan, apakah status itu berlaku di dunia ini?
"Kau bukan pencuri, mereka hanya salah tangkap," sanggah Dominic.
"Huh!" Serene bersidekap sambil membuang muka. Hari ini dia kesal.
"Lalu, kemana kau membawaku pergi?" tanya Serene dengan wajah cemberut.
"Mengantarmu ke rumah," jawab Dominic singkat.
Serene kemudian menanggapi. "Aku tidak mau ke rumahmu. Bawa aku kemana pun, aku bosan di rumah terus."
Dominic melirik sekilas. Lalu dia menghela napas. "Baiklah, kita putar arah ke kantor," ucap Dominic.
Dominic tidak peduli dengan tatapan para karyawan lain ketika dia berjalan dengan seorang gadis di sampingnya. Mereka kembali ke ruang kantor Dominic, tentunya membuat Serene kembali teringat tentang wanita aneh itu.
"Apa kau punya kekasih?" ujar Serene di luar dugaan Dominic. Sehingga pria itu nampak sedikit terkejut: menaikan sebelah alisnya, dengan wajah yang tetap tenang dan dingin.
"Tidak punya."
"Lalu, wanita aneh di sini tadi itu siapa? Dia datang dan langsung menuduhku mencuri batu permata milikmu," protes Serene, alisnya mengerut, dia sangat tidak suka pada wanita dandanan aneh itu.
"Batu permata? Maksudmu batu yang di sana?" balas Dominic dengan anda terheran. Seperti yang dibicarakan, batu permata biru itu masih ada di dalam kotak kaca di sudut ruangan dekat jendela.
"Ya." Serene mengangguk.
Dominic sontak tertawa kecil. Serene langsung memicing tajam. Mengapa pria itu malah tertawa? Apakah melihat dia ditangkap mereka atas tuduhan pencurian itu hal yang lucu? Serene merasa tersinggung.
"Maaf---" Tapi Serene juga tidak tahu kalau wajah tawa itu tidak pernah dilihat oleh orang lain, bahkan di depan ibunya. "----aku tidak menertawakanmu karena kau memang lucu, tapi sebenarnya batu permata itu tidak memiliki nilai jual tinggi. Yah hanya pajangan." Dominic berhasil menyelesaikan kalimatnya dengan benar. Sedetik kemudian dia terdiam sadar telah menunjukan ekspresi tak biasa di depan orang lagi. Lalu, dalam sekejap dia mengendalikan ekspresinya lagi ke semula: berwajah dingin dan tenang.
"Huh? Hanya aksesoris ruangan? Konyol sekali!" kesal Serene.
Tiba-tiba ruangan diketuk. Seorang Henry masuk membawa buntalan sesuatu. "Aku membawakan kotak makan siangmu dari meja resepsionis," jelas Henry. Kemudian pandangannya melirik ke sofa, menatap eksistensi gadis asing di sana. Henry tidak berkomentar apapun di depan Serene, dia meletakan kotak makan siang itu di meja.
Tapi ketika tatapan mereka bertemu, Henry langsung tersenyum manis. Wajahnya nampak ramah, sedikit membuat Serene nyaman di ruangan ini.
Tanpa patah kata lagi, Henry berbalik pergi ke luar ruangan. Menutup pintunya dan berdiri sejenak di depan pintu sambil berpikir.
Sedangkan Dominic baru saja menyelesaikan coretan terakhirnya di lembar dokumen, kemudian beranjak dari kursi kerja, untuk pindah tempat duduk di sofa yang bersebrangan dengan Serene.
Pria itu membuka kotak makan siangnya. Buatan sang ibunda. Terdapat empat tingkat kotak, di setiap kotaknya berisi menu makanan sehat yang berbeda. Sayuran, buah dan daging. "Kau, makanlah," kata Dominic meletakan kotak makan ke depan Serene.
Serene menatap makanan mentah ala Jepang itu dengan pandangan aneh. Baru kali ini dia melihat ada makanan mentah seperti itu bisa dimakan. "Apakah makanan ini tidak di masak dulu?" tanya Serene dengan polosnya. Itu agak terdengar aneh bagi Dominic, tetapi kemudian pria ini menjawabnya.
"Makanan ini khas Jepang dan dibuat setengah matang. Makan saja."
Serena terlihat ragu-ragu. Sampai ketika tepat dia menusuk garpu ke daging ikan, pintu ruang kantor terbuka mendadak. Itu mengganggu waktu istirahat Dominic, dan dia semakin tidak suka begitu mengenali seseorang yang menerobos masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
Bukan Henry.
Seorang wanita dengan penampilan aneh, dan mata Serene melebar kaget. Serene menunjuk wanita bergaun ketat itu. "Oh, kau yang menuduhku!" Bersamaan dengan wanita itu juga yang menunjuk Serene dengan wajah tercengang. "Kau pencuri!" serunya.
"Bagaimana kau bisa lolos dari polisi?" geram Carell.
"Hentikan!" tegas suara Dominic dengan tenang. Dominic lalu berkata pada Carell. "Apa yang membuatmu masuk ke kantorku tanpa izin?" Kalimatnya jelas sarkas tanpa peduli lawan bicara sakit hati.
Tetapi Carell sudah bebal pada semua ucapan dari Dominic apapun itu. Justru semakin membuatnya bersemangat. "Kenapa aku harus izin pada pacarku sendiri?" balas Carell.
Dominic menutup mata, menenangkan diri yang mencoba naik emosi. "Keluar, atau kupanggil sekuriti?" ancam Dominic dingin. Dia tidak suka seseorang mengganggu waktu makannya, siapapun orang itu, tidak hanya Carell, kecuali memiliki kepentingan khusus dengannya.
"Kau tidak berubah, ya?" sahut Carell tersenyum menggoda.
Serene tampak diam melihat interaksi dua orang di depannya. Pikirannya bertanya-tanya tentang wanita itu. Bahwa pengakuannya sebagai pacar Dominic, sangat bertentangan dengan ucapan Dominic barusan. Apakah wanita itu orang gila? pikir Serene, melihat dari tingkah dan caranya berpakaian begitu sexy seakan bertujuan menggoda kaum lelaki.
"Carell, keluar." Dominic nampaknya sedang bersabar. Setelah itu Henry muncul membawa dokumen baru. Tiba-tiba tampak bingung melihat situasi di dalam ruangan.
"Henry, ajak dia keluar," perintah Dominic.
"Apa?" Henry bingung tapi dia segera membawa Carell keluar tanpa harus menyeret paksa. Tapi sebelum pintu ditutup, Carell sempat berkata.
"Dominic, aku tidak akan menyerah. Lalu untukmu, gadis baru, jangan pernah berharap dia akan jatuh kepadamu," tandas Carell menatap tajam pada Serene. Dia mengatakannya sambil menunjuk ke wajah Serene. Sangat tidak sopan. Tetapi ucapannya membuat Serene bengong tidak paham.
***