Chapter - 27

3783 Words
Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.” Aku melotot mendengarnya, benar-benar terkejut. Bahkan Roselied masih dalam tahap belum mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang. Bukankah dia terlalu polos? Memangnya dia itu usianya berapa sampai makna mencintai seseorang saja dia tidak tahu? Aku hanya tersenyum saat badai angin menyerbu lokasi di luar bangunan yang kutempati bersama Roselied, aku bisa melihatnya dari jendela, anginnya sedang sangat kencang, pepohonan terayun-ayun nyaris menyentuh permukaan tanah, banyak benda-benda ringan yang beterbangan mengikuti arus angin, aku yang duduk di dekat jendela hanya menghela napas dengan kelopak mata yang sayu. Aku berpikir, kenapa bisa ada badai seperti ini, padahal ini belum memasuki musim-musim hujan, apakah ada yang salah dari hal itu? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi. Kualihkan pandanganku pada Roselied yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang. “Apakah Lucifer mencintaiku?” Tiba-tiba saja aku melontarkan pertanyaan bodoh yang sangat-sangat-sangat bodoh, entahlah, aku hanya ingin memecahkan keheningan di ruangan ini agar tercipta sebuah obrolan, karena aku muak dengan kehampaan terus-menerus. Roselied tampaknya memberikan senyuman kecil padaku, aku tidak tahu apa makna dari senyumannya itu, apakah itu positif atau negatif? Tapi yang pasti, aku harap dia bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang berbobot. “Tentu saja, Tuan Lucifer sangat mencintaimu, Chelsea.” Itu sama sekali bukan jawaban yang kuinginkan, aku ingin dia memaparkan alasan dari mengapa seorang raja iblis bisa mencintaiku, tapi sayangnya, Roselied menjawab pertanyaanku hanya dengan pesan singkat yang sama sekali tidak membuatku senang. Sebenarnya itu kesalahanku juga, karena aku memberikan pertanyaan yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kudengar, tapi terserahlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan itu. “Lalu, bagaimana denganmu?” Dengan suara yang santai, aku bertanya begitu pada Roselied, ingin mengetahui segala pemikiran dan perasaannya pada suatu hal yang mungkin cukup sensitif untuk dibicarakan. Aku sangat ingin mengetahuinya, atau lebih tepatnya, ingin mengenalnya lebih dalam dari yang seharusnya. “Apa maksudmu?” tanya Roselied dengan mengerutkan alis dan keningnya, tertampak tidak paham pada apa yang kukatakan, aku hanya tersenyum tipis dengan menghela napas. Sepertinya Roselied tipe orang yang selalu harus dijelaskan intinya, karena dia tidak selalu paham pada segala kode yang orang lain berikan padanya. Sungguh merepotkan. “Maksudku, bagaimana denganmu? Apakah kau juga mencintai seseorang? Seperti Lucifer yang mencintaiku?” Disitu, aku bisa melihatnya dengan jelas kalau Roselied tampak begitu kebingungan, dia sepertinya bingung harus menjawabnya bagaimana karena pertanyaanku benar-benar mengorek langsung pada hal pribadinya, apalagi ini menyangkut perasaannya. Sebenarnya dia bisa saja mengatakan kebohongan, tapi aku harap dia tidak melakukannya, karena aku benci dengan kebohongan. “Saat ini, aku sedang tidak mencintai siapapun, lagipula, aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mencintai seseorang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD