Hipotesis

1099 Words
Maya meletakan semangkuk cookies dan dua gelas kopi di atas nampan. Maya tersenyum puas dengan hasil karyanya. Dia mengangkat nampan itu kemudian membawanya ke ruang tengah. Dia sempat terhenti saat melewati beberapa pigura yang dipajang di dinding. Ada lima buah pigura di sana. Kelima-limanya berisi foto Satya yang tersenyum di depan kamera sambil membawa medali.    Rasa sesak seketika memenuhi d**a Maya ketiga menatap pigura-pigura itu. Dia lalu menatap kue cookies di atas nampan yang dibawanya. Kakaknya begitu sempurna dan selalu mengharumkan nama keluarga. Sementara dirinya hanya bisa memasak.    Maya menggeleng pelan untuk menampik rasa irinya. Dia lalu meneruskan langkah menuju ruang tengah. Di sana ayah dan ibunya sedang membicarakan pekerjaan dengan serius. Ibu Maya adalah seorang Jaksa sementara suaminya seorang polisi. Tak jarang mereka menangani kasus yang sama. Maya terdiam menatap mereka dari kejauhan. Bersama Satya mereka adalah keluarga yang sempurna. Sementara dirinya tak lebih dari orang tak berguna. Apakah Maya mampu membuat mereka merasa bangga? *** Yoga menatap kesal pada Satya dan Viar yang sibuk bermain PS. Sementara dirinya mengerjakan setumpuk soal latihan. “Sat! Katanya kamu mau membantu aku belajar!” geram Yoga. “Kerjakan saja dulu soalnya, kalau sudah nanti aku periksa,” jawab Satya tanpa berpaling dari layar TV dan joystick. Yoga menyobek selembar kertas, meremasnya lalu melemparkannya pada kepala Satya karena kesal. Pasti beruntung sekali menjadi Satya. Dia seperti tokoh utama dalam komik. Pintar tanpa perlu belajar, punya orang tua yang selalu memberi cukup uang saku dan adik yang manis. Yoga lalu menatap lembar jawabannya sambil garuk-garuk. Kepalanya terasa mendidih. Yoga membaringkan diri di lantai sambil memandang langit-langit kamar dengan lelah. Untuk menenangkan pikirannya sejenak. Dia mengajak para sahabatnya berdiskusi tentang wanita. “Eh, kalian tadi lihat Anggi waktu di tempat parkir?” tanya Yoga, “dia  itu baik banget ya cantik lagi. Aku yakin dia terpaksa ikut memboikot Putri karena pengaruh Mona!” Satya melirik Yoga sekilas kemudian kembali fokus pada joysticknya. “Bukan tipeku,” kata Satya cuek. “Itu karena kamu sudah jatuh cinta pada adikmu sendiri,” olok Yoga. Satya melirik Yoga dengan kesal. “Kamu kebanyakan nonton anime!” Pintu kamar Satya diketuk tiga kali. Setelah Satya menggumamkan ijin masuk, Maya membuka pintu. Dia membawa cookies buatannya sendiri dan tiga gelas jus alpukat. Gadis manis itu tersenyum ramah lalu menawarkan makanan yang dibawanya pada kakaknya dan teman-teman kakaknya yang segera menyerbu. “Luar biasa! Kamu memang calon chef  masa depan!” puji Yoga. “Kamu calon istri yang baik,” puji Viar. Yoga tertawa kecil saat mengawasi Maya yang merona. Gadis itu tertunduk malu-malu. Sementara Satya melotot tajam pada Viar. Sayangnya Viar tetap makan dengan santai, tidak menyadari akibat dari perkataannya. “Seharusnya dia memang masuk SMK Tataboga,” kata Satya berusaha menghilangkan kekesalannya, “tapi dia mengotot memilih SMA.” “Aku tahu! Kamu pasti lebih menikmati bersekolah di tempat yang sama dengan Onii-tan kan?” goda Yoga. Maya tersenyum. “Dua tahun lagi kakak akan pergi ke ITB, kalau aku melewatkan waktu bersama kakak sekarang aku pasti menyesal.” Dalam hati Maya menambahkan kalimat bahwa da akan menyesal jika tak bisa mengalahkan kakaknya dalam dua tahun ini. Satya hampir tersedak. Dia melengos menghindari tatapan adiknya. Satya memarahi jantungnya yang berdetak lebih cepat. Tidak seharusnya dia memiliki perasaan seperti ini pada adiknya. “Ayo kita kembali pada kasus hilangnya data di flashdisk!” kata Yoga antusias. “Aku yakin pelakunya adalah Mona! Bagaimana pun juga data di dalam flashdisk itu masih ada saat Putri meninggalkannya di ruang redaksi. Hanya dia yang terus berada di dalam ruangan itu sendirian. Kalau bukan dia pelakunya siapa lagi!” tegas Yoga. Yoga menatap tiga orang di hadapannya meminta dukungan dari mereka atas pendapatnya. Viar mengangkat bahu. “Entahlah, tapi menurutku Mona yang diceritakan Putri itu seperti bukan Mona yang kukenal,” kata Viar. Viar satu kelas dua tahun berturut-turut dengan Mona dan cukup mengenal gadis itu. “Wajahnya memang terlihat garang, tapi sebenarnya dia tidak jahat bahkan dia agak cengeng.” “Jadi apa kamu pikir Putri bohong! Kita sudah kenal Putri dari kecil!” Yoga tidak terima dengan pernyataan Viar yang menyudutkan Putri. “Ya, aku tahu Putri bukan pembohong, tapi kita ini orang luar, kita nggak boleh berasumsi jika nggak tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Nanti malah jadi fitnah,” kata Viar. “Itu benar,” Satya sepakat, “menurutku terlalu aneh jika Mona yang menghapus data itu. Jika dia pelakunya kenapa dia terus berada di ruang redaksi? Seolah-olah dia ingin menegaskan bahwa dia adalah satu-satunya orang yang pantas dicurigai.” Maya memandang kakaknya dan dua sahabatnya yang tampak berpikir. Maya meremas roknya kemudian berkomentar. “Masalah data hilang itu menurutku tidak begitu penting,” kata Maya, “tapi aku nggak mengerti mengapa semua anak Jurnalota membela Kak Mona dan memusuhi Kak Putri.” Satya, Yoga dan Viar terdiam dan menatap Maya. Gadis itu tampak masih ingin melanjutkan kalimatnya, wajahnya terlihat sendu. “Memangnya Kak Putri pernah berbuat salah apa pada mereka? Aku nggak bisa membayangkan jika aku berada di posisi Kak Putri.” “Sudah pasti Mona yang menghasut mereka!” kata Yoga yakin. Yoga menoleh pada dua sahabatnya dan meminta dukungan mereka. “Iya, kan?” Viar menggeleng. “Aku nggak bisa membayangkan Mona melakukan hal sejahat itu.” Yoga melotot dan menggeram, tidak senang karena Viar tidak sependapat dengannya. “Kenapa sih kamu membela Mona terus dari tadi? Jangan-jangan kamu suka dia, ya!” tuduh Yoga. “Sudah kubilang aku nggak mau berasumsi apa pun! Ini adalah masalah mereka. Biarkan mereka yang menyelesaikannya. Kita nggak perlu ikut campur,” kata Viar. Yoga tidak puas dengan jawaban Viar. Dia lalu menoleh pada Satya. “Kalau menurutmu bagaimana Sat? Apa kamu nggak ingin memecahkan kasus hilangnya data dalam flashdis ini?” “Ada tiga pertanyaan yang membuat kasus ini sangat menarik.” Satya mengacungkan tiga jarinya. “Pertama kenapa data di flashdisk itu hilang? Kedua kenapa nggak ada satu pun anggota yang menyimpan softfile naskah selain Putri? Ketiga mengapa semua anggota Jurnalota memusuhi Putri dan menuntutnya turun dari jabatannya?” Yoga, Viar dan Maya memandang Satya dengan penasaran karena aksi Satya yang bagai seorang detektif gadungan. “Dari tiga premis minor ini aku menyimpulkan sebuah hipotesis. Ada seseorang yang ingin Putri turun dari jabatannya. Orang itu mungkin merasa dirinya lebih pantas menjadi pimred ketimbang Putri sehingga dia menyusun siasat untuk menjatuhkan Putri,” tegas Satya. Tiga orang yang duduk di hadapan Satya tergemap dan menahan napas.  “Siapa pelakunya?” tanya mereka kompak. “Ini hanya hipotesis, aku belum punya bukti dan aku juga tidak tahu bagaimana cara dia menghapus data dari flashdisk itu,” kata Satya sambil menggeleng. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD