✉ 9 || Vienna Esterina Elara

1145 Words
    Aku tidak tahu apakah pilihanku ini tepat atau salah. Aku memilih bersekutu dengan cowok aneh bernama Riga. Ya, aneh. Bagiku dia seperti tahu banyak hal soal sistem seleksi kandidat Raja dan Ratu Sekolah. Cowok itu menjabarkan fakta-fakta mengerikan yang membuatku ingin pulang saat ini juga. Tapi terlambat. Dengan datang kemari, aku bagaikan sudah menyerahkan diri sendiri untuk dituntut menyelesaikan misi.     Untung saja dalam misi kali ini aku tidak gugur. Padahal aku cukup pesimis. Aku sudah mencari mahkota atas namaku ke beberapa ruangan. Dan buruknya, aku tidak berhasil menemukan mahkota itu. Menyebalkan.     Tapi cowok itu datang. Dia memperkenalkan diri sebagai Riga. Ya, Riga datang membawakan mahkota atas namaku. Dia bilang dia menemukannya di dalam ruang laboatorium bahasa. Seharusnya aku kesana tadi. Tapi mau bagaimana lagi. Kupikir ruangan di lantai satu semuanya terkunci. Makanya aku segera naik ke lantai dua. Sayangnya, di lantai dua justru tidak ada apa-apa.     Aku berhutang budi padanya. Riga menemukan mahkota atas namaku. Artinya, aku juga harus membantu mencari mahkota atas namanya.     Kami menjelajahi ruangan-ruangan gelap di sekolah ini. Beberapa kali kami berpapasan dengan kandidat lainnya. Jujur saja aku tidak tahu siapa kandidat yang kutemui itu. Mereka semua menggunakan topeng sehingga aku kesulitan mengenali mereka. Tapi sejujurnya, walau mereka tidak menggunakan topeng pun, aku tetap akan kesulitan mengenali wajah mereka.     Tak perlu susah payah. Aku tidak usah repot-repot memikirkan kandidat lainnya. Yang penting sekarang adalah aku harus membantu Riga menemukan mahkotanya, kan?     Kami sampai di depan changing room. Riga memutuskan untuk menggeledah ruang ganti putra dan aku kebagian tugas untuk mencari di ruang ganti putri.     Tak kusangka. Ternyata aku berhasil menemukan mahkota milik Riga di ruang ganti putri. Aku tidak habis pikir, kenapa mahkota cowok disembunyikan di ruang ganti cewek?!     Aku rasa anggota Raja dan Ratu Sekolah itu gila. Maksudku, mereka berharap mahkota itu ditemukan oleh kandidat yang bersangkutan kan? Kalau gitu, seharusnya mereka meletakkan mahkota milik Riga di ruang ganti putra. Riga kan tidak mungkin berani menggeledah ruang ganti putri. Oke, mungkin malam hari begini memang tidak masalah kalau Riga mau mengecek ke ruang ganti putri. Toh tidak ada cewek yang sedang menggunakan ruangan itu. Tapi tetap saja kedengarannya tidak etis.     Aku berhenti berdebat dengan diriku sendiri saat suara sirine meraung-raung. Tuh kan, anggota Raja dan Ratu Sekolah ini pasti gila. Mereka kan tahu kalau ini sudah malam dan banyak orang sedang beristirahat. Apa mereka mau membangunkan warga yang tinggal di sekitar sekolah? Oke, lupakan-lupakan. Sekali lagi itu tidak penting.     Aku melirik ke arah Riga. Ehm, bukan melirik sih, aku justru memandangi topengnya lekat-lekat. Mungkin karena merasa terusik, cowok itu balas menatapku. Dia berbisik, "Kita lihat siapa yang akan tersingkir malam ini."     Riga sudah menyeretku kembali ke lapangan. Sesampainya di lapangan, aku bisa melihat kandidat lain yang juga membawa mahkota hasil temuan mereka. Aku langsung menghitung jumlah mereka. Otakku bekerja dengan sendirinya setelah teringat kata-kata Riga barusan.     "Hanya ada tujuh orang," gumamku tak sadar. Serius deh, di lapangan itu, aku hanya bisa melihat lima orang kandidat. Ditambah aku dan Riga yang baru datang, jumlahnya mentok tujuh orang.     Satu orang sudah menghilang. Apa yang dikatakan Riga itu benar. Apakah satu kandidat yang tersingkir itu sudah dibunuh oleh anggota Raja dan Ratu Sekolah?     Layaknya Raja dan Ratu, dua orang bertopeng berjalan memasuki lapangan basket outdoor dengan bergandeng tangan. Mereka tampak serasi dengan aura yang sangat kuat. Raja menggunakan kemeja abu-abu dan celana hitam ditambah dengan jubah yang berkilauan di tengah malam. Apa itu jubah emas ya?     Oh ya, Ratunya menggunakan dress selutut dengan warna senada kemeja Raja. Jangan lupakan juga jubah bertabur emas itu. Sepertinya, yang terpilih menjadi kandidat Raja dan Ratu Sekolah adalah anak-anak orang kaya. Lalu bagaimana denganku?     Aku tidak tahu siapa mereka. Sungguh, aku rasa-rasanya belum pernah bertemu mereka. Jadi bagaimana bisa mereka memilihku sebagai salah satu kandidat? Sekali lagi kukatakan kalau aku tidak cantik. Aku juga bukan anak orang kaya. Ingat kan, orang tuaku sudah bangkrut?!     "Selamat untuk kalian yang berhasil menyelesaikan misi pertama ini. Mahkota itu sepenuhnya milik kalian. Tapi saat kalian gagal menjalankan misi selanjutnya, kalian harus merelakan mahkota itu kembali kepada kami." Suara berat Raja terdengar sangat berwibawa. Tapi di telingaku, rasanya ada sesuatu yang ganjil dengan suaranya.     "Kalian harus datang ke pertemuan kandidat Raja dan Ratu Sekolah selanjutnya. Kalau tidak, terpaksa kami bertindak tegas. Sekarang, silakan kembali ke rumah masing-masing. Jangan berkeliaran di sekolah setelah kami bubarkan. Kami tidak bertanggung jawab atas keselamatan kalian lagi. Selamat malam." Suara berwibawa seorang cewek mengambil alih perhatianku. Apakah Ratu memang harus berbicara seperti itu?     Raja dan Ratu itu pergi. Baguslah, aku bisa kembali ke rumah sekarang. Hawa dingin sudah mengusikku sedari tadi. Aku juga mengaku lelah karena sedari tadi menahan debar jantungku yang tidak karuan. Aku sungguh ketakutan. o0o     Aku berjalan agak belakangan. Kami para kandidat sama-sama berjalan menuju gerbang. Kami tidak saling bicara. Sepertinya semua sibuk dengan pikiran masing-masing.     Cowok yang memperkenalkan diri sebagai Riga itu berjalan di belakangku. Sorot matanya tajam menghujam punggungku. Ada apa ya?     Aku berhenti melangkah. Kuputuskan untuk berbalik menghadap Riga. "Kenapa, Rig?"     Cowok itu diam. Ekspresi wajahnya tidak terlihat jelas karena terhalang topeng setengah wajah yang ia kenakan. Tapi dari sorot matanya, kusimpulkan dia sedang geram. Apa dia sedang marah padaku? Memangnya apa salahku? Oh, apakah karena aku sempat tidak mengenalinya. Ya ampun, Vien, jangan begitu. Kamu harus belajar menghargai orang dengan mengingat nama dan wajah mereka.     "Riga," panggilku lirih. Saat ini aku sudah terpisah dari kandidat lainnya. Mereka semua sudah berjalan ke gerbang sekolah dan menyebar pulang ke rumah masing-masing.     "Lo nggak penasaran kemana perginya Anna?" Riga angkat bicara.     Aku menggeleng. Memang Anna pergi kemana sih? Oh, ya ampun. Apakah satu kandidat yang tidak kembali ke lapangan tadi itu adalah Anna?     "Maksud kamu, Anna adalah kandidat yang gugur?" tanyaku gemetar.     Cowok itu mengangguk. "Lo pikir kenapa dia nggak balik ke lapangan?"     "Kenapa?"     "Dia pasti udah celaka."     Deg! Rasanya tubuhku mati rasa. Aku mengedarkan pandangan ke berbagai arah. Sejauh ini, gedung sekolah yang gelap memang tampak mengerikan. Tapi kalau Anna menghilang, itu artinya ada sesuatu yang lebih mengerikan lagi. Tak salah lagi, ini pasti perbuatan para anggota Raja dan Ratu Sekolah.     "Lalu, kenapa kamu ngasih tau aku soal ini?" tanyaku bingung.     Cowok itu mendengkus. Matanya yang terlihat tampak menyipit sedikit. Kurasa, dia sedang tersenyum meremehkanku. Tapi benarkah dia meremehkanku?     Tapi aku juga bertanya karena tidak tahu maksud dia apa. Oke, aku memang tidak peka. Tapi aku tidak b**o-b**o amat. Harusnya dia langsung memberitahuku dan membuat semuanya lebih mudah. Aku tidak suka menebak-nebak maksud tersembunyinya itu.     Dia melepas topengnya. Benar, wajahnya masih dihiasi senyuman miring. Tapi kok baru kusadari sekarang ini ya? Dia ganteng banget. Proporsi wajahnya tampak tegas dan manis di saat yang bersamaan. Bibirnya kecil dan tipis. Saat tersenyum, lengkungnya membuat jantungku berdebar. Bahkan saat mengejek pun, matanya tetap tidak terlihat meyebalkan. Gila, kurasa penilaianku tentang cowok ini lumayan gila. Aku harus berhenti melihat ke wajahnya sebelum kesadaran dan kewarasanku sirna.     "Jadi gimana?" tanyaku lebih tegas dan nyolot. Bodo amat kalau dia bakalan sakit hati. Ditanya baik-baik malah cuma balas senyum-senyum nggak jelas kaya orang nggak waras.     Cowok itu menyugar rambutnya. "Lo harus bergabung sama gue untuk menyelidiki kepengurusan Raja dan Ratu Sekolah!"     Oke, dia gila!!! Tuhan, aku tidak mau membahayakan nyawaku. o0o
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD