Selesai mengikuti upacara penutupan MOS hari pertama, aku segera mengambil tas di kelas. Aku sungguh deg-degan sekarang ini. Bagaimana aku harus bersikap di depan kandidat lain, ya?
Belum apa-apa, aku sudah berkecil hati. Entah mengapa, rasa-rasanya aku tidak cocok untuk menjadi bagian dari Raja dan Ratu Sekolah. Aku melirik ke seluruh penjuru kelasku. Sudah kosong.
Aku memilih segera keluar dari kelas. Bukannya aku takut berada di kelas sendirian, tapi kalau tidak segera pergi dari sini, bisa dipastikan aku akan terlambat datang ke pertemuan kandidat Raja dan Ratu Sekolah.
Baru saja keluar dari kelas, seorang cewek menghampiriku. Rambutnya panjang dan dikucir ekor kuda. Dia sangat-sangat ceria.
Singkat cerita kami berjalan bersama mencari ruang makan. Ya, cewek itu juga kandidat Raja dan Ratu Sekolah. Namanya Mey dan dia cukup baik padaku.
Setelah berputar-putar di gedung sekolah, akhirnya aku dan Mey menemukan yang namanya ruang makan. Di depan ruangan itu, ada dua orang cowok yang tampaknya tengah menunggu seseorang atau sesuatu. Menyadari kehadiran kami, dua cowok itu menoleh.
Tampak seorang cowok berbadan atletis tersenyum ceria ke arahku dan Mey. Dia menyapa kami dengan akrab. Mey yang memang punya mood ceria sepanjang waktu langsung memperkenalkan diri pada kedua cowok itu. Bahkan tanpa kuminta, ia turut memperkenalkanku.
Cowok berbadan atletis itu memperkenalkan diri sebagai Andreas dan kami hanya perlu memanggilnya Andre. Di samping Andre, ada cowok yang juga tengah memperkenalkan diri. Namanya Riga.
Aku melirik ke jam tangan di lengan kiriku. Pukul empat sore dan acara pertemuan para kandidat ini belum juga dimulai. Aku khawatir kalau-kalau acara ini berlangsung sampai petang. Aku tidak boleh terlambat pulang.
Tak berselang lama, datang empat orang murid yang masih menggunakan seragam SMP sepertiku. Rupanya mereka kandidat juga. Lagi-lagi, masing-masing dari kami saling memperkenalkan diri.
Empat orang kandidat yang datang barusan itu bernama Fany, Anna, Rangga, dan Doni. Fany memiliki nama lengkap Stefany Lee. Kulitnya seputih pualam dengan wajah oriental yang cantik. Rambutnya panjang digerai dan diberi ikal di bagian ujungnya. Dia tidak lebih tinggi dariku. Tapi tubuhnya lumayan berisi.
Kalau Anna, nama lengkapnya Desianna Tantri. Kulitnya sawo matang. Rambutnya lurus dan potong pendek. Tinggi badannya bisa dibilang paling tinggi di antara aku, Mey, dan Fany. Wajahnya manis tapi terhalang bingkai kacamatanya.
Rangga. Cowok itu bernama lengkap Rangga Abadi. Kedengarannya aneh kalau menamai manusia dengan kata abadi. Cowok itu berbadan tinggi besar dan berkacamata. Warna kulitnya tan. Wajahnya cukup terlihat tegas tapi saat berbicara, suaranya cempreng luar biasa.
Doni Wicaksana. Cowok itu minta dipanggil Doni. Wajahnya khas Timur Tengah. Hidungnya mancung banget. Kulitnya sawo matang. Seperti namanya, Wicaksana, ia juga yang paling kalem dan terlihat dewasa.
Sementara ini, aku baru tahu nama mereka saja. Aku tidak tahu apakah mereka memang punya sesuatu yang spesial hingga terpilih menjadi kandidat atau bagaimana. Yang jelas, kurasa kami di sini akan bersaing sebagai lawan.
Terdengar suara kasak-kusuk dari dalam ruang makan. Oh, ternyata suara itu berasal dari pengeras suara yang di tempel di salah satu sisi tembok ruang makan.
Secara naluri, kami para kandidat langsung masuk ke dalam ruang makan. Ini cukup aneh menurutku. Kenapa tidak ada yang menyambut kedatangan kami. Dimana Raja dan Ratu Sekolah yang mengirimi kami surat?
"Perhatian semua," terdengar suara dari speaker. "Selamat datang kandidat Raja dan Ratu Sekolah. Kalian adalah siswa-siswi terpilih. Gunakan kesempatan ini untuk membuktikan siapa diri kalian yang sebenarnya. Datanglah kembali ke sekolah pukul tujuh malam ini. Gunakan baju terbaik dan topeng yang menutupi setengah wajah kalian. Pastikan kalian berdandan sehingga tak ada yang mampu mengenali kalian. Buktikan bahwa kalian lah yang terbaik di antara kandidat lainnya. Selamat sore."
Suara dari speaker itu berhenti. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Rupanya tak hanya aku yang terkejut. Semua kandidat memasang wajah bingung dan bertanya-tanya, persis sama sepertiku.
"Jadi maksudnya nanti malem kita harus balik ke sini lagi?" tanya Mey sambil menyenggol lenganku.
Aku mengangguk. "Iya, sepertinya begitu."
Kandidat yang lain rupanya juga tengah memperhatikan aku dan Mey. Mereka lalu larut dengan pemikiran masing-masing.
Kami terdiam cukup lama. Aku sendiri memikirkan nasibku kalau harus keluar malam hari. Orang tuaku adalah tipe orang tua yang kolot. Mereka masih beranggapan bahwa anak perempuan baik-baik harus ada di rumah saat hari berganti petang. Jelas akan sulit bagiku untuk keluar nanti malam.
"Gue cabut dulu," pamit Riga sambil bergegas keluar ruang makan.
Andreas tampak berpikir sebentar lalu memilih mengikuti Riga. "Gue juga balik duluan ya, guys."
Setelah Riga dan Andreas menghilang, kami sama-sama memutuskan membubarkan diri. Mey mengikutiku hingga ke pintu gerbang.
"Lo pulang naik apa?" tanya Mey.
Aku melirik sekilas padanya. "Jalan kaki."
Mey tampak mengangguk. "Rumah lo deket sini? Mau gue antar? Sopir gue udah jemput tuh."
"Enggak usah. Kamu pulang aja. Sampai ketemu nanti malam." Aku melangkah menjauhi Mey. Kurasa Mey masih memperhatikanku sampai aku berbelok di pertigaan.
Ya, rumahku memang tidak terlalu jauh dari sekolah baruku ini. Aku hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk berjalan pulang ke rumah. Rumahku ada di daerah sepi. Maksudku, jarang sekali ada yang menghuni rumah-rumah di sekitar tempat tinggalku. Makanya, aku kesulitan mencari angkutan yang mengarah ke daerahku.
Konon katanya, kompleks perumahan yang kutempati itu berhantu. Makanya harga jual properti di kompleks perumahanku terbilang sangat murah. Aku tinggal di sini sejak dua tahun lalu. Ya, sejak usaha ayahku bangkrut.
Aku berusaha menerima keadaan. Aku berusaha menyesuaikan diri. Aku berusaha untuk tetap bertahan hidup bersama keluargaku.
Ayahku sekarang membuka toko elektronik dengan modal minimalis. Ibuku juga membantu ayahku di toko. Rumahku hampir selalu dalam kondisi kosong. Oh ya, sebenarnya aku punya dua saudara. Lebih tepatnya dua orang kakak. Tapi kondisi mereka benar-benar kacau sejak dua tahun lalu.
Kedua kakakku meninggalkan rumah dan pergi entah kemana. Mereka memilih berhenti sekolah. Kata teman ayahku yang kebetulan pernah melihat kakak perempuanku, kakakku itu bekerja sebagai wanita panggilan. Bahkan ada rumor bahwa sekarang kakakku sudah punya anak, di luar nikah pula. Kalau kakakku yang kedua, laki-laki, orang bilang dia jadi preman di pasar. Kakakku bergabung dengan geng preman dan kesehariannya adalah memungut uang secara paksa dari kaum lemah.
Intinya, kedua kakakku tumbuh menjadi orang yang tidak beres. Aku lah anak satu-satunya yang tersisa di keluargaku. Saat itu aku memang sempat tidak terima dengan keadaan kami. Namun, aku tahu kalau ada istilah roda berputar.
Alhasil, di sinilah aku sekarang, di depan sebuah rumah berarsitektur Belanda. Rumahku cukup luas dengan perabotan yang seadanya. Aku membuka pintu dan disuguhi pemandangan berantakan ala rumahku.
Malas untuk membenahi keadaan, aku langsung menuju ke kamarku. Aku membaringkan diri di ranjangku dan menatap langit-langit. Aku menghela napas.
Terlintas kembali di pikiranku soal pertemuan kandidat Raja dan Ratu Sekolah nanti malam. Apakah aku bisa datang ke acara itu?
o0o