Sorot Lampu Panggung

1161 Words
Prang! Bantingan gelas di lantai membuat Darian yang baru membuka pintu terkejut. Dia yang baru pulang dengan muka suntuk menjadi kaget. Darian melihat istrinya, berdiri tak jauh di pintu dengan tangannya ditekankan di pinggang memandang pria itu dengan muka kusut masai. "Setiap hari selalu saja keluar! Pulang malam! Gak pernah ada waktu untuk keluarga!" bentakan keras langsung menyambut kedatangan Darian. Darian hanya menarik napas panjang berapa kali, lalu menatap istrinya dengan muka yang telah memasang wajah masam, sangat tidak enak untuk dipandangi. "Siska, aku tidak mau tiap hari ribut terus seperti ini. Kamu tahu aku keluar bukan keluyuran saja, tapi karena kesibukanku mengurus pekerjaan," jawab Darian mencoba meredakan kemarahan istrinya. "Apa yang kamu bilangin kerja? Setiap hari hanya keluyuran bersama teman-temanmu! Urusan puisilah, panggung, sastra dan buku! Keluargamu perlu juga waktu bersamamu!" teriakan Siska lagi dengan suara lebih meninggi lagi dari sebelumnya. "Sudahlah, aku malas bertengkar terus denganmu setiap hari! Yang penting semua kebutuhanmu aku cukupi, apa yang kamu mau selama ini selalu terpenuhi," ujar Darian kembali dengan suara lembut. Pria itu tak ingin situasi makin memanas. Darian melanjutkan langkah kakinya yang tadi terhambat masuk ke dalam rumah. Dengan cepat dia mengaitkan jaket kulit yang dipakainya pada gantungan jaket yang ada di balik pintu kamar. "Pokoknya aku tidak mau tahu! Kamu harus memberikan waktu untuk aku dan anak-anak atau kami akan pergi dari rumah ini!" bentak Siska sekali lagi dengan suara menggelegar. Darian yang tadi berusaha untuk bersikap cuek dengan membaringkan badannya di ranjang, terpancing juga akhirnya mendengar suara sang istri yang tiada henti memancing emosinya. Dengan langkah lebar dia menghampiri istrinya yang belum berhenti memgomel panjang lebar itu. "Dengar Siska! Aku capek setiap kali pulang selalu mendengar omelan darimu! Kamu tidak pernah sadar setiap hari aku banting tulang kerja, untuk mencukupi kamu. Apa yang kamu mau selalu aku berikan, apakah itu masih kurang?" bentak Darian sambil mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Siska. Siska yang dari tadi menunjukkan amukannya menjadi terdiam melihat kemarahan Darian. Wanita itu terhenyak, melihat pria yang biasanya sabar itu kini berwajah menyeramkan di hadapannya. "Perlu kamu tahu! Sikap kamu kayak gini yang membuat aku menjadi malas untuk pulang! Mana penghargaan kamu kepada suami yang selam ini berjuang untuk keluarga!" bentak Darian lagi. Emosinya sudah penuh sampai di ubun-ubun. Siska semakin kaget melihat tingkah suaminya yang semakin berani menunjukkan emosi. "Sudalah, aku malas ribut denganmu! Lebih baik aku pergi dari rumah ini!" dengus Darian lagi dengan sengit. Dengan langkah gontai Darian mengambil jaket yang digantung di belakang pintu dan melangkah keluar dari rumah. Brakkk! Dengan keras Dalian membanting pintu dan melangkah ke depan rumah, dengan sigap Darian menyetop taksi yang langsung melaju meninggalkan rumahnya. *** "Hening sinar matamu adalah api yang membakar jantungku!" Gemuruh suara tepuk tangan memecah keheningan di gedung Indraja, yang merupakan sebuah gedung bergengsi untuk pertunjukan seni di kawasan Jakarta Barat. Semua penonton yang tadinya mendengar dalam keheningan ketika Darian membacakan puisi, serempak bangkit dan bertepuk tangan saat Darian menutup puisinya. Suara riuh tepukan penonton membahana ke seluruh ruangan. Sebagai seorang penyair Darian memang mampu menarik perhatian dengan kelugasan dan keromantisan dalam bersyair. Untaian kata-kata dalam puisinya selalu mampu membius penonton, hingga setiap penampilannya di panggung selalu penuh dengan penonton. Terkadang sehari sebelum acara dimulai tiket pertunnjukan selalu habis terjual. Tak hanya itu, buku puisi yang di luncurkan oleh Darian selalu diserbu oleh penggemarnya, bahkan beberapa buku puisinya sudah memasuki cetakan kedua hanya dalam tujuh hari setelah peluncuran. Dapat dikatakan penyair yang selalu memakai penampilan nyentrik tapi tak banyak bicara ini sedang berada dipuncak karirnya. Siang ini Darian tengah mengisi acara sebuah meet n great launching buku puisinya bersama beberapa penulis lain. Sebetulnya ia tidak harus tampil sendirian. Ada Scarlette, seorang penulis baru yang tengah naik daun yang dijadwalkan tampil. Namun karena ada kegiatan lain Scarlette tidak jadi mengisi acara. Darian berjalan santai ke belakang panggung meninggalkan gemuruh tepuk tangan penonton yang masih terdengar, diselingi suara MC yang memandu acara itu. "Don Darian, nanti jangan lupa ada sesi jumpa penggemar, sekalian foto bersama," panggil Jamil mengagetkan Darian. Lelaki enerjik yang menjadi event organizer acara siang itu memang selalu memanggil Darlian dengan tambahan Don di depan namanya. "Aku minum dulu," jawab Darian sambil mengacungkan jempolnya kepada Jamil. Darlian menyeka keringatnya yang menetes setelah satu jam berjibaku melakukan jumpa penggemar. Pria itu membuka telepon pintarnya, memeriksa beberapa pesan masuk, namun belum ada jawaban pesan dari seseorang yang dinantinya. Angan sang penyair melayang pada kejadian beberapa saat lalu, sebelum acara meet and great itu digelar. Darian baru saja tiba dan diarahkan Jamil untuk menunggu dalam sebuah ruangan khusus. Namun ketika hendak masuk, ia mendengar suara pria dan wanita tengah bertengkar. "Don, kita rayakan kesuksesan acara siang ini. Jangan pergi dulu ya, kita makan bersama dulu bareng panitia yang lain," ujar Jamil menyenggol lengan Darian yang tengah termenung. "Iya, kalian atur saja. Aku ikut saja," jawab Darian sambil tersenyum. "Baiklah, aku selesaikan dulu urusan dengan beberapa pihak terkait," sahut Jamil. "Iya, aku tunggu di taman samping sembari mendinginkan kepala," ujar Darian sambil menepuk pundak Jamil. Darian melangkah menuju pintu keluar gedung Indraja melalui pintu samping, dari tempat itu dia bisa melihat orang-orang yang tadi menonton acaranya masih bergerombol di depan gedung. Darian menyalakan rokok mild yang menjadi kegemarannya, setelah menghisap dua kali rokoknya dia berjalan menuju bangku taman. Sekali lagi ia memerikaa pesan di telepon pintarnya. Namun balasan pesan dari seseorang yang dinantinya belum juga terlihat. Pesannya telah dibaca, namun belum juga dijawab. Darian duduk menatap langit sambil kembali berpikir. Satu sisi pria itu mendapatkan kepopuleran yang mengantarkan dirinya ke puncak tertinggi karir kepenyairan. Sebuah pencapaian yang diikuti dengan keberlimpahan materi untuk keluarganya. Tapi di sisi lain dia tidak mendapatkan ketenangan di rumahnya. Materi yang berlimpah membuat istri Darian semakin menjadi-jadi. Setiap pulang ke rumah selalu diisi dengan keributan. Istri yang dimanjakan selama ini dengan segala keberhasilan materi semakin hari semakin menuntut lebih. Hal ini membuat Darian tidak betah berada di rumah. Setiap pulang ke rumah dia merasakan seperti menginjak bara api sehingga tak pernah tahan berada di rumah. Tangannya kemudian kembali meraih ponsel yang ada di saku celana, dengan lincah dia mengetikkan berapa kata pada benda itu dan mengirimnya pada satu nomor. Jelang berapa menit tidak ada jawaban dia mengirimkan lagi pesannya pada nomor yang sama. Setelah berapa kali mengirimkan pesan dia dengan santai sambil menghisap rokoknya perlahan, benda pipih tersebut dia masukan kembali ke dalam saku celananya. Cukup lama dia duduk di sana menghabiskan rokok yang sudah dia bakar, pandangan matanya tiada henti menatap sekitar halaman gedung pertunjukan. Dari jauh Darian melihat Jamil dan beberapa orang sudah menunggunya di teras samping untuk merayakan keberhasilan acara mereka. Darian bangkit hendak bergabung. Namun saat akan beranjak dari tempatnya dia merasakan benda pipih di kantongnya bergetar. Dengan cekatan Darian mengeluarkan benda itu dari kantongnya dan membaca pesan yang tertulis di sana. [Tunggu aku di studio malam ini. Aku akan datang setelah jamuan makan dengan keluarga Arron] Terlihat di bibirnya mengembangkan sebuah senyuman ketika membaca sederet pesan yang ada di sana, handphone di tangannya segera dia masukkan kedalam kantong celananya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD