Awan tidak tahu apa yang ia harapkan, yang jelas bukan perasaan heran dan juga perasaan tidak nyaman begitu ia berhasil memarkirkan mobilnya di alamat yang Rania kirimkan padanya. Begitu keluar dari mobil Awan langsung berhadapan dengan bangunan jelek berlantai dua yang berdiri sedikit miring ke kiri—seperti akan roboh kapan saja. Kiri kanan bangunan dipadati gedung yang sama kumuhnya.
Awan tidak mengerti kenapa Rania memilih menginap di motel jelek ini alih-alih di hotel berbintang. Apa wanita itu tidak punya uang? Kepalanya bergerak ke samping, bahkan setelah sekarang Rania masih seperti misteri baginya.
Setelah menanyakan nomor kamar Rania terlebih dulu ke meja resepsionis, Awan bergegas ke kamar wanita itu. Ia mengetuk beberapa kali dan pintu langsung terbuka.
“Hai, kenapa kau—“
“Bisa kita pergi sekarang?” potong Rania, suaranya tenang, tapi Awan bisa merasakan ketegangan terselip di dalamnya. Dan yang membuat dadanya sedikit sesak, Rania menolak menatapnya.
“Tentu, mobilku ada di luar, apa kau tidak ingin mengganti pakaian lebih dulu? Baju itu mungkin nggak nyaman.”
Bukan hanya baju kebesaran yang nyaris menenggelamkan Rania yang membuat penampilan wanita itu terkesan aneh, tapi juga kacamata besar yang menutupi sebagian besar wajahnya.
“Aku lebih nyaman seperti ini.”
Baiklah, itu bukan sesuatu yang bisa ia bantah.
Ia mengangguk singkat kemudian melihat melewati kepala Rania.
“Di mana kopermu? Aku bisa membawanya untukmu.”
“Aku tidak punya.”
Tidak punya?
Awan menatap Rania lekat meski tidak ada yang bisa dilihat.
“Rania, apa yang terjadi? Kau bilang membutuhkan tempat untuk menyendiri. Kupikir kau ingin berlibur dan—“
“Bukan,” potong Rania. Bibirnya yang pucat menipis. “Aku tidak bisa bercerita sekarang, tapi kita benar-benar harus pergi kalau kau tidak keberatan.” Nada mendesak yang dia gunakan melakukan sesuatu pada Awan. Ia bisa tahu ada yang tidak beres.
Masalahnya, ia tidak bisa meminta Rania bercerita kecuali wanita itu sendiri yang menginginkannya. Setelah enam tahun pelarian tanpa kabar, membuat wanita itu tidak nyaman adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
Awan membersihkan tenggorokannya sebelum bersuara.
“Mobilku parkir di luar,” ucapnya cepat. “Kita bisa berangkat sekarang kalau kau mau.”
Rania mengangguk. “Terima kasih.”
Awan memberi jalan agar Rania lewat lebih dulu. Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari Laut.
Laut: Sudah lihat berita hari ini?
Keningnya berkerut. Berita apa yang dia maksud? Awan mengetik balasan sambil berjalan ke tempat parkir. Rania berjalan di depannya tanpa suara.
Awan: Berita apa?
Laut: Tentang Rania-mu.
Awan: Dia bukan Rania-ku.
Laut: emotikon memutar mata
Awan: Jadi berita apa yang kau maksud sebenarnya?
“Sebelah sini,” ujarnya, memberi petunjuk agar Rania mengikutinya saat melihat wanita itu berdiri kebingungan di antara mobil yang diparkir. Ia membuka pintu penumpang, menunggu sampai Rania masuk sebelum menutupnya kembali. Tepat saat ia mengitari mobil, ponselnya kembali bergetar.
Laut: Raka membuat konfrensi pers tentang perceraiannya dengan istrinya. Apa ini ada hubungannya denganmu?
Apa?
Tangan yang hendak membuka pintu mobil mengambang di udara.
Rania dan Raka bercerai?
Kenapa?
Awan memandang Rania yang masih menolak untuk menatapnya. Dia tampak seperti sedang melamun, tapi Awan mengenalnya. Pikiran wanita itu saat ini pasti sedang bekerja dalam mode penuh, mungkin mencoba mencari solusi atas apa pun yang sedang menimpanya atau sedang mencoba memikirkan ide untuk lukisan selanjutnya.
Apa Rania masih melukis ia sendiri tidak punya jawabannya.
Dulu Rania menjadikan melukis sebagai lagu dalam hidupnya. Tidak sehari pun ia melihat Rania tidak melukis. Wanita itu seolah tidak kehabisan ide.
Dan dulu Rania selalu bertanya padanya, apa lukisannya bagus yang ia jawab dengan anggukan mantap.
Karena ya, Rania melukis dengan sangat indah.
Sampai ia mengacaukan segalanya dan Rania tidak lagi menunjukkan karya-karya indah itu padanya.
Awan menggelengkan kepalanya, mengusir kenangan itu jauh ke belakang. Bukan saatnya mengingat momen itu saat mereka punya banyak hal yang harus dibicarakan.
Kau hanya membutuhkan tempat terpencil dan jauh dari hirup pikuk dunia jika ingin melarikan diri atau ingin bersembunyi.
Awan masuk dan menyalakan mobil tanpa suara. Untuk mengisi keheningan di dalam mobil Awan sengaja menyetel musik. Ia memilih Greedy dari Ariana Grande.
“Kau masih memutar lagu ini?”
Awan tersenyum. Jadi Riana masih mengingatnya. Ini lagu kesukaan mereka berdua atau lebih tepatnya Riana. Wanita itu selalu memutarnya saat mereka berdua. Di mana pun dan kapan pun. Setiap kali ia bertanya kenapa Riana selalu memutar lagu itu, dia akan menjawab dengan senyum lebar dan mata berbinar seperti anak kecil.
“Karena aku juga serakah."
Waktu itu Awan bertanya apa maksudnya, tapi Riana hanya tertawa sambil menggelengkan kepala, menolak menjawab pertanyaannya. Dan itu berlangsung untuk waktu yang lama sampai Awan menyerah menanyakan alasannya.
“Ini lagu kesukaanku,” balas Awan singkat, bahkan dari balik kacamata ia bisa merasakan senyum wanita itu.
Sesaat ia merasa dikembalikan pada masa-masa di mana segalanya terasa lebih mudah saat mereka bersama. Itu momen yang indah.
“Lagu kesukaanmu? Seingatku ini lagu kesukaanku.”
“Tidak mungkin. Aku sudah memutar lagu ini setidaknya 4.380 kali selama 6 tahun terakhir.”
Begitu kata-kata itu lepas dari bibirnya, Awan meringis. Ia tidak bermaksud mengatakannya dengan gamblang seperti itu, tapi dengan Rania ia memang tidak pernah bisa menahan apa pun yang keluar dari mulutnya.
Kecuali satu.
“Kau memutar lagi ini setiap hari?”
Ya, lagu ini mengingatkanku padamu.
Tapi ia tidak mengatakannya. “Perjalanan ini akan butuh waktu lama. Kau bisa tidur kalau kau mau.”
“Aku tidak ingin tidur.”
Awan mengangguk, tidak mendesak lebih jauh. Ia kembali fokus pada jalanan, membiarkan Ariana Grande mengisi keheningan di antara mereka.
“Awan…”
Ada sesuatu yang terjadi padanya setiap kali Rania memanggilnya dengan nada itu. Ia menoleh singkat.
“Ya?”
“Terima kasih. Aku… aku…”
“Tidak perlu berterima kasih. Aku senang kau menghubungiku.”
Rania mengangguk, tapi ia bisa merasakan masih ada yang ingin disampaikan wanita itu. Awan menunggu, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Baik ia maupun Rania tidak ada yang berbicara sampai mereka tiba di tempat tujuan.
Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul 10.00 malam saat ban mobil Awan mulai menggilas kerikil kasar di mulut jalan pribadi estate yang mereka tuju. Lampu depan mobil membelah kegelapan, menyinari gerbang besi setinggi tiga meter yang tampak angkuh di tengah rimbunnya pepohonan hutan.
Begitu gerbang terbuka dengan derit berat, mereka resmi memasuki wilayah estate.
Di kanan dan kiri jalan setapak yang sempit, deretan pohon pinus tua menjulang tinggi, dahan-dahannya saling bertautan di atas kepala, mencipktakan terowongan alami yang mengingatkan orang-orang pada adegan film horor. Untungnya ada lampion yang ditata dengan snagat indah untuk menghapus kesan menyeramkan itu.
“Luas sekali,” komentar Riana begitu melihat bangunan lantai dua menyambut mereka.
Awan melempar senyum. “Kau menyukainya?”
Riana tidak menjawab. Wanita itu menelan ludah. “Siapa pemilik tempat ini?”
“Kakakku, tapi jangan cemas, tempat ini milikmu selama yang kau butuhkan.”
Setelah melewati tikungan tajamn, bangunan utama Estate itu akhirnya muncul. Di bawah langit malam yang mendung, siluetnya terlihat seperti raksasa yang sedang berjongkok. Itu adalah sebuah rumah colonial dua lantai yang snagat luas dengan pilar-pilar batu besar dan jendela-jendela tinggi.
Awan mematikan mesin. “Ayo!” ujarnya.
“Apa… tidak ada orang lain di dalam sini?”
Awan bisa mendengar ketakutan dan kecemasan dalam suaranya. Ia tersenyum lebar.
“Tentu saja ada. Kita berdua yang akan menempati tempat ini.”
“Apa?”