Chapter 9

1087 Words
Delapan tahun lalu “Gimana menurutmu?” Awan menahan senyum melihat wajah cemas Rania. Dia mengigit bibir bawahnya—yang dia lakukan setiap kali gugup—membuat Awan mengangkat tangan untuk melepas bibir itu dari gigitannya yang menyedihkan. Rania cemberut, tapi membiarkan Awan melakukannya. “Apa masih perlu bertanya? hmm?” gumamnya lembut, menatap Rania dengan alis terangkat. Rania memiringkan kepalanya, menatap Awan dan kanvas di depannya bergantian. Awan tidak mengerti bagaimana Rania masih meragukan kemampuannya sendiri. Gadis itu bisa melukis, dia bisa menciptakan keindahan dari kekosongan, dan lukisannya seperti jendela ke dunia nyata, menampilkan keindahan alam dengan cara yang begitu nyata. Ia melihat kilatan mata Rania ketika pertama kali memegang kuas dan Awan tahu bahwa dia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Jiwanya tercermin dalam setiap sapuan kuas di atas kanvas. Awan ingin Rania melihat apa yang ia lihat, ingin Rania percaya pada dirinya sendiri seperti yang ia lakukan. “Bagus?” Awan memukul kening Rania, tidak cukup keras, tapi tetap membuat gadis itu mengaduh. “Apaan sih, kenapa aku dipukul?” Rania melotot, tidak terima karena kepalanya baru saja mendapat bogeman mentah—tidak cukup keras jadi tidak cukup menyakitkan—dari Awan. Sahabatnya yang luar biasa usil. Hmmm. “Bagus terlalu remeh. Itu indah, Ran.” Rania menatap lukisannya. Bukan lukisan yang wah atau bahkan rumit. Itu hanya pohon kenari dengan pencahayaan matahari maksimal bukan sunrise apalagi sunset. Jadi bukan sesuatu yang menarik pada umumnya. “Kau yakin?” tanyanya ragu. Rania menatap Awan dengan mata menyipit. “atau kau hanya ingin—“ “Menyenangkanmu?” potong Awan geli. Rania mengangguk. Awan menghela napas. “Ran, mungkin lukisan itu terlihat sederhana, tapi kau tahu kenapa lukisan itu indah?” “Karena aku pelukis berbakat?” candanya mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa berat. “Itu, tapi juga karena kau tahu bahwa pohon itu ada bukan tanpa alasan. Dia berarti dan itu saja sudah jadi alasan kenapa dia indah dan istimewa.” Rania berkedip, sesuatu berkelebat di matanya yang cokelat keemasan, Awan tidak yakin, tapi ia sempat melihat sepasang mata itu berkaca-kaca. Ada emosi lain terselip di sana, sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar haru. Namun, sebelum Awan sempat menelaah lebih jauh, gadis itu berpaling, menyembunyikan wajah dibalik helaian rambutnya. *** Sekarang Rania pergi. Awalnya Awan ragu, tapi sekarang ia benar-benar yakin. Tas wanita itu tidak lagi ada di kamar yang biasa Rania tempati. Awan berbalik, menatap pasangan tua yang biasanya bertugas membersihkan rumah kakaknya. “Kalian tidak melihatnya pergi?” Wanita tua dengan rambut putih disanggul itu menggeleng. “Dia pasti pergi pagi-pagi sekali, jika tidak, kami pasti melihatnya.” Awan mengusap wajahnya. Kenapa? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Satu waktu ia menghadapi Rania yang ketakutan dan sekarang wanita itu pergi seolah semua baik-baik saja. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? “Dia pasti belum pergi terlalu jauh, Nak Awan. Mungkin kalau kita mencarinya sekarang…” Itu benar. Estate ini luas dan sekarang masih cukup pagi. Belum lagi Rania tidak punya kendaraan dan juga uang—atau seperti itulah yang ia pikirkan. Rania bisa saja tersesat di tempat ini. Awan menghela napas, menatap keduanya dengan wajah penuh tekad. “Aku akan mencarinya sekarang, Pak.” “Tapi Nak Awan…” lelaki tua dengan wajah dipenuhi guratan itu ingin membantah, tapi Awan buru-buru menggeleng. “Aku akan mencarinya, mungkin dia belum terlalu jauh. Sementara itu aku ingin minta tolong pada kalian kalau bisa?” Pasangan suami istri itu mengangguk cepat. “Tolong siapkan makanan dan juga air hangat. Dia akan membutuhkannya begitu kembali ke sini.” Awan optimis Rania akan ditemukan. Ia akan menemukan wanita itu. Setelah memberikan beberapa instruksi terakhir Awan meninggalkan estate dan mulai melakukan pencarian. Ia memilih memulai pencarian dari halaman belakang yang mengawah ke hutan belantara. Seharusnya bukan jalan ideal untuk melarikan diri, tapi Awan mengenal wanita itu. Ia yakin Rania memilih jalan ini. Dengan optimisme itu, Awan mulai berjalan masuk ke hutan, menembus kelebatan pohon, dan menyambut keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara langkah kakinya yang lembut. *** Rania menatap tato di tangannya dengan perasaan gamang yang semakin membengkak setiap detiknya, mengisi paru-parunya dengan ketakutan dan juga panik yang mencengkeram. Ia menelan ludah berkali-kali, berusaha menekan kecemasan yang mulai merambat di tulang punggungnya. Ke mana? Rania menatap jalan berkelok di depannya. Kiri atau kanan? Rania mengigit bibir bawahnya, merasa kebingungan. Matahari yang menerobos masuk melalui celah dedaunan tampak mengabur. Gelap sebentar lagi akan datang dan ia masih di sini, di hutan antah berantah tanpa ujung. Air mata menusuk-nusuk belakang matanya, tapi sekuat tenaga berusaha ia tekan. Ia tidak boleh menangis sekarang. Tidak saat ia sendirian dan— Srek! Rania membeku. Suara apa itu? Ia mulai melihat sekeliling dengan mata awas dan tubuh dalam mode waspada penuh. Ia tidak yakin lingkungan estate ini memiliki binatang buas, tapi tetap saja ia ketakutan. Apa mungkin ular? Anjing? Babi atau jangan-jangan harimau? Rania mengeluarkan suara tercekik dengan semua bayangan mengerikan yang berputar di kepalanya. Sekarang ia benar-benar mulai berpikir ulang tentang keputusan melarikan diri tanpa rencana matang ini. Srek! Suara itu membuat Rania berjengit. Ia berkedip beberapa kali ke sumber suara, menunggu binatang itu menunjukkan diri. Jika ia mati sekarang apa seseorang akan menemukan mayatnya? Atau ia hanya akan berakhir di sini sebagai mayat tak dikenal? Dilupakan begitu saja? Bayangan itu begitu menyakitkan sehingga Rania membuangnya jauh-jauh. Ia menarik napas beberapa kali, memutuskan untuk meneruskan langkah sebelum hari benar-benar gelap. Rania berjalan memutar, membelakangi sumber suara. Mungkin terdengar bodoh, tapi mendekati sumber suara juga sama mengancamnya. Ia tidak mau mengambil risiko itu. Mati tanpa melihat siapa pembunuhmu mungkin lebih baik. Setidaknya rohnya tidak akan gentayangan karena menuntut balas. Rania buru-buru menyingkirkan pemikiran itu. Ia mempercepat langkah sambil memeluk erat ranselnya. Bunyi gemerisik itu kembali terdengar, membuat Rania membeku. Kali ini jauh lebih keras. Apa ini hanya perasaannya atau suara itu memang mendekat? Rania menelan ludah dengan susah payah, ia harus lari. Ya, itu mungkin satu-satunya cara lolos dari binatang buas di hutan ini. Rania memejamkan mata, mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, tig— “AAAAAA!” Rania berteriak sekuat tenaga saat merasakan tarikan kuat di lengannya. Ia berontak, menerjang dan melakukan perlawanan. “Hei, hei, hei!” Rania masih berusaha melepaskan diri, ia menerjang membabi buta, tapi semua perlawanannya seolah sia-sia. Cengkeraman itu tidak terlepas, jika ada justru semakin kuat. Rania lebih dulu merasakan air mata keluar dari pelupuk matanya sebelum aroma familiar itu menusuk indra penciumannya. Sesaat ia membeku, sebelum akhirnya memberanikan diri membuka mata. Awan. Berdiri tepat di depannya. Menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Kedua bola mata Rania melebar. “A-awan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD