Epilog Langit Jakarta mulai menggelap. Matahari telah terbenam. Senja pun berlalu. Di dalam mobilnya yang sedang berjibaku dalam kemacetan yang menjadi potret ibu kota, Christian melirik arloji dengan cemas. Waktu menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit. Christian menghela napas panjang. Mengetuk-ngetuk jemari di kemudi dengan tak sabar. Ia akan terlambat. Dan ia benci memikirkan itu. Rapat dengan relasi penting dari luar kota membuatnya terpaksa meninggalkan kantor lebih lambat dari seharusnya. Lama kemudian, setelah puluhan, bahkan ratusan helaan frustrasi, akhirnya Christian tiba di rumah mewah yang ia dan keluarga kecilnya huni dua tahun terakhir ini. Hanya sesekali mereka menginap di kondominium mewahnya untuk menikmati pemandangan indah ibu kota pada malam hari. Setelah me

