“Enggak ada yang lupa dibeli kan, Mak?” tanya Queen melirik ibunya dari kaca spion.
“Enggak ada, semuanya udah Mamak beli.” Helm yang dipakai Sari bergerak mengangguk, seingat wanita itu dirinya telah membeli semua yang dibutuhkan untuk satu minggu ke depan, ibu dan anak itu baru saja pulang dari pasar pagi.
Queen mengangguk lega, ia tahu sekali tabiat ibunya yang sering ketinggalan membeli sesuatu—-entah itu bawang merah, kopi untuk Ayahnya ngopi setiap pagi atau hal kecil lain yang membuat mereka harus kembali ke pasar. Dan, harus hari itu juga, Mamaknya tidak akan mau jika barang yang lupa itu dibeli di hari esok.
Rasanya, jika bisa Queen sangat ingin sekali menerbangkan motornya agar bisa cepat ke rumah. Gadis itu ingin merebahkan tubuhnya di kasur empuk kamar, karena sumpah demi apapun Queen merasa sangat lelah. Hari sabtu yang harusnya ia habis dengan bersantai di kasur malah membuatnya kelelahan karena harus menghadari acara pembukaan sekaligus penerimaan anggota baru ekstrakurikuler di sekolahnya.
Dan, hari minggu ini, Queen benar-benar ingin menghabiskan waktunya untuk tidur dengan tenang.
Maksudnya hanya tidur lalu kemudian bangun, bukan berarti tidur yang tenang—mati.
Motor yang dikendarai Queen akhirnya tiba di depan rumah, Ayahnya hari ini memang sengaja tidak manarik ojek untuk istirahat. Biasanya hari minggu Queen bebas membawa motor yang hanya satu-satunya di rumah kemana pun ia mau, namun karena hari ia ingin tidur, maka Jalu—-nama motor Ayahnya akan istirahat.
Queen mengerutkan dahinya ketika mendengar Ayahnya seperti mengobrol dengan seseorang saat berada di teras rumah. Ia akhirnya memutuskan untuk lewat belakang menyusul ibunya yang sudah lebih dulu, namun suara sang Ayah yang melihat kehadirannya membuat langkah kakinya terhenti.
“Itu Queen udah pulang dari pasar!”
Tak lama seorang laki-laki berkaos kuning dengan motif garis-garis hitam muncul dengan tersenyum lebar ke arah Queen. “Ebiii!” panggilnya bersemangat.
“Heh! Anak saya itu Queen, bukan Ebi!” seru Tano yang tak terima nama anaknya diganti seenakannya saja oleh Gala.
Manggala yang mendengar itu meringgis, ia lalu mengangguk dengan cepat ke arah Tanoto yang menurutnya sangat menyeramkan. Apalagi ditambah dengan kumis tebal pria paruh baya itu menambah kengeriannya.
“Ayah tolong Mamak dulu di dapur!” teriakan dari Sari terdengar dari arah dapur membuat Tano cepat menemui isteri tercintanya, Gala yang melihat itu mengusap dadanya lega.
Selama menunggu Queen pulang dari pasar, Gala sama sekali tidak bisa bernafas dengan bebas karena pria pruh baya itu terus menatap ke arahnya, seolah menghitung beberapa kali Gala menarik nafas dan jika berlebihan maka ia akan di sembelih—itu bayangan Manggala yang berlebihan.
Tano juga tak luput membrondonginya dengan pertanyaan yang berhubungan siapa dirinya, apa hubungan dengan Queen, bagaimana gadis itu di sekolah dan pertanyaan lainnya.
“Ayah lo seram banget,” keluh Gala yang wajahnya terlihat setengah pucat.
Queen sebenarnya ingin tergelak melihat tampang ekspresi pria yang ada di depannya. Lalu ia teringat kenapa pria ini ada di rumahnya sejak pagi seperti ini. “Lo ada perlu apa kesini, Gal?”
“Lo udah pake semua skincare yang dibeliin waktu itu?” tanya Gala, seperti biasanya, pria itu terlihat rapi dan tampan walaun hanya mengenakan kaos. Queen mengajak tamunya itu untuk kembali duduk.
Queen menggeleng, ia belum menyentuh barang-barang itu sama sekali, bukan karena ia tak menghargai apa yang diberikan Gala dan teman-temannya, namun ia tak mengerti cara menggunakannya. “Gue enggak ngerti cara pakenya, Ga.”
Manggala tiba-tiba menjentikan jarinya, laki-laki tampan dan wajah manis itu tersenyum lebar. “Itu alasan gue kesini, kemarin gue lupa ngasih tahu cara pakainya sama lo. Gue juga enggak punya nomor kontak lo.”
“Terus tahu rumah gue dari mana?” tanya Queen bingung.
“Dari kesiswaan,” sahut Gala enteng.
“Sekarang kamar lo dimana?” tanya Gala beranjak dari sofa, Queen yang mendengarnya itu sontak mengarahkan kamarnya.
Dan, untuk pertama kalinya dalan sepanjang sejarah, kamar Queen yang tidak pernah dimasuki oleh laki-laki mana pun—-kecuali Ayahnya—dimasuki oleh anak Adam yang baru saja ia temui.
“Kamar lo enak juga suasananya,” tutur Manggala tidak tahu diri yang langsung menjatuhan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangan laki-laki itu bergerak-gerak bebas seolah sedang dibawah tumpukan salju membuat Queen tiba-tiba menjadi panik.
“Ini apa?” tanya Manggala ketika tangannya menyentuh sesuatu, bola mata pria itu membulat ketika menyadari apa yang ia pegang. Mineset milik Queen.
“AAAAAA!”
Tunggu, itu bukan Queen yang berteriak namun Manggala yang langsung menjatuhkan benda keramat itu kembali ke atas kasur, pria itu sendiri langsung melompat dari sana.
Queen merasakan wajahnya memanas saat Manggala memegang benda pribadinya namun yang ada yang lebih penting, gadis itu mengintip sedikit ke arah luar kamar dan tidak melihat tanda-tanda Ayahnya datang, bernafas lega karena Tano tak datang kesini. Gadis itu lalu menatap Manggala yang memasang wajah trauma.
“So-sorry, Bi,” gugup remaja laki-laki itu membuat Queen yang ingin marah tpi tidak jadi. Toh, salahnya juga yang meletakan pakaian serta seperangkat pakaian dalam di atas tempat tidur kebiasannya sebelum mandi.
Queen menyimpan kembali pakaiannya ke dalam lemari. “Iya, enggak papa. Salah gue juga yang ngeletak barang itu sembarangan.”
Gala akhirnya memilih duduk di kursi belajar milik Queen, pria itu nampaknya memilili trauma berat dengan kasur.
“Lo udah mandi?” tanya Manggala menatap Queen yang sedang duduk di kasurnya dari atas hingga ke bawah.
Gadis yang hanya mengenakan jaket dan celana training itu menggeleng, ia bisa bangun dari rasa malasnya saja karena paksaan sang ibu yang terus menggedor kamarnya.
“Coba lo cuci muka pake ini,” tutur Manggala mengambil sabun cuci muka yang dibelikan Rein dan Shiren lusa lalu.
Queen mengangguk, gadis itu lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka, tak lama ia keluar dengan wajah yang nampak terlihat segar.
“Gimana rasanya?” tanya Manggala ketika melihat Queen bercermin di kaca kamarnya. “Kalo lo ngerasa panas, gatal terus nanti muncul kemerahan berarti enggak cocok.”
“Rasanya kulit gue jadi lembut, wanginya gue juga suka.” Manggala terkekeh ketika mendengar reaksi Queen yang kini tersenyum kecil, gadis itu sebenarnya cantik dan manis, hanya saja kurang pandai merawat tubuhnya sendiri.
Manggala lalu menjelas beberapa produk kecantikan kepada Queen agar gadis itu lebih mengerti cara menggunakannya dan semuanya di dengarkan oleh gadis itu dengan baik.
“Terus kalo bisa jangan pegang wajah lo pake tangan sering-sering, bisa aja tangan lo kotor. Apalagi ya...eumm...pisahin antara handuk badan sama wajah.” Manggala mengingat apa lagi yang harus ia katakan pada gadis di depannya. “Minum air putih harus rajin dan terpenting jangan tidur tengah malam, itu waktu untuk kulit lo istirahat.”
Queen mengangguk-angguk, ia mencoba mengingat semua yang dikatakan Manggala.
“Queen, coba lo dekat sini,” panggil Manggala membuat Queen mengerjap-ngerjapkan matanya, gadis itu menuruti perintah pria yang sedang duduk di kursi itu sehingga sekarang wajah mereka sangat berdekatan.
“Bibir lo sering pecah-pecah begini—-“
“HEI ANAK NAKAL!” hardik seseorang dari balik pintu membuat sepasang anak remaja yang wajahnya berhadapan itu terkejut.
“Kamu mau ngapain anak saya hah!!”
“Aduh, duhh!” Manggala menjerit ketika telinganya ditarik oleh Tanoto.
“Om saya enggak ngapa-ngapain kok,” tutur Manggala sambil memasang wajah meringgis.
“Saya enggak percaya!” seru Tanoto lagi.
“Gala enggak maksud apa-apa kok, Yah.” Queen mencoba menjelaskan, gadis itu juga kasihan melihat kakak kelasnya itu yang sekarang memasang wajah memelas.
“Gala lagi ajarin Queen pake ini semua,” tambah Queen lagi sambil menujuk skincare yang berada di atas meja.
“Beneran?” tanya Tanoto pada putrinya yang langsung diangguk oleh Queen. “Iya, Ayah beneran.
“Aduhh..” Gala menghembuskan nafasnya lega ketika Om Tano melepaskan tangannya dari telinganya yang sekarang memerah dan berdenyut. Sakit.
“Kalian enggak boleh berduaan di kamar,” peringat Tanoto sambil menatap ke arah Queen dan Gala.
“Kamu!” tunjuknya pada Manggala. “Ikut saya.”
“Mau kemana Om?” tanya Manggala sambil meneguk ludahnya susah payah, ingatkan dirinya untuk tidak mengunjungi rumah Queen lagi.
“Tolong bantu saya benerin genteng,” ucap Tano sambil mengusap-usap kumisnya.
Manggala merasakan pupil matanya melebar, lelaki itu tidak tahu apa yang dimaksud dengan membenarkan gentang, mungkin maksudnya hanya memegangkan tangga kali. “Cuman pegangin tangga kan, Om?”
“Hemm...” dehem Tano.
“Pegangin tangga aja kan, Om?” tanya Manggala lagi yang memilik firasat tak baik.
————
“Mamak lo jago banget masaknya, Bi.”
Manggala menjatuhkan tubuhnya ke arah bangku sambil menghela nafas lega. Pria itu mengusap perut buncitnya yang baru saja memakan masakan sederhana—orek tempe, sayur sop, telor dadar dan kerupuk tapi tasanya sangat enak.
“Tapi kasian banget suaminya Ayah lo,” bisiknya takut jika Om Tano mendengar, bisa-bisa ia disuruh untuk membantu menggergaji pohon.
“Maafin Ayah gue ya, Gal,” tutur Queen yang merasa bersalah—agak sedikit terhibur karena melihat Gala naik ke atas atap rumah untuk membenarkan genteng yang bocor.
“Enggak papa, pengalaman pertama gue. Cuman sayangnya enggak bisa dimasukin ke CV nanti,” candanya sendiri, mengingat hingga lima menit setelah turun dari atap, jantungnya masih berdetak kencang.
“Lo udah mutusin masuk eskul mana, Bi?” tanya Manggala ketika Queen sedang mencuci piring. Remaja lelaki itu masih duduk di kursi meja sambil menyemil salak.
“Belum tahu, Gal. Ada rekomen enggak?”
Manggala menggeleng. “Enggak, gue aja enggak punya eskul. Gue ini anak sibuk,” ujarnya sambil menyengir.
“Sekolah kita enggak mewajibkan punya eskul, cuman ikut aja salah satu, Bi. Biar bisa nambah teman sama pengalaman,” ujar Manggala. “Saran gue, lo ikutin aja alurnya, jangan cari masalah sama anak-anak yang namanya terkenal, apalagi si Auriga.”
“A-auriga? Emangnya kenapa, Gal?” tanya Queen mematikan keran ketika ia sedang membilas piring. Aneh, harusnya ia tidak peduli dengan orang yang telah menyakiti hatinya.
“Kalo lo mau selamat di sekolah, jangan dekat-dekat sama Auriga. Cowok itu taat aturan banget, hampir mirip kayak robot hidup.”