Chapter 2. Pendaftaran

1616 Words
Ke esokan harinya Bella datang ke mansion, saat itu Nelvan sedang duduk di sofa ruang baca memegang sebuah buku tebal dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya, terlihat begitu santai seolah tidak ada yang terjadi, bola mata hazel milik Nelvan melirik ke pintu saat Bella datang menghampiri. “Nelvan, kau-“ tangan Bella di tahan oleh Nelvan dengan sebelah tangan sebelum perempuan itu berhasil memukul wajahnya, perlahan kepala Nelvan menoleh sedikit mendongak menatap Bella. “Apa yang kamu lakukan di sini?” ucap Nelvan dengan tenang tapi terkesan dingin, Bella menarik tangannya dari Nelvan secara kasar. “Kenapa kamu membatalkan acara pernikahan kita, kau tau betapa malunya aku di depan semua para tamu undangan yang hadir? Kenapa tidak kamu katakan sejak awal jika kamu tidak ingin menikahiku, apa kau sudah tidak lagi mencintaiku seperti dulu?”Bella berucap marah, lagian siapa yang tidak marah jika tib-tiba pasangan membatalkan pernikahan begitu saja tanpa di diskusikan lebih dulu, tapi bagi Nelvan semuanya adalah salah Bella yang berusaha berkhianat. Nelvan berdecih pelan, dia sama sekali tidak peduli seberapa besar rasa malu yang Bella rasakan karena yang memulai masalah ini terjadi adalah Bella sendiri.Buku yang di pegang oleh Nelvan di tutup kemudian di letakkan di meja sebelum kaca mata yang ia pakai juga di letakkan di meja. Kepala Nelvan menoleh pelan ke arah Bella. “Cinta? Sejak kapan aku mengatakan cinta di depanmu? Bukankah yang ingin menikah denganku adalah dirimu? Kau yang menyarankan jika pernikahan ini segera di lakukan, tapi sayang, aku sudah berubah pikiran.” Nelvan tersenyum miring, “aku sudah mengabulkan permintaanmu, tapi untuk melakukan sumpah pernikahan di hadapan Tuhan? Sayang sekali aku tidak akan melakukannya.” imbuh Nelvan, terlihat puas dengan raut wajah Bella saat ini. Bella bersimpuh di depan Nelvan memegang tangan pria yang nyaris menjadi suaminya ini, Nelvan menarik tangannya dari Bella. Menggelikan sekali, orang yang berani berkhianat tidak akan pernah ada maaf baginya. “Keluarlah, kehadiranmu di sini sudah tidak aku butuhkan.”ucap Nelvan, terdengar nada peringatan agar segera kalimatnya tersebut segera di lakukan, tapi Bella bahkan tidaka bergerak dari tempatnya yang membuat Nelvan semakin geram. “Nelvan, tidak. Aku masih mencintamu, jadi ayo kita menikah dan hidup bahagia, aku tidak masalah jika kamu membatalakn acara pernikahan kita kemarin asalkan kita bisa melakukan acara kedua untuk menikah.” ucap Bella. Nelvan tersenyum geli dengan apa yang di ucapkan Bella, “Tidak akan ada pernikahan, jadi keluarlah.” sahut Nelvan, lagi pula siapa yang akan menikah dengan orang yang sudah ketangkap basah telah melakukan tindakan penghianatan. Semua orang pasti membenci tindakan penghianatan termasuk dirinya, di hianati oleh calon istrinya sendiri beberapa jam sebelum pernikahan tentu saja membuat Nelvan tidak akan pernah melupakan kesalahan sebesar itu sampai kapanpun. Terlebih orang yang bekerja sama dengan Bella adalah Romy, orang yang selama ini Nelvan anggap sebagai teman. Mereka semua penghianat dan penghianat harus di singkirkan dari kehidupannya. Nelvan menjentikkan jari lalu tak lama kemudian penjaga datang menggeret Bella keluar dari ruang baca. Nelvan dengan santai kembali membuka buku dan membaca tanpa memperdulikan Bella yang di geret paksa sambil berteriak tidak jelas di teling Nelvan. “Nelvan! Aku belum selesai denganmu! Lepas, biarkan aku berbicara pada Nelvan!” seru Bella sambil memberontak dari pengusiran para penjaga sedangkan Nelvan dengan santai menyandarkan bahu sambil memakai kembali kaca mata baca sebelum melanjutkan membaca buku yang sempat tertunda. Untuk beberapa saat Nelvan sibuk membaca sampai seseorang datang menghampiri, “Tuan, maid yang Anda butuhkan sudah tiba.” ucap Hans - asisten Nelvan. “Kemarikan kursi rodaku, mereka tidak ada yang boleh tau jika ternyata aku bisa berjalan dengan normal.” jawab Nelvan, Hans mengangguk lalu pergi dan datang kembali dengan membawakan kursi roda yang di minta oleh Nelvan, lantas kemudian Hans mendorong kursi roda itu untuk menghamipiri para calon maid yang akan di pilih oleh Nelvan secara langsung. ____ Beberapa bulan kemudian. “Linda!” panggil seseorang, merasa namanya di panggil Linda pun menoleh melihat sahabatnya datang berlari sambil memberikan selembar kertas untuknya, Linda menerima kertas itu tapi sebelum sebelum ia baca, Linda berkata. “Kenapa kamu berlari seperti ini, apa ada yang mengejarmu?” Linda melihat ke belakang Mia tapi gadis yang sedang mengatur pernafasannya itu segera menggeleng. “Aku mendapat pekerjaan dan kita bisa mendaftar bersama, untuk kita yang hanya lulusan senior high school mendapat pekerjaan dengan bayaran mahal seperti ini cukup sulit.” ucap Mia.Gadis berambut pirang itu lantas menatap wajah Linda dengan harapan Linda mau ikut mendaftar. Linda melihat kertas yang di bawa oleh Mia sembari membaca dengan teliti pekerjaan seperti apa yang di tawarkan. Sesekali keningnya mengernyit ketika membaca tulisan di dalam kertas tersebut. “Kenapa mencari yang belum berpengalaman jika ada yang sudah ahli?” Linda menatap Mia tak paham dengan brosur yang ia baca karena tak paham, Mia menjawab dengan kedikan bahu tidak tau. “Untuk kita yang pemula ini, dua ribu dolar cukup banyak dan kita bisa mencoba untuk bekerja di sana lebih dulu, lalu jika tidak suka dengan cara mereka memperkerjakan kita lebih baik kita mundur saja dari pekerjaan ini, tapi aku dengar jika beruntung maka kita bisa melayani tuan muda. Aah..., aku sekarang sedang berpikir betapa tampannya tuan muda itu.” Mia berkedip-kedip sembari membayangkan. Linda memastikan sekali lagi selembar kertas dengan informasi pengumuman yang membutuhkan seorang maid yang belum berpengalaman, bayaran dua ribu dolar yang di tawarkan memang bukan jumlah yang begitu besar di jaman sekarang tapi di dalam lembaran tersebut tertulis bahwa bayaran akan di naikkan berkali-kali lipat asalkan bisa bertahan bekerja di sana minimal selama satu bulan. “Jadi bagaimana? Kau ingin pergi denganku besok untuk mencoba pekerjaan ini ‘kan?” tanya Mia tidak sabaran. Linda berpikir untuk beberapa saat. Saat ini masih memiliki pekerjaan walaupun kerjaan tersebut termasuk dalam pekerjaan serabutan yang bisa kapanpun di pecat atau tergantikan dengan pekerja yang lain. “Linda, C’mon! Jangan terlalu lama berpikir atau nanti tidak ada lowongan pekerjaan lagi untuk kita yang baru berusia sembilan belas tahun ini.” mohon Mia. Linda menghela nafas rendah, sepertinya tidak masalah bekerja di sana apa lagi jika ia dan Mia beruntung di tempatkan untuk bekerja di tempat yang sama, Linda setiap hari bisa terus bersama Mia, “Baiklah kita akan coba pekerjaan ini, tapi apa tidak apa-apa menjadi seorang maid? Bukankah itu pekerjaan untuk melayani seseorang?” tanya Linda masih merasa ragu. “Apa salahnya di coba, aku penasaran seperti apa tuan muda di rumah itu, dia pasti sangat tampan seperti komik dan film yang aku lihat. Ah aku semakin tidak sabar saja, sekarang ayo kita siapkan diri untuk pergi besok.” Mia menggandeng lengan Linda dengan semangat. Ke esokan hari pun tiba, semua orang yang ingin mendaftar berkumpul di sebuah tempat. Mia dan Linda sudah berpakaian rapih dan siap untuk di wawancara jika memang itu di perlukan, tapi ternyata yang ingin mendaftar menjadi maid tidak sedikit. Mia menghela nafas rendah kemudian menoleh ke arah Linda yang sedang mengikat tali rambutnya yang lepas. “Apa kita sebaiknya pulang saja?” ucap Mia. Linda menoleh lalu melihat deretan memanjang para orang yang ingin mendaftar, ada seseorang di depan sana yang bertanya sesuatu, mungkin orang itu yang akan memastikan apakah calon maid pantas untuk di bawa ke mansion atau tidak. “Kemarin kamu yang begitu bersemangat untuk pergi tapi kenapa sekarang ingin kembali?” tanya Linda. “Mereka semua sepertinya jauh lebih baik dari kita jadi aku merasa tidak akan lolos dalam seleksi awal ini, lebih baik kita kembali dan cari pekerjaan yang lain.” Mia berbalik tapi Linda menahan bahu Mia. “Kita sudah jauh-jauh pergi ke sini jadi aku tidak mau menyianyiakan uang yang aku keluarkan untuk membayar bus hilang percuma” katanya menolak, Mia merendahkan bahu dan akhirnya ia menerima yang di katakan oleh Linda. Cukup lama mereka menunggu giliran sampai akhirnya tiba waktunya untuk mereka ditanya mengenai beberapa hal. Untuk seleksi awal ini ternyata Mia dan Linda berhak untuk ikut ke mansion. Namun, masih ada satu seleksi terakhir yang harus mereka lewati di mana yang di butuhkan hanya satu orang maid di mansion tersebut untuk melayani tuan muda mereka.Tapi, masih ada hal yang membuat Linda kepikiran, kenapa harus menunggu satu bulan untuk mendapatkan gaji yang berlipat, apakah sebelumnya sudah ada orang yang mendaftar menjadi maid tapi tidak pernah ada yang bertahan selama satu bulan? Lalu apakah tuan muda yang di maksud adalah sosok yang kejam dan tidak berperasaan? Entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk Linda berdiri membayangkan ia akan di hadapkan dengan tuan muda yang seperti itu. “Mia, bagaimana kalau kita akhiri sampai di sini.” ucap Linda dan Mia pun langsung membulatkan matanya tidak setuju. "Terlambat. Kita sudah sampai tahap ini, siapa tau antara aku dan kamu ada yang lolos. Bukankah bayaran yang di tawarkan sangat banyak? Jika beruntung mungkin kita akan bekerja di tempat yang sama, dengan begitu aku punya teman." jawab Mia. Linda menghela nafas, ia dan Mia berjalan pulang. Di perjalanan Linda terus berpikir apa yang akan terjadi besok saat datang ke rumah besar calon tempat ia bekerja. Duduk di sofa, Linda melihat Mia yang kini memegang buah apel lalu menggigit buah tersebut sembari menyusul Linda duduk. "Aku belum pernah bekerja menjadi maid." Mia menoleh. "Makannya, dalambrosur di cantumkan butuhorang yang tidak berpengalaman. Kita masuk seleksi awal karena kita tidak punya pengalaman apapun menjadi maid." lalu Mia kembali mengigit apel nya. "Menjadi Maid ada less khusus, sedangkan kita bahkan tidak pernah mengikuti less menjadi maid." "Linda, aku tau kamu tidak tenang. Tapi percaya saja, semua akan berjalan lancar. Kita hanya perlu bekerja, mencari lembaran dolar untuk kehidupan bulan berikutnya." Mia berdiri menuju tasnya tergeletak. "Aku harus pulang, besok kita akan berangkat bersama ke rumah orang yang butuh pelayan itu. Aku harap kamu tidak berubah pikiran." Mia menepuk lengan Linda sebelum keluar dari rumah itu. ____ Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD