"Syukurlah. Terima kasih, Nara. Yes!" Raut ceria itu kembali menghiasi wajah manisnya. Ya, itu sudah menjadi ciri khas Arya.
“Kenapa sebahagia itu?” Aku cukup merasa tersanjung sekaligus merasa terbebani.
“Aku hanya bahagia, tidak ada alasan.” Mendengar itu, aku tak bisa lagi menyembunyikan senyumku. Syukurlah, itu kamu Arya. Aku tidak bisa membayangkan jika si misterius itu bukan kamu.
Obrolan kali ini harus segera kami akhiri, karena aku harus segera kembali bekerja. Arya di sini juga tidak sendiri, katanya dia mengantar Pak Devan menemui Pak Roby. Makanya ada waktu sebentar untuk menemuiku. Kami sepakat bertemu kembali di akhir pekan dan setuju untuk saling membalas pesan. Serasa kembali menjadi remaja saja.
***
Akhir pekan ini, aku dan Arya janji bertemu pukul sebelas siang di salah satu mal besar di kota ini. Saat Arya menawarkan untuk menjemput, aku menolak. Tidak ingin Mama dan Lia tahu kalau aku pergi bersama seorang pria. Bisa diinterogasi macam-macam nanti.
Arya ternyata sudah sampai terlebih dahulu, saat aku tiba dia sudah menenteng dua paper bag kecil berisi potongan daging ayam yang digoreng tepung tanpa tulang yang digunting kecil-kecil. Dia berikan satu kepadaku. Hmm, rasa garlic dan curry. Kesukaanku. Dari mana dia tahu? Ah, ya. Dia mata-mata bukan? Tanpa sadar aku mengulas senyum.
Kami jalan-jalan memutari mal, tanpa tujuan yang pasti. Saling melepas tawa, bercerita akan penatnya pekerjaan, sesekali ghibah tentang beberapa teman kerja. Kami cukup cocok. Awal yang baik.
Banyak hal yang ingin kuceritakan pada Arya, tapi aku rasa, sekarang bukan saat yang tepat. Walau sudah lama saling mengenal tapi kami baru saja dekat. Biar hubungan ini mengalir seperti ini dulu.
Arya tak sungkan menggandeng tanganku sepanjang kami jalan. Aku tidak menolak, walau terasa agak risi. Baru kali ini aku bergandengan tangan dengan laki-laki. Apa ini tandanya aku mulai menikmati hubungan yang bahkan belum terjalin ini?
"Kamu menyukainya, Nara?" Dia menyodorkan kalung dengan liontin kancing kecil yang sederhana namun sangat indah itu. Entah bagaimana tadi sampai kami bisa sampai di sebuah toko perhiasan.
"Bagus, Ar," jawabku singkat, lalu pandangan mataku kembali menjelajah di sepanjang etalase.
"Ini buat kamu." Aku menoleh dengan menaikkan kedua alis, “Hah?” Apa tadi aku salah dengar?
"Eng-enggak, Ar. Aku nggak bisa nerima ini." Aku mendorong halus tangannya yang menyodorkan kalung itu ke hadapanku.
"Kenapa? Apa ada yang lain yang lebih kamu suka?" Matanya kembali menyelidik ke arah etalase.
"Enggak, tapi pemberian ini terlalu cepat." Aku menatapnya dengan tatapan memohon.
Wajahnya tampak kecewa, "Aku ngerti, Ra. Mungkin aku yang terlalu bersemangat. Tapi, janji suatu hari nanti kamu harus mau nerima pemberianku." Arya balas memohon yang hanya kujawab dengan senyuman. Maaf, Arya.
***
Setelah capek memutari mal kami memutuskan untuk makan siang. Lagi-lagi menu nasi goreng menjadi pilihanku. Entah kenapa aku begitu menyukai menu yang satu ini. Aku memesan nasi goreng seafood. Sedang arya memilih kwetiau goreng ayam. Kami saling mencicip menu satu sama lain. Manis sekali, orang yang melihat pasti mengira hubungan kami spesial.
Setelah kenyang, kami putuskan jalan lagi ke supermarket di lantai dasar. Arya ingin ditemani membeli beberapa kebutuhan rumah. Setahuku, Arya memang telah memiliki hunian sendiri. Di salah satu perumahan pinggir kota. Arya sudah tidak memiliki orang tua, dia dibesarkan di panti asuhan sejak bayi. Begitu menurut cerita yang kudengar. Lebih jelasnya aku tidak berani bertanya lebih jauh.
"Arya, kamu di sini juga?" sapa seorang wanita cantik dengan balutan dress hijau army tanpa lengan yang terlihat anggun dan cantik.
"Bu Jenna? Ibu dengan siapa?" tanya Arya yang terdengar sedikit terkejut.
"Sama suami, dong. Ini siapa? Pacar, ya?" Apa wanita itu bertanya tentangku? Pacar? Ah, ya. Jelas saja, saat ini kami masih bergandengan tangan. Bahkan Arya tak berniat melepasnya di depan wanita ini.
"Ini Nara. Teman sekantor, Bu." jawab Arya sambil mengayunkan genggaman tangan kami.
"Arya, please. Ini di luar kantor. Nggak usah manggil 'Bu' dong, Jenna aja," pinta wanita itu sambil terkekeh.
Aku melepas paksa genggaman Arya, lalu menyodorkan tanganku, tanda perkenalan.
"Nara," kataku setengah kikuk, bingung tentang siapa wanita ini juga malu karena sikap konyol kami barusan.
"Jenna," sambutnya ramah.
"Bu Jenna, ini adalah ...."
"Udah belanjanya?" Suara itu memotong kalimat Arya. Suara dari arah belakang kami.
"Nah, Bu Jenna ini adalah Istri Pak Devan." Dengan santainya, Arya memperkenalkan mereka. Ya, sekali lagi, tak sengaja bertemu dengan Pak Devan. Aku mendadak kesulitan bernapas. Aku tidak bisa lagi setenang tadi.
"Ah, kamu, Ar. Kayak sama siapa aja, pake Pak, Bu. Sejak kapan kita jadi orang tuamu?" goda wanita cantik bernama Jenna itu, disusul tawa ringan dari ketiganya.
Mungkin karena Arya sudah bekerja sangat lama di perusahaan Vin’s Apparel, jadi mereka terlihat akrab, aku hanya menebak.
"Baik, kalau begitu kami pamit dulu," ucap Arya kemudian.
"Nggak mau gabung makan siang?" tanya Pak Devan datar. Tatapannya padaku terlihat dingin dan datar. Bodohnya, kenapa aku jadi salah tingkah?
"Sorry, Van. Kami udah makan, kok. Barusan aja."
"Oke, kalau gitu sampai ketemu lagi," ucap Arya mengakhiri obrolan.
Aku sedari tadi mematung dan seakan membisu. Hanya aku anggukkan kepala tanda hormat sebelum kami pergi. Kembali Arya menggenggam tanganku dan kami benar-benar berlalu.
"Jenna dan Devan, kami bersahabat. Aku yatim piatu, sejak bayi tinggal di panti asuhan. Keluarga Mahendra adalah donatur tetap panti kami. Devan dan Jenna sejak kecil selalu datang ke panti setiap bulannya. Dari situ kami akrab dan selalu bermain bersama." Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti saat Arya mulai menceritakan tentang dirinya.
"Pada akhirnya mereka menikah, karena dijodohkan. Tentu saja karena ada bumbu bisnis di dalamnya." Pandangan Arya seperti menerawang.
"Oh, begitu ceritanya," jawabku akhirnya.
Topik tentang Pak Devan, entah kenapa begitu menarik bagiku. Sebatas hanya ingin tahu. Seperti apa orang yang telah menolongku itu.
***
Setelah hampir seharian aku bersama Arya, pukul tujuh malam aku baru sampai di rumah. Tak lupa membawa oleh-oleh martabak manis untuk Mama dan Lia.
"Dari mana aja nih, anak mama? Kayaknya happy banget." Mama menggoda saat aku baru keluar dari kamar mandi.
"Jalan sama teman, Ma." jawabku singkat. Membuka kantong plastik lalu mengeluarkan kotak martabak manis rasa cokelat keju kesukaan kami.
"Waaah, jangan-jangan. Kak Nara punya pacar, ya?" goda Lia yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Apaan, sih? Enggak, kok." Mati kutu deh, aku.
"Udah, ayo dimakan ini," lanjutku mengalihkan pembicaraan.
“Ih, yang malu-malu. Pipinya merah, lho,” goda Lia lagi.
“Apa sih, Dek. Kamu, nih.” Aku memukul bahunya pelan. Kami tertawa bersama.
Ponsel yang kuletakkan di meja kamar berbunyi nyaring, aku bergegas meraihnya.
"Hallo," sapaku. Panggilan dari sebuah nomor baru.
"Besok, datang ke kantor pusat. Aku ingin bicara!"
"Maaf, dengan siapa ini?" tanyaku sedikit bingung, seperti mengenal suaranya. Tapi, tidak ingin menebak.
"Devan," jawabnya singkat.
Apa? Dari mana dia tahu nomor teleponku? Ah, iya. Dia adalah bos, tentu tidak sulit untuk mendapatkan nomor karyawannya.
"Oh, Pak. Maaf. Ada apa, ya?" tanyaku menyelidik.
"Kamu tidak ingin membalas budi?" Deg! Balas budi?
"A-apa? Ah, iya. Saya sebenarnya, ingin berterima kasih kepada Bapak. Tapi..."
"Oke, besok aku tunggu di kantor pusat."
Telepon terputus secara sepihak. Aku harus bagaimana ini? Bagaimana caranya aku balas budi? Apa cukup hanya dengan berterima kasih?
Huft, belum selesai bicara sambungan sudah diputus. Tidak sopan. Aku tahu dia bos tapi tidak begini juga caranya. Dia hanya ingin dihargai tapi tidak mau menghargai. Kenapa aku jadi kesal sendiri?
Aku harus bagaimana ini? Bagaimana caranya aku balas budi? Apa cukup dengan berterima kasih? Lalu, apa besok dia akan memotong gaji sebagai ganti biaya rumah sakit? Jika itu yang dia minta, bagaimana aku harus membayar sisa uang kontrakan bulan depan?
Huft! Lalu kenapa aku malah berdebar?
***
"Heh, Rika. Kapan kamu akan bayar hutang-hutangmu? Aku sudah lelah menunggu. Sudah berapa lama ini?" Tante Mara pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah dan membuat keributan.
"Sabar, Mbak. Kami masih belum punya uang," jawab Mama memelas, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kira-kira kapan kalian akan punya uang? Aku tidak yakin bahkan sampai kapan pun!"
Aku masih bungkam. Kulihat Tante Mara mengamati Lia dengan seksama, "Kalau begitu, anak manis ini … bagaimana kalau Lia bekerja denganku?" Seringai jahat tampak di wajah Tante Mara. Mengerikan! Aku bisa menebak arah pikirannya.
Aku tak terima, "Jangan bawa-bawa Adikku, Tante! Hutang itu, akan aku lunasi segera! Beri kami waktu. Lagi pula, kami tidak pernah menikmati uang itu sepeser pun." Aku memberanikan diri melawan. Demi mereka yang aku sayang. Cukup aku yang menderita. Mereka jangan!
Lia yang sudah siap ke sekolah dengan seragam SMA-nya merasa risi seolah mengerti maksud Tante Mara. Dia berlindung di balik badan mungil Mama.
"Dengan cara apa, Sayang? Gajimu saja pas-pasan. Kemarin aku sudah berusaha memberimu jalan keluar. Tapi, kamu malah mempermalukan aku." Tante Mara mulai menaikkan suara.
Jalan keluar? Dengan menjual diri maksudnya? Aku tidak serendah itu.
"Cukup, Tante! Secepatnya, aku janji akan segera aku lunasi. Sekarang lebih baik tante pergi dari sini!" teriakku.
Aku tidak ingin Mama sampai tahu jika aku pernah akan dijual oleh Tante Mara. Mama bisa kepikiran dan akhirnya jatuh sakit. Aku tidak mau itu terjadi.
"Oke, anak manis. Aku tunggu janjimu, se-ce-pat-nya! Jika tidak, maka ...." Tante Mara kembali menatap Lia dengan pandangan yang, entahlah.
"Sekarang, Nara mohon tante pergi!" pintaku memaksa dengan kembali berteriak.
Tante Mara akhirnya pergi setelah mendorong kasar tubuhku hingga aku tersungkur jatuh ke lantai. Mama dan Lia mulai menangis. Kami bertiga dengan serpihan ketakutan berusaha saling menguatkan. Aku harus segera mencari cara untuk bisa segera melunasi hutang papa, aku takut Lia akan diperlakukan sama denganku seperti malam itu. Jangan sampai!
***
Saat jam makan siang hari ini, aku izin pada Mbak Dina untuk pergi ke kantor pusat. Tentu, aku tidak mengatakan alasan sesungguhnya. Itu sama artinya kalau mulai hari ini aku akan semakin banyak berbohong. Aku bilang jika aku ingin menemui Arya.
Dan kini, Arya tidak lagi mengirim makan siang untukku. Aku yang memintanya, walau dia sedikit keberatan. Tapi dengan sedikit memohon akhirnya dia setuju. Dengan syarat aku berjanji tidak akan meninggalkan jam makan siang lagi.
Setelah sebelumnya menemui bagian front office untuk membuat janji dengan Devan, aku dipersilahkan menuju ruangannya di lantai enam. Aku belum pernah sekalipun ke kantor pusat. Jadi masih sedikit bingung tentang letak lift dan lain-lain. Setelah menemukan lift yang dimaksud, aku segera menekan tombol angka 6. Saat lift terbuka aku langsung bisa melihat papan arah ke ruangan Direktur Utama. Aku mengikuti arah panah itu dan sekilas mengedarkan pandangan. Lumayan sepi kantor ini.
"Nara, kok ada di sini?" Arya tiba-tiba menyapa, wajahnya tampak heran.
Gawat! Aku harus menjawab apa? Terlalu aneh jika Arya tahu aku akan menemui Devan langsung dan bukan karena alasan pekerjaan. Sedang tadi aku izin pada Mbak Dina untuk bertemu Arya.
Semua orang tahu, biasanya semua data yang diminta Devan harus melalui Mbak Dina terlebih dulu. Huft, setelah ini pasti akan ada banyak pertanyaan. Berpikir, Nara!