Mereka sampai di restoran, Yuda mengajak Cindy masuk dan menggandeng tangannya. Orang tuanya, Vania dan orang tua Vania sudah menunggu Yuda.
Mereka semua terkejut melihat Yuda datang bersama wanita lain.
"Selamat malam semua."sapa Yuda saat tiba.
"Yuda siapa wanita itu?"bentak papa Yuda.
"Sabar pa, Yuda akan perkenalkan pacar Yuda. Namanya Cindy, kami akan segera menikah."
Cindy yang mendengar ucapan Yuda melotot ke arah Yuda seakan mengisyaratkan tidak setuju dengan perkataan Yuda.
Yuda memberikan kode agar Cindy menuruti perkataannya, kemudian dia terpaksa menuruti perkataan Yuda karena Cindy sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai pengobatan ayahnya.
"Perkenalkan saya Cindy, pacarnya Yuda."
"Tolong jangan pernah jodohin Yuda lagi pa, ma karena Yuda akan menikah dengan Cindy."ucap Kevin kepada orangtuanya.
"Om,tante, Vania, sebelumnya Yuda minta maaf tapi Yuda sudah punya calon istri lagipula Vania juga sudah punya pacar."
"Iya pa, ma yang dikatakan Yuda benar dan Vania nggak bisa putus sama Dion."sela Vania.
"Kalau begitu kami permisi, selamat malam."ucap Yuda kemudian meninggalkan restoran itu.
Orang tua Yuda sangat marah mengetahui Yuda tidak ingin menikahi Vania, begitu juga dengan orang tua Vania yang marah karena Yuda datang bersama wanita lain.
Orang tua Vania dan Vania pergi dari restoran itu, mereka sangat kecewa dengan keluarga Yuda yang membiarkannya membawa wanita lain.
"Apa yang dipikirkan Yuda ma?papa nggak habis pikir, wanita macam apa yang akan dia nikahi? sudah jelas Vania lebih segalanya dari wanita itu."ucap papa Yuda penuh emosi.
"Sabar pa, kita nggak bisa paksa Yuda pa. Biar Yuda yang memilih pasangan hidupnya."
"Mama sih selalu aja belain Yuda, anak itu kurang ajar karena mama selalu manjain dia."
"Bukan begitu pa, mama cuma mau yang terbaik buat Yuda."
"Yang terbaik buat Yuda itu Vania ma."
"Ya udah pa, besok kita bicara lagi sama Yuda."
"Terserah mama lah, papa udah capek ngadepin anak itu."
***
"Kenapa Pak Yuda bilang kalau saya pacar pak Yuda?"tanya Cindy saat berada di dalam mobil.
"Biar saya nggak dijodohkan sama Vania."
"Kenapa pak Yuda nggak mau nikah sama Vania? dia cantik kelihatannya juga pintar."
"Nggak usah banyak tanya, diem aja!"
"Kita mau kemana Pak?"
"Ke apartemenku."
"Ngapain ke apartemen Pak Yuda? jangan macem-macem ya!"
"Siapa juga yang mau macem-macem sama kamu."
"Pak Yuda lah, ngapain malam-malam ngajak ke apartemen?"
"Nanti kamu juga tahu."sahut Yuda sambil menambah kecepatan mobilnya.
Mereka sampai di apartemen, Yuda mengajak Cindy masuk ke unitnya.
"Aku mau kita kawin kontrak."ucap Yuda saat mereka duduk diruang tamu.
"Hah?pak Yuda bercanda?"
"Muka saya kelihatan sedang bercanda?"
"Nggak sih, tapi kenapa harus saya pak? kenapa nggak wanita tadi pagi?"
"Karena dia jal*ng, aku nggak mungkin nikahi dia. Saya tahu kamu butuh uang untuk biaya pengobatan ayahmu. Kalau kamu mau kawin kontrak sama saya, saya akan tanggung semua biaya pengobatan ayahmu. Saya bisa beliin rumah dan mobil untuk kamu. Penawaran yang menarik bukan?"
Cindy terdiam untuk beberapa saat, yang dikatakan Yuda memang benar, ia sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan ayahnya. Tapi ia tidak ingin membohongi keluarganya dengan pura-pura menikah dengan Yuda. Cindy dilema, nggak tahu harus menerima tawaran Yuda atau menolaknya.
"Kenapa diam?"tanya Yuda yang membuyarkan lamunan Cindy.
"Nggak pak, saya pikir-pikir dulu ya Pak."ucap Cindy.
"Oke, saya kasih waktu kamu buat berpikir."
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi pak."
"Mau saya antar?"
"Nggak usah pak terimakasih."ucap Cindy kemudian keluar dari apartemen Yuda. Ia berjalan menuju halte busway karena jarak haltenya cukup dekat dengan apartemen Yuda.
Sampai di rumah Cindy mandi, lalu merebahkan diri di ranjangnya sambil memikirkan tawaran Yuda."Apa yang harus aku lakukan, apa aku terima saja tawaran pak Yuda dengan begitu aku bisa membiayai ayah dan membuat keluargaku bahagia."gumam Cindy dalam hatinya.
Cindy merasa lelah hingga tertidur, pekerjaannya dikantor begitu banyak ditambah lagi harus menemani bos nya ke restoran.
Cindy terbangun saat alarm nya berbunyi, kemudian ia menuju ke dapur untuk membantu bunda nya memasak. Kegiatan Cindy dipagi hari membantu bunda nya memasak untuk sarapan dan bekalnya ke kantor dan membersihkan rumah.
"Bun, masak apa?"
"Nasi goreng Nak, untuk bekal kamu bunda mau masak telur goreng dan sayur sawi."
"Cindy bantuin Bun."
Saat sedang memasak ayah Cindy menghampiri mereka,"Bau nya harum sekali, ayah jadi laper."
"Sebentar lagi ya yah, ayah tunggu di meja makan aja."ucap Cindy.
"Nggak mau nih dibantuin ayah?"
"Nggak usah ayah."sahut Cindy.
"Ya udah ayah tunggu di meja makan, jangan lama-lama ya."
"Siap yah."
Selesai memasak, Cindy membersihkan rumahnya lalu mandi.
"Nak sarapan dulu!"ucap ayah Cindy saat Cindy keluar dari kamar nya.
"Iya yah."
"Ini bekal kamu sayang, dihabisin ya!"ucap bunda Cindy sambil memberikan kotak makannya.
"Iya bunda pasti."sahut Cindy lalu memakan sarapannya.
"Cindy berangkat dulu ya yah, Bun."pamitnya.
"Iya sayang hati-hati ya!"ucap bunda lalu diikuti oleh ayahnya,"Hati-hati Nak!"
"Iya yah, bun."
Cindy berjalan menuju halte busway sambil mendengarkan musik dari ponselnya. Tak lama Cindy sudah sampai di halte karena jaraknya lumayan dekat, ia menunggu busway nya.
***
Yuda baru bangun tidur, ia kesiangan karena semalaman ena-ena dengan wanita bayarannya."Sial udah jam berapa sekarang?"batin Yuda.
Yuda mandi lalu bersiap untuk ke kantor. Ia bergegas mengemudikan mobilnya menuju kantor, diperjalanan ada telepon masuk dari Cindy yang menanyakan keberadaannya karena rapat akan segera dimulai.
"Sebentar lagi saya sampai."ucap Yuda.
"Baik Pak."sahut Cindy lalu menutup telponnya.
Yuda sampai di lobby kantor, Cindy sudah menunggunya dari tadi.
"Silahkan pak."ucap Cindy lalu berjalan mengikuti Yuda.
Semua orang sudah menunggu Yuda, saat tiba diruangan rapat Yuda meminta maaf karena terlambat dan langsung memulai rapatnya.
***
"Bun, ayah kasihan sama Cindy. Dia harus kerja buat biayain pengobatan ayah, ayah merasa bersalah tidak bisa membahagiakan kalian. Ayah cuma jadi beban buat kalian."ucap ayah Cindy saat mereka sedang di ruang tamu.
"Ayah jangan bilang gitu, ayah bukan beban buat kita. Ayah nggak usah mikir macem-macem, yang terpenting kesehatan ayah,ayah pasti sembuh."
"Iya bun, makasih ya selalu menemani ayah saat senang maupun susah."
"Iya yah, sekarang ayah minum obat dulu ya biar bunda ambilkan."
"Iya bun."
Bunda mengambilkan air putih dan obat untuk ayah, tak lama bunda kembali menghampiri ayah dan memberikan obatnya, lalu ayah meminum obatnya dan istirahat.