“Kak, kapan mau menikahi Arsyila?” tanyanya untuk ke sekian kali
“—“ Elfathan terdiam.
Brugh
Elfathan menjatuhkan dirinya di sofa. Ia memijat keningnya karena merasa pusing. Untuk ke sekian kali Arsyila menanyakan hal yang sama. Bahkan ia belum memiliki jawaban atas pertanyaan gadis itu. Pekerjaan kantornya belum selesai ditambah lagi pertanyaan Arsyila yang membuat kepalanya semakin pusing.
Nizar dan Haikal saling menatap. Kebetulan mereka sedang berkunjung ke kantor temannya itu, Elfathan. Mereka terdiam membisu. Untuk hal seperti ini mereka tidak bisa membantu. Lebih baik mereka diam untuk mencari aman.
***
Elfathan Firmansyah putra dari Zahir Firmansyah dan Sandra Fatharani. Laki-laki yang biasa dipanggil El adalah sosok pria tampan dan gagah. Memiliki alis tebal, kulit putih, serta hidung mancung. Ia memiliki darah Arab dari Keluarga sang Ayah.
Elfathan berusia 26 tahun. Ia seorang Pemimpin di Perusahaan Orang Tuanya yang bernama Ethereal Crop. Ia memiliki kekasih yang bernama Arsyila Farzana. Mereka menjalin hubungan kurang lebih sekitar 1 tahun.
Arsyila Farzana putri dari Fauzan Afifudin dan Kinan Juwairiyah. Ia sosok perempuan yang cantik dan sedikit tengil. Memiliki kulit putih bersih, hidung mungil, serta ada lesung pipi di sebelah kiri, hal itu menambah kesan manis saat tersenyum.
Arsyila gadis yang masih berusia 23 tahun. Ia kekasih dari Elfathan Firmansyah. Arsyila masih duduk di bangku kuliah sejak satu tahu yang lalu. Dan, sejak satu tahun lalu ia meminta untuk segera dinikahi oleh kekasihnya namun Elfathan selalu diam.
Orang Tua Arsyila memiliki sebuah Perusahaan yang bernama Farzana Industri’es, yang akan dipegang oleh putri mereka jika Arsyila sudah siap.
***
Kediaman rumah Elfathan
Pukul 20.00 WIB
“Ayah, Bunda!” panggil Elfathan
“Iya, El. Ada apa?” tanya Sandra
“Em.. El mau bicara sesuatu sama Ayah dan Bunda.”
“Mau bicara apa?” tanya Zahir
Kebetulan mereka baru saja selesai makan malam, dan inilah waktu yang tepat bagi Elfathan untuk berbicara serius pada kedua Orang Tuanya. Sebenarnya ia belum ingin untuk serius, namun ia selalu dituntut dan ditanya kapan menikah.
Setelah berpikir panjang Elfathan memutuskan hal besar ini, dan siap untuk menjalani kehidupan baru. Lagipula waktu satu tahun sudah cukup baginya untuk saling mengenal dengan sang kekasih. Bahkan kedua Orang Tuanya menyukai Arsyila.
“Serius banget wajahnya. Kamu mau bicara soal apa emangnya, nak?” tanya Sandra
“Em.. El mau melamar Arsyila, Ayah, Bunda.” ucapnya dengan nada penuh keyakinan
Sandra menutup mulutnya tidak percaya. Matanya seketika memancarkan kebahagiaan. “Apa El? Coba ulangi sekali lagi!”
“El mau melamar Arsyila secepatnya.”
“Alhamdulillah, Ya Allah.”
Zahir dan Sandra kompak mengucap Hamdalah. Inilah moment yang mereka tunggu sejak lama, dan tepat di malam ini keinginan mereka di Ijabah oleh Yang Maha Kuasa. Mereka sangat bahagia mendengarnya. Karena sudah lama Zahir dan Sandra meminta cucu pada putra mereka, Elfathan.
“El, kamu tidak bercanda kan?” tanya Sandra untuk memastikan
“Enggak, Bunda. El tidak mungkin bercanda mengenail hal seperti ini.”
“Alhamdulillah. Bunda sangat senang mendengarnya.”
“Kalau gitu besok pagi kita mendatangi rumah Arsyila!” ujar Zahir dengan nada tegas.
“APA?” reflek Elfathan memekik karena terkejut.
Elfathan melebarkan matanya setelah mendengar keputusan Zahir. Apa ia tidak salah dengar? Baru saja ia berbicara tentang keinginannya, dan Zahir langsung mengambil keputusan. Ia tidak menyangka Zahir akan mengambil keputusan secepat itu.
“Ayah, apa tidak terlalu cepat?”
“Tidak, El. Yang dikatakan Ayah benar. Karena hal baik tidak boleh ditunda-tunda.” jawab Sandra sembari tersenyum manis.
“Tapi El belum mempersiapkan…”
“Kamu tenang saja, tidak perlu khawatir. Bunda yang akan mempersiapkan semuanya.”
“InsyaAllah, besok pagi semuanya siap.” lanjutnya
“Huhh..” Elfathan menghela nafas kasar.
Jika Orang Tuanya sudah mengambil keputusan ia tidak bisa berkutik. Namun, Elfathan merasa sedikit lega karena sudah menyampaikan keinginannya. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa senang karena Orang Tuanya langsung menyetujui permintaannya tanpa berpikir panjang. Karena sudah sejak lama Zahir dan Sandra menginginkan seorang cucu darinya.
Elfathan tersenyum kecil. Arsyila pasti merasa sangat bahagia mendengar kabar baik ini. “Tunggu saya di rumah, ya!” ucapnya dalam hati
“El!” panggil Sandra
“Kenapa, Bunda?”
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Apa yang membuat kamu berubah?” tanya Sandra dengan rasa penasaran. Karena selama ini Elfathan selalu menghindar saat ditanya perihal kapan menikahi Arsyila.
“Nggak papa.”
“Ck. Itu bukan jawaban, El.”
“Hmm.. mungkin sudah waktunya, Bunda.”
“Apa Arsyila yang menuntut kamu?”
Elfathan terkekeh mendengar pertanyaan Sandra. Tawa Elfathan sudah menjelaskan semuanya. “Hmm.. sekarang Ayah dan Bunda sudah tahu jawabannya.” ujar Zahir
“Ya.. begitulah, Yah.”
“Kalaupun Bunda jadi Arsyila pasti melakukan hal yang sama. Lagipula umur kamu sudah matang untuk ke jenjang yang lebih serius.” ujar Sandra
“Hmm.. El tahu Bunda.”
“Nggak. Kamu nggak akan tahu kalau nggak dipaksa.”
Elfathan kembali tertawa. Ia bukan tidak mau, melainkan hanya tidak ingin membuat Arsyila menyesal karena menikah di usia muda. Siapa yang tidak ingin segera menghalalkan sosok perempuan yang dicintainya? Bahkan Elfathan sangat menginginkan hal tersebut. Hanya saja momentnya belum tepat. Dan baru hari ini ia telah mempersiapkan semuanya.
“Jangan berubah pikiran ya! Awas saja kalau tiba-tiba berubah pikiran.” ujar Sandra sedikit was-was. Beliau takut tiba-tiba putranya berubah pikiran.
“Nggak akan, Bunda.”
“Elfathan sudah memikirkan secara matang-matang hal ini.” lanjutnya
“Baguslah.”
“Yaudah. Kalau gitu El mau ke kamar dulu!”
“Selamat malam, Ayah, Bunda!”
“Selamat malam, sayang!”
Setelahnya Elfathan melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Setelah kepergiannya Sandra memekik bahagia. Beliau tidak sabar menunggu hari esok. “Ayah, akhirnya…”
“Alhamdulillah, Ya Allah.”
Sandra tidak berhenti mengucap syukur atas kebahagiaan hari ini. Doa-doa’nya selama ini akhirnya terwujud. “Sebentar lagi kita akan punya cucu, Yah.”
“Aamiin. Kita doa’kan yang terbaik untuk Elfathan dan Arsyila.”
Sandra menganggukkan kepalanya. “Pasti, Yah.”
Kabar baik yang sejak lama mereka tunggu. Mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada sebelum Elfathan berubah pikiran. Zahir dan Sandra merasa diri mereka sudah tua, karena itu mereka menginginkan seorang cucu untuk menemaninya di rumah.
Next