My Next Tent Neighbour

1077 Words

Laki-laki muda itu membuka sebuah kantong plastik warna hitam dan mengeluarkan apel dari sana. “Mau satu atau dua? Em ... bilang aja kalau kurang ya!” ucapnya sambil meletakkan sebuah apel di dekat rebusan kentang di atas piring itu. Aku terus menatapnya tanpa bergerak dari tempat dudukku. Teman Ustaz Hamzah sepertinya menyadari situasiku, laki-laki itu menatap dengan tatapan tajam. “Hem ... nggak mau? Ah! Kamu curiga makanan ini ada apa-apanya?” ucapnya dengan ekspresi wajah geli. Mulut ini tak menyahut, tapi mungkin tatapan mata ini tak menafikan pernyataannya itu. Laki-laki muda itu mengambil sendok dari bahan plastik kemudian mengambil satu irisan daging dari piring itu. “Ehm ... ni lihat! Ni nggak mengandung racun maupun jenis obat-obatan yang lain,” ucapnya setelah mengunyah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD