Felisia kembali tersadar saat Garin menepuk pundaknya. "Keluarga lo, meninggal di satu hari yang sama. Kehidupan macam apa yang lo jalanin, Gar?" "Gue juga sampe sekarang gak tau harus bersyukur atau nyesel, harus ngejalanin hidup sebagai keluarga Sadin." Felisia mengerutkan dahinya, pertanda tidak mengerti. Felisia tumbuh di lingkungan tanpa nama keluarga, dia tidak paham seberapa penting arti nama keluarga di hidup orang yang memiliki nama keluarga. "Tapi ada satu yang pasti gue syukurin, adalah gue masuk SMA Andhara. Gak ada yang peduli sama nama keluarga gue, termasuk elo." "Bentar deh, daritadi lo bawa-bawa nama keluarga. Emang kenapa si sama nama keluarga lo? Lo turunan keraton?" "Yaa bukan keraton kali, Fel. Lo selalu bilang gue banyak duit, orang kaya, lo gak pernah kepikiran

