22. Tolong Maafkan Aku!

1214 Words
"Sudah bangun?" tanya istriku yang begitu cerdik ini. Saking cerdiknya dia begitu pintar mengerjai suaminya. "Ya." "Apa tidurmu nyenyak?" Kali ini aku menatap tajam Yani yang berdiri di samping sofa tempat tidurku semalam. "Menurutmu?" "Pasti sangat nyenyak." jawabnya terkekeh. "Ya. terima kasih karena membuat tidurku sangat nyenyak semalam." sindirku. Dan hanya dalam waktu semalam saja, gadis ini sudah bisa menjungkir balikkan duniaku. Awal bertemu di UGD, aku kira hubungan kami akan menjadi hubungan yang umum seperti aku yang biasanya. Mengejar gadis yang menarik minatku sampai dapat. Awal bertemu di apartemen, aku kira hubungan kami akan menjadi hubungan suami istri yang canggung. Karena di satu sisi merasa bersalah, yaitu aku. Dan sisi yang lain, merasa tersakiti, yaitu Yani. Semalam, aku kira hubungan kami akan berubah menjadi hubungan suami istri yang romantis penuh dengan gairah membara, tapi semua bayanganku pupus ketika dia berhasil mengerjaiku sampai terjatuh dari ranjang dan tidur di sofa. Lalu pagi ini, aku kira hubungan kami tidak akan jauh seperti hubungan dua orang asing yang berbagi apartemen saja. Di matanya, memang dari awal sudah tidak ada cinta. Jadi wajar, walau kami se-apartemen, sekamar, seranjang, dia sama sekali tidak berdebar. Dan baginya aku hanya laki-laki biasa yang tidak akan menggoyahkan pertahanannya. Untuk pagi ini hubungan kami lebih mirip kucing dan tikus. Tom and Jerry. Yang ada dipikiran kami hanyalah gimana nanti caranya agar bisa membalas ganti mengerjai. "Bangunlah! Dan mandi! Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita." Dengan agak malas. Aku pun mulai bangun dari sofa dengan badan sakit semua. Duduk sebentar menyandar pada sandaran sofa yang empuk. "Sarapan apa?" tanyaku lebih seperti seorang teman yang ingin mengambil sarapan yang dibikin teman se-apartemenya. Memang aku sudah bertekad untuk menganggap Yani hanyalah teman berbagi apartemen saja. Karena menilik dari sikapnya, sepertinya dia juga menganggapku seperti itu. "Roti sandwich dan segelas susu." Lumayan. batinku. Karena perut keroncongan, sebab semalam cuma makan pizza saja, aku pun segera beranjak dari sofa dan menuju kamar mandi. Mandi shower air hangat pastilah nikmat. Bisa menghilangkan rasa capek yang ada di seluruh badan. Setelah mandi, dengan santai aku hanya memakai handuk kecil yang melilit pinggangku sampai paha atasku saja. Sedangkan rambutku yang basah, aku keringkan dengan handuk kecil yang lain. Merasa sangat kelaparan, dengan penampilan seperti ini, aku langsung menuju dapur, mencomot satu roti sandwich dan memakannya sambil berdiri, sedangkan tanganku yang satunya sibuk mengeringkan rambutku. Kulihat Yani masih sibuk mencuci peralatan yang di pakai masak tadi. Aku yakin dia pasti nggak akan sadar kalau aku sudah di dapur dan memakan rotinya. Jadi aku hanya memperhatikannya dari belakang sambil menikmati sarapan rotiku. Dan ketika gadis itu berbalik ... Klang! Klang! Klang! Tiga sendok yang sudah bersih, yang akan diletakkannya di atas meja makan, di tempat sendok, terjatuh semua. Untung itu sendok, bukan piring atau gelas. Kalau salah satu dari itu kan bisa pecah.  Sedangkan mata gadis melotot kaget dan wajahnya langsung memerah. "Apa yang ka-" Teriakku. Awalnya aku juga kaget dengan sikap Yani yang sampai menjatuhkan sendok. tapi ketika sorot matanya turun ke bawah, melihat roti sobekku dan wajahnya semakin memerah, aku sadar apa yang terjadi padanya. Aku kira dia nggak akan punya perasaan seperti itu melihatku hampir telanjang seperti ini. Aku kira, saking bencinya padaku dia nggak akan punya hasrat padaku sama sekali. Ternyata aku salah. Gadis ini, ternyata masih merasakan getaran juga melihat indahnya dan kokohnya tubuhku yang tanpa baju. Seketika rasa sesal melandaku. Kenapa semalam aku nggak bergaya seperti ini aja biar bisa goal? Kenapa setelah mandi aku langsung memakai piyama tidur. Ahhh ... telat. "Mana bajumu? Kenapa kamu telanjang?" Teriak Yani histeris setelah balik badan memunggungiku. Aku hanya tersenyum melihatnya gugup dan salah tingkah kayak gitu. Mana Yani yang semalam begitu tenang dan sangat percaya diri? Sungguh, melihatnya kayak cacing kepanasan benar-benar membuatku bersemangat. Dan dia terlihat sangat lucu. Ihhh ... gemes aku. Hihiihihi. "Aku nggak telanjang lho? Aku pakai handuk ini." bantahku sambil melangkah mendekat padanya. "Memangnya kamu anak-anak? Kenapa pakai handuk kecil begitu? Mana handuk yang besar?" gadis ini masih sangat begitu histeris. "Entah." Elakku. "Sepertinya ada yang sengaja mengambil handuk besar di lemari. Tadi yang aku lihat hanya handuk ini." "Bohong! Pasti ada handuk yang lebih besar dari pada handuk kecil itu." "Entahlah. Yang aku lihat tadi cuma ini, Ya aku pakai aja. Lagipula handuk ini kan seksi." Ya, Tadi yang aku lihat cuma handuk ini yang ada di lipatan paling atas di lemari khusus handuk. Pas itu aku memang malas mencari handuk lain. Makanya aku pakai ini. Tapi tidak menyangka ternyata memakai handuk kecil bisa seseru ini. Besok-besok, akan kubuang semua handuk besar dan piyama handuk. Aku hanya akan menyisakan handuk-handuk seksi kayak gini. Hahahaha. Aku melangkah semakin dekat padanya dengan langkah yang sangat pelan. "Seksi apanya? Dasar m***m!" "Beneran, aku benar-benar terlihat seksi! Kalau nggak percaya coba lihat saja!" "Ogah. Ngapain aku lihat kamu telanjang!" "Ya udah. Kalau kamu nggak mau lihat, bagaimana kalau ... " Pluk! Aku memeluk Yani dari belakang. Mendekapnya sangat erat. "Merasakannya." Yani langsung terdiam. Aku pun juga terdiam. Merasakan hangat tubuh gadis di pelukanku ini yang sedikit bergetar. Aku tidak tahu, kenapa tubuh kecil ini sampai bergetar di dalam pelukanku? Apa karena pelukanku yang hangat? Apa karena dia merasakan tubuh bagian atasku yang telanjang? Apa karena dia takut atau senang? Atau apa karena ini pertama kalinya gadis ini pelukan? Atau karena aku lah yang memeluknya? Suaminya? Jika benar begitu, berarti selama ini gadis ini sangat menjaga kehormatannya? Menjaga diri ... untukku? Sedangkan aku .... "Yani!" "Jangan berbicara!" Larangnya. Aku pun diam. "Sekarang biarkan aku yang berbicara. Kamu hanya perlu mendengarkan." Dan aku menuruti kemauannya. Aku hanya diam dengan memeluknya semakin erat. Entah mengapa, sepertinya dia membutuhkan sedang pelukan. "Kamu tahu berapa lama aku menunggu saat-saat seperti ini? Kamu tahu berapa lama aku menunggu hangatnya tubuhmu kayak gini? Kamu tahu bagaimana penantianku selama ini, berharap akan mendapatimu mencariku suatu hari nanti?" Yani terdiam sejenak, mengatur napasnya yang sempat emosi tadi. "Berhari-hari aku lalui dengan penuh harap. Berbulan bulan aku lewati dengan keyakinan kalau kamu pasti datang. Hingga tahun pun berganti tapi kamu sama sekali tak terlihat. Dan suatu hari, aku memohon pada Bu Adisty agar bisa melihatmu untuk sebentar saja, untuk sekejab saja. padahal Bu Adisty sudah melarangku dan memperingatiku, kalau aku keras kepala maka aku sendiri yang akan terluka. Tapi waktu itu aku nggak peduli." Suara Yani mulai terdengar serak. Sepertinya dia menangis. "Aku pergi mencarimu dengan secercah harapan kalau kamu akan mengingatku. Aku pergi mencarimu dengan tekad bahwa kamu akan kembali padaku. Suamiku tak mungkin menelantarkanku begitu saja. Tapi aku salah." Dan kini, suaranya semakin terdengar tersendat-sendat. Dan aku yakin pertahanannya sudah tak kuat. Di dalam pelukanku ini, dia pastilah menangis walau aku tidak bisa melihatnya. "Aku keliru. Ternyata suamiku tidak mencariku dan telah melupakanku. Suamiku, yang telah menikahiku, malah bermain dengan wanita lain, dan bersenang senang dengan para wanita itu. Dia ... melupakanku. Hiks hiks! Di-dia sudah tak ingat padaku. Hiks! Hiks! Hiks! Di-dia menelantarkanku. Hiks! Hiks! Dia ... Dia ... Huwaaaa! Huwaaaa!" Dan pecahlah tangis Yani. Tangis yang dipendamnya selama empat tahun ini akhirnya keluar. Semua sakit hati selama bertahun-tahun ini akhirnya terlampiaskan. Akulah yang bodoh! Akulah yang g****k! Akulah yang tidak tahu diri! Tolong maafkan aku Yan! tolong maafkanlah aku yang bodoh ini! Tolong maafkan aku. Dan pagi ini pun di hiasi dengan jerit tangis Yani. Tangisan pilu Yani dan derita istri cantikku ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD