4. Tuan Tanah

1461 Words
"Tradisi yang buruk atau tradisi aib bagi para gadis di sini." Kami semua terdiam. Menunggu kelanjutan penjelasan dari pak Beno. Hanya terdengar suara mesin mobil yang berjalan perlahan menyusuri jalanan desa yang sudah berpaving ini. "Di sini masih ada yang namanya Tuan Tanah. Katanya, nenek moyang dari Tuan Tanah itu adalah pemimpin wanita yang mengajak dan melindungi para wanita Yunani yang melarikan diri ke sini. Di adalah orang terkaya di desa ini tapi juga dia adalah orang terkejam juga." Aku mengerutkan kening belum mengerti arah pembicaraan Pak Beno. Keturunan pemimpin dari para perempuan Yunani? Orang terkaya? Sekaligus terkejam? "Tuan tanah itu namanya Pak Takur." Tunggu .... Tunggu dulu .... Pak Takur? Kenapa namanya terasa nggak asing ya? "Pak Takur gemar sekali meminjami uang pada orang-orang desa. Berapapun mereka meminjam pasti Pak Takur beri tanpa pandang bulu." "Bukankah itu namanya dermawan, Pak?" Sela Doni, perawat cowok yang duduk paling belakang. Plak! "Aduh!" Doni mengusap kepalanya yang di geplak Jali. "Kalau ada orang tua ngomong tuh di dengerin! Jangan asal nyeplos nyela pembicaraan! Nggak sopan tahu!" "Iya, iya. Maaf!" Merengut Doni, masih mengelus kepalanya bekas pukulan Jali. Tapi benar juga apa yang dikatakan Doni. Jika Pak Takur ini gemar meminjami uang pada penduduk bukankah itu namanya dermawan kecuali .... "Tapi sayangnya, bunga dari pinjaman itu sangatlah besar. Dua puluh persen." Lanjut Pak Beno. "APAAAAA???" aku, Dewa, Doni dan Jali hampir menjerit bersamaan Busyet dah ... Bunga pinjaman dua puluh persen? Nih orang mau minjamin atau mau nyekik? "Dan setiap orang yang tidak sanggup membayar maka dia akan mengambil seluruh harta benda orang yang meminjam. Dan juga jika orang yang berutang punya anak gadis, maka dia akan memintanya juga untuk dijadikan istrinya." "APAAAAAAAAAAAA ...???" Dan untuk kedua kalinya kami berempat kembali histeris atas informasi yang diberikan Pak Beno. "Ya. Benar. Memang begitulah yang terjadi di desa kami." Lanjut Pak Siddiq. "Aku sudah berusaha keras untuk menghilangkan kebiasaan itu tapi aku nggak bisa. Otoritas Pak Takur di sini seolah sudah seperti pimpinan bagi orang-orang di sini. Identitas sebagai keturunan pemimpin sudah melekat erat pada diri Pak Takur dan itu seolah sudah menjadi keyakinan kebanyakan penduduk. Dan mereka tidak bisa menentang tradisi ini." Rumit. Ini agak rumit. Tapi aku juga heran. Kenapa di dalam negara ini masih ada yang seperti ini ya? Kemana negara demokratis yang dijunjung tinggi di negara ini? Apa mereka tidak mengerti kalau negara tempat mereka tinggal ini sudah maju dan tidak sekolot dulu? "Apa kalian nggak ngerasa aneh?" Tiba-tiba Dewa ikutan bersuara. "Tuan Tanah, Pak Takur, suka minjamin uang, bunga utang tinggi, suka nikahin gadis-gadis. Kok rasanya kayak film India jaman dulu ya?" Kami semua terdiam. Menyadari hal yang mengganjal di benak kami. Oh iya apa karena itu ya, makanya tadi aku ngerasa kayaknya nama Pak Takur itu nggak terasa asing. Ternyata nama itu sering digunakan dalam film India sebagai pemeran antagonis. Iya, sekarang aku sudah ingat. "Apa Pak Takur ini sebenarnya bukan keturunan Yunani, tapi keturunan India?" Jali nyelutuk. "Atau kalau nggak gitu, Pak Takur ini pasti suka banget film India sampai dia melakukan adegan di film itu." Doni menimpali. "Imajinasi kalian boleh juga." Dan sekarang Dewa malah mendukung dua bocah yang sering berdebat itu. "Tapi, Pak Siddiq," Dewa beralih pada Pak perangkat desa yang menjemput kami. "Kenapa selama sebulan di sini, saya tidak pernah mendengar cerita ini?" "Karena waktu itu tidak ada kejadian seperti ini ketika mas Dewa di sini." Jawab Pak Siddiq. "Penduduk sini seakan pantang untuk menceritakan hal ini pada orang baru. Mereka menganggap kalau ini adalah hal yang harus hanya di sini saja. Jadi mereka nggak akan pernah menceritakannya." "Lalu apakah tidak apa-apa bapak menceritakan pada kami?" tanyaku. "Entah, Mas. Aku sendiri juga nggak yakin." Pak Siddiq menjawab sambil matanya menerawang ke depan. "Aku hanyalah segelintir orang yang lemah, yang tidak suka dengan tradisi di sini. Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang-orang di desa." "Tapi bukankah bapak adalah perangkat desa? Bukannya bapak punya kekuatan dan kekuasaan di sini?" Doni bertanya agak histeris. "Tidak, Mas. Jabatan perangkat di sini itu hanyalah boneka bagi Pak Takur. Kami semua tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengannya." "Lalu apakah tidak ada polisi di sini? Koramil mungkin?" tanyaku merasa semakin aneh. Sebenarnya Pak Takur ini siapa sih? Kenapa dia begitu berkuasa atas semua orang di desa ini? Okelah jika pada menjawab kalau dia adalah keturunan pemimpin sini. Tapi itu kan jaman dahulu. Jaman baheula. Dan sistem negara kita juga bukan sistem kerajaan. Kekuasaannya di turunkan secara turun temurun. Negara ini sistem presidensial. Pemimpinnya presiden. Dan itupun diadakan pemilihan. Bukan karena di dalam darahnya mengalir darah pemimpin. Ya kalau darah kepemimpinannya masih kental, kalau sudah cair dan pudar gimana? Ayolah! Berpikirlah yang realistis aja. "Pernah ada yang mengajukan pos penjagaan atau koramil di sini. Tapi entah bagaimana ceritanya, pos itu tidak jadi didirikan di desa ini. Tak ada bertanya dan tak ada yang berani mengungkit. Seakan semua orang sudah tahu apa yang sudah terjadi. Kalau Pak Takur lah yang menghambat dan menutup akses pengajuan itu." Pak Siddiq kembali menjelaskan. Aneh. Sangat aneh. "Lalu bagaimana anda bisa memasukkan kami, tenaga medis, ke desa ini? Apakah tidak ditentang oleh Pak Takur itu?" "Selama kami mengundang orang yang pak Takur anggap tidak membahayakan posisinya, dia tidak akan ikut campur dalam urusan perangkat desa. Toh kalau ada dokter dan perawat itu juga satu keuntungan buat Pak Takur untuk memeriksa kesehatan. Jadi dia pasti nggak akan ganggu mas-masnya ini." Ah sial sial sial Aku kan ke sini niatnya mau liburan. Kenapa malah masuk ke dalam kandang harimau kayak gini sih. Dasar Dewa. Nanti setelah semua ini selesai, aku pasti akan menghajarnya sampai habis. "Jadi kami tidak perlu berurusan dengan Pak Takur kan, Pak?" Jali bertanya dengan nada sedikit takut. "Nggak, Mas. Mungkin kalian bertemu dengan Pak Takur jika dia pengen periksa aja. Biasanya kalau nggak ada keperluan, Pak Takur juga nggak mau ngurusi kerjaan perangkat desa." Fiuuuuhhhh untung saja si Pak Takur itu nggak terlalu suka urusin masalah kerjaan. Kalau iya, jadi makin males aja aku sama Pak tua satu itu. Ngomong ngomong, kira-kira udah dapet berapa istri ya dia, hasil dari minjamin uang ke banyak tetangganya. Jangan-jangan dia sudah punya istri tujuh. Wah ... waaaaahhhhh, itu sih namanya juga surga dunia. Mana cewek-cewek di sini rata cantik semua. Istri satu aja mana tahan. Hahahaha. Mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai juga di polindes desa ini. Dan kami pun turun satu persatu. "Tapi Pak sebenarnya arak-arakan tadi itu apa?" tanyaku masih penasaran. "Itu ...." Ucapan pak Siddiq terpotong ketika ada suara keras dan lantang dari seorang laki-laki yang datang dari arah jalan. Aku lihat ada tiga orang laki-laki yang berbadan besar, menggiring seseorang yang berbadan lebih kecil. Orang yang kulihat berbadan kecil tersebut. Dilihat dari pakaiannya, rok abu-abu panjang dan kemeja putih lengan pendek, dia seperti bocah yang masih sekolah di SMA. "Waaahhh dasar Pak Takur itu, apa dia memangsa bocah sekolah juga?" Celutukku nggak.percaya dan sedikit kaget. "Ya. Kebanyakan gadis-gadis SMA yang sudah cukup umur untuk menikah. Biasanya Pak Takur sangat suka gadis gadis polos seperti itu." Pak Siddiq menjawab penuh dengan nada prihatin. Aku geleng-geleng tak percaya. Ternyata Pak Tua Bangka itu pintar juga ya. Cuma menargetkan gadis yang baru lulus SMA. Jadi dia tidak bisa dituntut sebagai p*****l. Cerdik juga dia. Kutatap lebih seksama gadis yang sedikit diseret oleh tiga laki-laki berbadan besar itu. Tampak sekali dari gestur tubuh si gadis kalau dia menolak tarikan tangan salah satu laki-laki itu. Tapi sepertinya dia tidak berdaya karena selain badannya yang kecil, dia juga seorang gadis biasa. Sedari tadi aku hanya melihat punggung gadis tersebut. Wajahnya sama sekali belum nampak. Gadis itu seakan menahan diri ketika tubuhnya ditarik dengan paksa. Lalu tiba-tiba tubuh gadis itu terjatuh di tanah. Tapi tanpa perasaan, ketiga pria itu masih tetap menyeretnya. Membuat tubuh gadis kecil itu terseret di atas jalan yang berpaving. "Akan aku kasih pelajaran tuh laki-laki nggak tahu diri. Masak maksa bocah sampai segitunya." Dewa hampir saja maju untuk menyelamatkan sang gadis. Tapi tangannya segera di tarik Pak Siddiq. Mencegahnya. "Jangan, Mas! Jangan berurusan dengan Pak Takur dengan konflik wanita seperti ini. Bahaya!" "Tapi mereka keterlaluan, Pak!" "Jangan, Mas! Sungguh jangan! Percayalah padaku! Jika Mas ikut campur urusan ini maka Pak Takur nggak akan tinggal diam terhadap kalian." "Tapi, Pak ....!" "Aku mohon mas! Oke?" Dan akhirnya Dewa pun hanya diam walau aku yakin hatinya masih terasa mengganjal melihat adegan kekerasan yang terjadi secara langsung di depannya ini Dan aku, aku hanya mengamati dalam diam dan sedikit lebih fokus menatap gerik gerik ketiga orang dan gadis itu. Mungkin, karena merasa diamati, Tiba-tiba saja gadis itu menoleh dan berbalik menatap kami. Dan kami semua sangat syok ketika melihat wajah dan rupa gadis itu. Tak terkecuali juga pak Siddiq. Dia juga syok dengan apa yang dilihatnya Gadis itu ... Gadis yang diseret itu .... Dia .... Dia ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD