Ah ... capek sekali.
Setelah melakukan operasi selama lima jam, akhirnya aku bisa keluar sebentar ke taman atap rumah sakit untuk menyegarkan mata dan hidungku.
Mataku yang selama berjam-jam hanya menatap organ dalam manusia untuk mengoperasinya, dan hidungku yang terus menerus mencium aroma khas darah, harus segera di sterilkan dengan pemandangan yang bagus dan udara yang sangat bersih. Dimana lagi di sekitaran rumah sakit yang mempunyai tempat seperti itu kalau bukan taman di atap.
Memang sih, taman di bawah, alias taman yang dibangun di sayap kiri gedung rumah sakit adalah paling indah. Taman yang luas itu di taat begitu apik. Banyak sekali bunga-bunga dan juga tempat duduk jika pasien merasa lelah setelah berjalan-jalan. Ada juga tempat bermain untuk anak-anak. Untuk taman itu, Mama memang melengkapi fasilitasnya untuk kebutuhan pasien. Sedangkan taman atap rumah sakit, memang dibangun Mama atas permintaanku.
Apalagi alasannya kalau bukan karena ini. Untuk melepas lelah setelah bekerja seharian. Dan taman atap ini kebanyakan hanya dikunjungi staff rumah sakit. Seperti dokter, kayak aku sekarang ini, perawat, kadang OB. Cuma kalau OB ke sininya karena alasan pekerjaan, apalagi kalau bukan bersih-bersih.
"Terima kasih Nona, Anda baik sekali."
Aku mendengar suara yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Awalnya, aku yang berniat ingin duduk di kursi kayu taman, tapi terhenti karena mendengar suara itu.
Tapi sebenarnya bukan penyebab itu yang membuatku mengurungkan niat untuk duduk. Tapi aroma ini. Aroma yang menguar dari tubuh gadis UGD kemaren, yang begitu terasa enak di hidungku.
"Nggak papa, Bu. Sepertinya ibu lebih membutuhkannya dari pada aku."
"Sekali lagi terima kasih ya, Nona."
"Iya Bu, sama-sama."
Langkah ku pun tidak bisa tidak melangkah ke asal suara yang aku yakini milik si gadis beraroma lembut.
Dan benar saja, gadis itu sedang berdiri berhadapan dengan ibu-ibu OB di balik tembok rumput yang estetik. Gadis itu tersenyum lembut pada ibu OB dan menyilahkan ibu OB itu ketika dia ingin pamit pergi mau bersih-bersih lagi.
Ah ... benar kata Bagas, gadis itu punya lesung pipi yang manis ketika tersenyum. Dan gadis berlesung pipi itu pun menyilahkannya ibu OB. Aku melihat tangan OB itu mendorong peralatan bersih-bersih dan juga membawa minuman isotonik berenergi, Sepertinya minuman itulah alasan ibu OB tadi berterima kasih pada Riri. Gadis UGD berlesung pipi yang manis.
"Hai!" Sapaku menghampiri gadis itu setelah memastikan ibu OB itu pergi.
Riri, gadis itu tampak terkejut dengan kedatanganku, tapi itu hanya sekejab saja. Setelah itu, wajahnya di setting kembali normal. Tak ada lagi senyuman manis di bibirnya.
Aneh, bukannya kami baru bertemu kemaren di UGD, tapi kenapa hawa-hawanya gadis ini seperti nggak menyukaiku ya.
Apa karena predikat reputasiku sebagai playboy terkenal di rumah sakit?
"Selamat siang, Dok!" Gadis berekspresi dingin itu menganggukkan kepalanya padaku, menyapa sopan.
Ah ... suaranya benar-benar bisa menggetarkan hatiku. Apa karena ini ya aku tidak dapat melepaskan gadis ini dari pikiranku sejak kemarin.
Aku pun membalas menganggukan kepala.
"Bukankah kamu yang bernama Riri, perawat magang yang baru?"
"Iya, Dok!"
"Apakah kamu ke sini untuk memberi ibu-ibu OB itu minuman?"
Mata cantik itu sedikit membelalak kaget mendengar pertanyaanku.
Duuuuhhh ... Maaakkk! Indahnya mata itu walau cuma ekspresi kaget aja.
Kagumku menatap mata yang entah mengapa masih terasa tidak asing.
"Tidak, Dok. Saya ke sini hanya untuk istirahat sejenak."
Dan ekspresi imutnya ketika kaget sudah berubah menjadi dingin lagi.
Lalu kami diam, saling berdiri berhadapan sedikit berjauhan.
Aku yang diam karena melihatnya dengan tatapan sedikit menyelidik, merasa sangat penasaran dengan gadis itu. Sedangkan gadis itu diam, mungkin karena tidak suka berbincang denganku. Ku rasa sih, soalnya auranya itu seperti orang yang ingin segera keluar dari situasi yang canggung ini.
"Maaf, Dok! Sepertinya sudah waktunya saya kembali bekerja." Pamitnya. "
Tunggu!" teriakku menahannya gerakannya yang sudah hampir berbalik.
Dan mau tak mau gadis itu kembali bertatap muka denganku.
"Maaf?"
"Apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku, tidak bisa membendung lagi rasa penasarankku. Selama ini, aku belum pernah melihat ekspresi seorang gadis yang tidak suka melihatku. Dan sikap gadis ini benar-benar membuat penasaran.
Gadis itu diam agak lama. Entahlah, mungkin dia menimbang-nimbang akan menjawab apa.
"Sebelum ini, apakah kita sudah pernah bertemu?" tanyaku ulang.
"Entahlah." Gadis ini tersenyum. Dan aku sedikit kaget melihatnya tersenyum. Apakah perkiraanku yang salah? Gadis ini bukannya tidak menyukaiku? Lalu sekaramg dia tersenyum.
Tapi entah mengapa, aku kok merasa senyumnya agak aneh ya. Kayak ada sesuatu di balik senyumnya itu.
"Bukankah kita sudah bertemu kemarin di ruang UGD?" Gadis itu tersenyum makin lebar dan semakin menunjukkan lesung pipinya. Tapi walaupun begitu, aku tetap merasa aneh dengan senyum gadis ini.
"Bukan itu maksudku. Aku ...."
"Maaf, Dokter!" selanya sambil mengambil Hp dari dalam saku seragam perawatnya dan menatap Hp itu sekilas. "Sepertinya saya sudah terlalu lama beristirahat. Dan sudah waktunya saya untuk kembali bertugas."
"Tapi ...."
"Sampai jumpa, Dok!" Lagi gadis ini memotong pembicaraanku dan menganggukkan kembali kepalanya padaku, berpamitan. "Selamat beristirahat!"
Dan setelah itu tanpa memberiku kesempatan berbicara lagi, bocah baru itu langsung kabur begitu saja.
Awalnya aku kaget ada anak baru yang seberani itu pada putra pemilik Rumah Sakit. Tapi di menit selanjutnya aku malah tersenyum sambil menatap punggung bocah pertama yang berani kurang ajar padaku di Rumah Sakitku.
"Gadis yang menarik!"
***
Setelah hampir satu jam menjernihkan pikiranku di taman atap rumah sakit, akhirnya aku kembali turun. Dan orang pertama yang aku temui ketika masuk ke dalam ruang kantorku malah si kunyuk Bagas.
Tapi kalau di suruh memilih, aku lebih memilih bertemu si tengil ini dari pada bertemu Inez. Si gadis menakutkan itu.
"Ada apa?" tanyaku sambil berjalan ke kursinya di balik meja kerja. Dan melabuhkan pantatku di sana.
"Gimana di UGD kemarin?" tanyanya begitu penasaran.
"Gimana apanya? Gara-gara ada yang maksa gua masuk UGD kemarin, hari ini gua dapat jadwal operasi yang begitu sulit. Sampai menghabiskan waktu lima jam." gerutuku.
Bagas tersenyum canggung, dokter itu juga pastilah tahu kalau operasi open repair AAA adalah operasi yang sangat sulit dan beresiko tinggi.
"Sorry, bukan maksud gua kayak gitu Pak Bos! Gua kan cuma nganterin lo biar nggak keliru cewek lagi kayak kemarin."
"Alasan aja lo! Bilang aja lo demen lihat temen lo menderita."
"Kalau itu sih setengah bener setengah salah. Hehehe!"
"Anjrit lo!" Kulempar kotak tisu yang tergeletak di mejaku ke arah bocah petakilan itu, dan dia menangkapnya dengan sempurna.
"Lalu gimana menurut lo gadis yang gua tunjukin kemarin? Mantap kan?" Bocah b******k ini kembali ke topik yang tadi.
"Ya. Lumayan, sih."
"Lumayan apanya?" Bagas tak terima, gadis yang dipilihnya aku nilai dengan kata 'lumayan'.
Memang sih, untuk ukuran gadis bernama Riri itu bukan masuk ke dalam kata 'lumayan' lagi, tapi luar biasa. Walaupun begitu aku belum mau mengakuinya pada Bagas sebelum aku bisa mendapatkan gadis itu. "Itu kan menurut lo, Gas. Kalau menurut gua biasa aja tuh."
"Lagak lo aja, Ril. Ril. Kemarin aja lo sampek nggak kedip waktu aku nunjuk dia. Sekarang lo bilang dia biasa aja? Bilang aja lo sama kayak gua. Gagal. Hahahaha!"
"Enak aja lo. Ariel Bramantyo mana pernah gagal. Lihat aja nanti! Tak lama lagi, cewek itu pasti bertekuk lutut pada gua." Tekadku membara.
"Sombong lo itu emang nggak paling nggak ada duanya. Coba aja jika lo tahu sekarang cewek UGD itu dengan siapa? Kesombongan lo itu pasti akan langsung pupus." Bocah ini malah memprovikasiku.
"Emang dia dengan siapa?"
"Bukankah kemarin aku sudah bilang kalau ada perawat cowok magang yang dekat dengan gadis itu?"
Aku menganguk.
"Dia sedang bersama dengan cowok itu itu."
Aku terdiam. Berpikir. Jika gadis UGD itu masuk dan magang di sini berbarengan dengan cowok yang dekat dengannya itu. Besar kemungkinan, mereka satu kampus.
"Di mana mereka sekarang?"
"Di taman rumah sakit sebelah kiri gedung."
Lho bukannya tadi kami habis bertemu di taman atap rumah sakit, lalu dia pergi meninggalkanku dengan alasan akan bekerja? Tapi kok sekarang dia malah pindah ke taman bawah?
"Ngapain mereka?" tanyaku ngak suka.
"Sepertinya makan siang. Soalnya tadi aku lihat cowok itu membawa kotak bekal."
"Ngapain makan siang di taman? Bukannya makan siang di kantin?" sewotku tak suka.
"Hahahaha. Apa sekarang lo cemburu?"
Aku melirik Bagas tajam.
"Gua?" tunjukku pada hidungku sendiri. "Cemburu pada anak baru?" kilahku sedikit histeris. "Mimpi aja sana!" Lalu aku membuang tatapanku sembarang arah.
Tak bisa aku pungkiri, aku memang sedikit merasa gerah mendengar mereka makan siang di taman dengan kotak bekal yang cowok itu bawa. Dalam bayanganku, mereka berdua makan dengan penuh kemesraan, saling melempar pandangan sayang sambil pegangan tangan dan mungkin saja saling menyuapi. Entah kenapa aku makin merasa kepanasan dengan bayangan itu.
"Baiklah. Gua percaya kalau lo nggak cemburu. Tapi jangan sampai setelah gua pergi dari sini, lo nyusul mereka ke taman."
"Nggak bakalan dan nggak akan pernah terjadi." Kukuhku.
"Oke. Gua pegang ucapan lo. Kalau sampai lo ingkar, gua akan minta traktiran steak yang paling mahal dan enak."
"Beres. Gampang itu mah."
"Oke. Gua pergi dulu. Gua ada jadwal pemeriksaan sebentar lagi."
Dan aku hanya mengangkat jempolku menjawab pamitannya.
Setelah bocah tengil itu keluar, aku semakin gelisah. Pikiranku tidak tenang. Dan hatiku kacau. Imajinasiku terbang membayangkan hal-hal yang makin nggak masuk akal.
Kenapa mereka makan siang di taman? Kenapa mereka makan siang dengan kotak bekal? Kenapa cowok itu membawakan kotak bekal itu pada Riri? Apa mereka tinggal serumah? Apa mereka berpacaran? Atau mereka suami istri?
Tak bisa menahan pikiran liarku sendiri, akhirnya aku benar-benar keluar dari ruang kantorku dan berjalan tergesa menuju taman.
Bodo amat lah diledek Si Bagas lagi. Bodo amatlah harus nraktir bocah rese itu steak yang mahal. Aku udah nggak peduli lagi.
Yang ada di pikiranku sekarang adalah, apa yang Riri dan cowok itu lakukan? Siapa cowok itu? Apa hubungan mereka? Apa mereka berpacaran? Atau sudah menikah?
Tapi sepertinya nggak mungkin kalau mereka menikah. Mereka kan masih sangat muda. Tapi mungkin saja itu benar. Bukankah ketika aku seumuran mereka dulu aku juga sudah menikah, walau pada akhirnya aku meninggalkan istriku sendirian.
Aaaaarrrggghhhtttt ....!!! Ada apa denganku sebenarnya ini?
Kakiku terus saja melangkah mendekat ke taman samping gedung. Dan aku benar-benar kaget ketika melihat Riri melakukan sesuatu yang tidak beda jauh dari bayanganku. Walau tak semesra seperti dalam perkiraanku. Gadis itu bolak balik tersenyum sambil sesekali menatap cowok yang duduk di sampingnya sambil memakan makanannya.
Memang sih, tidak ada duduk berdekatan, tak ada suap-suapan dan tak ada pegangan tangan. Tapi kenapa hatiku rasanya panas banget kayak gini.
Padahal aku baru bertemu dengannya kemarin, padahal aku belum mengenalnya dengan baik, tapi kenapa aku bisa semarah ini?
Tanpa bisa berpikir jernih lagi, aku berderap melangkah mendekat pada mereka dan berdiri angkuh di depan keduanya.
Tampak sekali mereka berdua kaget melihatku.
"Maaf, siapa Anda?" tanya cowok yang duduk bersama Riri ini.
Aku menatap cowok ini tajam, tersinggung.
Bagaimana bisa pegawai Mamaku ini tidak mengenali aku sebagai putra dari pemilik gedung yang dipakainya untuk bekerja saat ini?
Kutatap cocok ini lebih detail, dari atas ke bawah, bawah ke atas dan begitu terus sampai tiga kali, sampai dia merasa risih.
Sekali lagi, Bagas memang tidak salah menilai tentang cowok ini.
Cowok ini memang bisa dikategorikan tampan. Wajahnya yang kalem dan tenang menggambarkan dirinya adalah cowok yang baik dan santun. Nilai plus untuk dia. Dan aku akui, pesonanya ini memang pastilah agak susah di tolak cewek yang suka cowok baik-baik.
Tapi aku nggak peduli. Mau dia baik kek dan aku b******k, Mau dia kalem dan tenang sedangkan aku grusak grusuk dan nggak sabaran. Selama kedua orang ini belum menikah, aku berjanji pasti akan membuat gadis bernama Riri ini bertekuk lulut padaku. Bagaimana pun caranya.
Kini mataku beralih pada gadis yang masih duduk dengan memangku kotak bekal makan siangnya itu. "Kamu!"
Gadis ini menatapku tak mengerti.
Tapi dari nada tegasku, sepertinya dia mengerti kalau aku lagi bad mood. Buktinya dia langsung menaruh kotak makanannya ke kursi dan berdiri.
Cowok itu, karena melihat Riri berdiri akhirnya ikut berdiri juga.
"Bukannya tadi pas kita berada di atap taman rumah sakit, kamu pamit kembali utuk bekerja? Kenapa malah di sini?" semprotku.
Cowok yang bersamanya ini tiba-tiba ganti posisi dan berdiri di depan Gadis itu.
"Siapa kamu? Kenapa kamu berkata kasar pada Riri?"
Cih ... Dasar cowok nggak tahu diri. Udah menumpang magang, masih juga menginterogasi pemiliknya.
"Dafa!" cegah Riri menyentuh lengan cowok itu. "Aku nggak papa. Jangan begitu."
Oh jadi namanya Dafa? Aku pasti akan mengingat nama cowok ini dan menandainya.
"Nggak papa gimana maksud kamu. Cowok ini memarahimu tanpa sebab. Bagaimana kamu bisa nggak papa?"
"Aku nggak papa. Beneran. Kita sudahi saja sampai dii sini. Oke?"
"Tapi ..."
"Dafa, aku mohon. Please!"
Dan akhirnya cowok itu diam, menuruti perkataan gadis UGD ini walau dengan muka masam.
Tapi kenapa aku malah semakin ingin marah? Ada apa denganku sebenarnya? Gadis itu, Riri, kini ganti menatapku dengan sorot mata yang semakin dingin. Dan aku nggak suka itu.
"Maaf, Dokter. Ini kesalahan saya. Seharusnya saya segera bekerja setelah turun dari taman atap tadi. Tapi karena saya belum makan siang, teman saya ini mengajak saya makan karena khawatir pada saya. Saya benar-benar minta maaf, Dokter. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi."
Setelah berkata seperti itu, Riri memberesi kotak bekal makannya dan mengajak cowok ini pergi.
Bukan. Bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ... hanya ...
"Tunggu!" cegahku. Dan mereka berhenti melangkah.
Tanpa menoleh padaku, gadis itu melanjutkan kata-katanya tadi. "Tenang saja, Dokter. Tidak ada kata istirahat lagi setelah ini. Aku akan bekerja sesuai permintaan anda."
Kemudian kedua perawat itu meneruskan langkah mereka meninggalkanku.
Arrrrrggggghhhhhttttt ...
Kenapa jadi seperti ini? Kenapa sikapku malah jadi kayak anak kecil gini? Bukan ini yang ku mau. Bukan ini maksudku tadi.
Arrrrggghhhhtttt ....
Gimana ini?
Apa yang harus kulakukan selanjutnya?
Apa?