Setelah dari pagi sibuk ngurus pasien dan konsultasi, akhirnya aku, di siang hari yang terik ini, hampir sekitar jam dua, aku bisa istirahat di ruang kerjaku. Mataku, badanku dan peruku yang keroncongan, semuanya terasa sangat lelah. Dan aku kembali ke ruangan kantorku hampir dengan cara menyeret tubuhku sendiri.
Dan ketika sampai di kantorku, aku sedikit kaget dengan apa yang ada di atas meja kerjaku.
Kotak bekal?
"Siapa yang memberiku kotak bekal?" gumamku.
Tiba-tiba pintu kantorku terbuka dengan keras.
Braakk!
"Ariel ... !" Lalu muncul seraut wajah yang membuatku sangat malas untuk bertemu dengannya. "Kamu sudah makan belum?"
"Inez!" tegurku agak jengkel. Jika tiap hari pintuku di jeplak kayak gitu bisa cepet b****k dech pintuku itu. "Ini di rumah sakit. Bisakah kamu bersikap profesional dikit?" Aku masih mencoba menahan rasa jengkelku pada gadis ini. "Dan panggil aku Dokter Ariel kalau di rumah sakit. Di sini aku bukan cowok biasa seperti aku di luar rumah sakit. Aku adalah seorang dokter di sini!" Peringatku dengan jelas memberi batasan.
Padahal biasanya aku sama sekali nggak terlalu peduli sesam teman di rumah sakit mau memanggilku apa, tapi khusus untuk gadis satu ini memang harus diberi batasan yang sangat jelas. Karena sikapnya yang masih begitu tidak peduli dengan keadaan sekitar memang sangat merugikan.
"Iya dech, maaf!" ucapnya dengan nada penuh sesal. Tapi aku yakin, besok dia pasti akan mengulagi lagi kesalahan itu. Karena baginya, bisa memanggilku tanpa embel-embel dokter itu, seakan mengukuhkan posisinya di rumah sakit ini. Bahwa dia adalah cewek satu-satunya yang bisa memanggilku dengan nama Ariel aja. Dan itu berarti, sikapnya itu, untuk membentengi diriku dari cewek yang ingin mendekatiku agar berhati-hati.
Lebih gampangnya gini ...
Inez, cewek ini, seakan mengumumkan pada dunia rumah sakit, kalau aku adalah miliknya. dan cewek siapa pun di arang mendekat padaku.
Dan itu benar-benar membuatku sangat muak.
"Apa kamu sudah makan?" Gadis ini mengulangi pertanyaan. Tapi matanya melirik pada kotak bekal yang ada di meja kerjaku. "Kamu bawa bekal? Sejak kapan? Kok aku baru tahu?"
Bawa bekal? Nggak juga. Bahkan aku tidak tahu ini dari mana?
Lalu ingatanku langsung tertuju pada kejadian di taman rumah sakit kemaran. Ketika aku menghampiri Yani dan Dafa yang duduk berdua di taman sambil makan dari kotak bekal.
"Apa yang memberiku kotak bekal adalah Yani?" tanyaku pada diriku sendiri. Dan satu senyuman terbit ketika pikiranku membayangkan ternyata walau dingin, istriku ternyata penuh perhatian.
"Kenapa? Apa kotak bekal itu di kasih seseorang?" tanya Inez curiga.
Tidak. Inez tidak boleh tahu kalau kotak bekal ini di kasih Yani. Inez hanyalah seorang perawat. Nanti kalau Inez sampai melabraknya karena kotak bekal, Kasian dia. Posisinya ama sekali tidak menguntungkan.
"Ini ..."
"Dokter Ariel." panggil Dokter Nilam dengan senyum manisnya. Memotong pembicaraanku dengan Inez.
"Ya?"
"Apakah kamu suka bekal makan siangnya?"
"Bekal?"
"Ya. Aku yang memasak sendiri tadi. Walau mungkin kurang cocok dengan selera lidah Dokter tapi semoga Dokter suka."
"Ah ... terima kasih. Aku akan ... menikmatinya."
Aku kehilangan kata-kata. Imajinasiku yang membayangkan kalau Yani yang memberi bekal makan siang ini buyar sudah. Aku nggak mengira kalau Dokter Nilam lah yang memberi makanan ini.
"Kenapa kamu memberi Ariel bekal makanan?" Inez memulai memproklamirkan perang. Dan aku rasa ini tidaklah sebentar. "Kamu kira dia nggak sanggup membeli makanan samai harus kamu beri bekal?"
"Apa Dokter Inez itu tidak tahu arti dari sebuah bekal makanan?" tantang Dokter Nilam.
Wow ternyata walau kalem, Dokter cantik ini juga pemberani ya. Selama ini memang jarang ada yang berani menentang Inez. Selain karena Inez terkenal judes, dia juga terkenal suka bikin gara-gara dengan semua cewek yang aku dekati atau yang mendekatiku.
"Memangnya bekal makanan itu ada artinya? Kan cuma makanan doang?"
Dokter Nilam masih tersenyum tenang. "Bekal makanan itu bisa diartikan kasih sayang Dokter Inez. Karena bekal makanan itu di masak sendiri oleh tangan kita dan dalam pembuatannya itu ada kasih sayang yang menyalur ke dalam makanan tersebut dari dari kita. Jadi walau mungkin rasanya tidak seenak rasa makanan di restoran, tapi ada rasa kasih sayang yang tersaji dalam tiap kuyahannya. Dan itu akan semakin membuat yang makan bekal yang kita bikin ikut merasakan apa yang kita rasa."
Entah mengapa penjelasan Dokter Nilam ini malah membuatku berpikir ulang tentang kejadian makan siang Yani dengan cowok itu lagi. Cowok yang bernama Dafa itu kan memberi makanan Yani dengan makanan bekalnya. Lalu apakah makanan bekal itu Dafa sendiri yang membuatnya? Apakah dengan penuh kasih sayang juga dia memberikannya pada Yani? Kenapa rasanya perasaanku nggak enak ya? Apa mereka juga makan siang dengan bekal yang di bawa cowok itu lagi.
"Mana ada yang kayak gitu, Makanan ya makanan, mana ada makanan rasa kasih sayang?" terdengar Inez masih ngeyel.
"Ada Dokter Inez. Buktinya ya bekal makan siang itu. Benarkan Dokter Ariel?"
Tapi aku tidak menjaab. Pikiranku masih penuh dengan bayang bayang Yani yang makan siang dengan Dafa, makan siang dengan kotak bekal yang di bawa oleh cowok perawat itu.
"Dokter Ariel?"
"Ah ... maaf. Sepertinya aku ada sedikit urusan yang agak mendadak. Silahkan dilanjut perdebatannya, aku undur diri dulu."
"Tapi bekal makanannya ...." Dokter Nilam seakan mau mencegah, mungkin dia agak protes karena bekal makanannya belum aku sentuh.
"Ariel ... mau ke mana?"
Tapi aku sudah tidak peduli. Sedikit berlari aku keluar dari ruanganku dan berlari lagi di koridor hingga ke lift.
Tapi sialnya, lifnya masih kepakai. Tak sabar, aku segera turun melewati tangga. Tak hanya turun satu persatu tangga, tapi langsung dua-dua. Aku ingin segera sampai ke lantai bawah. Mencari Yani, istriku.
Sampai di lantai bawah, aku segera mencari Yani di UGD, tapi nggak ada. Dan entah kenapa kaki langsung saja melangkah keluar, pergi menuju taman. Siapa tahu mereka berdua, Yani dan Dafa, kembali makan siang dengan bekal yang di bawa Dafa di taman rumah sakit.
Tapi setelah aku memutari taman yang lumayan luas ini sampai dua kali, aku tidak menemukan batang hidung mereka.
"Kemana mereka?" Dengan sedikit ngos-ngosan, aku kembali mencari mereka. Tapi mereka tetap tidak ada.
"Kemana dua bocah itu sebenarnya?"
Dan ketika melewati kantin, barulah aku menemukan keduanya. Duduk saling berhadapan dan saling melempar senyum seperti kemaren. bahkan Yani sempat tertawa sambil melihat Dafa. tawa yang tidak pernah diperlihatkannya padaku tapi malah diperlihatkannya pada cowok lain.
Dengan sedikit emosi, aku kembali berjalan ke arah kantin rumah sakit. Masuk dan langsung ikut duduk di meja yang sama dengan Yani dan Dafa. Mereka berdua, yang tadinya senyam senyum sambil tertawa, kini langsung diam dan fokus pada makanan mereka.
"Apa makanan kantin enak?" tanyaku menatap tajam Yani.
"Maaf?" tapi Dafa yang menyahut.
Dan aku nggak peduli.
Tatapan mataku masih lurus menatap Yani.
Gadis itu pun masih bergeming, dia masih bersikukuh ingin kami tidak saling mengenal.
Lihatlah ekspresinya itu. Seperti sangat muak melihatku nyamperin di lagi.
"Yani!" panggilku dengan nada tak kalah dingin dengan tatapan Yani. "Apa bekal makan siang itu begitu enak?"
"Yani?" Dan Dafa kembali menyahut. "Dokter, sepertinya anda salah orang!"
"Tidak!" bantahku sedikit tajam. Tatapanku beralih pada Dafa yang tercengang mendapatiku marah padanya. "Aku tidak salah! Aku memang sedang berbicara dengan Yani." Lalu sorot mataku menatap Yani kembali. Menghujamnya. "Benarkan istriku, Yani?"