"Jangan di sini!" Cegah wanita dalam dekapanku. Mendorong tubuhku menjauh dari tubuhnya.
"Kenapa?" tanyaku sedikit protes. Aku sudah nggak tahan ingin segera menerkamnya.
Tadi ketika kami sedang b******u di diskotik, tiba-tiba saja ada orang mabuk yang masuk ke ruang yang sudah aku sewa dan mengacaukan segala keintiman yang sudah kami bangun. Aku benar-benar marah dan sangat sebal. Walau manager diskotik sudah datang ke ruanganku dan meminta maaf secara langsung, tapi aku sudah terlanjur kesal. Al hasil, aku membawa wanita diskotik ini pulang ke apartemenku dan melanjutkan gairah kami di rumah. Menurutku itu lebih bebas dan lebih leluasa.
Lalu setelah kami sudah sampai di gedung apartemen dan naik lift, aku masih diam dan tidak merabanya. Sejak di dalam lift tadi aku sudah bersabar untuk tidak menyentuhnya, dan kini sudah keluar, aku langsung menciumnya. Tapi dia menolak. Dan itu kembali membuat moodku kesal.
"Ini masih di lobi, Sayang!" Alasannya setelah melihat wajahku yang tertekuk.
"Memang kenapa? Semua apartemen di lantai ini sudah aku beli semua. Tidak akan ada yang memergoki kita." Sombongku. Tapi tentu saja satu apartemen yang berada tepat di sebelahku tidak aku beli. Karena itu adalah apartemen Inez.
"Apa?" Si wanita melotot kaget. Dan sedetik kemudian ada binar kagum dalam tatapannya. "Wah ... ternyata anda memang kayak pesawat ya. Hihihi. " Sindirnya sambil terkikik geli.
Tidak heran, tentu saja wanita ini jadi kagum padaku. Secara, apartemen ini adalah apartemen paling mahal dan paling mewah di daerah sini. Apalagi dengan seluruh ruangan yang kedap suara. Tentu harganya nggak main-main. Apalagi di lantai ini, apartemen paling atas, ada empat unit apartemen. Tiga diantaranya sudah aku beli. Dan satu apartemen milik Inez.
Apartemenku yang satu unit aku ubah menjadi kolam renang super besar dan satunya lagi aku gunakan sebagai kamar tamu. Jadi jika Mamaku berkunjung ke sini atau ada temanku yang ingin menginap, maka akan aku taruh di kamar apartemenku yang itu. Karena aku tidak bisa tidur jika dalam keadaan beramai-ramai.
Aku tersenyum bangga. Merasa paling jadi cowok terkeren di jagad bumi ini.
"Kenapa, Sayang? Jangan sampai kamu semakin tergila-gila padaku gara-gara kekayaanku." godaku lagi.
Wanita yang tadi mendorong tubuhku, kini malah menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Memerangkapku dalam tubuhnya. Meletakkan kepalanya di pundak dan mengeratkan tangannya di leherku, membuat hembusan nafasnya begitu terasa dikulit.
Aku yang memang sudah sensitif terhadap sentuhan, langsung saja libidoku, hasratku, naik dengan sangat pesat.
Segara kuangkat tubuhnya. Wanita ini melingkarkan tangan di leherku dan melingkarkan kakinya di pinggangku. Dan kami berciuman dengan sangat dalam. Dalam dan panas penuh gairah.
Aku mulai berjalan menuju pintu apartemen dengan tetap menggendongnya. Dan tentu saja masih dengan berciuman. Sampai depan pintu apartemen, kujeda ciuman kami, kupencet beberapa nomor dalam kotak biru kecil yang menempel pada pintu.
Dan ...
Ting!
Pintu pun terbuka.
Kusergap lagi bibir tebal wanita dalam gendonganku ini. Kubuka pintu dengan kaki lalu masuk ke dalam apartemen. Ketika pintu menutup secara otomatis, biasanya aku mendengar lampu seluruh ruangan menyala secara otomatis juga. Tapi kenapa sekarang tidak terdengar?
Di sela-sela ciuman, aku melirik ke dalam ruangan.
Lho lampu apartemen sudah menyala! Tapi aku yakin, aku nggak mendengar suara lampu menyala.
Ah ... bodo amat lah. Waktunya menikmati wanita cantik dulu.
Walau hati serasa ada yang mengganjal, tapi aku abaikan. Lebih enak fokus pada tubuh yang memanas dengan detak jantung yang begitu cepat wanita yang menggelayut ini. Tapi ada suara aneh yang tertangkap di indera pendengaranku.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Seperti suara jari telunjuk yang diketuk-ketukkan pada media kayu.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Aku kaget. Apa ada orang lain selain kami di sini?
Walau bibir berciuman tapi telingaku mencari asal suara dari ketukan ini.
Benar. Suara ini berasal dari sini. Berarti memang ada orang lain di apartemen selain kami.
Kutarik wajahku dari wajah si wanita. Menghentikan ciuman panas kami.
"Ada apa?" tanya si wanita tapi aku diam, mataku menatap serius ke dalam ruangan apartemenku.
Suara ketukan jari itu sudah terhenti dan berubah menjadi seperti suara langkah kaki.
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Benar! Ini suara langkah kaki. Aku semakin tajam menatap ke dalam ruangan. Memperhatikan siapa yang akan muncul dari dalam.
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Sedetik.
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Dua detik
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Tiga detik.
Dan ...
"Mama?" Pekikku kaget melihat siapa yang muncul dari dalam apartemen. Dan secara reflek aku langsung melepaskan peganganku pada wanita di gendonganku, dan ...
Bruk!
"Aduh!" jeritnya.
Ups! Sial. Karena kaget aku malah menjatuhkan wanita ini.
Tapi itu tidak terlalu penting. Yang penting sekarang adalah wanita yang bersidekap di sana, yang berdiri dengan memasang wajah penuh kemarahan. Dia Mamaku. Dan ada satu wanita lagi yang berdiri agak ke belakang. Bukan. Bukan wanita. Tapi lebih seperti seorang gadis, jika ditilik dari keimutan wajahnya ... Mataku melotot kaget melihat gadis yang berdiri di belakang Mama. Dia kan Riri?
Kenapa gadis yang dua hari ini memenuhi pikiranku ini berada di dalam apartemenku? Dan kenapa dia bersama dengan Mamaku? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mama!" panggilku mulai menguasai keadaan.
Wanita yang kujatuhkan tadi, tertatih berdiri sendiri. Dan merapikan bajunya yang berantakan gara-gara ulahku.
"Selamat malam, Tante!" Ucapnya setelah selesai merapikan diri dan berdiri di dekatku.
"Selamat malam juga."
Mamaku, walau dalam keadaan marah dan tidak suka, dia tetap menghormati siapapun orang yang menyapanya.
"Maaf, Tante, atas ketidaksopanan saya tadi!" Si wanita minta maaf dan akan melangkah mendekati Mama.
Tapi Mama segera mengangkat tangan, mencegah si wanita berjalan lebih dekat padanya.
"Tidak apa-apa. Saya memaklumi anda yang masih muda." Kemudian Mama beralih menatapku dengan tajam. Tajam dan penuh amarah. "Tapi saya tidak bisa memaafkan seseorang yang selalu melanggar janjinya."
Aku menunduk. Ya, tentu saja yang di maksud itu aku. Anak tunggal Mama yang bandel.
"Jadi, Nona! Berkenankah anda jika anda meninggalkan anak ini? Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dan lakukan dengan bocah nakal satu ini." Ijin Mama dengan nada dingin dan seram. Bahkan aura seram hitamnya bisa aku rasakan. Mungkin karena Mama berkata seperti itu sambil menatap tajam aku makanya tubuhku terasa seperti mendapat hujaman panah penuh ancaman.
"Ba-baik, Tante!" gagap si wanita yang kubawa pulang. Wanita ini pasti juga merasakan hawa seram yang menguar dari tubuh Mamaku. "Saya ijin undur diri dulu."
Lihatlah, wanita ini saja keder mendengar permintaan Mamaku. Apalagi aku yang bentar lagi akan di eksekusi.
Ketika wanita ini berbalik dan membuka pintu akan keluar, aku segera menangkap tangannya, mencegahnya.
"Mau aku antar pulang?" tawarku.
Sebenarnya ini bukan tawaran. Ini hanya cara agar aku bisa melarikan diri dari Mama.
Si wanita malah melepas tanganku dengan paksa dan sedikit kasar. "Tidak usah! Terima kasih!" Dan langsung ngacir pergi setengah berlari.
Kini tinggal aku berdiri takut sendirian, menunggu hukuman yang sudah menantiku.
"Sini!" Perintah Mama. Dan suaranya terdengar lebih seram.
Aku masih diam, mematung di tempatku semula.
"Sini!" kini suara Mama malah sedikit berteriak.
Aku berjalan pelan. Selangkah demi selangkah mendekat pada Mama. Lalu berhenti ketika aku merasa masih dalam jarak aman.
"Tiga langkah lagi!" Ultimatum wanita keras yang telah melahirkanku itu.
Ya Tuhan. Tolong aku!
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Plak!
Segera kuusap-usap lengan kiriku yang dipukul Mama dengan sangat keras.
Aahhh .... sial.
Karena memang kulitku punya indera perasa yang sangat sensitif, dipukul sedikit saja sudah terasa banget. Apalagi dipukul keras kayak gini. Pasti nanti bahuku memar.
"Dasar anak nakal!"
Plak!
Marah Mama memukulku lagi, ganti lengan kananku. Tapi tidak terlalu kuat seperti pukulan pertama tadi.
"Maaf, Ma!" Melasku sambil mengusap kedua lengan yang berdenyut.
"Maaf kamu bilang? Maaf?" Kemarahan Mama masih dalam tahap level tiga.
"Sampai kapan kamu mau main perempuan terus?" Naik jadi level empat.
"Tidak akan lagi dech, Ma! Ariel janji."
Mama mengangkat tangan lagi seperti mau memukul.
Aku segera mengangkat tangan juga dan terpejam, reflek melindungi diri. Tapi setelah beberapa detik, tidak ada pukulan yang aku rasakan. Kubuka mata dan menurunkan tanganku.
Tampak Mama mendesah frustasi, bingung menghadapi putranya yang nyleneh ini. Wanita tangguh itu lalu berjalan, duduk di kursi sofa ruang tamu.
Dan saat itulah aku kembali menyadari keberadaan gadis yang sempat mencuri perhatianku dua hari ini.
Gadis itu, dengan wajah tenang tanpa ekspresi menatapku. "Yani!" panggil Mama. Dan gadis itupun menoleh.
"Duduklah di kursi itu!" Mama menunjuk kursi sofa panjang yang berada di dekatnya.
Yani? Kok Yani? Bukannya namanya Riri?
Tapi ... Yani? Kok namanya sepertinya nggak asing ya?
Gadis yang dipanggil Yani oleh Mama itu mengangguk dan langsung berjalan ke sofa dan duduk di sana.
Yani? Yani? Kok rasanya nama itu familiar ya.
"Dan kamu bocah nakal!" Teriak Mama. "Cepat sini! Duduk di samping Yani!"
Siapa gadis itu sebenarnya? Riri atau Yani? Kenapa dia bisa bersama dengan Mamaku? Biasanya Mama nggak pernah memarahiku di depan orang lain. Tapi kenapa Mama memarahiku di depannya? Bikin malu saja.
Nggak mau kena damprat lagi, aku segera memenuhi perintahnya. Duduk di dekat gadis itu.
Ketika berada dalam sedekat ini, aku kembali mencium aroma yang sangat enak dari gadis ini. Enak yang memabukkan.
Kutatap gadis yang duduk tenang di sampingku. Posturnya, gerakannya, semuanya tenang. Detak jantungnya pun juga terdengar biasa saja. Padahal kebanyakan gadis yang duduk di sampingku, pasti jantungnya berdetak cepat, seperti mau berlompatan keluar. Tapi gadis ini begitu tenang. Apa karena dia membenciku ya? Tapi kan dia nggak punya alasan kenapa membenciku.
Aku yang penasaran, menggeser dudukku, mendekat lagi ke gadis itu. Tapi gadis itu masih saja bersikap tenang.
Kutatap lagi lebih intens. Dia seperti mengabaikan keberadaanku. Menganggapku yang duduk di dekatnya ini seperti tidak ada. Dan itu membuatku sebal. Kenapa dengan gadis ini? Apa dia buta? Apa dia tidak melihat cowok seganteng ini mendekatinya? Kenapa detak jantungnya masih berdetak dengan irama normal? Apa indera pendengaranku mulai turun?
Penasaran, dengan gerakan cepat, aku segera menempel pada gadis itu. Riri atau Yani ini kaget dan secara reflek langsung menghadapku.
Dan inilah kesempatanku.
Segera kuletakkan tanganku pada dadanya dan terpejam, berusaha fokus memeriksa detak jantungnya.
Tapi...
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi kiriku.
"Hei! Apa kamu sudah gila? Kenapa menamparku?" Teriakku kaget.
Kulihat wajah si gadis memerah, dan kedua tangannya menyilang menutupi d**a.
"Justru kamu yang gila. Bagaimana bisa kamu mendadak memegang d**a seorang gadis?" bela Mama. Wanita itu sudah tidak marah kali ini, malah tampak seperti menahan tawa.
"Aku kan cuma mau memeriksa detak jantungnya, Ma!"
"Memangnya kenapa dengan indera pendengarmu? Apa menurun?"
Aku terdiam.
Kenapa indera pendengarku nggak bisa mendeteksi detak jantungnya. Dengan kondisi seperti itu, kaget dan malu, seharusnya detak jantungnya berubah jadi agak cepat. Tapi kenapa ini masih terdengar biasa saja.
Jangan-jangan ...
Jangan-jangan ...
Aku nggak bisa mendengar detak jantungnya.
Jangan-jangan yang kudengar dari tadi adalah detak jantung Mama.
Untuk memastikannya, aku segera beranjak berdiri dan mendekati Mama. Dan suara detakan itu semakin jelas.
Benar. Ternyata ini suara detak jantung Mama.
Jadi apakah aku benar-benar nggak bisa mendengar detak jantung gadis ini?
Ah ... sial. Seharusnya ketika aku bertemu dengannnya di rumah sakit selama dua hari kemaren, aku memperhatikan hal penting ini. Sayangnya aku sudah terlanjur dengan pesona kecantikannya, dan aku jadi mengabaikan segalanya.
Merasa aneh, aku kembali duduk di dekat gadis itu. Bukan hanya dekat. Aku bahkan, menempelkan lengan dan kakiku pada lengan dan kakinya.
Gadis itu berjingkat, dan segera menarik tubuhnya menjauh. Tapi aku menahannya.
"Dokter, Apa anda sudah gila?" tanyanya mengumpat.
"Diamlah sebentar!" Mungkin, karena melihat keseriusanku, gadis itu hanya diam disampingku.
Benar! Aku tidak dapat mendengar suara detak jantungnya.
Oh ya, kalau diingat-ingat lagi, bahkan tadi ketika aku mendengar suara langkah kaki. Aku hanya mendengar suara satu langkah kaki saja.
Apa aku juga tidak bisa mendengar suara langkah kaki gadis ini?
Kudekatkan telingaku pada ke arah dadanya. Mencoba mendengar lebih fokus. Tapi sialnya, malah indera penciumanku, yang menajam.
Sial! Kenapa aroma gadis ini begitu enak sih, bikin aku pengen memakannya saja.
"Hei, apa yang anda lakukan?" Tangan si gadis menahan kepalaku yang terus nyosor ke dadanya.
"Aku hanya ingin mendengar detak jantungmu."
"Bukankah seharusnya anda pakai stetoskop?" Tangan gadis ini masih bertahan menahan kepalaku yang ingin segera menempel ke dadanya.
"Biasanya aku nggak perlu stetoskop untuk mendengar detak jantung seseorang."
"Apa anda dokter c***l?"
Tring.
Satu pemahaman muncul di kepalaku.
Oh iya, gadis ini kan nggak tahu kalau aku punya keistimewaan panca indera yang lebih peka dari pada orang kebanyakan.
Malu karena sadar terlihat seperti cowok c***l, aku segera menarik kepalaku menjauh dari dadanya.
"Ehem! Ehem!" Aku berdehem untuk menetralisirkan salah tingkahku. "Ngomong-ngomong siapa kamu sebenarnya?" tanyaku mencoba seperti cowok berwibawa. "Di rumah sakit kamu di kenal dengan nama Riri, tapi kenapa tadi Mamaku memanggilmu dengan nama Yani? Siapa kamu dan apa tujuanmu mendekati Mamaku?"
"Kamu lupa dengannya?" Tidak mendapat jawaban dari gadis itu, aku malah mendapat pertanyaan membingungkan dari Mama.
Aku menatap Mama tak mengerti.
"Kamu beneran lupa?" Sekarang pertanyaan Mama malah terdengar sedikit histeris.
Aku masih diam. Menunggu kelanjutan kalimat Mama.
"Dia istrimu, Ariel!"
Istri? Kapan aku menikah?
Dan dalam sekejab tiba-tiba memoriku berputar pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Desa terpencil. Pak Tua Tuan Tanah. Gadis bercemong arang hitam. Rasa kasihan. Tantangan. Dan ... Menikah.
Apa?
Apa gadis ini adalah gadis dengan wajah hitam arang itu?
Apa gadis ini, si bocah kerempeng yang dulu?
Kenapa bisa berubah secantik dan seseksi?