16 : i'll wait for you to come home

2726 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jane tahu River kesal. Dia sebal dengan Jane. Kali ini Jane gak salah tebak. Walaupun perempuan itu gak menunjukkan secara langsung dengan melirik sinis kepadanya atau sesuatu yang seperti itu, tapi Jane tahu pasti. Dan itu diperkuat dengan River yang kemudian dengan senyum lembutnya itu—yang Jane tebak sebagai topeng hanya untuk menutupi kekesalannya pada Jane—akhirnya bilang bahwa dia akan pulang saja. Dengan alasan ternyata ada temannya yang menunggu di kosan. Jane tahu itu cuman omong kosong. River hanya kepanasan saja karena Jane menang. “Gue kayaknya harus pulang, deh, Yan,” ujar River tiba-tiba setelah perseteruan sengit yang dilakukan Jane dan River walau tanpa adu jambak itu. “Temen gue lagi di kos. Kasihan kalau harus balik lagi.” “Temen siapa? Ya biarin dia balik lagi, lah. Kalau lo yang pulang ke kos kejauhan.” “Gak papa. Dia dari jauh juga. Udah, lo lanjut aja jalan sama Jane.” Jane akhirnya jadi ketagihan main drama. “Betulan gak papa? Kasihan juga kalau lo pulang sendiri. Apa Ryan nganterin dulu aja?” “Oh, gak usah. Gue ngegrab juga bisa.” Jane mengedikkan bahu. “Ya udah kalau gitu. Gue gak bisa maksa juga, kan?” “Lo yakin gak mau ikut gue aja sama Jane? Nanti baliknya sama gue, kan gue yang ngajak juga.” Ryan memandang River dengan sorot gak yakin. “Lagian gak aman lo ngegrab malem-malem sendirian.” “It’s okay, sumpah deh.” Malah lebih males kalau lanjut jalan bertiga sama Jane, lanjut River dalam hati, tapi tentu aja gak dia suarakan. “Oke kalau gitu. Gue sama Jane nungguin grab lo dateng kalau gitu.” River mengangguk saja. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sepeninggal River yang akhirnya betulan pulang, entah pulang beneran atau enggak, akhirnya Jane dan Ryan sepakat tetap melanjutkan perjalanan seperti seharusnya. Ini belum memasuki jam malam, baik bagi Ryan dan Jane. Well, ini aja baru jam delapan. Setelah membukakan pintu mobil untuk Jane, seperti biasa barulah Ryan masuk ke pintu pengemudi. Cowok itu diem, gak langsung menghidupkan mesin mobil apa lagi melajukannya. Jane yang sadar kalau cowok itu kepikiran sama River jadi langsung membuka suara. “Kalau gak tega biarin temen lo pulang sendiri, gak papa anterin dia aja,” ujarnya cuek, toh dia juga udah gak terlalu mood mau kemana-mana sekarang. Andai dia gak harus pulang ke rumah, Jane akan pergi ke klub malam saja. “Atau kita bisa balik sekarang.” Ryan noleh. “Kenapa gitu?” “Karena lo kelihatan setengah-setengah.” “Apanya yang setengah?” “Lo disini tapi kepala lo di lain.” Ryan malah mengangkat sudut bibirnya geli sendiri. “Siapa yang bilang kepala gue di lain? Ngeri, lah.” “Gue serius, ya, Yan.” Cowok itu tergelak. Melihat wajah sebal Jane benar-benar membuat Ryan jadi gemas sendiri. “Hei, look at me,” Ryan meraih tangan kanan Jane untuk ia genggam, melingkupinya dengan kedua tangannya sendiri. Arah duduk Ryan sudah menyerong kearah Jane. “Jennie.” Ryan sangat jarang memanggil Jane dengan sebutan Jennie. Dan Jane gak suka dipanggil begitu. Maka dari itu dia langsung menoleh dan memicingkan mata. “Lo selalu bisa dan boleh jujur ke gue soal apapun,” ujar Ryan dengan senyum yang menghiasi bibir. “Apapun. Misal lo gak suka sama River, bilang, gue gak masalah, gak akan marahin lo apa lagi maksa lo buat suka River. Misal lo gak nyaman gue ngajak River, lo boleh bilang.” “...lo tahu?” “Kebaca, Jane. Lo tuh ekspresif banget. Sekalinya gak suka sama orang pasti kelihatan.” “Lo tahu dan lo pura-pura gak tahu tadi?” “Karena gue sangat menikmati ngelihatin lo yang lagi cemburu. It’s so rare. Gue gak mau kehilangan kesempatan buat bisa bikin lo kepanasan.” Jane mendelik gak percaya. “Gue gak cemburu, Ryan.” “Terserah lo mau ngelak kayak gimana juga. Bahkan River tadi sempet ngasih tahu gue dia gak bisa berhadapan sama lo yang udah jealous parah.” Sial. Jane mengumpat dalam hati. Apa memang sejelas itu kalau dia tidak menyukai River karena sikapnya pada Ryan? Kenapa semua orang mengatakan bahwa dia cemburu? Cemburu hanya perasana yang dimiliki manusia yang punya perasaan lebih pada seseorang. Lalu apakah Jane memang sudah membuka hati untuk Ryan? “I like the way you jeaolus at me. Tapi gue minta maaf karena dari tadi pasti lo gak nyaman.” Demi Tuhan. Bilang sama Jane. Gimana caranya dia gak meleleh dengan semua sikap gentle man laki-laki ini? Ryan selalu mengutamakan kenyamanannya dimanapun, kapanpun, bahkan sampai menomorduakan hal lain seperti sahabat dari SD-nya sendiri. “It’s okey,” akhirnya Jane melengkungkan senyum kembali. Tangannya bergerak mengusap rahang cowok itu. “Gue juga minta maaf karena bikin lo jadi bimbang di antara dua pilihan tadi. Pasti gak nyaman, kan?” “Lo bukan pilihan. Gak ada kandidat lain yang setara sama posisi lo. Jadi lo bukan pilihan.” “Gombal aja terus.” Ryan tertawa. “Gue serius.” “Tapi gue betulan gak mau ada acara kencan bertiga kayak tadi, ya, Yan?” Jane menyampaikan unek-uneknya demi kelancaran acara kencan ke depannya. Dia gak mau terulang lagi kejadian yang kayak begini. “Kalau lo mau jalan sama River, silakan. Dia temen lo. Tapi gak perlu ngajak gue.” “Iya.” “Satu hal lagi yang lo harus tahu dan lo gak bisa ngelak.” “Apa?” “River suka sama lo. Itu udah kelihatan jelas. Entah lo betulan gak peka atau lo cuman pura-pura gak tahu, tapi dia suka sama lo.” Ryan langsung diam. “Perhatian yang dia kasih ke elo, cara ngomongnya, dan gestur tubuhnya tiap di samping lo, gue tahu artinya apa.” “Lo terganggu dengan itu?” Kali ini Jane yang diam. “Kalau gue bisa ambil kesimpulan, tadi lo bisa cemburu ke River, artinya sekarang pun lo terganggu dengan fakta River suka sama gue—kayak yang lo bilang—walau gue gak percaya itu. Am i wrong?” “...gue gak tahu.” Ryan menggeleng. “Lo tahu jawabannya.” “Oke, misalnya gue bilang gue terganggu karena tahu River suka sama lo, sementara kalian teman baik yang artinya kalian bisa menghabiskan waktu bareng berdua, terus apa, Yan? Terganggu atau enggak, itu gak ada artinya.” “Lo salah. That means a lot for me.” Jane menggelengkan kepala. Menatap nanar ke arah Ryan. “Gue gak mau egois dengan gak terima kalau River suka sama lo, sementara gue masih gini.” Cowok itu kemudian menghela nafas panjang. Tahu apa yang dimaksud Jane. Ryan tahu seberapa dilemanya perempuan itu dengan memiliki perasaan yang masih belum pasti seperti ini; tak menginginkan perempuan lain dengan Ryan, tapi dia masih tidak bisa lepas dari bayangan Kaisar. Pun kalau Ryan bisa egois, dia juga ingin marah pada perempuan itu. Sikap Jane bisa disebut semena-mena, kan? Ryan masih memiliki hati yang berfungsi dengan baik. Ia bisa sakit hati. Tapi Ryan tidak bisa menekan Jane, ia tak ingin membuat Jane merasa bahwa hubungannya dengan Ryan malah jadi beban karena ia belum bisa melupakan Kaisar. “Babe,” Ryan menyentuh tangan Jane yang ada di pipinya, senyum tulus memancar begitu saja tiap berhadapan dengan mata indah Jane. “Gue disini sekarang, sama lo. Biar apa? Biar lo bisa lupain mantan lo. Gak papa gue masih harus nunggu lebih lama biar lo bisa seutuhnya sama gue, yang penting lo tahu, gue sayang sama lo dan gue disini. Paham?” Jane balas tersenyum, tak bisa menahan diri untuk memeluk leher laki-laki itu dan dengan sayang. “You’re too good for me, Yan.” “Gak ada orang yang terlalu baik. Lo cuman belum nemu aja minusnya gue yang banyak ini.” “Lo baik,” kekeuh Jane dan melepaskan pelukannya. “And i thank you for choosing me, being here for me.” Apa yang harus Ryan sesalkan untuk memutuskan memberikan hatinya untuk Jane? Tidak ada. Karena melihat perempuan itu ada di sampingnya, memeluknya seperti ini, dan berjanji akan berusaha melupakan Kaisar agar bisa bersamanya adalah lebih dari cukup. Jadi Ryan memberikannya ciuman manis sebagai hadiah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia, Ryan tidak langsung membuka pintu. Dia mengambil jaket di jok belakang, kemudian memberikannya pada Jane. “Apa?” tanya Jane dengan raut bingung karena dia merasa dia sudah memakai jaket. Gak mungkin Ryan menyuruhnya pakai jaket dobel, kan? “Pakai yang ini aja. Jaket yang lo pakai ketipisan. Ini dingin.” Tapi Jane menggeleng, menolak. “Gak mau.” “Jane, ini dingin banget.” “Gak match sama outfit gue, Ryan.” “Gak papa. Tetep cantik.” Jane memutar bola matanya. Kalau itu, sih, dia juga tahu! Tapi akhirnya cewek itu juga menurut. Dia melepas jaket yang ia pakai, menyisakan tanktop hitam yang membentuk indah lekuk tubuhnya, terutama tonjolan di bagian d**a. Ryan langsung mengalihkan wajah ke arah lain, gak siap dengan itu. Melihat reaksi seperti itu tiba-tiba muncul dari wajah Ryan, Jane malah tertawa. “Kayak gak pernah lihat aja lo.” Ryan berdecak. “Beda, lah.” “Apanya yang beda?” Nada suara Jane kelihatan banget kalau emang niat ngegoda. Mana dari tadi make jaket doang gak selesai-selesai. “Ayo cepet turun. Kalau mau godain nanti-nanti aja.” Jane yang gak gemas jadi mencondongkan tubuh untuk mencium singkat pipi Ryan kemudian menjauh. “Udah ini, udaaah,” lapornya setelah jaket Ryan yang kebesaran tapi untungnya masih membuat Jane terlihat modis itu terpasang di tubuhnya. “Bagus, gak?” “Bagus.” Jane nyengir doang. Sebenarnya dia juga tahu, sih, kalau dia make apa aja juga cakep. Tapi rasanya beda kalau Ryan sendiri yang ngomong. “Yuk, turun.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Oke, gue gak tahu kalau bakal sedingin ini.” Jane berkomentar tepat setelah mereka menaiki tangga satu-persatu yang menuntun mereka berdua ke arah tempat yang disebut Bukit Tinggi tersebut. Sejujurnya tempat ini sedikit mengingatkan Jane pas dia liburan ke Malang beberapa tahun yang lalu. Ada satu tempat disana yang mirip banget sama Bukit Tinggi. Tempat ini diisi dengan pemandangan kota dan lelampuan dari rumah penduduk yang nampak cantik dilihat dari atas bukit apa lagi di malam hari. Tidak ada apa-apa selain itu, tapi mengingatkan temapt seperti ini emang punya kesan romantis, tak ayal banyak muda-mudi yang kesini untuk bermesraan dalam batas wajar. Ryan meraih tangan Jane untuk ia selipkan jemarinya disana. Merasakan tangan perempuan itu betulan sedingin itu, Ryan jadi khawatir sendiri. “Harusnya bawa sarung tangan sekalian, ya, tadi? Atau kita cari dulu? Siapa tahu ada yang jual di sekitar sini.” Jane menggeleng. “Gak usah. Gue pas ke Bromo aja gak pakai sarung tangan.” “Really?” “Iya.’ Ryan mengecup punggung tangannya singkat sebelum kemudian lanjut jalan. Karena mereka berdua masih sangat kenyang akibat sudah makan malam bersama River tadi, Ryan dan Jane memilih duduk di tempat yang tersedia, yang mana gak beralaskan apapun, tapi disana ramai banget. Cowok itu memilih tempat di depan sendiri, gak peduli yang belakangnya jadi gak kelihatan. Lagipula spot di paling depan membuat ia dan Jane bisa puas melihat view dari sini. “Siniin tangannya yang satu.” Jane mengeluarkan tangan kanannya dari saku jaket, lalu menengadahkan ke arah Ryan yang langsung dirangkum oleh cowok itu untuk berada dalam genggamannya. Karena Ryan baru menggosok-gosok kedua telapak tangannya, tentu saja itu dapat menghantarkan rasa hangat bagi Jane. “Anget?” Jane mengangguk sambil tersenyum. “Nyaman.” Ryan balik senyum. Gak cuman Jane doang, tapi Ryan pun selalu merasa nyaman tiap bersama Jane. Mau mereka makan malam romantis atau bahkan cuman makan lalapan di pinggir jalan, semuanya selalu terasa manis dan menyenangkan. Seperti sekarang contohnya. Bahkan ketika kesini dia hanya mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk tiket masuk berdua, nyatanya lembar uang hijau tersebut sudah dapat membeli kebahagiaan untuk Ryan. Karena cowok itu disini bersama perempuannya. “Jane.” “Hm?” “I love you.” Karena Ryan pikir, ia memang harus mengungkapkannya secara personal seperti ini. Mungkin sudah waktunya. Toh cepat atau lambat dia memang akan mengatakannya. Jane pun sebenarnya sudah tahu seperti apa perasaan Ryan untuknya, jadi tak masalah bagi Ryan untuk memutuskan bahwa mulai dari sekarang dia akan rajin bilang bahwa dia mencintai perempuan itu. Sekalipun jawaban dari Jane tak lebih dari... “I know.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * I'll give you one more time We'll give you one more fight Said one more line Will I know you? Now if you never shoot, you'll never know And if you never eat, you'll never grow You've got a pretty kind of dirty face And when she's leaving your home She's begging you to stay, stay Stay, stay, stay I'll give you one more time We'll give you one more fight Said one more line There'll be a riot, cause I know you Well now that you've got your gun It's much harder now the police have come And I'll shoot him if it's what you ask But if you just take off your mask You'd find out everything's gone wrong Now everybody's dead And they're driving past my old school And he's got his gun, he's got his suit on She says, babe, you look so cool * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD