41. Debar di d**a ( pov dr. Sean) [Kak, kemana aja sih? Kenapa telpon aku nggak pernah diangkat? Aku kesel deh!] Emot wajah penuh air mata berderet di bawah kalimat itu. [Kak, Mama minta kita secepatnya ke Liana's Jewelry untuk nge-pas cincin. Kasih kabar ya kapan bisa free. Pokoknya dalam minggu ini harus sudah clear!] Dua chat beruntun itu langsung terlihat begitu aku membuka aplikasi berlogo warna hijau itu. Sejenak aku menghembuskan napas satu demi satu, membuang gundah yang tak bisa dicegah lagi kehadirannya. Shasa dan keluarga dokter Rahardian, seolah sedang menyusun hidupku dalam planing planing yang tak bisa kuelakkan lagi. Langkahku kini terikat dalam gurita yang tak bisa lagi kuhindari. Teringat percakapanku dengan sahabat dekat, dokter Johan beberapa hari lalu saat kami

