27. Prahara. Tengah malam, aku terbangun. Kulirik jam di dinding pukul 3 dini hari. Aku beranjak bangun dengan cepat, karena menyadari telah melewatkan sesi obat yang harus ku minum sebelum tidur tadi. Selesai minum obat, aku memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat sunat Tahajud yang sering kali kulakukan meski belum bisa secara rutin. Akhir akhir ini lumayan sering ku kerjakan, karena jujur, hati ini sedang galau dengan kondisi hubunganku dengan mas Aditya. Komitmen yang aku tuntut sesuai dengan janjinya sebelum menikahi Adelia seakan akan telah ia abaikan. Ia terkesan mengulur ulur waktu dengan argumen yang tidak bisa aku terima. Selesai mengerjakan solat sunat 2 rakaat itu, hati menjadi lebih tenang. Dan memutuskan untuk tidur kembali. Langkahku terhenti, si

