Bab 9. Madu Belia

1425 Words
Bab 9. Madu Belia "Mba Sa, saya udah rampung nih." Delia muncul dari ruang pemeriksaan. Wajahnya terlihat lebih semringah dari pada saat berangkat tadi. Pasti hasil pemeriksaan janin di dalam perutnya membuahkan hasil yang baik. "Oh ada yang baru dari poli kandungan. Pasti sedang berbahagia," kicau dokter Sean sambil menoleh ke arah Adelia yang makin mendekat pada kami. "Ibu hamil yang terlihat fresh. Ngomong ngomong ini siapanya Bu Sabina?" Dokter Sean bertanya sekilas. Meski begitu, ia terlihat ingin tahu. "Ini--" Aku kebingungan untuk menjawab. Tidak mungkin kalau kukatakan pada lelaki di depanku bahwa Delia juga istri Mas Aditya bukan? "Saya adik sepupu Mbak Sabina, Dok. Senang berkenalan dengan Anda," jawab Adelia spontan sambil menangkupkan kedua tangan mungilnya di d**a tanda penghormatannya pada sosok dokter muda itu. Diam diam aku menarik napas lega. Tenyata Adelia cukup cerdas juga dalam membaca situasi. Sehingga mampu membuat jawaban yang cukup melegakan untuk kami semua. "Oh, semoga kandungannya sehat sehat saja hingga bersalin nanti. Oh ya, bagaimana dengan keluhan asam lambung Ibu Sabina? Sepertinya terkontrol dengan baik ya?" Kini dokter Sean kembali mengalihkan atensinya padaku. "Alhamdulillah, sudah tiga bulan ini aman dan terkendali, Dok. Terimakasih banyak atas bantuannya selama ini," ujarku tulus. Selama berurusan dengan dokter muda ini, aku merasakan jiwa pengabdian dan ketulusan dari dokter Sean. "Oke, Bu Sabina, Bu Delia. Saya masih ada tugas lagi di dalam. Senang rasanya tahu bahwa Bu Sabina sehat sehat saja. Permisi ya," pamit dokter Sean dengan suara rendah sembari memberi seulas senyum ramah. Aku mengangguk hormat sebelum lelaki bertubuh jangkung itu berlalu dari hadapan kami. " Sudah kan, Del? Obat obat sudah ditebus? tanyaku mengingatkan. "Sudah, Mbak. Semuanya sudah beres. Alhamdulillah hasil USG nya baik. Bayinya tumbuh dengan sehat dan sesuai tabel perkembangan," jawab Adelia dengan suara semringah. "Syukurilah, Del. Mbak ikut berbahagia mendengarnya." ujarku dengan suara tercekat. Diam diam selarik rasa sakit menghampiri. Gadis ini begitu mudah mengandung dan bayinya pun sehat. Sedangkan aku, sudah hampir 6 tahun kami menikah, tetapi rahimku belum juga terisi.Entah sampai kapan aku harus bersabar. Dan segera setelah semuanya beres, kamipun kembali menuju parkiran. "Terimakasih ya, Mbak Sa. Udah mau sangat peduli padaku," lirih Adelia membuka percakapan saat kereta besiku mulai melaju di jalan protokol. "Kamu kini jadi bagian dari keluarga, otomatis aku juga harus peduli," Ujarku dengan fokus masih berada di jalan raya di hadapanku. "Maafkan aku ya, Mbak. Karena kehamilan ini, pernikahan Mbak Sa dan Mas Adit harus terganggu." Sepasang mata itu mengerjab, rona penyesalan terpatri jelas di raut wajah yang masih terlihat remaja itu. "Sudahlah, Del. Mungkin jalannya memang harus seperti ini. Kami juga tidak mungkin tutup mata dengan keadaanmu. Sebab janin yang ada di rahimmu juga bukan orang lain." Aku mencoba membesarkan hati perempuan muda itu. Bukan hanya aku dan Mas Adit yang terbebani. Adelia pun kurasa demikian juga, hamil tanpa suami adalah sebuah persoalan pelik yang menguras emosi. Meski ini jelas bertentangan dengan hatiku, juga berpotensi mengundang tanggapan miring dari kolega maupun orang orang yang mengensl kami berdua. Tetapi ini lah jalan yang paling terbaik. "Senangnya jadi Mbak Sa. Dokter tadi pun aku lihat sangat peduli dengan Mbak. Aku bisa lihat sinar kekaguman di matanya, Mbak." Tiba tiba Adelia membuat analisa yang terdengar lucu di telingaku. Tiba tiba ia menyinggung soal dokter Sean yang sama sekali jauh dari isi kepalaku saat ini. "Oh ya? Iyakah? Maksudnya sinar apa, Del? Di rumah sakit itu gudangnya dokter dokter dan perawat cantik, Del. Ngapain juga dokter setampan dia pake mengagumi mbak. Rasanya kurang masuk di akal kan?" Aku tertawa lebar. "Tapi hati itu kadang nggak selalu sejalan dengan logika, Mbak. Aku sangat yakin kok, dokter Sean itu ada perhatian khusus sama mbak." ia bersikeras. Entah dari mana dia bisa menarik kesimpulan seperti itu. Masa iya dokter setampan dan secemerlang itu kariernys, bisa menaruh perhatian pada wanita yang tak lagi muda belia sepertiku. "Ya udah, terserah apa katamu aja, Del. Gak ngaruh juga buat hidup mbak. Aku cuma cinta sama Mas Aditya seorang. Dan akan sangat tidak rela jika ada yang coba coba mengambil atau mengusik hubungan kami," tandasku sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan di depan sana. Aku sendiri sedikit kaget dengan kalimat yang baru saja terlontar dari bibirku. Mungkin itu hanya bentuk spontanitas belaka saja. Kalimatku barusan seolah kalimat bersayap. Aku sekaligus ingin mengingatkan pada Delia akan kedudukan kita masing masing masing. "Mas Adit hanya mau terlibat dengan urusan Mbak Sa saja kok. Mana mau digoda urusan orang lain." Adelia tiba tiba membuat pernyataan. Mendengar kalimat itu, hatiku mendadak biru. Ya, ternyata Mas Adit tipe lelaki yang tidak mudah ingkar janji. saat ia telah berkomitmen hanya akan mencintaiku seorang dan hanya menganggap ini semua adalah formalitas belaka, ia telah menepati Sudah hampir sebulan Adelia berada di rumah kami dan menjadi maduku, tetapi tidak sedikitpun kulihat interaksi yang berarti antara Mas Adit dengan Adelia. Mas Adit seolah membangun tembok pembatas untuk menghalangi interaksi yang terjadi antara mereka, dan itu membuatku sungguh terharu. Tak seperti kisah kisah poligami yang k****a dan kudengar, di mana kebanyakan yang berstatus istri tua rawan tersingkir dengan kehadiran wanita lain sebagai madu. Aku membelokkan mobil ke arah mall Lazetta, yang kebetulan ada di sisi kiri. Memarkir mobil dengan gerakan gesit. "Mbak mau belanja?" tanya Adelia sambil berlari kecil menjejeri langkahku. "Iya, beberapa skincare mbak sudah habis, Del. Sekalian mau carikan baju baju hamil yang cocok buat kamu. Gaun yang kamu pakai itu kurang nyaman untuk ibu hamil kayaknya." "Makasih banyak ya, Mbak. Aku berasa ketemu bidadari yang baik hati. Jika perempuan lain berada di posisi Mbak Sa, mungkin yang mereka lakukan adalah sebaliknya. Membuat fitnah fitnah dan manuver untuk menyingkirkan sang madu. Tetapi Mbak Sa amatlah berbeda. Entah bagaimana kelak aku akan membayar semua kebaikan. hati Mbak Sa ini," Ujar Delia dengan mata yang mulai berkaca kaca. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku menarik tangan Adelia menuju gerai fashion yang tak begitu ramai. Di gerai perlengkapan wanita itu, tersedia berbagai kebutuhan untuk kaum hawa. Begitu menginjak gerai tesebut, deretan gaun gaun dan baju indah, langsung terhampar. Aku langsung mewarning diri untuk ingat pada tujuan semula. Hanya mencari skincare dan baju hamil Adelia. Bukannya minggu lalu aku sudah membeli beberapa stel baju bahkan belum sempat kukenakan. "Del, apa yang tadi malam dikatakan sama mama di teras?" tanyaku dengan iseng saat kami sudah kembali melaju di jalan raya untuk menuju pulang ke rumah. "Ehmm ...." Delia hanya bergumam sembari menatap ragu padaku. "Ya. Ngomong aja, kita kan sahabat, berteman," ujarku sambil tersenyum. "Mama bilang nggak usah segan segan kalau mau minta tolong sama Mas Adit. Dan kata Mama aku boleh kok melayani kebutuhan Mas Adit misal bikinin teh atau nyiapin makan," jawab Adelia polos. Astaga, aku terheran heran dalam hati. sebegitu nian cara mama Widya dalam memberi doktrin pada Adelia demi menyingkirkan kedudukanku dari hati suamiku.... "Trus kamu jawab apa?" "Aku jawab iya, Ma. Tapi Mas Aditnya jutek mulu, gimana coba caranya biar bisa bikinin teh atau nyiapin makanan untuk dia," ketus Adelia sambil memonyongkan bibirnya. Aku tertawa, tampaknya Adelia memang gadis kekanakan yang polos. "Gimana sih Mas Aditya di mata kamu, Del?" tanyaku iseng sambil menghentikan mobil di lampu merah. Mata bulat itu mengerjab, memamerkan deretan giginya yang putih dan berjajar rapi. "Ganteng, badannya bagus, berwibawa. pokoknya lumayanlah lah. Andai sekarang inj Adel bukan siapa siapanya dia, pasti tetap jatuh cinta. Oh ya, Mas Adit sekilas juga mirip Kak Nanda." Adelia berkata dengan jelas. Seolah ia tengah membayangkan wujud dari sosok suamiku. "Tapi sayang, Mas Adit punya aku seorang, Del. Mbak nggak mau membaginya dengan perempuan lain." Kali ini aku bicara dengan serius. Kulirik ekspresi gadis belia itu, terlihat kaget dan kecewa. Aku tersenyum geli dalam hati. Apa dia beneran suka dengan suamiku? "Tapi kata Mama Shanty Mas Adit boleh kok poligami, Mbak. Karena Mas Adit kan lelaki sukses dan kepribadiannya juga oke," sambung Adelia tanpa terlihat jengah pada saat tatapan kami bertemu .... "Jadi kamu tipikal orang-orang yang sanggup menjadi yang kedua? Aku membulatkan mata. Ternyata jaman kini masih ada perempuan yang tidak tabu dijadikan yang berikutnya. Padahal, ia pasti generasi yang lebih milenial dibanding aku. "Kalau kepepet kenapa tidak, Mbak." Ia yang sekarang tertawa. Lalu kamipun tergelak bersama. Ternyata punya madu kadang tak sehoror dalam cerita, kok. "Tapi serius, Del. Aku tidak akan mengizinkan Mas Adit memiliki perempuan lain selain aku loh. Kalau sekadar guyon sih oke, tetapi jangan sampai kejadian." Aku berkata serius sambil menoleh ke arahnya sesaat. Wajah penuh tawa itu kini seolah kaget, ia tampak terkejut dengan kata kata yang pastinya tidak ia sangka. "Te--tenang, Mbak. Pernikahan aku dan Mas Adit cuma untuk menutup keadanku saja kan. Mana mungkin Mas Adit beneran mau sama aku," celetuknya dengan suara lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD