“Berikan detilnya padaku sekarang!” Langit bahkan belum benar-benar masuk ke ruangannya saat membuka mulut dan mulai mengeluarkan perintah pada Dio, kepala keamanan gedung perusahaannya.
Dio, pria berotot dengan tatapan datar itu berjalan mengikuti Langit. “Kami masih harus memeriksa beberapa detil. Kamu yakin tidak ingin melibatkan polisi dalam hal ini?”
Langit duduk di kursinya. “Tidak, sampai kita tahu apa yang terjadi aku lebih suka menangani masalah ini tanpa melibatkan hukum.”
Dio mengedikkan bahu. “Mungkin ini akan memberi kita petunjuk. Sayangnya, CCTV yang ada di sekitar lab telah diotak-atik yang berarti ini kebakaran yang disengaja.”
Senja terekesiap saat mendengarnya, tapi Langit sama sekali tidak terlihat terkejut yang berarti pria itu sudah menduganya. Senja menelan ludah. Kebakaran yang disengaja? Berarti ada target dan juga tujuan yang ingin mereka dapatkan bukan? Untuk apalagi orang melakukan pembakaran jika bukan untuk mendapatkan sesuatu? Apa ini karena peluncuran cologne yang sebentar lagi akan berlangsung?
Senja buru-buru membuka tablet komputernya, memeriksa jadwal Langit. Wajahnya berubah pias saat menatap tanggal yang tinggal menghitung hari sebelum akhirnya produk baru mereka di luncurkan.
Investor pasti tidak akan menyukai hal ini.
“Apa kita punya dugaan siapa yang melakukan ini?”
Ketenangan Langit membuat Senja heran. Bagaimana mungkin pria itu masih bisa bersikap tenang setelah apa yang terjadi? Jika semua rencana mereka gagal kerugian yang ditanggung oleh perusahaan tidak sedikit. Senja tahu kalau Langit telah berinvestasi sangat besar dalam proyek ini.
“Aku belum bisa mengatakannya untuk saat ini.”
Langit mengangguk. “Kalau begitu aku ingin ada perkembangan kurang dari 24 jam.” Setelah berkata seperti itu Langit berdiri dari kursinya.
“Senja kumpulkan semua orang yang terlibat dalam proyek ini di ruang rapat dalam waktu 30 menit.”
Tiga puluh menit? Senja tergagap hanya dengan membayangkannya.
“Ta-tapi….”
Sayangnya Langit sudah melenggang pergi tanpa memberi kesempatan pada Senja untuk bicara. Senja membuang napas kasar. Sepertinya mimpi buruknya baru saja dimulai. Senja berjalan ke meja kerjanya dan mulai menelepon orang-orang yang harus datang di rapat mendadak Langit.
Lima belas menit kemudian Senja selesai melakukan tugasnya, tepat ketika perutnya berbunyi karoncongan. Senja memegang perutnya, teringat kalau dia belum makan apa pun sejak tiba di kantor. Sayangnya sekarang tidak ada waktu untuk makan. Senja harus memastikan ruangan rapat dalam kondisi ‘ready’ untuk digunakan.
Senja masuk ke ruang meeting dan mulai menyiapkan semua keperluan rapat.
“Belum ada yang datang?”
Senja terkesiap. “Apa Bapak punya kebiasaan mengejutkan orang?”
Langit membuka jasnya dan duduk di kepala kursi. “Bukan salahku kalau kamu melamun.”
Senja mencibir, memutuskan untuk mengabaikan atasannya. Lewat ekor matanya Senja melihat Langit mulai sibuk dengan laptopnya, larut dalam pekerjaan yang pasti akan menguras otak semua orang hari ini.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Langit tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Senja menggerutu tanpa suara. Bagaimana pria itu selalu tahu?
“Mudah saja, aku punya insting dan biasanya instingku selalu benar. Koreksi, instingku selalu benar.”
“Mungkin kepala Bapak perlu diperiksa. Percaya diri itu bagus, tapi jika sudah over…” Senja mengangkat satu tangannya dan membuat gerakan seolah sedang menyingkirkan lalat. “Jatuhnya justru menjijikkan.”
“Kamu bilang apa?”
Senja buru-buru menggeleng. “Aku tidak mengatakan apa pun.”
Langit mengangkat kepalanya dengan alis terangkat. Mulut pria itu sudah setengah terbuka bertepatan dengan orang-orang yang mulai datang memasuki ruang meeting. Senja menatap satu persatu wajah yang masuk. Tidak satupun dari mereka yang kelihatannya tenang. Kebakaran ini membuat gelisah semua orang.
Kebakaran lab bukan masalah yang bisa dianggap enteng, terutama karena mereka melakukan pengujian laboratorium skincare sendiri.
Senja buru-buru menyingkir dan mengambil tempat duduknya sendiri. Dia mengeluarkan buku catatan dan juga penanya, siap melakukan tugasnya untuk mencatat bagian-bagian penting yang akan segera dibahas.
Langit mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Mata setajam elangnya memindai satu persatu bawahannya.
“Seperti yang sudah kalian semua tahu laboratorium kita kebakaran. Informasi baiknya, perusahaan kita memiliki teknologi canggih yang bisa mencegah kebakaran meluas dengan cepat,” ucap Langit dengan nada lambat. Matanya bergerak liar saat Langit kembali melanjutkan kalimatnya.
“Proyek La Rose adalah salah satu proyek prestisius yang sudah direncakana sejak beberapa tahun yang lalu yang berarti kendala kecil ini tidak akan membuat kita berhenti.”
Mendengar perkataan terakhir Langit, Leon yang menjabat sebagai direktur pemasaran membuka suara.
“Maksudmu kita tetap pada rencana awal?”
Langit mengangguk.
“Tentunya hal itu akan sangat sulit dilakukan setelah apa yang terjadi, Langit. Kita semua tahu laboratorium yang terbakar berdampak pada proses pengujian skincare yang sedang berjalan. Selain itu, berkas mengenai hasil uji lab ikut terbakar yang berarti bisa dikatakan kita memulai semuanya dari awal dan itu mungkin tidak sulit, tapi tetap saja kita membutuhkan waktu.”
Senja mengigit penanya saat menatap dua orang penting di perusahaan saling melemparkan pendapat. Desahan napas berat lolos dari bibirnya. Jika Lnagit sudha bersikeras tidak ada yang bisa menghentikannya.
Sepertinya rapat kali ini akan lebih panjang dari yang pernah dihadiri oleh Senja. Seolah mendukung pemikirannya perut Senja tiba-tiba berbunyi, mengejutkan semua orang yang ada di ruangan.
“Maaf,” bisik Senja yang setengah mati berusaha menahan malu. Senja sengaja tidak mau menatap Langit akrena tidak ingin melihat kecaman di wajah pria itu. senja menunduk dan pura-pura mencatat.
Sekarang Senja benar-benar berharap rapat kali ini berakhir jauh lebih cepat.
***
Senja menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya begitu rapat selesai. Kedua kakinya yang sudah tidak memakai sepatu sengaja diangkat ke atas mejanya. Senja luar biasa kelelahan. Dia bahkan yakin sudah tidak sanggup untuk sekedar berdiri mengambil air minum.
Sepasang mata cokelat terangnya kini memandang jam yang ada di dinding kantor. Ternyata sudah pukul 12 malam, batinnya terkejut. Senja mengusap tengkuknya. Ini hari kedua Senja ada di kantor tanpa pulang ke rumahnya.
Tenaganya benar-benar terkuras habis karena kebakaran itu.
“Ini.”
Senja mengerjap menatap kotak makanan yang tiba-tiba ada di atas mejanya. Aroma makanan yang menggoda indra penciumannya hampir membuat air liurnya menetes.
“Aku tahu kamu belum makan Senja. Makanlah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang.”
Senja belum lagi benar-benar mencerna apa yang terjadi saat Langit menghilang dari pandangannya.
Apa Langit baru saja menyiapkan makanan untuknya? Senja menelan ludah. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Senja memandang tempat di mana Langit sebelumnya berdiri. Aroma pria itu bahkan masih meninggalkan jejak, pikirnya muram.
Dan apa katanya tadi? Mengantarnya pulang?
BUK
Senja hampir melompat mendengar suara gedebuk dari atas mejanya.
“Aku tidak suka makan sendirian.”
Senja bengong saat Langit membuka kursi di depannya dan duduk di atasnya dengan santai.