Bab 4 - Utang Nenek

2288 Words
"Apes banget hari ini." Anaya meraba lututnya yang lecet, perutnya keroncongan, sementara dompetnya sudah kosong. Napasnya terengah, langkah kakinya makin berat. "Ya Allah, cepat dong sampai rumah ... aku udah nggak tahan lagi. Pegal banget ini." Gumamnya pelan. Tangannya terangkat, mengacak rambutnya sendiri. Gerakan resah itu justru menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Anaya pura-pura tak peduli. Ia menegakkan bahu, memasang wajah datar seperti topeng, lalu melangkah masuk ke kawasan perumahan dengan langkah kaku. Sebenarnya ada dua jalan menuju rumah. Satu lebih dekat, melewati pangkalan angkot. Yang satunya memutar sedikit lebih jauh, jalur yang biasanya ia pilih demi menghindari tatapan dan lidah tetangga. Namun hari ini tubuhnya menolak berkompromi. Jalan dekat terpaksa ia ambil, meski itu berarti bersiap menghadapi bisik-bisik yang sudah menunggu. Dan benar saja. Baru beberapa langkah, ia sudah menjadi tontonan. Beberapa pasang mata memandangnya dengan tatap sinis, seolah kehadirannya mencemari udara. Di depan sebuah kos putri, sekumpulan ibu muda yang semula larut dalam obrolan mereka tiba-tiba mengubah arah pembicaraan, suara mereka merendah namun cukup tajam untuk terasa. "Bukannya itu Anaya, ya? Yang ibunya-" Tanya seorang wanita berambut ikal, sengaja meninggikan suara. "Yang gantung diri itu, kan?" potong temannya cepat. Bibirnya melengkung tipis, matanya tajam tanpa sisa iba. "Iya." "Kenapa orang kayak gitu nggak pernah diusir sih dari sini?" wanita lainnya mendecak pelan. "Diusir juga percuma. Ibunya selalu teriak paling terzalimi. Ngerasa paling benar sendiri." potong si berambut pendek cepat. Ia menyipitkan mata, menatap Anaya dari ujung kepala sampai kaki. "Biasanya juga dia nggak pernah lewat sini. Dia nggak malu apa?" "Malu? Orang kayak gitu mana punya malu." Temannya yang lain terkekeh pelan. Tawa kecil menyusul. "Kenapa sih, nggak sekalian nyusul ibunya aja? Bapaknya juga udah mati, kan?" seseorang berujar enteng, Kata-kata itu meluncur begitu saja, ringan, seolah nyawa orang lain tak lebih dari bahan obrolan. "Ih, jijik." sahut wanita berambut ikal sambil memalingkan wajah. Tawa mereka meledak. Keras dan nyaring. Bahkan lebih bising daripada deru motor yang melintas di jalan. Anaya menunduk. Bukan karena kalah, melainkan karena lelah. Ia sudah hafal pemandangan itu, terlalu sering berdiri di posisi yang sama. Namun langkahnya sempat terhenti. Perlahan, ia menoleh. Pandangannya bertemu dengan wajah-wajah yang sejak tadi menjadikannya bahan olok-olok. Tak ada amarah di sana, hanya tatapan kosong yang kelelahan. Salah satu dari mereka menyeringai seolah sengaja menantangnya. "Apa lo lihat-lihat? Mau ngajak ribut, lo?" ucapnya ketus. Anaya tak menjawab. Ia memalingkan wajah, lalu melangkah pergi. Dadanya bergetar, tapi kakinya tetap membawa tubuhnya menjauh. Ia berjalan lurus tanpa menoleh lagi, membiarkan kata-kata itu tertinggal, hanyut seperti angin lalu. Saat akhirnya tiba di rumah, ia segera membuka pintu. Gerakannya terlalu cepat dan tanpa sengaja, daun pintu itu menghantam wajah adiknya. "Aduh!" Aldo meringis, buru-buru mengusap hidungnya. "Eh? Maaf. Aku nggak lihat kamu di belakang pintu." Anaya panik mendekat. "Lain kali hati-hati, dong. Sakit tahu." "Iya, maaf, Do. Sumpah nggak sengaja." Aldo menyipitkan mata, wajahnya mendekat dengan senyum nakal. "Kak, ternyata kamu jelek juga, ya." "Apaan sih? Kamu sendiri juga jelek. Sok-sokan ngatain orang." "Eits ... kata siapa aku jelek? Nih, ganteng begini." Aldo merapikan rambutnya sok gaya. "Ih, pede banget." Anaya mendengus, memutar bola mata. Aldo justru terkekeh puas. "Oh iya, Kak. Aku mau keluar bentar. Kamu bisa jaga rumah, kan?" "Emang Nenek kemana?" "Ke warung, ngambil duit dagang. Kayaknya sekalian ngobrol sama Mpok Idah, makanya belum balik." "Ya udah, pergi sana." "Lah? Ngusir nih?" Anaya mendorong tubuh adiknya hingga terdorong keluar pagar, lalu menutupnya begitu saja tanpa menoleh. Aldo berdiri terpaku di luar, menatap punggung kakaknya dengan wajah kebingungan. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, mencoba memahami sikap Anaya yang mendadak aneh. Tak lama berselang, ketukan keras menghantam pintu. Tok! Tok! Tok! Anaya membuka pintu perlahan. Seketika, wajahnya berubah. Terkejut. "Bu Endang? Ada perlu apa Bu?" "Oh, ternyata kamu. Nenekmu ada, Nak?" "Nenek lagi keluar, Bu." "Nenekmu keluar? Aduh, padahal saya mau ketemu sama beliau. Saya ada perlu dengannya." "Maaf Bu, kalau boleh tahu ada urusan apa, ya?" tanya Anaya dengan sopan. "Sebaiknya kita bicara di dalam saja." Lanjut Bu Endang. Anaya mempersilakan Bu Endang masuk ke dalam rumah. Ia segera menyuguhkan segelas teh hangat, meski tangannya sedikit berkeringat menahan cemas. Mereka duduk saling berhadapan. Udara terasa kikuk, seolah ada jarak tak kasatmata di antara mereka. Hening menggantung, hanya sesekali pecah oleh bunyi sendok yang beradu pelan dengan cangkir. "Bagaimana kabarmu, Anaya?" tanya Bu Endang dengan senyum ramah. "Baik, Bu," jawab Anaya singkat. "Ibu sendiri?" "Alhamdulillah." Bu Endang menghela napas panjang, seakan sedang memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikannya. "Kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya datang." Anaya mengangguk pelan. "Begini, Nak," lanjut Bu Endang, suaranya kini lebih hati-hati. "Nenekmu punya utang pada saya. Katanya akan dicicil awal bulan ini. Tapi sampai sekarang belum ada kabar." Hening. "Utang? Nenek ... berutang pada Ibu?" suara Anaya tercekat. Bu Endang mengangguk sebagai jawaban. Anaya menelan ludah. "Kalau ... kalau boleh tahu, berapa uang yang Nenek saya pinjam dari Ibu?" suaranya terdengar lebih lirih dari yang ia kira, Bu Endang terdiam sesaat, seolah menimbang. "Sebelas juta," jawabnya akhirnya. Anaya terdiam. Angka itu jatuh di kepalanya seperti petir di siang bolong. Tangannya bergetar di atas pangkuan, sementara pikirannya mendadak kosong, tak tahu harus berkata apa. "Anaya, saya boleh minta tolong ke kamu nggak?" Anaya terdiam, jari-jarinya bermain di pangkuan menunjukkan ketegangan. "Tolong kasih tahu Nenekmu, kalo saya ke sini, ya?" Anaya kembali terdiam, namun kepalanya manggut-manggut. Bu Endang hanya menepuk lututnya pelan sebelum pamit. "Baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu." Anaya mengantarnya sampai pintu, kepalanya penuh pertanyaan yang berdesakan. Setelah Bu Endang pergi, keheningan kembali mengambil alih rumah. Anaya duduk dengan gelisah, pikirannya berputar pada satu hal. Utang neneknya. Anaya menatap lantai, jemarinya saling mengait tanpa sadar. Angka sebelas juta terus berputar di kepalanya, terasa terlalu besar untuknya. Ia mencoba memecahnya, mengurai pelan-pelan, seolah dengan begitu beban di dadanya bisa ikut terurai. Donat dan risol yang mereka jual setiap hari tak pernah benar-benar memberi lebih. Hasilnya habis untuk belanja bahan, listrik, air, dan kebutuhan kecil yang tak pernah terasa kecil. Kadang habis dan kadang ada sisa. Anaya menghitung dalam diam, berapa keuntungan bersih sehari, berapa yang mungkin disisihkan. Bahkan jika dikumpulkan berbulan-bulan, angka itu tetap terasa jauh. Ia menghela napas, lalu kembali berpikir. Sebelas juta pasti bukan dipinjam sekaligus. Ia tahu itu. Neneknya bukan orang yang berani meminta banyak dalam sekali duduk. Pasti sedikit demi sedikit. Mungkin satu juta, lalu lima ratus ribu, lalu satu juta lagi. Tapi sejak kapan? Pertanyaan itu membuat dadanya mengencang. Anaya mencoba mengingat-ingat. Pikirannya mundur ke belakang. Apakah baru-baru ini? Apakah sudah lama? Atau justru utang itu memang sudah ada, bahkan sebelum kakeknya meninggal. Ia menelan ludah. Mungkin sejak lama. Jauh sebelum ia menyadarinya. Anaya bangkit, berjalan mondar-mandir tanpa arah, lalu kembali duduk. Kepalanya terasa penuh, tapi tak satu pun jawaban benar-benar utuh. Di tengah keheningan itu, ia mendengar suara langkah kaki dari luar. Ketukan terdengar di pintu. Anaya terdiam sejenak sebelum berdiri. Ia menghela napas panjang, seolah sudah tahu siapa yang berdiri di balik pintu itu, bahkan sebelum ia membukanya. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju pintu. "Loh kamu sudah pulang?" melihat Anaya menatapnya dengan lekat, membuat nenek tidak nyaman hingga secara tak sadar ia memalingkan wajahnya. "Nenek dari mana saja?" tanya Anaya hati-hati. "Kamu kalau ditanya ya dijawab dong, jangan malah balik nanya," sahut neneknya menghindar. "Iya Nek, aku sudah pulang dari tadi." Jawabnya singkat. Nenek berjalan pelan menaiki anak tangga sambil membawa bungkusan plastik berisi makanan ringan. Sesekali ia menepuk-nepuk lututnya yang sudah mulai renta, namun semangatnya tetap penuh saat hendak menemui cucu kesayangannya, Aldo. Sesampainya di depan kamar, ia mengetuk pintu dengan lembut. "Do, Aldo. Nenek bawain makanan, nih," panggilnya penuh sayang dari balik pintu. Tidak ada jawaban. Justru suara Anaya yang terdengar dari lantai bawah, berjalan ke lantai dua sambil memandang ke arah neneknya. "Aldo nggak ada, Nek. Katanya tadi keluar, ada urusan." Nenek mengernyit pelan. "Keluar? Ngapain, ya?" "Kurang tahu juga, Nek. Mungkin main ke rumah temannya," sahut Anaya, bahunya terangkat tanpa sadar. Nenek terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil. Tanpa banyak bicara, ia menuruni tangga. Anaya buru-buru mengikuti langkahnya. Nenek langsung menuju dapur, menyalakan keran untuk mencuci tangan. Suara gemericik air mengisi jeda hening di antara mereka. Anaya berdiri di ambang pintu dalam diam, memandang neneknya. Nenek membelakanginya, tangannya sibuk mengelap meja, menyusun piring, melakukan apa saja selain menatap cucunya. Dari belakang, Anaya masih ragu membuka mulut. Sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka topik. "Nek," panggil Anaya pelan. Tidak ada jawaban. "Tadi Bu Endang datang. Beliau nyari Nenek." lanjutnya, suaranya tetap dijaga rendah. Gerakan kain lap berhenti sejenak, lalu berlanjut lagi. Anaya memperhatikan punggung itu. Punggung yang terlihat tegang seolah jelas sedang menghindar. "Katanya ... Nenek punya utang?" Anaya ragu sepersekian detik, Hening. Terlalu lama untuk sebuah pertanyaan sederhana. Anaya menarik napas, lalu mengulanginya, kali ini lebih tegas namun tetap sopan. "Nek, aku nanya." Nenek akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, seperti orang yang dipaksa menghadapi sesuatu yang tidak ingin dibicarakan. "Iya. Terus kenapa?" katanya singkat. Anaya menelan ludah. Ia sudah tahu jawabannya, tapi tetap berharap mendengarnya dengan cara yang berbeda. "Utangnya ... berapa, Nek?" tanyanya hati-hati. Wajah Nenek mengeras. "Kenapa memangnya? Kamu nggak senang Nenek punya utang?" suara Nenek meninggi. Nenek mendengus kesal. "Atau sekarang kamu merasa disusahin sama Nenek?" Nada itu menusuk. Anaya menggeleng cepat. "Bukan begitu Nek. Aku cuma ... " katanya pelan. "Bu Endang datang ke sini. Beliau nanya Nenek ada di mana. Aku pikir, karena aku tinggal di rumah ini, aku berhak tahu." "Untuk apa kamu tahu? Itu urusan Nenek. Kamu jangan ikut campur." potong Nenek. Anaya terdiam sesaat. Jarinya saling meremas, tapi ia tetap berusaha tenang. "Gimana aku nggak ikut campur, Nek. Beliau datang ke rumah. Ke aku," katanya lirih. Ia mengangkat wajah, suaranya tetap rendah. "Aku juga ikut bantu selama ini. Jualan donat sama risol. Kadang juga ngajar les privat di sela kuliah. Uangnya aku simpan ... buat kalau sewaktu-waktu dibutuhkan." Nenek tertawa pendek. Bukan tawa senang. "Oh, jadi sekarang kamu merasa paling berjasa?" katanya sinis. Bahu Anaya menegang. "Aku nggak pernah bilang begitu." "Terus maksud kamu apa? Perhitungan sama Nenek?" suara Nenek meninggi. "Nenek sudah memberikan kalian segalanya. Kamu tahu berapa banyak penderitaan yang Nenek alami, cuma untuk memberikan kalian makan?" lanjutnya tajam. Tangannya menghantam meja. Gelas bergetar. "Kamu tahu nggak, yang ngurus kalian berdua itu siapa?" ulangnya keras. "Nenek yang ngurus. Nenek yang ngurus kalian. Kakekmu kerja, sibuk nyari uang. Kalau ada apa-apa di rumah, Nenek yang selalu pontang-panting ngurusin kalian. Apalagi sejak kakekmu nggak ada, Nenek yang sekarang harus bertanggung jawab sepenuhnya." Anaya tersentak. Dadanya sesak. "Aku nggak perhitungan, Nek. Aku justru berterima kasih. Sama almarhum kakek, sama Nenek. Nggak ada satu pun pikiran di kepalaku, merasa direpotkan." katanya dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca. "Tapi kalau memang kami ini menyusahkan ... kalau memang Nenek sebenarnya terbebani sama kami ... aku minta maaf, Nek." Kata-kata itu jatuh keras, memecah sesuatu di dalam diri Anaya. Air mata akhirnya luruh, tak mampu lagi ia tahan. Ia mengusap wajahnya dengan tangan gemetar. "Ini salah aku. Harusnya aku nggak kuliah. Harusnya aku kerja aja. Kalau aku nggak ambil beasiswa itu, mungkin Nenek nggak perlu utang," "Anaya ..." Suara itu tak lagi keras. Nenek meraih tangan Anaya. Jemarinya dingin, bergetar. "Jangan bicara begitu ... Nenek nggak pernah anggap kamu beban." katanya pecah. Air mata mengalir di wajahnya. "Kuliahmu itu hal terbaik yang kamu lakukan. Nenek bangga. Bangga sekali." lanjutnya lirih. Ia menggenggam tangan Anaya lebih erat. "Nenek cuma malu. Nenek nggak mau kamu mikir kamu harus menanggung semuanya." Nenek menarik napas panjang. "Orang tuamu pasti bangga sama kamu dan Aldo." Ia mengusap tangan cucunya pelan. "Maafin Nenek, ya?" Anaya mengangguk kecil, tapi air matanya justru jatuh semakin deras. Dadanya terasa sesak. Ia menarik tangannya perlahan, mundur setapak, memberi jarak. Bukan karena marah, ia hanya butuh ruang. Sentuhan itu terlalu berat untuk ia terima sekarang. Ia mengusap wajahnya cepat-cepat, seolah bisa menghapus semuanya sekaligus. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, Anaya berbalik meninggalkan dapur. Langkahnya pelan, tapi pasti. Ia melewati ruang tengah, meraih gagang pintu, dan keluar dari rumah. Udara di luar terasa lebih lega, meski hatinya tetap berat. Anaya berdiri di teras beberapa detik, menenangkan napasnya, lalu melangkah menuju pagar. Ia hanya ingin menjauh sebentar. Jika ia tetap di dalam rumah, ia tahu pikirannya akan semakin kacau. Tangannya baru saja menyentuh pagar ketika sebuah suara memanggilnya. "Kak?" Anaya menoleh. Aldo berdiri tak jauh darinya. Wajahnya berubah saat melihat mata kakaknya yang merah. "Kak, kenapa? Kok kakak nangis?" Aldo mendekat cepat. Anaya tersenyum. Senyum kecil yang dipaksakan, tapi tetap lembut. "Nggak apa-apa. Kakak baik-baik aja." katanya pelan. "Tapi kakak nangis. Ada masalah, ya?" Aldo mengernyit, suaranya cemas. Anaya menggeleng. Ia mengusap kepala adiknya pelan. "Nggak ada, Do. Kakak cuma mau keluar sebentar." "Mau ke mana? Aku temenin ya?" Aldo bertanya cepat. "Nggak usah, Do. Kamu di rumah aja, temani Nenek." Jawab Anaya lembut. Aldo ragu, tapi akhirnya mengangguk kecil. Ia berdiri diam, menatap punggung kakaknya yang menjauh perlahan. Ada rasa sedih yang ikut mengendap di dadanya, meski ia tak benar-benar mengerti alasannya. Setelah Anaya menghilang di ujung jalan, Aldo berbalik masuk ke rumah. "Nek, aku ketemu Kak Anaya di luar. Kenapa Kakak nangis?" Tanyanya pelan. Nenek terdiam. Tangannya berhenti di atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke Aldo dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Nggak apa-apa, Do. Kakakmu mungkin cuma capek." katanya akhirnya. Aldo menatap neneknya, masih terlihat khawatir, tapi tidak bertanya lagi. Di dalam hati, Aldo sebenarnya tahu, bukan itu jawabannya. Sedangkan nenek tetap diam, tidak menjelaskan lebih banyak. Karena ada hal-hal yang terlalu berat untuk dijelaskan pada anak seusia Aldo. Dan untuk sementara, lebih baik disimpan sendiri. *** Sementara itu, di bangku taman, Anaya terduduk lemas. Kepalanya menunduk, jemarinya meremas celana panjangnya. "Kalau saja aku punya penghasilan tambahan ... nenek pasti nggak akan berutang begini." Matanya basah, tapi tekadnya mengeras. Namun kembali patah karena keraguannya sendiri. "Tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan pekerjaan tambahan?" gumamnya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD