Bab 1 - Mimpi Buruk

2214 Words
Ada masa ketika cinta belum kehilangan kelembutannya. Ketika segalanya masih terasa mungkin, sebelum hidup mulai menuntut harga dari setiap pilihan. Bagaimana jika hidup yang kamu jalani sekarang adalah harga dari sebuah keyakinan, bahwa takdir yang mempertemukan dua tangan juga yang kelak melepaskannya? Mungkin kamu percaya, dengan sedikit perjuangan, takdirmu akan berubah. Namun kenyataannya, tidak semua hidup diciptakan untuk dimenangkan. Beberapa hanya menuntut untuk dipahami. Sebagian lagi, untuk direlakan. Dan tak seorang pun benar-benar tahu mana yang harus diperjuangkan, sebelum tiba di akhir. ❦ "Kira-kira, ibu masak apa ya di rumah?" gumam seorang gadis kecil, dipenuhi rasa tak sabar untuk segera pulang. Sekolah dasar negeri itu berdiri sederhana. Cat dindingnya memudar dimakan waktu, namun di dalamnya hidup oleh suara anak-anak. Tawa-tawa kecil berloncatan, langkah kaki berkejaran, panggilan saling bersahut tanpa tujuan. Segalanya terasa akrab seperti hari-hari yang lain. Di luar gerbang, jalanan Jakarta bergerak perlahan. Mobil-mobil jadul melintas tanpa tergesa, sementara metromini usang menggeram sebentar sebelum kembali melaju. Klakson sesekali terdengar, namun tidak benar-benar mengganggu. Tak ada yang tampak ganjil hari itu. Tak satu pun menyangka, bahwa di antara riuh yang biasa saja, takdir diam-diam sedang menyiapkan kejutannya. Bel sekolah berbunyi. Suara nyaring itu memecah sisa konsentrasi di dalam kelas. Kursi-kursi kayu berderit ketika anak-anak berdiri hampir bersamaan. Seorang wali kelas melangkah ke depan, mengatupkan kedua tangannya. "Anak-anak," ucapnya. "Ya, Bu." Jawab murid-murid serempak, sebagian sudah tak sabar. "Pelajaran hari ini sampai di sini. Kalian boleh pulang," lanjutnya, disusul senyum tipis. "Sebelum pulang, alangkah baiknya kita berdoa dulu." Semua anak menundukkan kepala, doa-doa lirih mengisi ruang kelas. Saat doa usai dan bangku-bangku mulai berderak, perhatian perlahan tertuju ke sudut dekat jendela. Di sana, seorang anak perempuan berambut pendek bernama Anaya tengah merapikan bukunya. Ia memasukkan satu per satu ke dalam tas berwarna merah muda yang sudah agak kusam. Gerakannya tidak tergesa, seolah ia tak punya alasan untuk buru-buru. Di depan pintu kelas, anak-anak berbaris singkat, bersalaman dengan wali kelas mereka. Satu per satu mendapat ucapan yang sama. "Hati-hati di jalan, ya." Ketika gilirannya tiba, ia mengulurkan tangan kecilnya. Wali kelas menatapnya sebentar, lalu tersenyum. Senyum yang sopan, tapi berhenti di situ. Tidak ada kalimat tambahan. Tidak ada pesan pulang dengan hati-hati. Dan ia hanya bisa tersenyum seusai bersalaman. Di luar gerbang sekolah, suasana terasa lebih riuh. Beberapa orang tua berdiri sambil mengipas-ngipas wajah, sebagian lain sudah menggandeng anak mereka pulang lebih dulu. Anaya menatap sekilas ke sekeliling. Satu per satu temannya pergi. Ada yang berlari kecil ke arah ibunya, ada yang langsung naik ke motor ayahnya. Tawa mereka memudar seiring jarak. Dan Anaya masih berdiri di tempat yang sama. Lima menit berlalu. Anaya melirik ke ujung jalan, berharap melihat sosok yang dikenalnya. Tidak ada. Sepuluh menit. Ia menggenggam tali tasnya lebih erat. Kenapa ibu belum datang, ya? Apa ibu lupa lagi? Pikiran itu muncul begitu saja. Ia mencoba menepisnya, meyakinkan diri bahwa ibunya pasti sebentar lagi tiba. Namun halaman sekolah perlahan sepi. Suara riuh mereda, penjual jajanan mulai membereskan dagangan. Matahari terasa semakin dekat di kepala kecilnya. Anaya menelan ludah. Ia kembali menoleh ke jalan. Tetap kosong. Akhirnya, ia melangkah menjauh dari gerbang. Anaya memutuskan pulang sendiri, berjalan kaki. Membiarkan panas matahari menyentuh kulit lengannya. Ia tidak mengeluh. Tidak menangis. Anak seusianya jarang tahu bagaimana cara mengeluh dengan benar. Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa mengendap. Bukan marah. Lebih seperti kecewa yang belum punya nama. Ibu sebenarnya sayang aku nggak sih? Pertanyaan itu datang diam-diam, lalu menetap. Anaya berjalan terus, menyusuri jalan yang sudah dikenalnya sejak lama. Tapi bahkan di dunia yang sederhana, seorang anak tetap bisa merasa sendirian. Cukup lama untuknya sampai di perumahan tempat tinggalnya. Namun belum jauh ia melangkah, banyak tatapan mengarah padanya. Seorang tetangga yang berdiri di depan rumahnya berhenti menyapu, menoleh, lalu menatapnya dengan sorot yang tidak ramah. Beberapa anak yang sedang bermain kelereng di pinggir jalan pun mendadak ditarik oleh ibu mereka. "Ayo masuk." suara itu terdengar pelan namun cukup didengarnya. Anak-anak itu menurut, meninggalkan kelereng mereka begitu saja. Pintu-pintu rumah yang tadinya terbuka perlahan tertutup satu per satu. Anaya menundukkan kepala, menggenggam tali tasnya lebih erat. Panas jalanan dan keringat tadi tidak lagi terasa, yang terasa hanyalah berat di dadanya. Beberapa tatapan itu membuatnya bingung. Ia tidak pernah mengerti, mengapa orang-orang memperlakukannya begitu. Seakan ia telah melakukan sesuatu yang salah padahal hanya pulang dari sekolah. "Ah, biarlah," gumamnya. Terus berjalan, melewati rumah-rumah yang kini tampak familiar. Wajahnya datar, seolah ia sudah terbiasa. Seolah hal-hal seperti ini bukan lagi sesuatu yang perlu dipertanyakan. Rumahnya sudah terlihat dari kejauhan. Bangunan dua lantai dengan halaman cukup luas. Pagar besi mengelilinginya, pohon rambutan berdiri di sisi halaman, daunnya rimbun. Anaya berhenti sejenak, memandang rumahnya lagi. Dan entah mengapa, ada tekanan yang makin kuat, menyesakkan dadanya. Tangannya menyentuh pagar. Besinya dingin. Perasaannya semakin tidak karuan. Dengan dorongan pelan, pagar itu terbuka, mengeluarkan bunyi lirih yang terdengar terlalu keras di telinganya. Ia melangkah masuk menuju pintu depan. Tangannya terangkat, mengetuk pelan. Tok! Tok! Tok! Tidak ada jawaban. Ia menunggu sebentar, lalu mengetuk lagi. Lebih pelan. Tetap tidak ada suara. Akhirnya, ia memutar gagang pintu. Gelap menyambutnya. Lampu-lampu tidak dinyalakan, tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki, dan yang paling terasa, tidak ada aroma masakan ibunya. Biasanya, begitu ia masuk, bau nasi hangat atau tumisan sederhana akan menyambutnya. Hari itu, tidak ada apa-apa. Hanya bau rumah yang dingin dan hampa. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Assalamualaikum, Bu, aku pulang." suaranya kecil. Sekali lagi tidak ada jawaban. Anak itu melangkah masuk lebih dalam. Menaruh tasnya di atas sofa. Jantungnya berdetak semakin cepat. "Ibu, aku pulang!" Panggilnya lagi. Tetap tidak ada jawaban. Ia berhenti di tengah ruang tamu, lalu menoleh ke arah tangga. Memandang ke atas. Tidak ada cahaya yang terlihat dari lantai dua. Pelan-pelan, ia mulai menaiki tangga. Setiap satu pijakan terasa berat, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk tidak naik. Tangannya mulai berkeringat, menyentuh pegangan tangga seolah itu satu-satunya penopang. Sampai di lantai dua, ia berhenti. Lorong sempit menyambutnya. Gelap. Terlalu gelap. Dadanya terasa semakin tertekan. Seakan hatinya memberitahu bahwa ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya, meski belum tahu apa. Ia membuka pintu ruangan pertama. Kamarnya sendiri. Kasur satu orang, meja belajar kecil, lemari, dan boneka-boneka yang tertata rapi. Semua ada di tempatnya. Namun ada yang aneh. Udara di kamar itu terasa lebih pengap. "Ibu?" panggilnya lagi, lebih pelan. Tidak ada siapa-siapa di sana selain kegelapan. Ia keluar kamar dan melangkah menyusuri lorong. Langkahnya hampir tak bersuara. Lorong itu entah kenapa terasa lebih panjang. Ia berhenti di depan kamar orang tuanya lalu mengetuk pintu. "Ibu? Ibu di dalam?" suaranya bergetar. Ia menunggu beberapa detik, lalu menarik napas pendek. "Ibu ... aku masuk, ya." Pintu itu dibukanya perlahan. Belum terbuka sepenuhnya, hidungnya langsung menangkap aroma yang aneh. Bau yang asing, menusuk, dan membuat perutnya mual. Bau yang tidak bisa ia jelaskan, tapi cukup untuk membuat tubuhnya menegang. Kamar itu gelap. Matanya berkedip perlahan. Ia melangkah masuk satu langkah, lalu berjinjit, meraih saklar lampu. Klik. Tubuhnya membeku. Napasnya berhenti di tengah-tengah tarikan. Perlahan, sangat perlahan, kepalanya terangkat. Dan di sana Ibunya. Tubuh itu tergantung. Tali melilit lehernya, menahan berat badan yang sudah tak lagi bernyawa. Wajahnya pucat, hampir keabu-abuan. Mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu yang tak pernah sempat keluar. Matanya memutih ke atas, menatap kosong ke arah dinding. Raut wajahnya tampak membeku. Seolah jasad itu menangisi keadaannya sendiri. Anaya tidak bergerak. Ia berdiri di ambang pintu, terdiam. Dan pada detik itu kesadarannya terasa terlepas, meninggalkan raganya sendirian dalam kesunyian. Matanya bergetar, pupilnya berdenyut tak terkendali, tapi ia tidak berkedip. Pandangannya terkunci pada satu titik yang terlalu besar untuk dipahami, terlalu mengerikan untuk diterima. Suara tercekat di tenggorokannya. Ia mencoba menarik napas, tapi tubuhnya lupa caranya. Jantungnya berdegup keras, terlalu keras, memukul-mukul dari dalam. Ia tidak menangis. Belum. Beberapa detik berlalu, dan dunia seolah berhenti bergerak. Ia berjuang untuk mendapatkan napasnya kembali, hingga kemudian. "Ibu!!!" teriaknya, histeris. Tubuhnya gemetar saat ia melangkah mendekat, mencoba meraih sosok ibunya yang tergantung. Tangannya terangkat, berusaha untuk melompat, tapi tak pernah benar-benar sampai. Air mata membanjiri pipinya. Napasnya tersendat, lalu berhenti di tengah-tengah tarikan. Dadanya terasa kaku, seolah udara tak lagi tahu jalan masuk. Pandangannya mengabur, dinding kamar tampak berputar perlahan, semakin menjauh dari pusat pandangnya. Kepalanya terasa berat, tubuhnya oleng. Lututnya hampir menyerah, tapi tangannya reflek meraih meja rias di dekatnya. Jemarinya mencengkeram tepinya kuat-kuat, seakan benda itu satu-satunya yang menahannya tetap berdiri. Dengan napas tersengal, ia menuruni tangga. Langkahnya goyah, tapi ketakutan membuatnya terus bergerak. Di luar rumah, halaman tampak sama seperti biasanya, tapi dunia seakan berhenti. Anaya berlari ke rumah sebelah, seragam putih-merahnya basah oleh air mata. Suaranya pecah, berulang kali memanggil. "Tolong ... tolong ... Ibuku ... meninggal di dalam! Tolong aku!" Suaranya pecah. Tetapi begitu ia mendekati rumah sebelah, pintu ditutup rapat. Hordeng ditarik dari dalam. Melihat itu, tubuh Anaya seketika membeku. Seakan tidak percaya, akan reaksi dingin dari tetangganya. Ia menunduk sebentar, lalu berlari lagi, mengetuk rumah-rumah lain dengan panik. Namun tak satu pun menjawab. Bahkan gonggongan anjing tetangga pun berhenti, seakan ikut menutup telinga. Anaya tak kuasa menahan rasa sakit itu. Tubuhnya gemetar lalu menunduk, berlari kembali ke rumahnya sendiri. Rumah itu masih gelap. Ia tersandung saat menapaki tangga, membuat lututnya lecet. Tapi ia tak peduli. Ia tetap memaksa diri naik dengan tertatih-tatih. Begitu sampai, ia langsung kembali ke kamar orang tuanya. Mencari sesuatu. Tubuh ibunya masih tergantung kaku di sana. Dengan tangan yang bergetar, ia membuka laci meja rias, meraba-raba di antara kertas dan alat rias yang berserakan. Hingga akhirnya, secarik kertas dengan nomor ayahnya terselip di antara tumpukan. Anaya bergegas turun ke bawah, menyalakan lampu, dan langsung menuju telepon rumah di meja samping sofa. Jemarinya gemetar, nyaris menjatuhkan gagang telepon. Segera, ia mengangkat gagangnya dan menelpon ayahnya dengan tangan gemetar. "Halo?" suara ayahnya terdengar dari seberang telepon. "Halo A-yah ..." jawabnya sambil terisak, suaranya nyaris tak terdengar. "Anaya? Ada apa, sayang? Apa kamu menangis?" "A-ayah ... c-cepat pulang ... I-ibu ... Ibu telah meninggal ...." ujarnya terbata-bata. "APA?!" Ayahnya terkejut dan langsung bergegas pulang. Anaya menunggu dalam keadaan pucat, tubuhnya tak lagi mampu berdiri tegak. Ia sendirian di rumah itu. Berhadapan dengan mimpi terburuk yang kini menjadi nyata. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan bayangan ibunya muncul sebentar. Senyum hangat yang selalu menyambutnya, pelukan yang terasa aman, aroma tubuh yang ia kenal, dan masakan sederhananya. Kenangan-kenangan itu singgah sebentar, meninggalkan senyum pahit di bibirnya. Impian melihat laut bersama ibunya kini tinggal angan yang tak akan pernah terwujud. "Ibu ... mengapa ibu meninggalkanku? Apakah aku tak pernah menuruti ibu? Aku minta maaf, ibu. Aku akan menjadi anak yang penurut. Aku janji, aku tak akan nakal lagi. Tolong ibu, kembalilah ... jangan tinggalkan aku." Anaya berdoa dengan suara yang nyaris tak terdengar. Air mata jatuh tanpa henti, membasahi pipinya. Bibirnya gemetar, mengucap doa yang sama berulang kali. Tubuhnya meringkuk, memeluk lututnya erat. "Ya Allah ... jangan ambil ibu. Kumohon, tolong kembalikan ibu padaku." Namun doa tak mengubah kenyataan. Ibunya tak akan pernah kembali. Tidak lama kemudian, suara mobil terdengar dari halaman. Deru mesin bercampur suara ban yang mengerem mendadak membuat jantung Anaya semakin berdegup. Itu pasti Ayah. batinnya. Ayahnya masuk. Wajahnya tampak cemas dan tak menentu. "Apa yang terjadi, Anaya?" "A-ku ... aku baru pulang. Dan melihat ibu telah meninggal." jawabnya gemetar. "Apa? Kenapa bisa begitu?" Ayahnya melangkah mendekat, menatapnya tanpa berkedip. "Kenapa kau membiarkan ibumu meninggal? Apa kamu tak menyayangi kami? Kau anak yang tak berguna. Kau anak pembawa sial. Ini semua karena dirimu, Anaya!" Setiap kata jatuh pelan, namun menghantam. d**a Anaya terasa sesak, napasnya tercekat. Perlahan kakinya melangkah mundur. Ia menutup telinga lalu memejamkan matanya. Dalam diam itu, ia hanya bisa berharap semuanya hanyalah mimpi. *** Beep! Beep! Anaya tersentak. Suara alarm memecah kesunyian kamar, membuatnya terbangun dari tidur. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin meloncat keluar dari dadanya. Tubuhnya gemetar hebat dan keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. Ia meraih alarm dan mematikannya dengan tangan gemetar. Kepalanya terasa berat, nyeri menekan dari dalam. Ingatan tentang mimpi itu belum sepenuhnya luruh. Bayangan ibunya yang tergantung masih membayang di ujung benaknya. Dengan susah payah, Anaya memaksa dirinya duduk di ranjang. Kakinya lemas, seperti kehilangan fungsi. Ia mengusap wajahnya, mencoba mengatur kembali napasnya yang masih tersendat. Pagi telah hadir di kamar itu. Cahaya mentari menembus tirai tipis, menyinari ruang dengan keheningan yang nyata. Namun bagi Anaya, kenyataan belum sepenuhnya menggantikan mimpi. "Ini ... cuma mimpi," gumamnya, nyaris tak bersuara. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Sekali. Dua kali. Detak jam weker terdengar jelas, teratur, seolah mengingatkannya bahwa waktu tetap berjalan. Namun rasa takut itu tidak serta-merta pergi. Anaya menunduk, menatap selimut di pangkuannya. Hening pagi justru terasa menekan, membuat pikirannya kembali melayang. Ia membuka mata dengan tarikan napas kasar. Jantungnya berdegup cepat, terlalu cepat. Ruangan tetap sama. Hening dan tenang. Tetapi pikirannya tidak. "Mengapa mimpi itu lagi?" bisiknya. Ia meremas sprei di bawah jarinya, mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang. Pelipisnya dingin oleh keringat. Pandangannya menyapu sekeliling kamar, memastikan ia benar-benar sendirian. Perlahan, Anaya memeluk tubuhnya sendiri. Ia bertahan di sana, pada detak jantungnya sendiri, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia percayai. "Aku tak ingin mengingatnya," bisiknya, nyaris tak terdengar. "Tolong ... keluarlah dari kepalaku." Ia tahu, tak ada yang bisa mengubah apa yang ia lihat di mimpi itu. Ibunya tak akan kembali. Dan kenyataan itu terasa lebih menakutkan daripada mimpi buruk mana pun. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha, kenangan itu akan tetap mengikutinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD