Praang!!!
Farhat melempar gelas ke arah Zeva, syukurnya gelas itu tak mengenai Zeva malah membentur dinding hingga membuat pecahannya berserakan kemana-mana. Bahkan serpihan kaca menggores pipi Zeva yang berdiri memang tak jauh dari dinding.
"Berani kau menentang ku! kau mau ku usir beserta Mama mu yang tak berguna itu dari rumah ini Ha..." bentak Farhat.
Zeva menelan salivanya dan tertunduk sambil menyembunyikan tangan yang mengepal di balik tubuhnya.
"Ti-dak Kakek!" jawab Zeva dengan suara yang bergetar.
"Bagus! kau harus menuruti semua perintah ku, kau dan Mama mu sudah membuatku kehilangan Putraku yang begitu berharga, sekarang kau harus bertanggung jawab dengan menuruti semua perintah ku!" tegas Farhat melotot ke arah Zeva.
Zeva mengangguk.
"Keluar dari ruangan ku!" usir pria tua itu.
Zeva keluar dari ruang kerja sang Kakek dan langsung bergegas menuju kamarnya.
Seperti biasa, setelah keluar dari ruang kerja sang Kakek dia akan kembali bersikap seperti biasanya, tenang dan tampak kuat, walaupun sebenarnya hatinya sedang sakit dan hancur.
Sesampainya di kamar, Zeva langsung membuka jas lalu melepas kemeja dan membuangnya ke sembarang arah.
Zeva berdiri di depan cermin, menatap refleksinya dengan mata yang sunyi. Kulitnya yang seharusnya mulus dan bercahaya kini tercabik-cabik oleh luka-luka yang meninggalkan bekas yang dalam. Punggungnya yang kuat dan tegap kini dipenuhi oleh luka-luka sulut rokok yang membentuk pola-pola aneh, seperti peta suatu wilayah yang tidak terjamah.
Perutnya yang rata dan keras terlihat berkerut, akibat luka-luka cambuk yang menghujam kulitnya seperti ribuan jarum yang tajam. Luka-luka itu membentuk garis-garis merah yang terang, seperti jejak-jejak darah yang mengalir dari tubuhnya.
Wajahnya yang tampan dan bercahaya terlihat pucat dan lelah, seperti bulan yang terbenam di ufuk barat. Matanya yang hitam dan dalam terlihat kusam dan sunyi, seperti laut yang tenang di pagi hari.
Zeva menghela napas dalam-dalam, merasakan sakit yang menusuk-nusuk di seluruh tubuhnya. Ia merasa seperti telah melewati neraka, dan kembali ke dunia dengan membawa luka-luka yang tidak akan pernah sembuh.
Setelah melihat bekas-bekas luka di tubuhnya akibat kekejaman sang Kakek sejak ia kecil, Zeva meringis sambil menyeka darah yang keluar dari pipinya dengan ibu jempolnya akibat serpihan kaca yang melayang karena perbuatan Farhat yang melemparkan gelas tanpa memikirkan keselamatan cucu satu-satunya.
"Aku sudah terbiasa kau siksa seperti ini Kek, kalau bukan karena bujukan Mama, sudah lama aku menghabisi mu sama seperti Putra mu yang b******k, yang selalu menyiksa dan memukuli Mamaku, aku hanya perlu bertahan sampai sampah itu mati, syukurlah malam itu aku menemukan sebuah catatan yang berisi riwayat kesehatan pria tua itu yang ternyata mengidap Kanker prostat stadium 3, mungkin saja umurnya tidak akan lama lagi dan saat ia tak lagi mampu bertahan dan mati saat itu pula aku bisa memiliki semua kekayaan ini," ujar Zeva.
Meskipun mulutnya mengatakan hal kejam itu, sebenarnya isi hatinya selalu bertentangan dengan apa yang ia ucapkan.
Zeva, seorang anak dan cucu yang selama ini di sebut-sebut Putra mahkota Hazmi Finansial Group atau yang biasa di kenal dengan HFG. Semua orang mengira hidup pria tampan tanpa cela itu selalu sempurna, nyatanya kenyataan pahit yang harus Zeva alami setiap hari berupa kekerasan fisik maupun verbal yang selalu ia alami dari sang Kakek yang membencinya namun tak bisa membuangnya karena hanya Zeva satu-satunya Pewaris yang tersisa. Pewaris yang memiliki darah yang sama dengannya.
Papa Zeva, Faqih El Hazmi adalah seorang pria yang selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga terutama pada sang istri yaitu Mama Zeva.
Pada malam itu dimana hujan sedang deras bahkan langit pun terus menerus seperti terbelah karena kilatan-kilatan petir. Faqih yang sedang mabuk terus memukuli istrinya sampai babak belur di lantai 2, malam itu Zeva yang sudah berusia 12 tahun keluar dari kamar karena ingin mengambil air minum, ia terkejut saat melihat sang Papa yang terus memukul sang Mama tanpa ampun.
Karena panik dan refleks, Zeva tak sengaja mendorong sang Papa hingga pria itu terjatuh ke lantai 1 dan membuatnya langsung meregang nyawa di tempat.
Berkat CCTV, Farhat mengetahui dalang yang menyebabkan Putra satu-satunya meregang nyawa yaitu karena ulah cucunya Zeva, sejak saat itu ia membenci Zeva tapi tak bisa membuang anak itu. Farhat bahkan tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Polisi penyebab kematian putra kesayangannya. Ia sendiri yang membuat pernyataan pada Polisi bahwa kematian Faqih akibat kecelakaan tunggal. Farhat menyabotase kecelakaan Faqih yang seakan-akan karena pria paruh baya itu jatuh akibat kecerobohannya sendiri.
Namun sejak saat itu, ia selalu semena-mena pada Zeva dengan dalih akan melaporkan Zeva dan Mamanya ke Polisi bila tak menuruti perintahnya. Farhat juga sering mengancam Zeva bahwa semua aset akan ia alihkan pada Adiknya bila Zeva tak menuruti keinginannya.
"Sial!" teriak Zeva hingga suaranya menggema di dalam kamar. Syukurnya kamar itu kedap suara hingga sang Mama yang tidur di kamar sebelah tak mendengar teriakan Zeva yang seperti lolongan serigala yang kesakitan.
Matanya berkaca-kaca dan ia membaringkan tubuhnya yang polos ke atas ranjang.
Kalau bukan rasa cintanya pada sang Mama yang begitu besar, mungkin ia tak akan bertahan sampai sejauh ini. Apalagi wajahnya yang begitu mirip dengan almarhum Papanya terkadang membuatnya takut sang Mama masih merasakan trauma saat melihat dirinya.
"Kenapa hidupku harus seperti ini? kenapa aku lahir dari keluarga keturunan iblis ini!" pekiknya meremas seprei berwarna putih itu.
Zeva tiba-tiba bangkit dari ranjang dan ia teringat dengan perintah terakhir sang Kakek tadi "Sekarang aku harus menikahi wanita dari Keluarga Altezza, aku tahu wanita itu karena aku sering beradu argumen dengannya saat kami sedang memperebutkan Klien ataupun proyek," gumam Zeva.
Zeva membulatkan kedua matanya "Kalau tidak salah nama wanita itu adalah Se-Sel-Selina!"
Zeva langsung bangkit dari ranjang, ia mondar-mandir layaknya setrika.
Pria itu terus memainkan jemarinya mengingat perintah sang Kakek untuk menikahi wanita dari Perusahaan yang selama ini bersaing dengan mereka.
Zeva bahkan tak habis pikir dengan pola pikir Farhat yang begitu licik hanya untuk merebut Perusahaan orang lain yang berada di ujung tanduk.
"Sebaiknya aku nikahi saja wanita itu, setelah itu aku lakukan saja semua perintah Kakek tua itu, tapi aku harus bisa mengulur waktu sampai Kakek tua itu mati, dan aku bisa membebaskan wanita dan keluarganya dari belenggu Kakek ku yang jahat," ujar Zeva.
Zeva tidak ingin merebut milik orang lain dengan cara licik dan picik.