Telat Pulang

1456 Words
Ribka dan laki-laki bersarung tadi tercengang melihat Jacob yang berparas lugu, tiba-tiba saja berbicara dengan nada tinggi. Jacob meraih botol minuman Ribka lagi, dan meminumnya sampai habis. Terlihat tetes-tetes air yang membasahi dagu dan jakun Jacob malam itu. Ribka dan laki-laki bersarung yang ada di situ hanya bisa mematung. “Ahhhh, segarnya… GLEK!” ucap Jacob setelah perutnya kenyang nyomot air minumnya Ribka. “L… L… Lo gak apa-apa, kan?” tanya Ribka yang diselimuti rasa deg-degan. “Lo jahat Rib!” Jacob membentak lagi. Tuh kan benar, Jacob membuat jantung Ribka berdebar. “Em.. emm…” Ribka pun menyadari perbuatannya. Tapi kan kalau dipikir-pikir, mereka berdua itu sama-sama salah, lho! “Lo nyadar sama perbuatan lo, gak?” Jacob mengulang. Ribka mengangguk, “Iya, gue waktu jalan gak lihat ke depan, malah asyik nontonin video Tok Tok di hape gue!” Ribka menunduk, mengatakan sejujurnya dengan nada lirih. “Udah, itu aja kesalahan lo?” balas Jacob tidak puas, tergambar dari keningnya yang mengerut. “I.. iya, kok,” Ribka yakin. “Tau gak sih, Rib? Apa kesalahan lo yang lain?” tanya Jacob dengan nada pelan, tepat di telinga Ribka. Ribka jadi merinding, tidak karuan. Keringatnya yang belum mengering karena latihan pencak silat, kini bertambah karena rasa merinding itu. Ribka memundurkan duduknya, laki-laki bersarung itu tetap di tempat sembari mengawasi hal-hal yang ada. “Enggak,” jawab Ribka singkat. “Ribka, lo jahat! Sudah berani-beraninya pegang d**a gue! d**a gue kan jadi merasakan gejolak cinta untuk pertama kalinya. Udah gitu, gue auto kaku berada di depan lo! Dekat banget gue ngelihat paras cantik lo dan bikin gue—” Jacob memegang dadanya, “Jatuh cinta,” lanjut Jacob. TOENG! TOENG! TOENG! “Baik sodara-sorada, waktu habis!” Laki-laki bersarung itu langsung memukul kelenteng yang tergantung di pos ronda. “Ya elah, malam-malam masih aja ngegombal. Besok pagi aja, ayo kalian pulang sekarang juga!” “Eh Mang Odang, maaf ya Mang, gue lagi ngerasain jatuh cinta. Gak ngerti kenapa, kayaknya cinta saya sudah overdosis, jadi saya gak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi,” sambung Jacob. Ribka merasa cengo, hal ini sama sekali membuatnya tidak nyaman. Belum lagi puluhan menit waktunya habis sia-sia karena Jacob, “Sialan! Gak penting banget orang ini, mana sepuluh menit lagi gerbang kos gue di tutup lagi!” batin Ribka kesal sambil mengintip jam tangannya bolak-balik. Jacob terus saja tertawa dengan Mang Odang, laki-laki bersarung yang membawa senter itu. Dengan jurus diam-diam, Ribka pergi dengan sebisa mungkin tidak terdengar langkah kakinya. Daripada gerbang kosnya ditutup, Ribka mau tidur di mana dong? “Maaf ya Mang Odang, sudah ngeganggu waktunya ngeronda," minta maaf Jacob sambil menyeringai. “Iya nih, kalian berdua bikin Mang Odang khawatir aja. Mang Odang kira kamunya kesurupan atau gak sadarkan diri gitu gara-gara perempuan tadi,” balas Mang Odang. Jacob tertawa malu. Tiba-tiba kepalanya pening lagi, kali ini peningnya datang dua kali lipat dari sebelumnya. Dan SREEEEET! “Mang, gue boleh nanya sesuatu gak?” sempat-sempatnya Jacob bertanya di saat kepalanya pening tujuh keliling. “Iya, ada apa lagi?” kini wajah Mang Odang tampak khawatir dua kali lipat juga. “Gue tadi ngomong apa sama perempuan tadi? Kok tiba-tiba dia gak ada di belakang, ya?” ucap Jacob penuh kecemasan. “Hmm, panjang sih, dan kayaknya kamu ngomong kalau suka sama dia, deg-degannya parah sampai….. ya begitulah tentang anak remaja,” Mang Odang yang memang rada pikun itu, menjelaskan seingatnya saja. Jacob menepuk jidatnya, “Astaga! Kesalahan.. harusnya gue gak ngomong begitu ke Ribka.” Jacob menuruni anak tangga yang ada di pos ronda itu, dan kembali mengambil kertas-kertas printannya yang sebagian besar sudah terbang kesana-kesini. Wajah Jacob bercampur antara malu, kecewa, dan intinya hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sambil menggendong kertas makalahnya yang belum terstaples, Jacob kembali ke rumahnya sambil ngedumel. Mang Odang yang masih memerhatikan Jacob, geleng-geleng kepala karena ulah Jacob, “Dasar masa muda ya, giliran gak ngungkapi cinta, sesak di d**a, giliran sudah ngungkapin cinta, malah menyesal. Ntar jadi jejaka tuwir kayak gue, lo!” ucap Mang Oding yang mungkin tidak terdengar sampai ke telinga Jacob. *** Ribka berlari dengan sisa tenaganya. Ribka sudah mengerahkan banyak tenaganya saat latihan silat tadi. Makanya, larinya agak lamban biarpun keringat tetap mengucur deras di dahi dan lehernya. “Ah! Sampai juga,” ucap Ribka yang masih ngos-ngosan. Ia masih membungkuk, membiarkan napasnya sedikit lega, dan sengaja meneteskan keringatnya. Ribka berdiri tepat di depan rumah serba biru langit yang letaknya dua langkah dari depan gang. Tampak tertutup rapat di bagian gerbangnya. Raut wajah Ribka sudah cemas, berdecak, dan memikirkan sesuatu. “Nah kan apa gue bilang, pasti sudah dikunciin kan! Ish!” Ribka menghentak-hentakan kakinya. “Pasti ini gara-gara gue ladenin Jacob sialan itu deh! Gimana dong gue mau tidur, ckck!” Ribka sudah kehabisan akal. Tin.. tin.. tin.. motor matic yang pernah dilihat Ribka alias tidak asing itu, membunyikan klakson ke Ribka. Perempuan berbadan gemuk yang biasanya dipanggil Lusi itu, menampakan dirinya untuk Ribka. Ribka yang tadinya kesal, seketika saja seperti mendapatkan ilham. “Lusi? Itu lo, kan?” tanya Ribka yang belum mendekatkan langkahnya ke Lusi. “Iya, ini gue, Lusi,” jawab Lusi, membuka kaca helmnya. Ribka melengkungkan senyumnya, “Tumbenan lo jam segini lewat sini,” kata Ribka. Lusi melirik jam tangannya, “Masih jam setengah dua belas. Seperti biasa, gue habis rapat organisasi intra kampus nih, bentar lagi ada acara besar, anggota lagi sibuk-sibuknya,” jelas Lusi yang tak luput dari senyumnya. “Hah? Serius lo jam segini baru pulang gara-gara rapat organisasi doang?” Ribka tak percaya. Lusi pun mengangguk. “Gila deh! Rajin banget ya lo!” ucap Ribka menepuk tangan, mempersembahkan untuk Lusi. “Kerja keras banget lo, dibayar berapa sih lo?!” ledek Ribka dengan tidak sengaja. Lusi hanya membalas dengan senyuman. “Ups maaf, Lus kalau omongan gue kurang berkenan,” Ribka mendirikan dua tangannya ke arah Lusi. “Iya, gak apa-apa kok, lo sendiri ngapain malam-malam gini di luar rumah?” tanya Lusi gantian. “Gue tadi habis latihan pencak silat dan waktu gue pulang, gerbang kos gue udah ditutup gini,” jawab Ribka sayu sambil memandang gerbang kosnya yang mustahil terbuka lagi. “Oh ada jam malamnya?” balas Lusi. Ribka mengangguk lemas. “Kenapa lo gak minta izin untuk Ibu Kos lo bukain?” usul Lusi. “Ibu Kos gue gak ada di sini, beda rumah. Dan, itu sudah kesepakatan penghuni kos lainnya biar gak ganggu waktu istirahat teman-teman yang lain,” ujar Ribka. “Dan sekarang gue gak tau deh harus tidur di mana,” ungkap Ribka. Lusi tersenyum kecil, “Lagian sih lo latihan pencak silat gak ingat waktu deh! Emangnya lo dibayar berapa, sih?!” balas Lusi dan menutup mulutnya dengan spontan. Lusi dan Ribka pun menertawai kejadian malam itu. “Ya udah, lo nginep di rumah gue aja, naik sini,” Lusi menepuk-nepuk jok motornya di bagian belakang. Ribka melongo, “Ih, seriusan? Lo gak dimarahin orang tua lo ngajakin gue nginep?” “Ya enggaklah, yang penting masih berkelamin perempuan, gak masalah. Gimana, tawaran gue diterima, nggak?” tanya Lusi. “Jelas dong! Ada rezeki kok ditolak, hihi,” dengan sigap pun Ribka duduk di jok motor belakang Lusi. Lusi mengendarai motornya dengan kecepatan lima puluh kilometer per jam. Suasana dinginnya malam menusuk ke dalam kulit-kulit dua perempuan yang berada di atas motor itu, yang tidak ada memakai jaket sama sekali. “Lus, lo tiap malam pasti begini?” tanya Ribka. “Iyalah, kan gue banyak ikut organisasi di kampus. Udah pasti guenya sibuk sampai malam ya, kan,” jawab Lusi. “Terus, emangnya lo gak dimarahin sama orang tua lo? Secara kan lo pulang langsung ke rumah orang tua,” tanya Ribka lagi. “Lah, emangnya lo gak dimarahin orang tua lo kalau latihan pencak silat dan pulangnya malam terus?” Lusi malah melemparkan pertanyaan. “Gue kan tinggal di kos, dan orang tua gue gak tau kalau latihan pencak silat itu sampai malam, mereka ngertinya sore sebelum magrib ya selesai,” tutur Ribka. “Eh! Lo ternyata nakal juga ya,” celetuk Lusi yang membuat Ribka tertawa. “Sebenarnya sih, orang tua gue juga gak memperbolehkan gue pulang malam gara-gara eskul atau kegiatan non akademik begituan,” nada bicara Ribka mulai meredam. “Sama Rib, gue juga sebenarnya gak dibolehin pulang kemaleman kayak gini. Kedua orang tua gue kekhawatirannya tinggi banget. Secara kan gue anak perempuan satu-satunya dan anak tunggal,” jelas Lusi seadanya. “Oke gue paham. Berarti setelah kita pulang ke rumah lo, artinya……” “Harusnya gue dimarahin habis-habisan, tapi ya entahlah kita lihat aja nanti,” ucap Lusi. Lusi yang mau dimarahin gara-gara pulang kemaleman, malah Ribka yang sudah nyut-nyutan dan perutnya ketar-ketir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD