Bab. 6 - Asal-usulnya Tidak Jelas

1293 Words
Setelah mendengar cerita dari sang mama mengenai Larasati, Bara menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Tatapannya terlihat menelisik, ke arah sang mama. Pria yang memiliki garis wajah tegas, mata tajam dengan bulu mata pendek, tetapi lentik itu masih saja menatap sang mama tanpa bersuara. "Apa yang kamu pikirkan tentang mama, Bara? Kenapa kamu menatap mama seperti itu?" cecar Bu Dini setelah beberapa saat berlalu, tetapi Bara masih membisu. "Bara heran sama Mama. Sejak kapan Mama begitu mudahnya percaya pada orang asing? Bukankah Mama sendiri yang selama ini mengajarkan pada Bara agar berhati-hati dan jangan sampai termakan dengan kepolosan seseorang? Bisa saja 'kan, Ma, dia itu hanya berpura-pura lugu untuk menipu? Bara tetap tidak bisa mempercayai wanita itu begitu saja, Ma." "Dia beda, Bara! Kita tidak dapat menyamakan semua orang seperti itu! Mama yakin, Rara memang wanita yang baik!" tegas Bu Dini. Wanita anggun itu meyakini, sesuai apa kata hati. Ketegangan pun tercipta di ruang kerja Bara. Masing-masing memiliki opini sendiri, mengenai sosok wanita muda yang baru saja hadir dalam keluarga mereka. Bu Dini dengan prasangka baiknya, sementara Bara dengan kewaspadaan demi kebaikan sang putra. "Terserah Mama jika masih mau menjadikan wanita itu sebagai ibu s**u Bram, tapi Bara minta jangan disusui secara langsung! Bara tidak mau terjalin chemistry antara wanita asing itu dan putra Bara!" kata Bara, tidak kalah tegas dari sang mama. "Larasati, Bara! Wanita itu memiliki nama dan nama panggilannya Rara!" Bu Dini segera beranjak. "Mama mau ke kamar Bram, barangkali Rara sudah selesai menyusui," lanjutnya yang segera berlalu dari ruang kerja sang putra. Meninggalkan Bara seorang diri yang masih termenung, memikirkan mengapa semua ini harus terjadi. "Andai kamu tidak pergi, Sayang, tentu putra kita tidak perlu disusui oleh orang lain." Netra Bara kembali berkaca-kaca. Cintanya yang teramat besar pada sang istri, membuat air mata Bara selalu menyeruak begitu saja jika mengingat Cantika. "Sekarang aku tahu, Sayang, kenapa kamu kekeuh ingin menyusui putra kita sendiri dan tidak mau dibantu dengan s**u formula. Ternyata, momen kebersamaan kalian hanya sebentar. Hanya lima bulan kamu memiliki kesempatan untuk menimang putra kita, Cantika," gumam Bara. Ya, sejak pertama melahirkan dan asinya belum keluar, Cantika bersikeras untuk menyusui sang putra tanpa bantuan s**u formula. Segala cara dia lakukan agar asinya lancar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan Bram. Dia benar-benar ingin menghabiskan waktu untuk merawat putra pertama mereka berdua. Setiap malam, Cantika juga mengajak Bram untuk tidur bersama mereka berdua di kamar utama. Meskipun Bara telah menyiapkan kamar khusus untuk putranya, sejak sang putra masih dalam kandungan Cantika. Jika Bara keberatan, maka Cantika akan ngambek dan mogok bicara. "Kapan lagi, sih, Mas, kita bisa memiliki kesempatan untuk tidur bareng seperti ini? Momen seperti ini, tuh, enggak bakal terulang, Mas," kata Cantika, setiap kali Bara membujuk agar sang putra dibiasakan tidur di kamarnya sendiri. Bara yang telah berdiri dengan menghadap ke arah foto pernikahannya dengan Cantika, tidak kuasa menahan air mata. Dia pandangi wajah cantik sang istri dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, senada dengan stelan jas yang Bara kenakan. Tatapan pria berhidung mancung itu begitu dalam tertuju pada gambar diri sang istri yang kini telah berpulang. Terdengar pintu ruang kerja Bara diketuk dari luar. Menyeret Bara dari kenangannya bersama Cantika. Pria itu lalu menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. "Pak Bara. Ini saya, Jali." Pria berahang kokoh itu segera mengusap sisa air matanya lalu beranjak menuju pintu. "Ada apa, Jal?" tanya Bara, setelah membuka pintu ruang kerjanya. "Saya sudah menyampaikan pada Pak Abi, pesan dari Pak Bara," kata Jali dan Bara menganggukkan kepala. "Oh, iya. Tadi Pak Abi juga minta pada saya agar menyampaikan permintaan maafnya karena tadi malam Pak Abi tidak dapat melayat almarhumah Bu Cantika. Pak Abi bilang, dia harus menemani istrinya yang mau melahirkan," lanjut sopir pribadi Bara, membuat sang tuan mengernyit heran. "Melahirkan? Istri yang mana? Bukankah istri Mas Abi sudah tidak bisa ...." Bara menjeda perkataannya. Dalam hati pria tampan itu menerka-nerka. Jali menggeleng. "Saya juga tidak tahu, Pak Bara. Pak Abi tidak pernah bercerita apa-apa selama ini. Lagipula, sudah lama Bu Lastri tidak pernah mencari Pak Abi ke proyek, seperti yang sudah-sudah." Bara mengedikkan bahu. "Ya sudah, Jali. Terima kasih atas informasinya." Bara segera berlalu menuju ke kamarnya untuk melaksanakan sholat maghrib karena kumandang adzan telah terdengar dari kejauhan. Sementara di kamar Bram, Larasati nampak masih berbincang dengan Bu Dini. Wanita anggun mamanya Bara itu nampak sangat senang dengan kehadiran Larasati. Setidaknya, sang cucu tidak akan rewel karena merengek meminta Asi. "Oh ya, Nak Rara. Karena setiap malam Bram tidur di kamar orang tuanya, jadi kamu harus menyiapkan asi dalam botol untuk Bram. Ada banyak botol s**u yang tadi pagi sudah dibeli sama Jali, kamu bisa nyetok asimu di sana," pinta Bu Dini beralasan karena tidak ingin membuat wanita muda yang duduk di hadapannya, merasa tersinggung. "Untuk pompa asinya, masih ada punya mamanya Bram yang bisa kamu pakai. Nanti biar disiapkan oleh Inah dan diantarkan ke kamar kamu," lanjut Bu Dini. "Baik, Bu. Nanti setelah membersihkan diri, saya akan memompa asi saya," balas Larasati seraya tersenyum ramah. Setelah memastikan Bram tidur dengan nyaman di dalam boks bayi, Bu Dini dan Larasati segera keluar dari kamar bayi laki-laki itu. Bu Dini segera menuju ke kamarnya sendiri, sementara Larasati berjalan tertatih menuju ke kamar tamu. Ketika melintas di ruang keluarga, dia melihat sekelebat bayangan Jali dan pikirannya langsung tertuju pada mantan suaminya. 'Barangkali, aku bisa minta tolong sama Mas Jali untuk mencari informasi tentang Mas Bima. Sepertinya, dia sangat berpengalaman karena sopirnya bos besar. Sebaiknya, aku temui Mas Jali besok pagi.' Larasati bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Dia mandi dengan cepat agar bisa segera memompa asi. Khawatir, jika Bram terbangun dan asinya belum siap. Tentu Bara dan Bu Dini akan kecewa padanya. Setelah menyerahkan semua botol s**u yang penuh dengan asinya pada Inah, pengasuh Bram, dan setelah dia mengisi penuh perutnya dengan makanan enak, Larasati buru-buru menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Dia ingin melupakan sejenak segala masalah yang menderanya, seharian. Berharap, ketika dia terbangun esok hari semua akan kembali baik-baik saja seperti sedia kala hingga dia tidak perlu merasakan kembali sakitnya kehilangan. Gelisah, Larasati membolak-balikkan badan. Sudah dua jam berlalu, mata Larasati tidak kunjung terpejam. Bukan hanya karena dia tidak dapat melupakan perbuatan mantan suaminya, tetapi juga karena rasa tidak nyaman. Di area inti tubuhnya masih terasa ngilu bekas jahitan. Sementara dadanya kembali membengkak dan asinya menuntut untuk dikeluarkan. "Anakku pasti haus di sana," gumamnya dengan berlinang air mata. Selalu saja jika mengingat sang putra, air mata Larasati tidak mau diajak berkompromi. Perlahan, Larasati bangkit dari pembaringan. Mengambil pompa asi lalu menuju kamar mandi dengan berjalan pelan. Baru saja Larasati memompa sedikit asinya, terdengar suara teriakan dari arah luar. "Mbak Rara! Buka pintunya, Mbak! Mbak Rara belum tidur, kan?" Suara Inah, terdengar panik. "Ada apa, Mbak Inah?" tanya Larasati pada pengasuh Bram yang usianya terpaut beberapa tahun di atasnya, tetapi Inah belum menikah. "Den Bram rewel, Mbak. Bu Dini menyuruh Mbak Rara ke kamar Pak Bara." "Sebentar, Mbak Inah. Saya ambil jilbab dulu." Larasati segera menuju kamar utama sambil memakai hijabnya. Dia berjalan sedikit cepat, khawatir Bu Dini dan Bara akan marah jika dia terlalu lama. "Jangan apa-apa dibiasakan bergantung pada dia, lah, Ma! Memangnya, dia itu siapa? Asal usulnya juga tidak jelas! Kalau dia wanita baik-baik, suaminya tidak akan pernah menceraikan dia, Ma! Bara tidak mau jika Bram bergantung padanya! Bram pasti mau minum dari botol kalau dibiasakan! Tidak masalah jika diawal Bram rewel seperti itu, Ma!" Suara Bara yang menggelegar, menghentikan langkah Larasati tepat di ambang pintu kamar pria itu. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat yang Bara ungkapkan tentangnya. "Asal-usul saya memang tidak jelas karena saya dibesarkan di panti asuhan! Tapi masalah perceraian, Anda tidak berhak untuk menghakimi saya, Pak Bara!" Larasati menatap tajam pada laki-laki yang berdiri dengan berkacak pinggang, di samping Bu Dini. bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD