Erlangga tersenyum puas begitu selesai membubuhkan tanda tangan di atas lembar kontrak kerja sama. Usahanya selama berbulan-bulan ternyata membuahkan hasil seperti yang dia harapkan. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap biasa saja atas pencapaian yang luar biasa ini?
Bicara soal pencapaian, ini memang bukan pertama kalinya bagi Erlangga. Hanya saja, kerja keras yang membuahkan hasil sesuai dengan ekspektasi baginya harus mendapat apresiasi. Bukan dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri.
"Saya suka lihat ekspresi puasmu, Lan. Kamu memang selalu begini ya kalau berhasil mencapai sesuatu." kata Pak Tio. Beliau yang membantu Erlangga dalam pengurusan surat kerja sama antar perusahaan. Awalnya Erlangga sedikit sungkan dengan kehadiran laki-laki yang usianya nyaris setara dengan orang tuanya di rumah, namun karena beberapa situasi dan kondisi yang memaksa keduanya untuk tetap saling berinteraksi, pada akhirnya mereka akrab dengan sendirinya.
"Ekspresi saya selalu berbanding lurus dengan suasana hati, Pak Tio."
"Sinkronisasi yang bagus."
"Terimakasih, saya anggap itu pujian loh Pak." balas Erlangga sambil terkekeh. Ia lantas memberikan berkas yang baru selesai dibacanya kepada Pak Tio.
"Gimana? Sudah sesuai atau masih perlu saya revisi lagi?" Pak Tio adalah pengacara perusahaan tempat Erlangga bekerja, seluruh dokumen yang melibatkan hubungan kerja sama antar perusahaan beliaulah yang mengurus.
"Cukup. Selanjutnya saya tinggal terima beres saja ya Pak. Setelah ini saya kayaknya nggak akan banyak ada di kantor, jadi kalau ada apa-apa Bapak bisa hubungi sekretaris saya."
Pak Tio mengangguk paham, "Saya dengar dari Ananta kamu ambil banyak proyek tahun ini. Saya ikut senang dengarnya. Apalagi kalau hasilnya seperti ini." ia menunjuk kontrak kerja sama yang tadi Erlangga tanda tangani.
"Sudah waktunya lah Pak saya melebarkan sayap." Erlangga tertawa dengan kalimatnya sendiri yang dia pikir terlalu percaya diri. Hal itu mengundang decakan dari Pak Tio, meski pada akhirnya mereka sama-sama tertawa.
"Dekat-dekat ini ada proyek apa, Lan?"
"Proyek pembangunan di Lampung, Pak. Lusa saya harus sudah ketemu sama kontraktornya. Saya benar-benar dikerjar target bulan ini."
"Lampung sepertinya jadi tempat produksi paling besar ya. Seingat saya di sana anak perusahaannya sudah cukup banyak, ini mau di tambah lagi?" Pak Tio berdecak setengah tidak percaya.
"Wah, kalau pembangunan itu sampai beberapa tahun ke depan juga masih akan berlangsung Pak. Cuma yang saya tangani kali ini target pasarnya lokal, nggak langsung ke pasar internasional seperti biasanya. Jadi saya lumayan exited untuk pembangunan kali ini."
"Boleh juga target pasarnya. Selama ini saya selalu ikut andil dalam urusan perusahaan, tapi malah hampir nggak pernah mencicipi produknya karena nggak dijual di sini." Sahut Pak Tio yang membuat Erlangga semakin menampilkan senyuman bangga. "Tapi ngomong-ngomong, kamu pakai jasa perusahaan mana untuk proses pembangunannya?"
"Saya pakai Djokodamono Group. Relasinya cukup banyak di Lampung, jadi sekalian bisa memberdayakan masyarakat setempat."
"Boleh, boleh ..." Pak Tio mengangguk paham, kemudian fokus pada dokumen-dokumen lain yang ada di atas meja.
Sama halnya dengan Pak Tio, Erlangga ikut menyibukkan diri dengan layar laptopnya yang masih menyala, menampilkan laporan dari direktur umum anak perusahaan yang ada di Lampung terkait dengan surat pembebasan lahan. Artinya, dekat-dekat ini Erlangga akan segera terbang ke Provinsi Lampung untuk memantau proyek sekaligus bertemu dengan beberapa pemimpin daerah. Sampai kemudian, fokusnya terpecah akibat ponselnya bergetar panjang. Ia mengernyit begitu tahu siapa yang menelepon. Sikapnya mendadak defensive sampai menarik perhatian Pak Tio.
"Kenapa nggak diangkat?"
"Mama saya sepertinya merencanakan sesuatu. Kalau saya angkat, artinya saya harus setuju dengan apa yang beliau rencanakan."
Pak Tio tergelak melihat bagaimana ekspresi Erlangga yang begitu defensive dengan telepon orang tuanya. Apalagi ketika ponselnya kembali bergetar dengan caller id penelepon yang sama. Wajah Erlangga berubah pias. Lagi-lagi Pak Tio dibuat tergelak.
"Saya angkat telepon sebentar ya, Pak." Erlangga izin menjauh. Ia keluar dari ruang kerjanya dan duduk di sofa yang ada di depan meja sekretaris.
"Ya, Ma. Ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Di kantor, ada yang harus aku urus, kayaknya aku pulang terlambat nanti."
"Ini kan akhir pekan, Lan! Masa kerja juga sih."
"Namanya juga urusan kantor. Mama nggak akan ngerti kalau aku jelasin."
"Kamu ngeremehin Mama banget sih! Durhaka kamu sama Mama."
"Oke, oke. Jadi ada keperluan apa Mama sampai harus telfon begini? Mama nggak mungkin cuma mau basa-basi."
"Mama sudah pesan tempat di Dharmawangsa. Kamu kesana, temuin perempuan yang namanya Delilah. Mama sudah atur semuanya, kamu tinggal datang dan kenalan sama dia." belum sempat Erlangga membalas, sambungan telepon terputus begitu saja.
***
Erlangga menghela napas dengan apa yang orang tuanya rencanakan. Bukan pertama kalinya, tetapi efek yang ditimbulkan tidak pernah berubah. Masih sama-sama menyebalkan.
Bagi Kusuma, ibu Erlangga, seorang pria yang telah menginjak usia tiga puluh tahun dan belum menikah adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Noda yang harus segera disucikan supaya terhindar dari segala jenis malapetaka. Entah jenis kepercayaan macam mana yang mama anut, dia sendiri tidak mengerti.
Erlangga sebenarnya tidak keberatan dengan berbagai macam kalimat olokan yang sengaja mamanya sampaikan demi membuatnya kesal lantaran tidak juga memiliki pasangan. Ia hanya menanggapinya dengan santai. Toh wajar kalau mama merasa khawatir terhadap putranya yang belum juga memiliki pasangan padahal usianya sudah sangat matang. Hanya saja, akhir-akhir ini sikap mama terasa sedikit melampaui batas, dan Erlangga mulai terganggu dengan itu.
Seolah kemampuannya dalam mencari pasangan diragukan.
Lagipula apa yang salah dari keputusan melajang di usia tiga puluh tahun? Toh bukan berarti dia tidak ingin menikah.
Di sisi lain, menikah tidak hanya sekadar mengucap janji di hadapan Tuhan; tidak melulu perkara cinta karena cinta tidak hanya bicara soal perasaan. Erlangga meyakini bahwa ada hal lain yang lebih daripada itu ketika memutuskan untuk menikah. Dan ia membutuhkan banyak waktu untuk memikirkannya sebelum mengambil keputusan. Karena itu berkaitan dengan dinamika kehidupannya di masa depan.
"Delilah?" Erlangga menyapa satu-satunya wanita yang duduk sendirian di dalam restoran. Wanita itu menatapnya bingung, "Saya Erlangga."
"Oh iya ... Saya Delilah." mereka berjabat tangan satu sama lain.
"Sudah pesan makanan?"
"Belum."
Jawaban yang terkesan singkat itu membuat kening Erlangga berkerut. 'Aneh', kata pertama yang terlintas dalam benaknya. Biasanya Erlangga selalu bertemu dengan perempuan yang memiliki kemampuan berbicara di atas rata-rata. Sebagian besar selalu membuatnya kewalahan karena terlalu banyak bicara. Tetapi bila berbicara soal selera, bukan berarti Erlangga suka dengan wanita pendiam; yang tidak akan membuatnya kewalahan ketika meladeninya bicara.
Sayangnya, standar wanita idaman yang selama ini terpikirkan dalam otaknya berada dalam garis pemisah antara banyak bicara dan pendiam. Tidak terlalu banyak bicara, tetapi tidak juga terlalu pendiam. Erlangga suka dengan kombinasi yang seimbang.
Tetapi lagi-lagi pikiran itu hanya ada di dalam kepala Erlangga. Dimana hanya ia sendiri yang tahu tentang apa yang disuka maupun apa yang tidak disuka.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Erlangga. Ia terlalu lama larut dengan pikirannya sendiri padahal perutnya sudah meronta-ronta minta diisi.
"Samain sama punya kamu aja." jawabnya.
"Kamu yakin?" Erlangga mengernyit. "Maksud saya, selera makanan kita kan bisa jadi nggak sama. Lebih baik kamu pilih sendiri mau pesan makanan apa."
"Oh, iya ... maaf."
Hal yang sangat sepele namun membuat Erlangga sampai harus memperhatikan Delilah dengan begitu seksama. Delilah berbeda dengan wanita yang biasanya Mama bawa. Ia membatin.
"Begini ... saya minta maaf kalau sekiranya ini nanti menyinggung kamu." Erlangga angkat bicara selepas waiter selesai mencatat pesanan mereka. "Sejujurnya, saya nggak tertarik dengan hubungan seperti ini. Maksudnya, saya nggak suka kalau urusan sepribadi ini aja orang tua sampai harus ikut campur tangan di dalamnya. Itu sedikit menyentil ego saya sebagai laki-laki. "
"Jadi?"
"Saya rasa ini nggak akan berhasil untuk kita, karena saya memang nggak berniat untuk memulai apa-apa. Jadi, saya berharap kamu nggak menggantungkan harapan apapun dengan saya hanya karena saya bersedia datang di pertemuan ini."
Delilah membisu saat itu juga. Seluruh sel sarafnya mendadak tidak mampu merespon stimulus yang diberikan oleh lawan bicaranya. Dia bingung tentang kalimat yang Erlangga sampaikan. Bagaimana bisa dia menyimpulkan bahwa hubungan ini tidak akan berhasil sementara mereka bahkan belum memulai apa-apa?
"Saya minta maaf kalau kalimat saya terkesan jahat. Saya hanya nggak mau terkesan memberi harapan nantinya." sekarang ataupun nanti, yang akan Erlangga sampaikan adalah hal yang sama. Daripada mengulang-ulang, dia pikir mengatakannya sekarang akan jauh lebih baik untuk mereka.
"Kita punya banyak waktu, kenapa nggak kita coba dulu sebelum akhirnya memutuskan?"
"Perasaan saya bukan untuk bahan percobaan, Delilah."
"Perasaan saya juga bukan untuk bahan percobaan. Kita sama kalau itu yang kamu permasalahkan."
"Saya punya pacar."
"Tante Kusuma bilang kalau kamu nggak punya pacar."
Erlangga terkekeh. Sialan. Haruskah Mama menyebutkan statusnya juga? "Kamu percaya kalau laki-laki seperti saya nggak punya pacar?"
"Kalau begitu kenapa nggak bicara sama Tante Kusuma kalau kamu punya pacar?"
"Hak saya juga kan' kalau saya memilih untuk nggak membicarakannya?"
"Kenapa?"
Erlangga berdehem, "Tolong jangan membuat semuanya sulit ... Saya sedang berusaha untuk nggak melukai perasaan kamu."
"Kamu sudah melukai perasaan saya." Delilah bersikeras. Seolah tidak ingin ditolak begitu saja karena mereka belum memulai apa-apa.
Erlangga menarik napas, ia balas tatapan Delilah dengan ekspresi dingin. Ia tidak suka dipojokkan. "Saya nggak suka sama kamu, sama perempuan manapun yang dikenalkan orang tua saya. Selain itu, saya juga sudah punya pacar. Saya harap kamu mengerti dan menghargai keputusan saya."
Hening ... sampai kemudian waiter datang mengantarkan makanan pesanan mereka. Delilah pun membisu, ia makan dengan diam tanpa membahas apapun dengan lelaki di hadapannya. Pikirannya hanya berkecamuk tentang perubahan ekspresi Erlangga yang secepat kilat. Sangat dingin ketika mengatakan bahwa dia tidak menyukai Delilah, lalu detik berikutnya menghangat saat waiter datang menginterupsi.
"Mas Erlangga?"
Mendengar namanya disebut, Erlangga spontan menoleh. Sama halnya dengan Delilah. Berdiri sosok wanita dengan dress putih setinggi lutut yang kini tersenyum ramah ke arahnya.
"Anya! Sama siapa?"
"Sendirian, Mas. Lama nggak ketemu, Mas Erlan sehat?"
"Sehat ..."
"Aku boleh numpang duduk di sini sebentar nggak?"
Erlangga berdehem singkat, "Boleh ... sini duduk. Mau pesan makanan juga?"
"Makasih Mas, tapi nggak usah." ia tersenyum singkat, "Maaf ya, saya malah jadi ikut gabung di sini ... Tunggu deh, kamu Delilah yang dulu staff akuntansi di Djokodamono Group kan? Saya dulu yang proses surat resign kamu, ingat?"
Delilah berdehem singkat. Mata yang sejak tadi hanya fokus pada makanan di piring, kini menatap ke depan. Baik Erlangga maupun wanita di sebelahnya sama-sama menatap kepadanya. "Mbak Anya kan?"
"Panggil Anya aja. Kayaknya kita seumuran."
Delilah hanya tersenyum simpul. Siapa yang tidak mengenal seorang Prajnya Paramita di Djokodamono Group?
***
Pemanasan dulu. Semoga pada suka. Pelan-pelan saja ya kita kenalan dengan para tokohnya.
Terimakasih yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Daya.