Bab 17

1057 Words
 Ketiga cewek itu duduk diam meratapi kertas folio di depan mereka. Ruang perpustakaan yang tenang membuat Mita dan Salsa menguap ngantuk, sedangkan Cylvi memainkan pulpen di tangannya sembari memanyunkan bibirnya bosan. Mita mengetuk meja frustasi. "Mau gue rangkum apa coba?" gerutunya lalu membaringkan kepalanya di atas meja. "Rangkum kisah gue sama doi. Belum ending kali, Pak," sahut Salsa asal-asalan. Mita mengangkat kepalanya. "Masih to be continue? Perlu gitu gue tulis di sini to be continue aja?" Ia mencoret-coret kertasnya dengan sebal. Memandang Mita yang sibuk dengan gambarnya di atas kertas, Salsa mengalihkan pandangan pada sosok Cylvi yang sedari tadi bungkam. "Cyl, lo kok diam? Gak kesambet kan lo? Soalnya perpus lagi sepi," katanya menampilkan raut takut yang dibuat-buat. Mita melempar tutup pulpennya ke arah Salsa. "Gak usah ngada-ngada deh, Sa. Cylvi mah lagi hibernasi tau." "Hibernasi bukannya tidur ya?" Salsa mengerutkan dahinya bingung. Ditatapnya kedua mata Cylvi yang masih terbuka lebar. “Matanya besar gitu, lo bilang lagi tidur?” tukasnya jengkel. "Nah itu." Mita terkekeh pendek, tak mengira Salsa akan menganggap serius ucapannya. Salsa memekik nyaring. "Anjir! Cylvi bukan tidur tapi bengong." "Bukan—" "Apaan sih! Ribut aja! Gue lagi konsentrasi mikir gimana cara bales Pak Andre," kata Cylvi tiba-tiba. Mita mengangguk setuju. "Harus tuh Cyl di pikirin. Udah bagus di skorsing, malah jadi ngerangkum. Gak tanggung lagi, langsung tiga bab! Jari gue bakal keriting kayak mie goreng kalo beneran ngerangkum segitu," ucapnya melebih-lebihkan. "Jari gue bakal kaku kayak hubungan gue sama gebetan." Salsa membuka bukunya dengan malas. "Woi, nyet. Bisa nggak gak usah pake baperan terus?" gerutu Mita mulai sebal dengan tingkah laku Salsa. Drrttt... drrtt... Gaara Alvaro is calling... "Anjir! Coba gebetan gue itu kayak si Gaara. Auto bahagia gue," pekik Salsa menatap berbinar-binar pada ponsel Cylvi. "Apaan sih lo, Sa? Sakit ya lo hari ini?" tanya Cylvi dongkol. Mita tertawa puas, ia melempar senyuman penuh ejekan. "Dia emang sakit tiap hari, Cyl. Kayak gak tau aja lo." Cylvi mengedikkan bahunya tak peduli seraya mengangkat teleponnya yang terus bergetar. "Ha—" "Lo di mana?" "Lo kebiasaan banget, telpon langsung sembur kayak air mancur," omel Cylvi kesal. "Hm." "Kenapa? Di perpus nih gue," ucapnya memutuskan menjawab pertanyaan dari Gaara. "Ngapain? Tumben?" "Dihukum sama pak gila," tukas Cylvi malas. "Hm?" Cylvi memutar matanya kesal. "Ha hm mulu lo." "Iya." "Males gue ngomong sama lo," katanya blak-blakan. "Gue ke sana." Cylvi terperangah beberapa detik sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya. "Ngapain?" "Ngapelin kak Dina." Kak Dina si penjaga perpustakaan. "Hah?" Tut. Tut. Tut. Cylvi meletakkan ponselnya bingung, ia mencoba mengabaikan ucapan Gaara dan mulai membuka buku bahasa Indonesianya, mata pelajaran yang diajarkan Bu Nani. "Lah? Bab dua aja udah dari halaman tiga puluh sampe lima puluh lima, bab tiga dari halaman lima puluh tujuh sampe delapan puluh, bab empat dari halaman delapan puluh dua sampe seratus dua. Mampus!" seru Mita mendadak merasa pening di kepalanya, ia membuka kasar lembaran kertas buku itu. Bab satu sudah diajarkan Bu Nani, jadi mereka tidak perlu merangkumnya lagi. Salsa dan Mita mendengkus pelan tidak peduli dengan peraturan yang berlaku di sekolah. Biar pun berada di perpustakaan yang seharusnya hening, suara mereka tetap tak terkendali membuat suasana di sana layaknya sebuah pasar di tengah-tengah sekumpulan buku itu. Keributan mereka semakin menjadi kala Kak Dina tak berani menegur mereka. Kingnezs memang terkenal dari sisi buruk mereka. "s**t! Sakit gue liat tulisan-tulisan gini," kata Salsa lalu menutup kasar bukunya. “Gue nyerah.” Cylvi menghela napas pelan, namun tetap memancing atensi kedua temannya. Ia mengangkat bahunya singkat menjawab pertanyaan yang tergambar di kedua mata teman-temannya. "Lo ngapain, Cyl?" Gaara memasuki ruang perpustakaan yang ribut dan mengambil duduk di samping Cylvi. Mita menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Anjir, Gaar. Lo gak liat kita berdua?" semburnya. "Hm?" gumam Gaara tak peduli. "Yang diperhatikan Gaara mah cuma Cylvi," sindir Salsa yang di balas Gaara— "Itu tau." — dengan jujur. "Berasa jadi obat nyamuk nih gue," tutur Mita yang dihadiahi pelototan gratis dari Cylvi. "Pindah, Ta," kata Salsa sambil membawa barang-barangnya. Kedua cewek itu memilih duduk di pojokan yang jauh dari Cylvi dan Gaara. "Lo kerjain apa di sini, Cyl?" tanya Gaara yang melihat tulisan Cylvi di kertas folio. Cukup rapi. Cylvi cemberut mengingat tugasnya di perpustakaan. "Ngerangkum. Si gila ngasih hukuman gak kira-kira," geramnya sambil menulis penuh penekanan. Gaara tersenyum geli mendengar Cylvi yang ngomel-ngomel sendiri, bisa sambil menulis pula. "Lo tau, Gaar. Masa gara-gara gue gak sengaja nyiram Bu Nani. Gak sih, gue sengaja juga. Tuh guru terlalu lemes sih, ya gue bantu segerin. Gue disuruh ngerangkum tiga bab. Gila gak? Tapi yang ngasih emang gila sih jadi hukumannya ikut-ikut menggila," cerita Cylvi dengan wajah memerah murka. Tak mendapatkan respons dari cowok di sebelahnya, Cylvi menyeletuk sebal. "Lo denger gue gak sih, Gaar?!" Ia menatap Gaara yang dari tadi memandangnya dengan tatapan aneh, sedangkan cowok itu hanya tertawa pelan. "Lo ngapain pake nyiram Bu Nani?" tanya Gaara sambil mengulum senyum. Ia mencoba merespons omelan cewek itu. Sedikit banyak ia mengerti apa yang diceritakan cewek itu, walaupun Cylvi menceritakannya tanpa titik koma. "Eh? Dia sendiri yang lewat, ya udah gue siram sekalian. Padahal nih niat gue cuma basahin koridor biar pada tergelincir tuh emak-emak," jawabnya mendadak terserang kegugupan. "Lo kurang kerjaan banget sih," kata Gaara sambil mengelus rambut Cylvi. Cylvi hanya diam dan lanjut menulis rangkumannya. Tak menghiraukan Gaara yang memainkan rambutnya. Setidaknya tidak terlalu suram untuk Cylvi, karena Gaara menemaninya mengerjakan hukuman. Biar pun cowok itu tidak berkata apapun setelahnya ataupun membantunya, tapi Cylvi cukup senang.   "Gaar?" Cylvi dan Gaara memilih ke atap sekolah setelah 4 jam berada di perpustakaan hanya untuk mengerjakan hukuman. Cylvi benar-benar akan membalas Pak Killa dan juga Pak Andre. "Hm?" respons Gaara. Cylvi menoleh kanan kiri sebelum membuka suaranya. "Ngapain ke sini?" "Mojok?" ucap Gaara dengan nada bertanya. Cylvi mengernyit bingung. "Hah?" "Ya buat hindarin gurulah." Karena di setiap jam pelajaran berlangsung, kantin maupun taman selalu dicek guru-guru yang sedang piket menjaga. Hanya di atap sekolah, para guru itu tidak memeriksa. Cylvi melongo bingung. Seingatnya, tidak ada yang perlu ia hindari hari ini. "Buat apa?" "Buat apalagi?" Cowok itu duduk di kursi panjang yang tersedia di atap sekolah dengan Cylvi yang tetap berdiri di depannya. "Gue gak ngerti,” kata Cylvi akhirnya. Menghela napas, Gaara menarik tangan Cylvi dan membaringkan cewek itu dengan kepala Cylvi di atas pahanya. "Istirahat." Cylvi membelalakkan matanya panik. "Eh?" "Lo gak capek nulis sampe delapan halaman kertas folio?" tanya Gaara tenang. "Ya capeklah. Yakali kalo gue robot." "Makanya tidur. Gue jadi bantal lo hari ini." "Hah? Apa?" "Lo gak congek, Cyl." "Gak bisa romantis lo, Gar!" Setelah menggerutu, Cylvi memilih mencari posisi nyaman dan setelahnya tertidur pulas. Ia memang tidak sulit untuk tertidur apalagi dalam keadaan capek. Hanya dalam beberapa detik dan cewek itu akan pulas tidurnya. Gaara hanya tersenyum mendapati cewek itu terlelap. Ia membuka layar ponselnya dan menunggu loading game Mobile Legends. Mungkin lebih baik ia bermain game daripada tidak melakukan apapun. Cylvi yang di pangkuannya pun terlelap tanpa banyak gerak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD