"Woahh oahh! Hmmm hmm!" sapa Gilang semangat sembari memasuki kelasnya dengan gayanya yang aneh.
Riko, Gaara, Jacky, Zilo dan Johan menatap bingung pada Gilang yang sedang meletakkan tasnya di meja Ian, meja di dekat depan pintu. Mereka mengedipkan mata tak percaya beberapa kali saat Gilang melempar senyuman godaan ke arah mereka.
"You've been runnin' round, runnin' round, runnin' round throwin' that dirt all on my name..." Nyanyi Gilang di depan Johan sambil mengoyangkan tangannya berusaha mengajak Johan menggila bersama, ajakan itu tentu ditolak kasar oleh Johan.
"Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd call you up..." lanjutnya sambil memperagakan seperti menelepon seseorang dan menunjuk Jacky yang menatapnya— jijik.
"You've been going round, going round, going round every party in LA."
Gilang tanpa ragu menaiki meja guru dan berdiri di atasnya, tak memedulikan teman-teman sekelasnya yang menatapnya semakin aneh. Bahkan beberapa di antara mereka sudah tertawa geli dan tak mengerti. Tanpa rasa malu, ia mulai menggoyangkan tubuhnya di atas meja yang sontak membuat teman-teman sekelasnya bersorak dan menyemangatinya.
"Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd be at one." Tak sampai di situ, Gilang melompat turun dan segera mengambil gagang sapu sebagai microphone-nya dan bernyanyi layaknya seorang penyanyi di atas panggung.
"I know that dress is karma, perfume regret." Gilang menarik seorang siswi di depannya, Fransiska.
Cewek itu sempat kaget karena Gilang menariknya tiba-tiba dan mengajaknya berdansa. Beberapa kali Fransiska mencoba meloloskan diri, ia malu menjadi pusat perhatian bersama Gilang.
"You got me thinking 'bout when you were mine." Lanjutnya bernyanyi lalu menatap dalam mata Fransiska yang melirik sana sini. Ia mengabaikan wajah Fransiska yang memerah antara malu dan kesal.
"And now I'm all up on ya, what you expect?" Gilang memutari teman-teman genknya yang hanya bisa melongo memandangnya.
"Gue boleh pecat dia dari Tinders gak?" gumam Zilo yang direspons cepat dengan anggukkan kepala dari Jacky. “Malu gue punya temen cacingan kayak gini.”
"But you're not coming home with me tonight." Gilang menunjuk Tinders dan memundurkan beberapa langkah sambil menyentuh dadanya seolah-olah disakiti oleh teman segenknya.
"You just want attention." Tunjuknya pada gadis-gadis yang bersorak senang. Gilang jelas tahu bagaimana cara membuat para gadis itu kegirangan dan berbinar menatapnya.
Gilang sadar bahwa sudah terlalu banyak orang yang melihat atraksi mendadaknya. Bahkan banyak dari mereka yang berdiri di luar kelasnya, tapi ia tidak peduli dan tak mau menghiraukannya. Ia sudah terlanjur mempermalukan diri, ya sekalian saja. Toh, Gilang udah terbiasa malu-maluin nama genknya sendiri dengan tingkahnya.
"You don't want my heart." Gilang menunjuk Riko dengan wajah tersakiti.
"Huekkkk! Jijay gue, sumpah!" respon Riko langsung yang disambut gelak ketawa teman-temannya yang lain.
"Maybe you just hate the thought of me with someone new." Gilang memalingkan wajahnya ke samping belakang, seolah dirinya sedih.
"Yeah, you just want attention." Kali ini ia menatap Gaara yang sibuk bermain ponsel. Jangan kan mau attention, Gaara bahkan tak mau memberinya attention.
Hei! Gilang sedang show, dan itu tak terjadi setiap saat. Tapi Gaara malah memilih melewatkannya dan hanya sibuk memainkan sebuah permainan di ponselnya.
"I knew from the start." Ia berjalan mendekati i Gaara yang masih tidak memberikan respons apapun padanya. Bahkan saat Gilang menari di depannya, Gaara hanya menatapnya sebentar dan kembali sibuk dengan ponselnya.
"You're just making sure I'm never gettin' over you." Gilang merebut ponsel Gaara, yang langsung direbut kembali oleh Gaara dengan tenang.
Dan...
"Hei!" balas Riko lalu bangkit dari bangkunya.
"I was doing just fine before I met you..." tunjuk Riko pada Gilang yang sedang duduk di atas meja guru.
"I drink too much and that's an issue." Riko memperagakan seolah dirinya sedang minum. Gilang sudah tertawa terbahak-bahak hingga dirinya hampir terjungkal ke belakang.
Gilang tidak bisa diam, begitu juga dengan Riko. Mereka berdua memang duo ribut di kelas.
"But I'm ok..." sambung Riko sambil mengedipkan sebelah matanya genit yang membuat para gadis itu berteriak memekakkan telinga, tapi ia tidak mengubrisnya.
"Hey!" sambung Gilang di sebelah Riko.
"Tell your friends it was nice to meet them..." tunjuk Gilang pada gadis-gadis di depannya dan Riko menggoyangkan badannya.
"But I hope I never see them again." Riko menunjuk Tinders. Sedangkan Tinders hanya melongo bengong tak tahu apa yang sedang terjadi, kecuali Gaara. Tentu saja karena cowok itu lebih memilih menutup sepasang telinganya dengan earphone dan sibuk memainkan game di ponselnya.
"Gue semakin yakin mau mecat mereka dari Tinders," gerutu Zilo tak sabar.
"Silakan, Lo. Gue juga udah gak tahan liatnya," kata Jacky yang memasang wajah campuran malu, jijik dan geram.
"I know it breaks your heart." Riko mengepalkan tangan kanannya di depan d**a.
"Moved to the city in a broke down car." Riko dan Gilang mendongakkan kepala, menatap ke arah lampu yang bersinar.
"And four years, no calls." Riko menunjuk angka empat dengan jarinya, sedangkan Gilang memberi tanda X dengan lengannya dan meniru telepon dengan jempol dan kelingkingnya.
"Now you're looking pretty in a hotel bar..." Riko mengelilingi bangku Jeva yang sedari tadi hanya diam menonton mereka sambil menampilkan senyuman manis.
"And I, I, I, I, I can't stop." Gilang menjulurkan tangannya di depan Gaara yang dengan jelas tidak diperhatikan oleh Gaara. Ia sudah bosan dengan tingkah Gilang dan Riko yang seperti cacing kepanasan.
"Stop kau mencuri hatiku, hatiku maksudnya?" sambung Johan yang langsung sukses membuat duo Riko dan Gilang terdiam sesaat.
Kelas yang sebelumnya tak terlalu berisik menjadi sangat ricuh gara-gara hadirnya dua orang artis dadakan yang tak pernah diundang.
"No, I, I, I, I, I can't stop." Riko mengucapkan 'no' untuk menjawab Johan dan melanjutkannya dengan menatap Johan lembut.
"Jijik gue. Sakit jiwa lo," ketus Johan jengkel, ia sudah berada di batas kesabarannya.
"So baby pull me closer..." Gilang mendekati Jacky yang terlihat menghindarinya dengan cepat.
"In the back seat of your rover." Gilang memeluk Jacky mesra, membuat Jacky menggeliat tak tenang.
"That I know you can't afford." Gilang menatap ke arah Riko. Saat itu Riko sedang menggoyangkan tubuhnya di depan Alexa.
"Bite that tattoo on your shoulder..." sambung Riko mendekati Gilang dan Jacky— yang terus berusaha meloloskan diri dari pelukan Gilang.
"Pull the sheets right off the corner." Riko menarik gorden sekolahnya.
"Of the mattress that you stole." Gilang menunjuk Riko yang kesulitan dengan gordennya.
"From your roommate back in boulder." Riko melupakan gordennya dan menatap Gilang yang juga menatapnya.
Perlahan tapi pasti kedua cowok itu mendekat.
"Anjir! Kok berasa nonton film gay ya gue," sahut Johan bergedik ngeri.
"We ain't ever getting older." Kedua cowok itu seperti ingin berciuman namun tidak. Mereka normal.
"You—"
"Stop! Udah gila ya lo pada," ujar Jacky kesal.
"Lo ganggu kita senang-senang, Jack," sungut Riko yang dihadiahi jitakan dari Johan.
"Malu gue punya teman kayak kalian," sambung Johan menggelengkan kepalanya yang pening.
"Kayak kita dong, potong tuh urat malu," timpal Gilang bangga.
Johan mengembuskan napas lelah. "Anjir. Pantesan lo mirip sama Yogienya gue. Gak malu."
"Yogie bukannya nama anjing lo, Han?" tanya Gilang bingung.
"Emang,” jawab Johan memamerkan seringai jahilnya.
"s****n lo!" umpat Gilang sebal.
"Alan mah yang nyanyi lagu Faded."
"Sebodo amat lah."
From : Gaara Alvaro
Lo di mana?
Send.
Gaara menatap tajam pada sosok Andreas yang duduk sambil membaca buku di depannya. Ya, mereka sekelas. Melihat Andreas yang terlihat biasa-biasa saja, Gaara sebenarnya ingin tahu apa yang terjadi di antara Andreas dan Cylvi di masa lalu. Tapi Gaara yakin, cewek itu tidak akan bercerita apapun dengannya sekarang, dan Gaara tidak berminat untuk memaksa Cylvi ataupun mengenal Andreas lebih dalam.
Drrtt... drtt...
From : CVM Winata
Kantin. Kenapa?
From : Gaara Alvaro
Makan?
From : CVM Winata
Nggak! Shopping sepatu gue di sini.
Ya makan lah.
From : Gaara Alvaro
Hm.
From : CVM Winata
Lo sendiri lagi di mana sekarang?
From : Gaara Alvaro
Kelas.
From : CVM Winata
Gak makan?
From : Gaara Alvaro
Tungguin gue di situ.
From : CVM Winata
Ok!!
Wait... buat apa?
Heii! Belalai gajah!!!
Gaara menghampiri Cylvi yang tampaknya sudah selesai makan. Gadis itu tidak sendiri. Gaara sadar, Cylvi tidak pernah sendiri saat berada di sekolah. Pasti ada satu atau dua anggota Kingnezs yang bersamanya. Seperti sekarang, ada Salsa dan Mita yang sedang duduk dan makan semeja dengan cewek itu.
"Cyl!"
Cylvi mendongakkan kepalanya. Bukan Gaara yang memanggilnya tetapi Andreas yang sedang berjalan ke arahnya. Gaara menyadari sebelum ia keluar kelas tadi, Andreas memang sudah tidak duduk di bangkunya.
Di benak Gaara terus melantunkan sebuah pertanyaan yang tak bisa ia jawab. Untuk apa Andreas menghampiri Cylvi sekarang?