Bab 4

2408 Words
Cylvi dan teman-temannya memutuskan kembali bertemu di sebuah cafe yang menyediakan berbagai minuman dan makanan kekinian setelah puas berpencar dan berbelanja. Masing-masing di antara mereka membawa beberapa paper bag yang Cylvi yakini tidak untuk menghadiri pesta ulang tahun Magdalena. Salsa mengulum senyuman misterius mengundang perhatian teman-temannya, kecuali Cylvi. Ia sama sekali tidak berminat dengan apa yang akan disampaikan oleh Salsa. "Guys, lo pada inget kan gue sama Cylvi abis ketemu sama siapa tadi?” pancingnya semakin merekahkan senyum. Anna mengernyitkan dahinya berusaha mengingat-ingat hal yang dimaksud Salsa. “Emang lo ketemu sama siapa lagi? Lo lagi bahas orang yang lo foto atau orang lain?” tukasnya disetujui Mita. “Jangan bilang lo tadi ketemu sama artis,” timpal Vina antusias, dengan raut wajah polos dan cengiran lebar. “Ya elah. Gue gak bakal heboh kalo ketemu artis doang.” Salsa memanyunkan bibirnya dongkol. “Gue lebih suka ketemu sama cowok yang kumpul di kantin sekolah itu. Inget ngg−“ “Di mananya sih lo ketemu sama mereka? Di restorannya langsung apa di mana? Anjir! Nyesel gue gak ikut kalian tadi,” potong Vina sembari menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar santai. “Tau gitu tadi gue ikut sama kalian aja. Perut kenyang, mata pun ikutan sehat.” “Di restorannya langsunglah! Ya kali kami janjian buat ketemuan dulu. Terus masa nih ya, gue sama Cylvi dibilang pacarnya Gaara sama Johan. Gila gak tuh?" ujar Salsa menyengir kuda. “Ya gue sih gak bakal nolak juga sih kalo digosipin pacaran sama mereka, pacaran beneran juga gak bakal gue tolak.”  “What? Lo kok gak telepon gue tadi?” sahut Vina lagi mengerucutkan bibirnya. “Ngapain gue telepon lo?” balas Salsa terkekeh puas. “Nanti lo gangguin kita-kita lagi.” Vina menyilangkan tangannya di d**a dengan tatapan sebal. “Lo kok pelit banget sih?  Lo gak takut kalo nanti kuburan lo sempit, cuma muat kepala lo... baru tau lo.” “Ya kan, cogan emang gak bisa dibagi-bagi kali, Vin.” Salsa menyeruput jus jambunya dengan santai. Ia mengabaikan tatapan tak bersahabat yang dilayangkan Vina. "Ya elah. Jadi kalian di restoran situ buat jadi pacarnya mereka aja?” Mita membuka kembali foto yang dikirim Salsa di grup chat mereka. “Terus terus? Ada apalagi?" sambungnya sambil melototi foto ketiga cowok itu. "Terus belok kanan, ketemu persimpangan belok kiri... di depan nanti ada pom bensin, nah lo berhenti bentar," jelas Cylvi iseng mengalihkan pembicaraan yang sedang mereka bahas. "Elah Cyl. Maksud gue ceritanya bukan jalan gak jelas yang lo tuntun. Ke jurang kan itu?” Mita mendengkus kecil. “Gue udah tau.” "Kok lo tau?" Cylvi menaikturunkan alisnya jenaka. "Dia udah sering belok ke sana, Cyl. Saking seringnya, ntar dia bisa tuh diangkat jadi the next penunggu jurang di situ,” timpal Ananda yang kemudian dilempari sedotan oleh Mita. Ia menyengir kecil membalas tatapan mematikan Mita. "Si Mita sering pulang lewat situ, Cyl," ucap Anna memanas-manaskan keadaan. “Herannya gue, kenapa lo masih bisa hidup sih, Mit?” lanjutnya jahil. "Gue kan punya sembilan nyawa, jadi mau terjun berapa kali juga gak bakal mati,” sahut Mita dengan nada marah. “Lo semua mau denger cerita mereka ketemu cogan apa cerita gue soal jurang?” “Ya coganlah. Cerita lo gak bermutu tau,” jawab Ananda sembari menjulurkan lidahnya mengejek. “Lo−“ “Terus gimana, Sa? Gue kepo ini,” kata Vina dengan cepat, memotong perdebatan Mita dengan Ananda yang baru saja akan dimulai. "Terus ya gitu. Kenal aja kagak," jawab Cylvi menggantikan Salsa. Anna tiba-tiba melempar senyuman jahilnya ke arah Cylvi. "Terus lo sama siapa, Cyl? Sama Gaara?” pekik Anna gembira. "Cucok meong dong kalo gitu! Resmiin aja, Cyl. Gas ayo gas, jangan mau kalah dari Magdalena," sambung Ananda sambil ber-highfive dengan Anna. “Bener tuh, Cyl. Magdalena udah ganti pacar dua kali. Lo sekali pacaran pun belom pernah,” sahut Anna jahil. “Cantik masa jomblo sih, Cyl.” Cylvi memberikan tatapan s***s pada Anna dan Ananda, yang kemudian dibalas dengan senyuman menggoda oleh keduanya. "Udah deh Cyl, gue juga sebenarnya udah males banget liat lo jomblo terus, berasa liat lo jadi jomblo abadi, tau gak?” tambah Anna lagi. “Lo sama si Gaara aja udah. Lumayan kan buat digandeng ke mana-mana. Gak bakal malu-maluin, ganteng gitu." Mita mengangguk membenarkan ucapan Anna. “Bener banget, Cyl. Lo bakal bikin iri satu sekolah kalo sampe jadian beneran sama Gaara." Cylvi memutar matanya sembari menopang dagunya di atas meja. "Udah deh, gak usah ngomong hal yang gak mungkin bisa kan? Gue gak kenal tuh orang," cibirnya s***s. "Elah Cyl, tinggal kenalan doang, gak susah kok.” Vina menyodorkan ponselnya yang terpajang foto Gaara yang ia perbesar. “Lo liat deh, dia ganteng banget. Parah.” “Makan aja tuh ganteng.” Cylvi menutup matanya sejenak. "Cyl, lo jangan terlalu cuek dong. Harusnya lo ambil nih kesempatan buat kenalan sama Gaara lalu jadian, tunangan terus married,” kata Siska untuk pertama kalinya membuka suara. "Lah? Lo gak perlu susah-susah kuliah lagi, Cyl. Langsung nancep gas ke pelaminan," ejek Anna yang dibalas lirikan sinis dari Cylvi. “Gaara kaya kok. Lo gak bakal disuruh masak sama ngurus rumah.” Mita tertawa renyah mendapati aura keruh dari Cylvi. “Gila! Udah pada bahas sampe lo nikah, Cyl. Jangan lupa undangannya ya.” Cylvi memutuskan untuk diam. Ia tak mau lagi menjawab pernyataan-pernyataan teman-temannya yang semakin memojokkannya. "By the way, gue gak tau nih Gaara yang mana. Gue cuma ikut-ikut ngejek Cylvi doang," cengir Mita dengan wajah tanpa dosa miliknya yang membuat teman-temannya kompak memandangnya sebal. "Yang paling kanan itu loh. Lo kan udah tanya tadi," jawab Salsa sedikit geram. "Dia itu cakep banget sumpah. Lo sama dia aja, Cyl. Kita bakal restuin kok," pekik Ananda yang kembali menatap kagum pada foto yang dikirim Salsa ke group tadi. "Iya Cyl, cool cool gimana gitu tampangnya. Cocoklah sama lo," tambah Siska. “Sama-sama datar mukanya.” Cylvi menyeruput habis jusnya lalu memilih meninggalkan teman-temannya. Ia yakin, mereka akan terus mendesak hingga ia mengalah dan membenarkan pernyataan-pernyataan aneh yang mereka lontarkan. “Lo mau ke mana, Cyl? Kita belom selesai ngomong elah,” tandas Anna yang mencoba mengejar Cylvi. “Ngambek lo?” Cylvi memainkan alisnya. “Menurut lo?” Ia mendesah lelah. “Gue mau pulang. Capek,” tukasnya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mata teman-temannya.   Di pagi hari yang masih dingin, membuat sebagian orang enggan memulai hari dan tetap melanjutkan tidur mereka. Hal itu pun berlaku untuk Cylvi, ia memilih tetap bergulung di dalam selimutnya mengabaikan sinar matahari yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi kamarnya. Cylvi menolak untuk bangun walaupun ia sadar bahwa hari ini ia ada jadwal pergi ke sekolah. "CYLVI, BANGUN!" Teriakan yang diikuti oleh suara gedoran pintu itu adalah hal yang biasa terjadi di depan pintu kamar Cylvi setiap paginya. Citra, kakak perempuan Cylvi itu mendesah lelah. Ia sudah tahu tabiat Cylvi yang selalu bermusuhan dengan bangun pagi. "Jangan ribut, Kak. Ini masih pagi banget dan gue masih ngantuk!" teriak Cylvi tetap menutup matanya sambil meringkuk nyaman di dalam selimutnya. "Masih pagi banget darimana? Buka mata lo, coba lo liat jam lo sekarang. Jangan merem terus," bentak Citra dengan sebal. Ia mendelik bosan pada pintu kamar Cylvi. Citra menggeram kesal saat tak mendapati respons Cylvi, ia kemudian bermaksud ingin mengedor lebih keras pintu kamar adiknya. Namun, sebelum tangannya menyentuh pintu tersebut, Abi sudah menahannya. "Gue ada ide," bisik Abi, kakak tertua Citra dan Cylvi dengan senyum jahil yang bermain di bibirnya. Abi bergegas menuju ke dalam kamarnya yang berada di sebelah kamar Cylvi untuk mengambil sesuatu yang menurutnya mampu membangunkan adik pemalasnya. "Mau ngapain lo, Bang?" tanya Citra bingung saat melihat benda di tangan Abi. Digenggaman Abi, terdapat beberapa petasan yang tidak berbahaya namun sangat memekakkan telinga. Seakan sudah mengerti dengan apa yang ingin Abi lakukan, Citra melepas tawa puasnya ketika membayangkan kemarahan Cylvi setelah ini. “Diem, Cit,” ucap Abi seraya melempar petasan itu di depan pintu kamar Cylvi. DUKK! DUAR! "!" Cylvi terbangun dengan mata membulat, ia langsung terduduk syok di atas kasurnya sembari memandang kosong ke arah pintu kamar. Nyawa-nyawanya terkumpul dengan cepat karena kaget. Tak lama setelahnya, tatapan kosong itu diganti dengan tatapan penuh dendam yang diarahkan ke pintu kamarnya. "Bangun gak lo, Cyl?" teriak Abi dengan polosnya. Cylvi segera berdiri dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Di depan pintunya, ada Abi yang sedang menyengir jahil dan Citra yang terlihat kesulitan menahan tawa. Ingin rasanya Cylvi menjitak kepala abang satu-satunya itu. "Apa-apaan sih lo, Bang? Lo mau bikin gue kena serangan jantungan? Bisa stroke dadakan nih gue," sembur Cylvi melotot marah kala Citra mulai menertawai dirinya "Ini tuh cara terampuh buat bangunin lo. Lo itu susah banget dibangunin, gue kira lo udah wafat di dalam sana," balas Abi dengan raut santai. Belum sempat Cylvi membalas perkataan Abi, Citra sudah menyelanya. "Arwah lo udah terkumpul semua kan, Cyl? Cepat mandi sana! Sekolah gak sih lo hari ini?" tanya Citra bersidekap. Cylvi menatap jengkel ke arah jam dinding yang berada di dalam kamarnya. Ia terperanjat kaget saat sadar jika hanya tersisa setengah jam sebelum bel tanda masuk sekolah berbunyi. "Anjir, gue telat," ujar Cylvi sambil memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sedangkan Abi dan Citra menggelengkan kepala heran melihat kelakuan adik bungsu mereka. Terlalu ajaib. "Gak mau sarapan dulu, Cyl?" tanya Anggi, sang Mama yang melihat Cylvi terburu-buru menuruni tangga. "Gak deh Ma, Cylvi udah telat banget soalnya," kata Cylvi sambil mengambil roti di atas meja. Lebih baik makan di jalan. "Kebo sih lo tidurnya, dibangunin gak mau bangun," komentar Citra yang tidak diacuhkan Cylvi. Gadis itu segera berpamitan dengan orang tuanya dan langsung berjalan ke arah mobil. Cylvi tak takut terlambat masuk ke sekolah, ia cuma ingin mengganggu seseorang hari ini sebelum pelajaran dimulai. Sekolah mungkin menurut kebanyakan orang adalah tempat untuk menimbah ilmu, mencari teman dan diyakini bisa memudahkan diri saat mencari pekerjaan nantinya. Tetapi menurut Cylvi, sekolah adalah tempat yang pas untuk bersenang-senang dan membuat keributan dengan para guru. "Cyl, lo telat lagi," teriak Ananda di kantin tanpa memedulikan tatapan terganggu orang lain di sana. Memang sudah menjadi kebiasaan mereka jika di setiap sebelum pelajaran dimulai untuk berkumpul di kantin, dari sekedar duduk bersama hingga untuk menciptakan kenakalan. "Volume suara lo tolong dikecilin!" teriak Mita santai, tak menyadari suaranya pun tak kalah nyaring dari suara Ananda. "Loud speaker mulu lo pada," sambung Anna yang juga ikut berteriak. "Suara lo bertiga udah bisa ngalahin toa masjid, tau nggak?" sambar Salsa sebal. “Ya nggak tau,” tukas Mita dengan mimik polos. “Gue baru tau malahan, Sa,” timpal Ananda enteng. "Gue gak sadar, Sa,” sahut Anna iseng. “Untung lo ngasih tau.” Salsa mencibir ketiga temannya tanpa mau menjawab perkataan mereka. Ia menoleh malas pada Cylvi yang baru menduduki diri di depannya. "Mau makan gak lo, Cyl?” "Gak,” jawab Cylvi singkat. "Lah? Kenapa? Lagi ribut sama Gaara?" tanya Vina setengah menggoda Cylvi. Cylvi menaikkan sebelah alisnya. "Apa hubungannya dengan Gaara?" "Jangan sok kelupaan deh, Cyl. Lo bukannya pacarin Gaara sejak kemarin?" ucap Siska sambil memainkan ponsel di tangannya. "Eh? Iya Cyl. Kan lo udah gak jomblo lagi sekarang," kata Mita disertai lirikan jahil. "Gue gak ngerasa tuh.” Cylvi menyilang kedua tangannya di depan d**a. “Itu cuma permainan temannya,” lanjutnya lalu mengeluarkan ponselnya. "Jangan malu-malu deh, Cyl. Ntar malah malu-maluin," kata Salsa santai. "Kayaknya Cylvi emang udah biasa malu-maluin,” ujar Mita cengengesan. "Terserah deh kalian mau ngomong apa," ujar Cylvi yang kemudian direspons dengan tawa keras teman-temannya. Bosan mendengar suara tawa teman semejanya, Cylvi menoleh ke kanan dan kiri guna mencari seseorang yang bisa ia kerjai. Matanya berbinar sinis ketika menangkap sosok Astri, anak teladan yang menjadi murid kelas di sebelah kelasnya, 11-1. "Bentar," ujar Cylvi lalu melangkah pergi, meninggalkan tatapan penuh tanda tanya dari teman-temannya. "Mau ngapain tuh anak?" Salsa menopang dagunya sambil melirik ke arah Cylvi. "Mana gue tau," kata Ananda sembari memutar matanya. “Mau ngerjain orang kali.” Cylvi duduk di depan Astri yang sedang membaca buku yang tak ingin ia ketahui isinya. Ia menatap sinis ke arah Astri. "Lo baca apaan, Tri?" tanya Cylvi begitu duduk di depan Astri. "Eh?" Astri tidak menyadari jika Cylvi duduk di depannya. Dengan takut-takut, cewek itu menatap wajah Cylvi yang sedang dihiasi senyuman angkuh. "Lagi baca novel aja, Cyl," lirihnya yang hampir tak bisa didengar Cylvi. “Hah? Lo kalo ditanya, jawab dong,” bentak Cylvi berpura-pura tak mendengar cicitan Astri. Astri menundukkan kepalanya. “Gue la−“ "Kelamaan lo. Sini gue liat," potong Cylvi sambil merebut buku Astri. "Ampun deh. Novel romansa?" sambung Cylvi seraya dengan sengaja menjatuhkan buku itu ke lantai lalu menjatuhkan es teh Astri yang masih penuh hingga buku itu basah. "Wow! Sorry, gue gak sengaja jatuhin,” kata Cylvi memasang wajah intimidasinya. Astri sadar jika Cylvi sengaja melakukannya. Ia sering mendengar Cylvi membully orang lain, walaupun tidak separah teman-temannya. Namun Cylvi yang merupakan ketua mereka, yang berarti tidak akan ada bedanya dengan teman-teman baik gadis itu. Dan bahkan ada kemungkinan terbesar jika sebenarnya Cylvi jauh lebih buruk dari pada teman-temannya, hanya saja tak ada yang berani menggosipkannya. "Lo gak marah kan?" tanya Cylvi arogan. Ia menatap tajam ke arah Astri. Astri hanya bungkam, tak berani menjawab. Ia tahu Cylvi melempar pertanyaan menjebak yang hanya akan memperparah keadaannya. Apapun yang menjadi jawabannya, hanya akan menjadi boomerang untuknya. "Kok lo diem? Gak ada mulut ya atau lo bisu?" Gertakan Cylvi sukses mengundang tatapan ingin tahu semua orang yang berada di kantin. Lain halnya dengan teman-teman Cylvi yang tertawa terbahak-bahak melihat Astri dibully Cylvi, di meja Gaara justru menatap ke arah Astri yang tetap diam tidak melawan Cylvi dengan melongo. “Kok dia diem aja? Gak berani ngejawab Cylvi?” tanya Gilang yang dibalas gedikan tanda tak tahu dari Riko. “Siapa sih Cylvi sebenarnya? Cuma ketua Kingnezs kan? Gosipnya kan Cylvi jarang tuh mau turun ngebully,” katanya lagi yang lalu memusatkan pandangan teman-temannya padanya. “Ya... doi sering sih ngebully guru.” “Lo tau namanya?” Jacky meletakkan ponselnya di atas meja. “Kita kan gak pernah ngikutin Kingnezs. Kok lo bisa tau namanya?” “Ya taulah,” balas Gilang sekenanya. Ia kembali memandang ke arah Cylvi yang terus menguarkan aura gelap tak bersahabat. Cylvi pemegang sabuk hitam karate. Itu alasan Cylvi menjadi ikon ketakutan bagi orang-orang yang mengenalnya. Gadis itu sulit untuk ditaklukkan, bahkan oleh seorang pria sekalipun. Pernah ada kejadian dimana gadis itu menghajar seorang cowok yang mengganggunya hingga cowok itu harus dirawat inap di rumah sakit. Sejak saat itu, Cylvi lebih dikenal sebagai monster yang benar-benar harus dihindari. "Gaar, cewek lo lagi ngebully orang tuh," ucap Gilang yang lagi-lagi menarik perhatian. "Gaara pacaran dengan Cylvi? Sejak kapan?” tanya Jacky bingung. Gilang, Gaara dan Johan memang sengaja tidak menceritakan pertemuan mereka dengan Cylvi dan Salsa kemarin. "Gak usah dipercaya," jawab Gaara tanpa berpaling dari ponselnya. "Itu cuma taktik buat nyelamatin Gilang kemarin," sambung Johan yang semakin membuat yang lain bingung. "Emang kemarin ada apaan?" tanya Zilo heran. "Saras bangkit dari peti," cengir Johan. Ia menghindari lemparan sendok dari Gilang "Hah? Serius?" tanya Jacky dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat. "Lo ada fotonya, Jo? Mirip valak nggak?"   Sore ini, ada pesta ulang tahun Magdalena, si anak menteri yang sangat manja menurut Cylvi. Ia mendesah malas seraya mengambil ponselnya yang terus memunculkan notifikasi chat. Kingnezs (7) Salsana KW : lo pada udah mau otw belum???!!! Mitania Sasa : wait for me! Gue belom keritingin nih rambut. Masih mirip singa nih gue! Salvina J : jemput woiii, Cyl. CVM Winata : on the way! Mitania Sasa : setengah jam lagi dong. Belum selesai nih gue anjir. Ananda Raya : Cyl, lo jemput gue juga nggak? Gracelly Annaka : elah. Siska Chyntia : cepetan Mit. Mitania Sasa : diusahain nih. CVM Winata : gue on the way sekarang. Ananda Raya : elah, Cyl. Chat gue dilewatin aja gitu? Lo tega banget, Cyl! Tega! Gracelly Annaka : a***y. Si anaconda baperan. Ananda Raya : Woi! Nama gue Ananda ya bukan anaconda. Kalo gue anaconda, udah gue telen bulat-bulat lo, bakso ikan. Tak memedulikan group yang berisikan debat teman-temannya, Cylvi segera mengambil kunci mobilnya dan menuruni tangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD