Sudah terhitung lima jam sejak Gaara mengunjungi rumah Cylvi. Tak banyak hal yang ia lakukan di sana, kebanyakan ia hanya sibuk bermain game. Dan Cylvi, cewek itu memilih memainkan remote televisinya di tangannya.
Drrttt... drrtt...
Ponsel Cylvi bergetar di atas meja yang terletak tak jauh dari tempatnya berada. Ia meraih ponselnya dengan malas dan melirik sejenak pada sosok Gaara yang tak melepaskan pandangannya dari layar handphone-nya.
From : Andreas
Cyl, kita bisa nggak ketemuan hari ini?
Ting!
From : Andreas
Lo bisa sekarang, cyl?
Wajah Cylvi menjadi kaku, ada kernyitan bingung yang tergambar jelas di sana dan Gaara menyadarinya.
"Dari siapa Cyl?" tanyanya yang tidak diacuhkan Cylvi.
Gaara merebut ponsel Cylvi dan membaca cepat pesan yang dikirim Andreas. "Dia ngajakin lo ketemuan?" Pertanyaan Gaara masih tidak diacuhkan.
"Cyl?"
"Gaar, gue—" Cylvi tak melanjutkan ucapannya sendiri.
Gaara menekan nada bicaranya agar tak terkesan memarahi gadis di dekatnya. "Lo mau ketemuan sama dia?"
Cylvi memandang wajah Gaara. Ia tidak menangkap nada cemburu dari Gaara, mungkin cowok itu sedikit mengerti dengan keadaannya yang syok. "Lo bisa temenin gue, Gaar?"
Cylvi mempercayai Gaara. Gaara mungkin sosok yang masih asing baginya. Ia tidak mengetahui apapun mengenai cowok itu. Ia hanya tahu cowok itu bernama Gaara Alvaro, tapi mana Cylvi peduli. Cewek itu tidak akan berusaha masuk ke dalam hidup Gaara kecuali cowok itu sendiri yang memintanya. Dan mungkin suatu saat nanti, Cylvi akan mencari tahu lebih dalam mengenai Gaara.
"Ayo. Lo balas dia aja dulu," tukas Gaara tanpa ada emosi yang terlintas di wajahnya.
Mungkin ini saat yang tepat bagi Gaara untuk mengetahui ada apa di balik masa lalu Cylvi.
From : CVM Winata
Kita ketemuan di cafe D'Ground sekarang.
From : Andreas
Ok.
Gaara mengambil kunci mobilnya yang ia letakkan di samping ponsel Cylvi di atas meja dan berjalan keluar rumah, sembari menunggu gadis yang menjabat sebagai pacarnya itu di dalam mobilnya. Sesampai di cafe, Cylvi dan Gaara tidak melihat adanya sosok Andreas di dalam. Keduanya memilih tempat yang cukup strategis seraya menunggu kedatangan Andreas.
"Lo udah tunggu lama, Cyl?" panggil Andreas, sementara Gaara sedang ke toilet.
"Nggak juga," jawab Cylvi singkat.
Andreas mengangguk pelan. "Lo udah mesen?"
"Hm," gumam Cylvi berusaha untuk tak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya.
"Ok. Cyl, gue ngajakin lo ke sini karna ada yang harus gue omongin sama lo," kata Andreas berhasil menarik atensi Cylvi.
"Soal apa?" Cylvi berharap Andreas tidak membahas apa yang terjadi dulu. Karena ada Gaara di sini dan ia sebenarnya sudah mencoba melupakan masa lalunya.
"Soal perasaan gue ke lo." Cylvi melototkan matanya. Apa-apaan bahasannya ini?
Cylvi gelagapan. "Gue rasa lo udah tau soal gue sama—"
"Iya, gue tau. Gue cuma mau ungkapin. Kalo gue suka sama lo, Cyl. Dari dulu," potong Andreas cepat.
"Apa?"
"Mungkin lo mempertanyakan kenapa gue nulis surat itu dan kenapa semua anak-anak bisa tau mengenai gue yang tolak lo waktu itu."
"..."
"Gue gak ada pilihan, Cyl. Dulu gue cuma berpikir gimana caranya lindungi lo dari anak-anak sejak kasus itu. Lo ingat, mulai sejak kapan lo dibully?"
Flashback : ON
Cylvi duduk di taman sendirian. Ia tak mempunyai teman juga tak memiliki musuh. Dan ia tidak masalah dengan itu. Ia bisa melakukan apapun sendirian Cylvi pintar, ia tidak membutuhkan orang lain. Ia kuat secara fisik dan sangat jarang sakit. Gadis itu bahkan mendapat beasiswa full selama tiga tahun bersekolah di sana.
Namun keadaan mulai berubah. Tiba-tiba saja saat ia sedang belajar di kelas, ia mendapat panggilan dari kepala sekolahnya. Kedua orang tuanya memintanya untuk pulang ke rumah karena ada masalah.
"Maaf. Rumah ini kami sita karena Bapak terlalu lama menunggak utang di bank. Kami beri waktu tiga hari untuk mengosongkan rumah ini."
Itulah yang didengar Cylvi begitu sampai di depan rumahnya. Polisi-polisi yang sebelumnya berbicara itu pun pergi meninggalkan rumahnya.
"Ada apa ini, Ma, Pa?" tanya Cylvi. Orang tuanya termangu bingung berada di depan pintu.
"Cylvi?" panggil papanya.
"Iya, Pa?"
"Kamu tidak keberatan kan kalo nanti kita tinggal di rumah kecil?"
Cylvi terkejut. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi ia berusaha menangkap situasi.
"Seorang kepercayaan Papa mengkhianati Papa dengan memberikan bocoran-bocoran perusahaan pada rival Papa. Jadi, sekarang—"
"Cylvi ngerti, Pa."'Cylvi berusaha tersenyum seperti biasa agar orang tuanya tidak khawatir. Ia tahu papanya pasti berat untuk melanjutkan perkataannya.
Papanya, Anto memiliki riwayat sakit jantung dan baru keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Karena itulah perusahaan dialihkan pada kepercayaan papanya.
"Mengenai sekolahmu, Papa akan cari pekerjaan."
Memang Abi, Citra dan Cylvi masih bersekolah. Abi sedang kuliah semester dua, Citra kelas tiga SMA dan Cylvi masih kelas dua SMP.
"Pa, Abi bisa cari kerja. Papa jangan terlalu memaksakan diri," sahut Abi serius.
Satu keluarga itu memilih menutup pintu rumah mereka dan berkumpul di ruang tamu.
"Gak cukup, Bi. Kamu juga masih kuliah," kata Anto dengan nada suara yang lemas.
"Citra bisa bantu juga, Pa. Kebetulan Citra udah selesai UAS," sambung Citra tak ingin orang tuanya semakin khawatir dengan keadaan mereka.
"Cylvi bisa sambilan kerja juga, Pa. Papa jangan khawatir dengan keuangan kita," lanjut Cylvi tegas.
"Tapi—" Anto merasa tidak enak telah menyulitkan ketiga anaknya dalam kondisi ekonomi yang mendadak kritis.
"Pa, serahkan sama kami," ucap Abi bersemangat.
Berita mengenai runtuhnya perusahaan Winata Corporation juga berimbas pada sekolah Cylvi. Mendadak, gadis itu dibully. Dari segi ekonominya hingga segi penampilannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa iba dengan kondisi Cylvi. Mereka selalu mencemooh apa pun yang dilakukan Cylvi. Sekolah elite tidak pantas memiliki murid yang miskin.
Flashback : OFF
Cylvi ingat, saat itu ia harus bekerja di toko kue sebagai kasir dan malamnya ia harus belajar agar beasiswanya tidak dicabut. Dan ia juga ingat bagaimana perjuangan kedua orang tuanya yang berusaha membangkitkan kembali Winata Corporation dengan bantuan teman-teman mereka.
"Cyl?" panggil Andreas menarik perhatian Cylvi kembali.
Cylvi memandang ke arah Andreas dengan pandangan tanda tanya. "Gue suka sama lo. Gue sayang sama lo. Waktu itu gue gak bisa nerima lo karna orang tua gue ngancem bakal nyusahin hidup keluarga lo kalo gue nekat."
"Tapi kenapa semua orang tau saat itu? Lo sengaja mau mempermalukan gue kan? Lo tau saat itu, gue butuh lo tapi lo gak ada. Saat gue suka sama lo, lo menghilang gitu aja," kata Cylvi keras tak memedulikan pelanggan yang lain.
Andreas menggenggam tangan Cylvi yang berada di atas meja. "Nggak Cyl. Mereka tau karna lo pasti tau siapa yang nyebarin gosip itu. Gue minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu lo, Cyl. Gue gak diberi pilihan."
"Maksud lo? Dia?"
Andreas menganggukkan kepalanya, matanya masih memandang lekat mata Cylvi. "Cyl, lo mau jadi pacar gue? Gue tau lo sebenarnya gak suka kan sama Gaara?"
"Gaara hanya kebetulan hadir di hidup lo kan, Cyl? Gue yakin lo gak ada perasaan sama dia. Cyl, lo masih sayang kan sama gue?" sambung Andreas lagi, membuat Cylvi hanya bisa terdiam.
Gaara? Kenapa Cylvi baru kepikiran cowok itu tidak kembali setelah izin pergi ke toilet tadi? Apa benar cowok itu tidak begitu penting di hidupnya hingga mudah dilupakannya?
Nggak! Cylvi yakin ia hanya terlalu terbawa suasana hingga tak menyadari tidak ada Gaara di sampingnya.
Cylvi mengecek ponselnya yang bergetar.
From : Gaara Alvaro
Gue balik duluan.
Ada urusan mendadak di rumah.
Lo balik sama Andreas, gak apa-apa kan?
Sorry.
Semoga Gaara tak mengetahui apapun tentang pembicaraannya dengan Andreas hari ini. Entah mengapa, ia hanya tak ingin menyakiti Gaara.
"Cyl?"
"Beri gue waktu buat mikir, Dre. Ini terlalu mendadak."
"Ok. Gue kasih lo mikir dua hari. Gue anterin lo pulang ya?"
"Hm."
Cylvi tidak fokus. Kenapa Gaara tiba-tiba pergi meninggalkannya? Apakah cowok itu mendengar pembicaraan Cylvi dengan Andreas?