Nara segera mengambil sweater dari dalam lemarinya. Ia berniat untuk menutupi tubuh yang hanya terbalut dengan dress mini nan seksi. Menyambar tas selempang yang ada di atas meja dan ia sampirkan pada bahu.
Nara sangat cantik, dengan tubuh yang sangat modis bak model papan atas. Hidungnya begitu bangir, kulitnya pun putih bersih. Membuat semua orang terkagum, dan ditambah dengan kedua lesung pipi tercetak jelas saat ia tengah tersenyum. Bahkan orang yang melihatnya dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ayo, Nara! Lama amat sih lo jalan gitu doang juga," bentak Deby dengan tatapan mata tajam dilontarkan pada Nara yang sedang berjalan keluar dari kamarnya.
Nara yang memakai sepatu hak tinggi nampak kesulitan untuk berjalan. Ia memang sering untuk memakainya, tapi tetap saja selalu merasa kesulitan. Mungkin karena ia yang merasa sangat tidak senang dengan keadaan yang saat ini mengimpitnya.
"Ini Nara juga lagi jalan, Kak! Emang dikira lagi berdiri dan diem di tempat gitu? Ck, makanya punya mata itu digunain dengan baik dan benar," singgung Nara dengan sangat berani.
Nara sebenarnya tidak takut sama sekali baik dengan Marni atau juga Deby. Selama ini ia hanya takut jika diharuskan pergi kembali pada suatu tempat yang menjadikannya sebagai wanita kotor. Namun, ternyata ia salah, takdir telah menggariskan hal tersebut untuk ia jalani dengan sepenuh hati.
Deby melirik ke arah Nara. "Coba ulangi lagi lo tadi ngomong apa? Ternyata udah mulai berani lo yah sama gue?" bentak Deby dengan mata menatap tajam.
Nara menyunggingkan senyum sinis pada bibirnya. "Lo itu gak tuli dan gak buta, tapi sayangnya ... kedua indera lo itu gak bisa digunakan dengan baik. Sayang sekali Tuhan memberikan kesempurnaan itu, kalau hanya untuk suatu hal yang bahkan sangat sia-sia,"
Deby kini menghampiri Nara dengan wajah yang merah padam. "Lo bener-bener kelewatan sekali, Nara!" Tangan Deby kini sudah mulai terangkat ke atas dan hendak dilayangkan pada pipi Nara yang bersih dan glowing, apa lagi ketika tengah dipoles make-up menjadikannya seperti model papan atas.
Nara tidak merasa takut sama sekali dengan apa yang hendak Deby lakukan saat ini, tapi sayangnya belum juga dimulai sudah dihentikan terlebih dahulu oleh Marni. Sangat tidak asyik sekali, pikirnya.
"Deby!" teriak Marni dari pintu depan. Ia berjalan menghampiri dan seketika melempar tangan yang mengambang di udara tersebut. "Kamu apa-apan sih? Gak seharusnya main kasar di area yang terbuka gini," murka Marni pada Deby yang menurutnya sangat t***l itu.
Deby kini mulai menurunkan emosinya, dan melihat Nara penuh dengan emosi. "Kalau saja lo gak dibutuhkan di tempat ini, pasti udah gue bunuh lo itu!" gertak Deby yang dibalas dengan suara bentakan Marni dan membuatnya langsung diam tak berkutik sama sekali.
Nara menatap datar Marni dan juga Deby. "Oh, dengan senang hati gue akan pergi dari rumah ini. Bahkan detik ini, menit ini, dan jam ini, gue bisa pergi tanpa lo susah-susah harus melenyapkan nyawa seseorang ... untuk kesekian kalinya," ancam Nara penuh dengan penekanan dan sekaligus tatapan mata nyalang.
Nara merasa terpancing akan ucapan dari Deby yang sudah sangat kelewatan menurutnya. Jangan bilang jika diamnya selama ini selalu beranggapan dengan kata lemah, ia hanya ingin menguatkan hati agar suatu saat bisa menjatuhkan Marni dan juga Deby dalam satu waktu yang membuat mereka tidak berdaya sama sekali, bahkan mungkin akan tunduk pada dirinya.
Marni mentap Nara dengan sangat tajam. "Jangan banyak bicara kamu! Sekarang pergi ke tempat tersebut, dari tadi Mami sudah menelepon saya berulang dan menunggu kamu di tempatnya itu," ungkap Marni dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
Nara mendadak terdiam dan tidak bergeming. Rasa malas itu sudah datang, ingin rasanya untuk benar-benar kabur dari tempat nista tersebut. Namun, pikirannya teringat akan Bagas yang sangat membutuhkan uang tersebut untuk berobat jalan, dan ego itu lenyap begitu saja.
Nara kini pergi menjauh dari hadapan Marni dan juga Deby, ia melangkahkan kaki menuju kamar Bagas yang letaknya tidak jauh dari posisinya saat ini.
Nara membuka handle pintu dan kemudian masuk ke dalamnya, mengambil tempat duduk di samping Bagas. "Ayah, Nara ... sebenarnya gak mau berangkat ke tempat itu lagi," lirih Nara dengan suara yang tersendat.
Bagas saat ini hanya bisa berbaring di atas kasur, karena gerakannya yang sangat terbatas. Ia mengalami kebangkrutan semenjak ibu dari Nara memilih untuk mengakhiri hidupnya, karena saat cinta yang selama ini dijunjung tinggi berujung pengkhianatan yang tak terduga.
Bagas mengalami stroke sekaligus hemipligia yang mengakibatkan ia tidak bisa berbuat apa pun, bahkan sekedar untuk memegang benda sekali pun. Ia selalu membutuhkan bantuan dari orang sekitar.
Bagas hanya bisa melihat Nara yang terlihat begitu tersiksa itu. "Maafkan Ayah, Nak! Andai tubuh Ayah mampu kembali seperti dulu lagi, dan gak lemah seperti ini," batin Bagas dengan air mata yang jatuh sebagai bentuk penyesalannya.
Nara dengan cepat mengusap buliran bening yang jatuh pada pipi Bagas itu. "Ayah jangan nangis, Nara hanya mau bercerita saja. Rasanya cukup bingung, Nara sebenarnya gak mau pergi ke tempat itu lagi, orang-orang di sana jahat sekali, Ayah!" adu Nara dengan kepala yang ia dongakkan ke atas agar air mata tidak ikut jatuh pada pipinya.
Nara mengulum senyum depan Bagas. "Ayah, doakan Nara agar bisa menghindar dari terkaman mereka yah, takut banget! Nara mau lari yang jauh, tapi selalu inget sama Ayah dan akhirnya memutuskan untuk bertahan," cicit Nara dengan kepala yang kini mulai tertunduk.
Nara menggenggam jemari Bagas, dan bibirnya mengulas senyum lebar. Seakan ia memberi isyarat baik-baik saja, selagi ayahnya masih hidup di dunia ini.
Nara mencium punggung tangan Bagas. Satu bulir air mata jatuh pada kulit yang mengeriput tersebut, ia bertekad harus kuat demi kesembuhan ayahnya.
Nara keluar dari kamar Bagas. Ia melihat di depan sana Marni dan juga Deby tengah menatapnya tajam, tangan yang menyilang di depan d**a.
"Heh lo jalang, lama banget gitu aja! Sana pergi dan cari uang yang banyak untuk pengobatan Ayah lo itu," usir Deby dengan tangan ia hempaskan di hadapan Nara.
Nara menatap Deby sangat tajam, maju satu langkah untuk kemudian melayangkan satu tamparan kuat pada pipi dari kakak tirinya itu.
Plak!
"Jaga ucapan lo! Andai Ibu lo ini yang gak kegatelan sama Ayah gue, mungkin gak akan seperti ini kisahnya!"
"Kenap gue mesti jaga ucapan?" tanya Deby, dengan pandangan sinis ketika melihat Nara yang berdiri di hadapannya sekarang ini.